
Hari Senin pun tiba. Hari yang terkadang disambut dengan kemalasan oleh sebagian orang. Setelah melewati akhir pekan yang menyenangkan dengan bermalas-malasan di pagi hari, tentu saja Senin memaksa setiap orang agar kembali bangun lebih pagi untuk memulai rutinitas seperti biasanya. Hari pembuka yang disambut dengan berbagai rasa oleh penduduk bumi.
Di sebuah rumah, seorang gadis remaja terlihat sangat panik. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima menit.
“Gimana ini, aku telat,” kata Haura sambil beranjak dari ranjangnya dengan panik. Tidak pernah sebelumnya dia bangun tidur se-siang ini. Akibat insomnia dadakan semalam membuat dirinya harus kesiangan bangun pagi.
“Ini hari senin, bisa gawat kalau aku telat.” Haura menyambar handuk dan bergegas untuk mandi. Di teliti dengan seksama, tidak ada tanda-tanda keberadaan ibunya. Pasti ibu sedang sibuk di rumah utama, batinnya.
Dengan segala kepanikan yang hakiki, Haura berlomba dengan waktu agar dirinya tidak terlambat ke sekolah. Mengingat hari Senin adalah jadwal dirinya piket.
Jika di paviliun belakang Haura terlihat sangat panik, beda halnya yang sedang terjadi di sebuah kamar di lantai dua rumah utama. Neva telah terlihat keren dengan seragam sekolah barunya. Remaja laki-laki itu tampak sangat tampan seperti biasanya. Tapi jangan berharap bahwa dia akan berpakaian rapi layaknya anak sekolahan pada umumnya. Hal itu sangat jauh dari karakter seorang Nevan.
Jika Zayn selalu terlihat rapi dengan kemeja rapi yang dimasukkan ke dalam serta rambut dengan model Fade hair cut yang memberikan kesan formal, maka berbeda dengan Nevan. Dia berpakaian dengan sesuka hatinya. Baju yang dibiarkan di luar dan tidak di kancing, tidak memakai dasi serta jangan lupakan rambutnya dengan potongan slanted sweep membuat ketampanannya berada di level tak terjangkau.
Nevan tiba di meja makan dengan wajah yang terlihat sangat cerah. Entah kenapa hari ini dirinya sangat bersemangat ke sekolah. Tidak seperti biasanya, sekolah adalah hal paling membosankan untuknya. Tapi hari ini seakan-akan sekolah adalah salah satu hal favorit untuknya.
“Tumben kamu bisa bangun cepat?” tanya Zayn mersa heran karena tidak biasanya Nevan rajin bangun pagi. Kini adiknya telah terlihat tampan dengan seragam sekolahnya.
“Kan emang biasanya Nevan bangun cepat,” kata Nevan menjawab pertanyaan kakaknya seolah-olah memang dirinya sudah terbiasa dengan rutinitas tersebut.
Zayn yang mendengar jawaban Nevan pun tersedak dengan makanannya, “Apa kakak gak salah dengar kalau kamu biasa bangun pagi cepat?”
“Gak dong kak, Nevan memang biasanya bangun pagi. Cuma kadang-kadang jam nya aja yang muternya kecepatan makanya seolah-olah Nevan bangun kesiangan,” Nevan memberi jawaban yang sangat tidak masuk akal.
“Se-semangat itu kamu?” Ada maksud tersirat dari pertanyaan Zayn.
Nevan tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Dia tahu arah pertanyaan sang kakak sebenarnya ditujukan untuk sesuatu hal. Nevan pun memilih memulai ritual sarapannya.
Berselang beberapa menit, Tuan Liam ikut bergabung di meja makan bersama kedua putranya. Sementara grandma, setelah acara makan malam selesai memilih menginap di rumah tante Vania.
“Selamat pagi, Pa,” sapa Zayn dan Nevan kepada Tuan Liam secara bersamaan.
“Selamat pagi,” Jawab Tuan Liam singkat.
