(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Bocah


__ADS_3

Seluruh perhatian siswa pagi itu tertuju pada sebuah motor sport yang baru saja memasuki gerbang sekolah. Motor yang terlihat asing bagi mereka. Mereka sangat  yakin bahwa pemilik motor tersebut adalah siswa baru di sekolah mereka. Mengapa mereka bisa tahu? Karena memang setiap siswa saling berhubungan satu sama lain. Tentu saja hal itu bisa terjadi, mengingat yang mengenyam pendidikan di Sander International High School adalah anak-anak dari golongan high class. Jadi jika ada pendatang baru, maka mereka akan memberikan atensi lebih. Bukan karena ingin mengenal atau mengajak menjadi teman, akan tetapi lebih kepada putra atau putri siapa dia. Apakah keluarga seorang pengusaha atau pejabat Negara. Begitulah cara berfikir para remaja SMA tersebut.


Pemilik motor tersebut tidak lain adalah Nevan Sander. Anak bungsu dari CEO Sander Group. Pemilik sekolah tersebut.


Nevan memarkirkan motornya di area khusus parkir motor. Disana sudah ada dua remaja laki-laki lainnya yang tidak kalah tampan dari Nevan telah menunggu kedatangannya. Wajah mereka bagaikan Oasis di padang pasir. Menyegarkan. Membuat para siswa perempuan enggan berkedip ketika memandang ciptaan Tuhan tersebut. Siapa lagi kalau bukan kedua teman sekaligus sepupunya, Gian si playboy kelas akut dan Niko si kaku kelas kritis. Perpaduan yang apik.


“Hai... Bro," kata Gian menyambut kedatang Nevan. "Semoga lo betah sekolah disini."


"Hai... Gue usahakan untuk betah," jawab Nevan singkat.


"Welcome, Bro," kata Niko.


"Hmmm... thanks," jawab Nevan.


"Lo bakalan satu kelas bareng kita ' kan, Van?" tanya Gian lagi.


"Kita liat aja nanti," jawab Nevan penuh misteri.


"Jangan bilang lo ada niat buat gak sekelas sama kita?" Tanya Gian penuh selidik.


"Gue belum tahu di kelas mana. Kalau gue terserah sama gurunya aja mau menempatkan gue di kelas mana," ucap Nevan.


"What? Gue gak salah dengar? Seorang Nevan pasrah mau di tempatkan di kelas mana aja. Lo gak lagi sakit, kan?" Gian semakin merasa ada sesuatu yang sedang di fikirkan oleh Nevan.


"Gue sehat. Lagian lo gak usah liatin gue horor gitu," ucap Nevan pada Gian yang sedang menatap dirinya seolah-olah apa yang dikatakan oleh Nevan adalah sesuatu yang salah.


“Mau lo di kelas manapun, kalau lo butuh bantuan, lo tinggal bilang ke kita. Gue sama Gian di kelas XI IPA 1. Lo tinggal hubungi kita atau gak bisa langsung ke kelas kita,” ujar Niko.


“Menurut gue, kalau lo butuh bantuan, lebih baiknya lo datang ke Niko. Karena dia siswa panutan di sekolah ini. Siswa paling disegani satu sekolahan,” tambah Gian dengan nada mengejek di dalamnya.


Benar adanya bahwa si kaku Niko adalah siswa paling di hormati. Baik itu oleh teman sebayanya, junior dan bahkan senior sekalipun. Niko yang tidak banyak bicara akan tetapi dia bijaksana. Oleh karenanya apapun keputusannya yang menyangkut kegiatan sekolah, akan menjadi keputusan akhir yang paling tepat dan disetujui oleh semua siswa.


“Terus peran lo apaan di sekolah ini?” Tanya Nevan kepada Gian yang sedari tadi asik meladeni setiap siswa perempuan yang menyapanya.


“Tugas gue adalah memberikan senyuman terbaik gue buat semua cewek-cewek yang gak pernah bisa berpaling dari pesona seorang Gian,” Jawabnya sambil terus melambaikan tangan kearah para gadis yang terus senyum-senyum ke arah mereka bertiga.


Entah senyuman itu untuk Gian, Niko atau pun untuk Nevan, si anak baru yang sangat tampan. Bahkan ketampanan Nevan ada di urutan pertama jika dibandingkan dengan Gian dan Niko. Akan tetapi Gian sendiri tidak peduli untuk siapa para siswa perempuan tersenyum. Yang pasti dirinya tetaplah di urutan pertama sebagai cowok dengan mantan terbanyak di sekolah tersebut. Playboy akut.


*******


Perhatikan ketiga remaja tampan itu teralihkan ketika melihat mobil Zayn memasuki pagar sekolah.

