(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Tentang Farrel


__ADS_3

"Kamu pesan apa, Ra?" tanya Farrel kepada gadis manis yang telah duduk di hadapannya. Haura meneliti ke sekeliling warung bakso tempat ia dan Farrel berada sekarang. Warung bakso favorit kedua remaja tersebut sejak satu tahun terakhir. Terletak tidak jauh dari SMA tempat Haura bersekolah dulu. Namun akhir-akhir ini mereka sangat jarang mengunjungi tempat tersebut.


Mengenang masa satu tahun yang lalu ketika Haura dan Farrel sering menikmati bakso di tempat tersebut sewaktu pulang sekolah. Hampir setiap harinya Farrel selalu menjemput Haura pulang sekolah. Akan tetapi tidak pernah sekalipun Farrel menjemput Haura menggunakan seragam sekolahnya. Saat itu Haura menganggap Farrel adalah seorang anak jalanan yang tampan dan baik hati.


Kira-kira begitulah julukan Farrel di mata Haura sebelum Haura tahu bahwa Farrel bersekolah di salah satu sekolah elit di kota tersebut. Padahal kalau di fikir-fikir sekarang, itu bukanlah jam pulang sekolah di Sander International High School. Entah bagaimana Farrel bisa menjemputnya setiap hari, Haura pun tidak tahu.


"Tempat ini masih sama ya Kak. Gak ada yang berubah," ucap Haura. Bukannya menjawab makanan apa yang ingin ia pesan, Haura malah mengomentari warung bakso tersebut.


"Iya gak ada yang berubah," ujar Farrel. "Justru yang berubah itu kamu, Haura. Sekarang kamu udah gak ada lagi waktu untuk menemani aku makan disini."


Perkataan Farrel benar-benar menohok bagi Haura. Benar apa yang di katakan oleh laki-laki di hadapannya itu. Sekarang dirinya dan Farrel sangat jarang mengunjungi tempat tersebut. Sejak tinggal di kediaman keluarga Sander, Haura dan Farrel sangat jarang bermain bersama. Haura juga merasa sungkan jika temannya datang berkunjung ke tempatnya. Karena bagi Haura, dirinya dan Ibunya hanya menumpang disana. Jadi sudah sepatutnya Haura membatasi temannya untuk berkunjung.


Haura merasa bersalah pada Farrel yang selalu bersikap baik padanya. Selalu ada untuknya. Menemaninya di waktu-waktu sulit.


“Maaf ya kak Farrel,” ucap Haura tulus.


Sementara Farrel hanya tersenyum manis kepada gadis di hadapannya itu. Mengusap puncak kepala Haura. Itu adalah hal yang selalu di lakukan Farrel jika bersama Haura.


“Jadi kamu pesan apa, bocah?”


Panggilan yang sangat tidak di sukai oleh Haura. Farrel masih saja menganggapnya seorang gadis kecil.


"Kayak biasa aja kak."


"Oke...." Farrel sudah mengetahui apa yang biasa di pesan oleh Haura. Bakso urat dan es jeruk. Pesanan yang selalu sama setiap Haura mengunjungi tempat tersebut.


"Kak Farrel kenapa mau makan di tempat seperti ini?" tanya Haura heran.


"Tempat seperti ini gimana maksud kamu Ra?" Farrel justru balik bertanya.

__ADS_1


"Ya warung bakso biasa seperti ini." Haura sangat yakin bahwa Farrel bukanlah berasal dari keluarga biasa. Kalau tidak mana mungkin Farrel mampu sekolah di sekolah elit tempat mereka bersekolah sekarang. Biaya bulanannya saja sangat fantastis. Bahkan gaji Ibu Haura tidak akan cukup membayar iuran sekolah setiap bulannya. Apalagi Farrel bukanlah siswa yang terdaftar sebagai penerima beasiswa seperti dirinya.


Selama ini Farrel tidak pernah menyinggung perihal keluarganya. Pernah Haura bertanya karena memang gadis itu sangat penasaran dengan latar belakang Farrel. Tapi Farrel justru tidak memberikan jawaban yang pasti.


"Aku tidak punya keluarga. Kalau boleh, aku mau jadi bagian dari keluarga kamu." Itulah jawab Farrel kepada Haura kala itu.


Pernah juga Haura bertanya lagi setelahnya. Farrel mengatakan bahwa dirinya adalah yatim piatu. Tidak pernah ada jawaban yang pasti.


Di tambah lagi ketika pembagian raport, Farrel duduk sendiri di meja VIP tanpa di dampingi oleh orangtuanya. Haura semakin di buat penasaran dengan laki-laki tampan dan baik hati di hadapannya sekarang.


"Kak Farrel, kenapa hari itu kak Farrel sendirian?" tanya Haura tak mampu lagi membendung rasa penasarannya.