Tuan Liam menyeruput kopi hitam yang telah tersedia di meja makan, “Ini hari pertama kamu sekolah. Papa harap kamu jangan buat masalah. Kamu harus bisa membawa diri dengan baik. Meskipun kamu anak papa, kamu tetaplah seorang siswa. Jadi bersikaplah dengan baik. Jangan membuat onar. Kamu paham ‘kan, Van?” petuah Tuan Liam kepada Nevan yang notabenenya memang suka bertindak semaunya.
Sejak tinggal di Sydney bersama grandma, Nevan terlalu dimanjakan. Apapun yang di inginkannya pasti selalu di turuti oleh grandma mereka. Hal itu dilakukan oleh Nyonya Anna karena satu alasan, agar Nevan tidak merasa kekurangan kasih sayang karena telah kehilangan sosok Ibu sejak kecil. Alhasil, hal tersebut membuat Nevan suka bersikap sesuka hati.
Jika orang tua Tuan Liam begitu memanjakan Zayn dan Nevan, berbeda dengan Tuan Liam. Beliau selalu bersikap tegas terhadap kedua putranya. Bukan karena tidak menyayangi mereka. Akan tetapi Tuan Liam selalu menanamkan prinsip bahwa seorang laki-laki haruslah bertanggung jawab dan bijaksana. Karena nantinya mereka akan menjadi pemimpin. Hal paling utama yang harus di lakukan adalah mereka harus mampu memimpin diri mereka sendiri. Begitulah Tuan Liam menanamkan rasa disiplin kepada kedua putranya.
Tapi Nevan tetaplah Nevan. Remaja itu belum bisa bersikap disiplin. Berbeda dengan Zayn yang selalu mematuhi peraturan yang dibuat oleh Papa mereka.
Mendengar nasihat dari Papanya, Nevan hanya mengangguk tanda paham dengan apa yang dikatakan Tuan Liam. Entah itu benar-benar paham atau hanya pura-pura paham agar ceramah pagi sang Papa tidak berlanjut lebih lama.
“Nanti di sekolah juga ada Gian dan Niko. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa minta tolong ke mereka,” tambah Tuan Liam.
“Iya Pa. Nevan paham," jawab Nevan singkat.
Kegiatan sarapan pun berlanjut tanpa adanya percakapan lebih lanjut. Hanya terdengar suara kolaborasi antara sendok dan piring. Sesekali Nevan mengedarkan pandangannya menuju pintu belakang.
__ADS_1
Nevan mulai terlihat gelisah menunggu kemunculan Haura. Ya, Nevan sebenarnya bangun lebih pagi agar bisa melihat Haura yang dia yakini bahwa gadis remaja tersebut pasti akan mengunjungi rumah utama. Akan tetapi sedari tadi Nevan memperhatikan arah pintu belakang, sosok Haura tak kunjung muncul.
“Nevan berangkat ke sekolah ya Pa, Kak Zayn,” Pamit Nevan kepada Papa dan kakaknya. Kemudian Nevan pun meninggalkan meja makan bersiap menuju ke arah pintu utama.
Ketika hampir mencapai pintu keluar utama, Nevan mendengar Zayn memanggilnya.
“Van, ini untuk kamu,” Kata Zayn sambil menyerahkan sebuah kunci sepeda motor kepada Nevan. “Ini hadiah dari kakak untuk kamu,” sambung Zayn lagi.
“Thanks kak. Kak Zayn memang terbaik,” kata Nevan. Mereka berdua pun melanjutkan langkah menuju pintu utama.
Sebuah motor sport telah terparkir di halaman depan. “Wow… It’s great,” ucap Nevan ketika melihat motor pemberian kakaknya.
“Semoga kamu suka,” balas Zayn.
“Of course, Thanks again, Kak.” Nevan pun berjalan menaiki motor barunya. Dia terlihat sangat keren dengan kendaraan tersebut. Untuk beberapa saat Nevan masih memfokuskan pandangannya ke arah paviliun belakang. Dia masih menunggu kemunculan Haura.
“Sepertinya Haura sudah berangkat ke sekolah,” kata Zayn yang seakan dapat membaca isi fikiran Nevan sekarang ini.
“Hahhhhh……” Nevan merasa kaget dengan perkataan kakaknya. Bagaimana bisa kak Zayn membaca pikirannya sekarang.
