
Nevan meyandarkan tubuhnya pada motor miliknya yang terparkir di sampingnya. Remaja tampan itu telah terlihat rapi dengan seragam sekolah yang membalut tubuhnya. Seperti hari-hari biasanya semenjak menetap di Indonesia, Nevan selalu berangkat ke sekolah ketika matahari baru beranjak perlahan menghiasi langit. Pagi itu langit terlihat mendung. Langit November. Bulan dimana hujan mulai turun dengan derasnya. Sambil menunggu kedatangan Haura, Nevan memainkan smartphone miliknya, berselanjar di dunia maya
Haura berjalan perlahan. Ragu dengan langkahnya sendiri. Dari kejauhan manik hitam milik gadis remaja itu dapat melihat Nevan disana. Berdiri dengan tenang, menunggu dirinya. Haura tahu itu.
Meski Haura tahu Nevan menunggu dirinya, gadis remaja itu tetap memilih melangkah perlahan menuju kepada Nevan. Jemari Haura saling bertautan, mengurai kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu gadis remaja itu risaukan. Semakin mendekat pada orang yang di tujunya, semakin pula membuat Haura gugup. Bahkan untuk menelan salivanya sendiri saja terasa sangat sulit.
Beberapa langkah lagi ketika Haura hampir mencapai dimana tempat di mana Nevan berada, Nevan ternyata menyadari bahwa ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Haura, Nevan yakin itu. Remaja tampan itu pun menoleh ke belakang. Tatapan matanya langsung menangkap sosok Haura. Secara spontan pula Nevan membalikkan tubuhnya secara sempurna.
Remaja tampan itu bergeming untuk sesaat. Menatap lurus pada Haura yang saat itu juga diam bergeming menatapnya. Netra kedua remaja itu saling mengunci. Hanya beberapa detik berlangsung hingga akhirnya Haura memilih untuk mengakhiri tatapannya pada Nevan. Menunduk dalam. Haura mencoba menyembunyikan wajahnya dari Nevan.
Namun sayangnya Nevan telah berhasil memindai wajah Haura dengan baik meskipun mereka saling menatap hanya untuk beberapa detik lamanya. Dan sialnya lagi waktu beberapa detik itu telah menghasilkan debaran yang tak biasa di dalam dada Nevan. Perasaan aneh yang merayap masuk dalam hatinya. Ada detak tak biasa yang di rasakan Nevan dalam dadanya.
“Eheemmm…” Terdengar Nevan berdehem. Menepis debaran yang datang secara tiba-tiba tanpa permisi. Sekaligus mengurai kecanggungan yang di rasakan oleh keduanya.
“Kenapa kamu berpenampilan seperti itu?” tanya Nevan.
Jika di hari-hari biasanya Haura pergi ke sekolah dengan rambut terkuncir menyerupai ekor kuda. Hari ini Haura menggerai rambut hitamnya yang begitu indah. Ada jepitan rambut kecil juga tersemat disana. Mempermanis tampilan Haura pada hari itu. Belum lagi wajah gadis remaja itu yang terlihat tersapu make-up minimalis layaknya remaja pada umumnya, membuat wajah Haura terlihat semakin manis. Itulah yang menjadi pusat perhatian Nevan beberapa menit yang lalu hingga menghasilkan debaran aneh di dalam dada remaja tampan itu.
Penampilan Haura yang sederhana justru mempu membius Nevan untuk kedua kalinya. Cantik, batin Nevan memuji sahabatnya itu. Untuk kedua kalinya juga Nevan hanya memuji kecantikan Haura di dalam hatinya.
“A-a-aku….” Jawab Haura terbata dengan wajah yang masih menunduk dalam. Tak mau menatap lawan bicaranya yang tanpa Haura tahu sejak tadi belum mengalihkan tatapannya dari dirinya.
Sedetik kemudian Haura mengambil sesuatu dari saku bajunya. Sebuah ikat rambut berwarna hitam. Dengan sigap tangan Haura menyatukan kembali rambutnya yang tergerai begitu indah dalam satu genggaman tangan. Haura ingin menguncir kembali rambutnya.
"Seharusnya aku tidak perlu mengikuti saran Lui kemarin," gumam Haura di sela-sela mengumpulkan anak-anak rambutnya.
Belum juga maksud Haura terlaksana, segera Nevan melangkahkan kakinya lebar. Mengikis jarak antara dirinya dan Haura yang hanya terpisah jarak satu meter.
“Kamu mau apa?” Segera tangan Nevan menahan tangan Haura yang hendak menguncir rambutnya.
“Aku mau kuncir rambut aku," jawab Haura segera. "Sebenarnya aku juga gak nyaman kalau rambut aku di gerai gini. Gerah," sambung Haura lagi. Padahal itu hanyalah alasan gadis itu saja. Yang membuat Haura tidak nyaman bukanlah karena kegerahan. Akan tetapi karena Nevan yang menatapnya dingin.