Sudah beberapa tahun Haura mengenal Farrel. Hubungan mereka begitu dekat. Akan tetapi Farrel seakan menutup rapat-rapat perihal keluarganya.


Bukan karena Farrel tidak mempercayai Haura. Bukan juga karena Farrel tidak ingin terbuka pada Haura. Ada luka yang telah Farrel kubur dalam-dalam. Laki-laki itu tidak ingin membuka luka lama perihal keluarganya.


"Hari pembagian raport. Kenapa kak Farrel gak bareng sama keluarga?" tanya Haura lagi.


"Emmmm... Karna aku yatim piatu, Haura," jawab Farrel.


"Masa sih kak? jujur dong sama Haura," rengek gadis remaja itu lagi.


"Terus kenapa kak Farrel bisa duduk di meja VIP?" tanya Haura masih penasaran dan berharap ada satu saja pertanyaannya yang akan di jawab serius oleh Farrel.


Farrel tersenyum simpul. Rupanya rasa penasaran Haura begitu besar tentang dirinya. "Karena meja itu kosong, jadi aku duduk disana," jawab Farrel sekenanya.


"Ikh... Kak Farrel. Serius dong, Haura beneran penasaran."


"Anak kecil gak boleh banyak mau tahunya. Kalau banyak tahu nanti cepat gedenya." Farrel mengacak gemas rambut Haura yang terkuncir.

__ADS_1


"Kan jadi berantakan rambut Haura. Kak Farrel nyebelin ikh."


"Lagian kamu terlalu banyak mau taunya. Gak ada yang menarik tentang hidup aku." Farrel menatap Haura yang sedang merapikan rambutnya.


"Memang Haura udah gede... Nyebelin kak Farrel."


Gadis yang selalu Farrel panggil sebagai anak kecil itu kini telah mencuri hati laki-laki itu seutuhnya. Namun Farrel sadari bahwa cintanya hanya sepihak. Cintanya tidak akan pernah terbalas. Hati Haura telah sepenuhnya milik Nevan.


Namun demikian Farrel tetap ingin melindungi Haura dengan segenap hatinya. Tidak ingin gadis yang di cintainya itu terluka. Bahkan oleh Nevan sekalipun. Farrel tidak mau ambil pusing apakah suatu hari nanti cintanya akan terbalas atau tidak. Bagi Farrel cinta Haura jauh lebih penting daripada perasaannya sendiri.


"Kak Farrel terbuka dong sama Haura. Kak Farrel bisa cerita apa aja, Haura siap menjadi pendengar yang baik dan Haura siap jadi tempat kak Farrel untuk berkeluh kesah," Haura masih belum puas sebelum mendapatkan jawaban yang pasti dari Farrel. Tentunya semua yang gadis itu ucapkan adalah sebuah ketulusan. Farrel tahu itu.


"Terbuka gimana Haura.... Apa harus aku buka baju disini? Apa kamu begitu penasaran?" goda Farrel.


"Ikh kak Farrel apaan sih." Haura berdecak kesal kepada lawan bicaranya itu. "Bukan terbuka yang itu kak Farrel. Tapi tentang diri kak Farrel. Kenapa sih kak Farrel gak mau berbagi cerita sama Haura?"


Farrel hanya tersenyum pada gadis di hadapannya saat ini. "Ada beberapa hal yang gak perlu untuk di ceritakan. Bukan karena gak mau berbagi cerita, tapi lebih baik cerita itu hanya di simpan dengan rapi untuk diri sendiri. Karena sebagian dari cerita itu justru akan menyakitkan. Lebih baik melupakan atau berpura-pura gak pernah terjadi untuk melindungi diri dari rasa sakit."


Ucapan Farrel membungkam Haura. Gadis itu menelisik lebih jauh apa yang sebenarnya coba di tutupi oleh Farrel. Mencoba mencari jawaban lewat sorot mata Farrel. Menelisik lebih jauh tentang sosok laki-laki baik hati di hadapannya itu.


Haura tidak dapat menerka-nerka dengan tepat apa gerangan yang terjadi pada Farrel. Tentang keluarga Farrel, tentang cerita dari perjalan hidup laki-laki itu. Juga tentang luka apa yang selama ini di tanggung oleh Farrel.


Tatapan Farrel menerawang entah kemana. Fikirannya mengelana pada waktu yang entah. Waktu yang menjadi bagian tersulit dalam hidupnya. Laki-laki itu mengatupkan rahangnya. Menahan kesedihan juga kemarahan. Haura mengetahui bahwa laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja.


Haura menggenggam erat tangan Farrel. Mencoba memberikan ketenangan pada Farrel yang telah di anggap sebagai saudara laki-lakinya.


"Haura disini kak Farrel," ucap gadis itu lirih. Mengisyaratkan bahwa dirinya ada untuk Farrel.


Farrel menatapnya, tersenyum pada Haura.

__ADS_1


__ADS_2