“Kalau kamu mau berangkat ke sekolah bareng Haura, seharusnya kamu bangun lebih cepat. Karena biasanya Haura berangkat ke sekolah jam tujuh tepat,” jelas Zayn lagi.
“Ehmmmm…” Nevena pun berdehem untuk mencairkan suasana. sungguh, dia merasa malu karena tertangkap basah oleh sang kakak. “Kalau gitu, Nevan berangkat ya kak,” ucap Nevan merasa canggung. Dia merasa mati gaya di depan kakaknya.
“Iya, hati-hati,” jawab Zayn. “Nevan, seharusnya kamu lebih dulu menyapanya.” Ucapan Zayn menghentikan Nevan yang ingin melajukan kendaraannya.
“Haura…. Mungkin dia merasa canggung jika harus menyapa kamu lebih dulu. Kamu tahu ‘kan maksud kakak? You are a man.”
“Kalau Nevan boleh tahu, Haura di kelas mana?”
“XI IPA 2.”
“Oke kak, Nevan berangkat.” Tanpa menunggu jawaban sang kakak, Nevan pun melajukan kendaraannya.
Zayn tersenyum simpul melihat tingkah laku adiknya tersebut. Semenjak kedatangannya kembali ke rumah, Zayn tahu bahwa adiknya itu sangat ingin bertemu dengan Haura. Bahkan ketika Zayn pertama kali menceritakan tentang Haura saat Nevan masih di Sydney, adiknya itu selalu saja menghubunginya untuk menanyakan tentang Haura.
Seorang gadis remaja yang di tunggu-tunggu oleh Nevan sedari tadi muncul dengan setengah berlari menuju ke gerbang utama.
“Haura… Kenapa kamu belum berangkat?” tanya Zayn yang merasa heran karena tidak seperti biasanya Haura terlambat ke sekolah.
“Kak Zayn,” Haura hampir berteriak karena kaget. Terlalu fokus berjalan hingga Haura tidak menyadari ternyata Zayn berada di halaman depan. “Haura telat bangun, kak” jawabnya kemudian.
“Haura berangkat ya, kak.” Kemudian Haura pun berlalu tanpa menunggu jawaban Zayn.
“Haura.. tunggu.” Mendengar Zayn memanggilnya lagi dengan terpaksa Haura menghentikan langkahnya. Jika saja yang memanggilnya bukan seseorang yang berstatus anak majikannya, sungguh saat ini Haura tidak akan memperdulikannya. Karena dirinya sedang berlomba lari dengan sang waktu.
“Kenapa kak?” tanya Haura dengan wajah yang dipaksa tersenyum.
“Kamu ke sekolahnya kakak anterin,” ucap Zayn. “Tunggu sebentar dan gak usah nolak,” perintah Zayn lagi.
__ADS_1
“Tapi kak…” perkataan Haura terhenti karena Zayn telah pergi memasuki rumah.
“Aduh… gimana ini, gak mungkin aku ke sekolah sama kak Zayn.” Sungguh Haura sangat merasa enak hati jika berangkat ke sekolah bersama kak Zayn.
Meskipun pernah beberapa kali dirinya di antar ke sekolah oleh anak majikannya itu, Haura masih saja merasa sungkan. Dia merasa sangat tidak sopan kalau terus menerus merepotkan kak Zayn. Seringkali kak Zayn mengatakan bahwa dia telah menganggap Haura seperti adiknya sendiri. Tetap saja Haura cukup merasa tahu diri bahwa dirinya hanyalah putri seorang pembantu. Dia tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan kak Zayn.
“Ayo, Ra. Buruan.” Zayn muncul dari dalam rumah dengan tas kerja dan kunci mobilnya.
“Kak, Haura gak mau ngerepotin kakak. Lagian Haura udah pesan ojol.” kata Haura yang merasa sangat sungkan kepada Zayn. Sebenarnya dirinya belum memesan ojol karena dia buru-buru jadi lupa memesan ojol untuk berangkat ke sekolah. Tapi dirinya terpaksa berbohong agar Zayn mengurungkan niatnya mengantar dirinya ke sekolah.