Belum lagi, Haura masih mengingat dengan jelas ketika pertama kali dirinya menggerai rambutnya. Jelek. Itulah komentar Nevan saat itu. Satu kata yang membuat Haura semakin merasa tidak percaya diri dengan penampilannya sekarang.
Sebenarnya sejak pagi tadi di paviliun belakang, Haura sudah mau menguncir rambutnya. Namun entah kenapa juga Luisa menghubunginya lewat panggilan video pagi tadi hanya untuk melihat penampilan Haura pagi ini.
"Kemarin kak Haura udah janji sama Lui kalau hari ini rambutnya gak akan di kuncir. Kalau gak kak Haura kuncir, Lui gak mau lagi kenal sama kak Haura. Lui benar-benar marah sama kak Haura dan gak mau lagi berteman sama kak Haura," ancan Luisa pagi tadi ketika melakukan panggilan video bersama Haura.
"Tapi Lui, Kak Haura gak pede kalau rambutnya di gerai. Kak Haura akan terlihat semakin jelek," tolak Haura. Dalam hati Haura menyesali karena sudah berjanji kepada Luisa untuk menggerai rambutnya pagi ini.
"Lui gak mau tahu, kak Haura udah janji. Lagian siapa bilang kak Haura jelek? Kak Haura cantik dengan rambut yang di gerai. Pasti akan ada orang yang suka kalau rambut kak Haura di gerai. Jangan lupa juga pakai jepit rambut yang Lui kasih kemarin. Bye kak Haura. Kirim foto kakak untuk Lui. Jangan lupa."
Panggilan video singkat itu pun berakhir. Dan mau tidak mau Haura mengikuti saran Luisa. Ada juga terselip keinginan Haura untuk melepas kuncir rambut yang selalu menemaninya setiap hari. Tapi lagi-lagi perkataan Nevan terngiang. Bahwa dirinya terlihat jelek.
"Kemarin Lui minta aku untuk menggerai rambut aku dan mengirim foto aku untuknya. Seharusnya aku gak usah ikutin saran Lui, jadi aku gak harus terlihat jelek seperti sekarang. Meskipun aku gak cantik, tapi dengan penampilan seperti ini, semakin buat aku terlihat buruk rupa." Haura terus berucap pada Nevan yang sedari tadi diam mendengarkan semua yang Haura katakan. Tangan Nevan masih menggenggam pergelangan tangan Haura. Menahan Haura untuk tidak menguncir rambutnya. Belum lagi netra Nevan masih betah menatap wajah Haura yang kini berjarak beberapa jengkal darinya.
__ADS_1
"Nevan, lepasin dulu tangan aku. Karena Aku...."
"Gak usah di kuncir," ucap Nevan segera. Yang mana ucapan Nevan membuat Haura menatap aneh pada sahabatnya itu
"Kenapa?"
"Aku gak mau telat ke sekolah. Dengan kamu menguncir rambut kamu lagi, itu akan menghabiskan waktu beberapa menit. Dan waktu beberapa menit itu seharusnya bisa kita gunakan untuk segera pergi ke sekolah," kilah Nevan. Berbohong, karena tidak ingin mengatakan alasan sebenarnya kenapa dirinya melarang Haura menguncir rambutnya.
Bingung. Itulah yang Haura rasakan. Bingung dengan ucapan Nevan yang Haura fikir begitu sangat tidak masuk akal itu.
"Ini gak akan butuh waktu lama. Kamu lepasin dulu tangan aku, biar aku bisa segera kuncir rambut aku dan kita bisa segera pergi," pinta Haura lagi.
"Aku udah nunggu kamu dari sepuluh menit yang lalu. Dan kamu minta aku untuk tunggu kamu kuncir rambut lagi. Come on Haura, kamu fikir aku mas-mas ojol yang lagi nunggu pesanan."
"Aku bisa ke sekolah sendiri tanpa harus pergi sama kamu." Haura mulai terpancing emosi lagi menghadapi Nevan. "Lagian aku gak pernah minta untuk berangkat ke sekolah sama kamu. Kamu sendiri yang paksa aku untuk pergi sama kamu."
"Aku paksa kamu? kapan?" Nevan yang merasa selalu benar juga tidak mau kalah mendengar ucapan Haura. Meski secara sadar Nevan tahu bahwa semua yang di katakan Haura benar. Dirinyalah yang memaksa Haura. Tapi membenarkan perkataan Haura adalah sebuah pilihan yang tidak akan pernah Nevan ambil.
"Kapan? Kamu lagi amnesia?" Haura menjeda ucapannya. Memalingkan wajahnya dan menghambuskan nafas panjang lalu kembali menatap lawan bicaranya itu
"Sekarang kamu lepasin dulu tangan aku. Perdebatan kita justru bisa membuat kita terlambat." Haura memilih untuk kembali ke topik utama yang menyebabkan perdebatan mereka di pagi hari itu terjadi. Tanpa mau membahas perkara amnesia dadakan yang Nevan alami.