__ADS_1


“Ngapain kak Zayn ke sekolah?” Tanya Gian heran melihat sepupu tertuanya datang ke sekolah. “Apa jangan-jangan dia mau mantau lo di hari pertama sekolah?”


Niko terlihat biasa saja melihat kakak sepupunya itu datang ke sekolah. Dia pernah beberapa kali melihat kak Zayn datang ke sekolah dengan alasan yang sama. Mengantar Haura. Tapi bedanya, biasa kak Zayn datang lebih awal, sebelum sekolah ramai seperti sekarang ini. Tapi hari ini kak Zayn datang terlambat. Entah karena sebab apa, dia pun tak tahu.


Sementara Nevan memasang wajah datar dan sulit untuk di artikan. Yang pasti matanya hanya tertuju pada seseorang yang keluar dari mobil kakaknya. Haura Annisa.


“Itu kan cewek yang di rumah lo. Kok bisa bareng kak Zayn, Van?” Gian nyaris syok melihat kejutan di pagi ini. Dia tidak menyangka bahwa Haura berangkat ke sekolah di antar oleh kak Zayn yang notabenenya adalah anak sulung pemilik sekolah ini.


“Wah… ini ada yang gak beres. Gue yakin pasti ada something yang di sembunyikan kak Zayn dari kita." Gian pun menghampiri kak Zayn demi sebuah klarifikasi.


Nevan dan Niko terpaksa mengikuti Gian yang sudah terlebih dulu meninggalkan mereka demi berita eksklusif yang akan menjadi hot topik di keluarga Sander.


Niko yang telah tahu alasan mengapa Haura bisa diantar ke sekolah oleh seorang kak Zayn terlihat biasa saja ketika berjalan menghampiri kakak sepupunya tersebut.


Beda halnya dengan Nevan. Dia terus saja memasang ekspresi datar di wajahnya. Ekspresi yang sulit untuk diartikan. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Mendapat tatapan mematikan dari Nevan membuat Haura semakin gelisah. Ingin rasanya dia bertelepati ke benua lain demi menghindari tatapan dingin seorang Nevan. Dia telah melakukan kesalahan dengan menerima ajakan kak Zayn mengantarnya ke sekolah. Laki-laki itu pasti marah karena anak seorang  pembantu dengan tidak tahu malu membiarkan sang majikan mengantarnya ke sekolah. Begitulah yang Haura artikan dari tatapan dingin Nevan terhadapnya.


“Kak, Haura masuk ke kelas dulu. Makasih banyak atas tumpangannya dan maaf karena ngerepotin kakak pagi-pagi,” Haura meminta izin karena dia ingin segera menghindari tatapan mematikan Nevan yang sedari tadi tertuju padanya.


“Ngapain pakek terima kasih segala. Apalagi maaf. ‘Kan kakak yang maksa kamu buat bareng. Justru kakak yang seharusnya bilang makasih ke kamu.”


“Kenapa harus kakak yang bilang makasih. ‘Kan Haura nggak bantu kakak apa-apa?” tanyanya heran dengan ucapan terima kasih dari kak Zayn.


“Minta apa ya kak?” Haura mengerutkan keningnya. Me-refresh kembali percakapannya dengan kak Zayn beberapa menit yang lalu.


Mulut gadis itu membulat sempurna menandakan bahwa dia telah paham arti terima kasih yang di ucapkan Zayn adalah karena tugas penting yang kak Zayn berikan kepadanya.


“Oke kak, Haura janji,” jawab gadis itu sambil mengacungkan jempol tangannya.


“Wow… Bisa kak Zayn jelaskan, situasi seperti apa yang sedang terjadi sekarang?” Tanya Gian sengit melihat interaksi yang terjadi antara kak Zayn dan Haura.


“Tentang apa?” Tanya Zayn yang sebenarnya paham dengan pertanyaan sang adik sepupu.


“Everything,” jawab Gian singkat dengan tatapan yang beralih kepada Haura yang masih terpaku tepat di samping kak Zayn.


"Tadi kakak bilang...." Nevan yang kini buka suara menggantungkan kata-kata yang akan diucapkannya. Matanya beralih menatap Haura.


 Zayn mengedikkan bahunya, sebagai jawaban dari pertanyaan yang menggantung dari adiknya, Nevan.


“Kamu masuk aja, Ra,” Zayn tahu bahwa Haura sangat tidak nyaman dengan situasi yang terjadi sekarang.

__ADS_1


Mendapat perintah dari kak Zayn, sontak saja membuat Haura seperti terlepas dari kandang singa. Sebuah anugerah.


“Ehh… I-ya kak, Haura masuk kelas dulu,” berpamitan kepada kak Zayn dan tersenyum kaku pada ketiga cowok remaja di depannya sekarang.