“Kamu sama sekali gak ngerepotin kakak. Lagian kak Zayn juga mau berangkat kerja dan jalan menuju kantor searah dengan sekolah kamu. Jadi jangan berfikir kalau kamu ngerepotin kakak,” jelas Zayn agar Haura bersedia untuk pergi ke sekolah bersamanya.
“Haura, buruan. Kamu mau kak Zayn telat ke kantor gara-gara kamu?" ucap Zayn lagi ketika melihat Haura belum beranjak dari tempatnya.
“Atau kamu mau berangkat ke sekolah bareng Nevan?” ancam Zayn lagi. “Kalau kamu memang mau bareng Nevan, biar kak Zayn panggilkan. Tuh Nevan nya masih di dalam.” Mendengar kata-kata kak Zayn, Haura pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
Mana mungkin dirinya ke sekolah bersama Nevan. Bertegur sapa saja belum pernah setelah sepuluh tahun, fikir Haura.
“Gitu dong. Lagian kamu, setiap kakak nawarin tumpangan selalu nolak.” Haura hanya diam mendengar kata-kata dari kak Zayn. Hening untuk sejenak. Zayn melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
“Ra, kamu tahukan kalau Nevan bakalan satu sekolahan sama kamu?” tanya Zayn memecah kesunyian.
“Iya kak, Haura tahu,” jawab gadis itu singkat.
“Ra, kak Zayn boleh minta tolong?” tanya Zayn lagi. Mendengar ucapan kak Zayn, kini Haura pun mengalihkan pandangannya kearah Zayn yang terlihat sedang fokus menyetir.
“Boleh kak. Kak Zayn mau minta tolong apa?” jawab Haura cepat. Mana mungkin dirinya menolak permintaan kak Zayn yang selalu bersikap baik padanya.
“Sebenarnya bukan pertolongan. Lebih tepatnya, kak Zayn punya tugas penting untuk kamu,” kata Zayn.
“Tugas penting gimana kak?” tanya Haura dengan mengerutkan keningnya. Haura merasa heran dengan perkataan Zayn.
“Tugasnya sederhana kok, Ra.” Zayn menjeda sejenak ucapannya. Kini laki-laki itu menoleh kearah Haura sejenak. “Tugas dari kakak adalah kamu jagain Nevan di sekolah” Sambung Zayn lagi.
“Hahhhh… jagain gimana kak?” Haura merasa lebih heran lagi dengan tugas penting yang disampaikan Zayn untuk dirinya.
“Nanti kalau Nevan mendapatkan masalah di sekolah, kamu tolong bantuin dia ya. Nevan itu suka bertingkah sesuka hati. Karena selama di Sydney, grandma terlalu memanjakan dia. Dari itu, dia sangat tidak suka penolakan. Apapun yang dia inginkan harus selalu dituruti. Kak Zayn Cuma nggak mau kalau nantinya Nevan menimbulkan masalah dan diketahui oleh Papa. Kerena itu kak Zayn butuh bantuan kamu untuk selalu mengontrol Nevan,” jelas Zayn dengan panjang lebar.
“Tapi kak, kenapa Haura?” tanya Haura lagi yang merasa aneh mengapa dirinya yang harus menjaga Nevan. Apalagi Nevan bukanlah anak kecil yang harus dijaga.
“Bukan berarti Haura gak mau bantuin kak Zayn. Tapi kenapa Haura, kak?” sambung gadis itu lagi.
“Karena kamu Haura.” Jawab Zayn enteng.
“Maksud kak Zayn?”
“Gak ada maksud apapun. Kak Zayn kasih tugas ini ke kamu, karena kamu Haura.” Ucap Zayn lagi sambil tersenyum hangat kearah Haura. Sementara Haura masih mencerna perkataan Zayn yang sama sekali tidak dipahami olehnya.
Tidak ada percakapan apapun setelah itu. Zayn menambah kecepatan kendaraannya agar tiba lebih cepat ke sekolah Haura. Di sisi lain, Haura larut dengan pikirannya sendiri tentang tugas penting dari kak Zayn yang diterimanya beberapa menit yang lalu.
__ADS_1