“Belajar yang rajin, ya,” tambah Zayn sambil mengusap puncak kepala Haura. Gadis remaja tersebut semakin dibuat mati kutu dengan tingkah kak Zayn. Entah apa maksud dari tindakan anak majikannya tersebut. Satu hal yang pasti, Nevan terus menatapnya dengan horor.


Setelah kepergian Haura, Gian mendesak penjelasan dari sang kakak sepupu.


“Sekarang kakak jelaskan ke kita? Kak Zayn pasti ada hubungan spesial kan sama Haura?,” desak Gian pada Zayn. Hal ini memang sesuatu yang mengherankan untuk Gian. Karena seluruh keluarga besar tahu bahwa Zayn tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Melihat sikapnya sekarang yang sangat perhatian kepada Haura, tentu saja hal itu membuat orang yang melihatnya heran.


Padahal Zayn sendiri sudah menganggap Haura seperti adiknya sendiri.


“Apa yang harus kakak katakana?” Jujur saja, Zyan ingin tertawa melihat ekspresi penuh intimidasi dari adik-adiknya tersebut. Gian dengan rasa ingin tahu yang menggebu, persis seperti ibu-ibu tukang gosip di ujung gang-gang sempit.


Sedangkan Nevan dengan ekspresi wajah datar  seolah tak peduli. Padahal Zyan tahu betul bahwa sang adik sedang dilanda rasa penasaran yang tinggi. Karena sejak tadi pagi Nevan menunggu kemunculan Haura. Dan ternyata orang yang ditunggunya justru muncul ke sekolah bersama dengan kakaknya sendiri. Sungguh, hal itu membuat Nevan sangat ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi gengsinya lebih tinggi daripada rasa ingin tahunya. Oleh karena ini dia memilih bungkam seolah tak peduli.


Hanya Niko yang terlihat biasa saja dengan situasi yang terjadi sekarang. Kerana dia memang telah tahu alasan tentang situasi yang terjadi sekarang.


“Kak Zayn jagan pura-pura gak paham arah pertanyaan aku. Kakak berhutang penjelasan pada kami,” Gian mulai jengkel karena tidak kunjung mendapat jawaban dari kakak sepupunya tersebut.


“Yang mana? I really don’t know.” ucap Zayn dengan wajah yang dibuat seolah-olah bingung demi untuk mengerjai adik-adiknya yang terlihat sangat antusias akan sebuah penjelasan darinya.


“About you and Haura.” ucap Gian akhirnya.


“Ooooo….. jadi masalahnya itu?” Zayn berkata enteng seolah itu bukanlah masalah besar. Memang sebenarnya itu bukanlah masalah besar. Karena Zayn sudah sering mengantar Haura ke sekolah tanpa sepengetahuan siapapun. Kecuali Niko. “Kalian mau tahu jawabannya?”


“Baiklah, kalian dengarkan penjelasan kakak dengan baik.” Pinta Zayn seakan dirinya akan memberikan penjelasan yang sangat apik untuk pertanyaan yang Gian ajukan.


Atensi Nevan dan Gian pun seratus persen terfokus pada Zayn. Sementara Niko, hanya cuek.


Laki-laki berusia dua puluh tiga tahun tersebut berjalan selangkah lebih dekat kearah adik-adiknya. Dengan penuh khidmat dia pun membuka suaranya sebagai jawaban atas rasa penasaran mereka.


Kata-kata keramat pun berhasil lolos dari mulut Zayn.


“Jadi bocah itu, jangan banyak mau tahunya. Sekolah yang bener. Jangan sok-sok-an ikut campur urusan orang dewasa. Otak kalian belum nyampek buat mikir urusan orang dewasa,” Zayn berkata dengan penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya diikuti dengan menepuk pundak kedua adiknya yang terlihat sangat syok dengan jawaban pamungkas yang dia berikan.


Setelahnya, Zayn pun berlalu meninggalkan kedua bocah yang masih terpana mendengar jawaban mematikan darinya.


Niko tidak berhenti tertawa melihat Nevan dan Gian yang seperti terhipnotis dengan jawaban nyeleneh yang diberikan oleh kak Zayn. Mereka bagai jasad tanpa ruh. Terdiam tak berkedip.


“Dasar bocah,” Niko pun berjalan menuju kelas masih diiringi oleh tawa nyaring yang terdengar dengan jelas.

__ADS_1


“Sial,” Umpatan yang sama keluar dari mulut Nevan dan juga Gian. Mereka pun mengikuti langkah Niko menuju kelas dengan perasaan mendongkol kepada Zayn karena telah mempermainkan mereka.


__ADS_2