Bukannya menuruti ucapan Haura, Nevan justru langsung menarik tangan Haura untuk mengikuti langkahnya. Sentakan di tangannya memaksa Haura untuk mengikuti Nevan. Meski dalam setiap langkahnya Haura terus berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Nevan.
"Kamu mau naik sendiri atau aku gendong," ancam Nevan karena Haura yang tak kunjung menuruti perintahnya.
Dengan menghentakkan kakinya dan mulut yang mencebik tanda protes akan sikap Nevan, Haura dengan terpaksa mengikuti perintah Nevan. Bukan tidak mungkin jika Nevan benar-benar akan menggendongnya jika tidak segera naik ke motor tersebut.
Sebuah lengkungan kecil terlihat di sudut bibir Nevan. Melihat Haura yang menahan kesal kepada dirinya justru sesuatu yang Nevan sukai. Begitulah Nevan, membuat Haura kesal adalah salah satu hal yang paling menyenangkan untuknya. Oleh karena itu, tidak ada satu hari pun yang Nevan lalui tanpa menggoda sahabatnya itu.
Setelahnya Nevan segera mengambil paksa ikat rambut yang ada di tangan Haura dan membuangnya ke sembarang arah.
"Kenapa di buang?" tanya Haura sembari menatap nanar pada ikat rambutnya.
"Kamu gak butuh itu," jawab Nevan tanpa memperdulikan ekspresi Haura yang seakan ingin menangis.
Haura hanya menundukkan kepalanya. Gadis remaja itu ingin menangis. Kesal pada Nevan yang selalu bersikap sesuka hati padanya.
"Kenapa lagi?" tanya Nevan yang mulai menyadari bahwa Haura seperti hendak menangis.
"Aku gak mau sekolah." Haura pun hendak turun kembali dari motor sport milik Nevan.
Tapi dengan cepat Nevan menahan Haura untuk tetap duduk di atas motor miliknya. "Kenapa? Kenapa kamu gak mau sekolah?" Bingung. Itulah yang Nevan rasakan. Dia tidak tahu apa yang membuat Haura tiba-tiba tidak mau sekolah.
"Aku gak mau sekolah sebelum menguncir rambut. Aku mau balik ke belakang. Aku mau ambil ikat rambut lain."
__ADS_1
"Rambut?" Nevan mulai frustasi karena persoalan rambut bisa serumit ini. "Haura, gak ada yang salah dengan rambut kamu. Sekarang kita berangkat ke sekolah." Nevan berkata dengan penuh kelembutan agar Haura mau mendengarnya.
Namun sayang, Haura menggeleng tanda tidak setuju dengan semua yang Nevan ucapkan. "Aku gak mau ke sekolah dengan rambut seperti ini."
"Kenapa?"
"Aku jelek," jawab Haura lirih. Merasa dirinya benar-benar terlihat buruk.
"Jelek? Siapa bilang?" Kedua alis Nevan melengkung sempurna. Bingung.
"Kamu."
Satu kata dari Haura membuat Nevan membulatkan matanya dengan sempurna. "Aku?" ucap Nevan dengan menunjuk pada dirinya sendiri.
Haura mengangguk. Membenarkan ucapan Nevan.
"Kapan?" tanya Nevan lagi. Dirinya benar-benar lupa pada perkataannya di rumah sakit satu bulan yang lalu.
"Di rumah sakit. Kamu bilang aku jelek kalau rambut aku di gerai. Kalau kamu aja bilang aku jelek, apalagi anak-anak yang lain. Aku gak mau jadi bahan bullyan siswa lain."
"Sial," sebuah umpatan lolos dari mulut Nevan. Umpatan untuk dirinya sendiri.
Kini remaja tampan itu ingat pada perkataannya di rumah sakit satu bulan yang lalu. Dan lebih parahnya lagi Haura menganggap ucapannya itu benar. Bahwa dirinya mengatakan Haura jelek. Padahal kenyataannya Haura terlihat begitu cantik saat itu, persis seperti hari ini. Namun sayang, lidah Nevan terasa kelu untuk sekedar mengucapkan satu kata cantik untuk Haura.
"Kamu...." Nevan melihat manik hitam milik Haura mulai berkaca-kaca. "Kamu benar-benar bodoh."
Entah dengan cara apa Nevan bisa menjelaskan pada gadis remaja di depannya itu bahwa apa yang dia ucapkan dulu adalah sebuah kebohongan. Belum lagi gengsi yang selalu Nevan junjung tinggi, membuat dirinya enggan untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Jangan nangis, kita berangkat sekarang. Gak akan ada yang akan mengatakan kamu jelek."
"Aku..."
"Diam. Jangan protes, Haura."
Haura tidak menjawab lagi ucapan Nevan. Haura memilih diam, seperti apa yang Nevan katakan. Tidak ada lagi protes lanjutan. Fikir Haura kalau pun nanti di sekolah akan ada yang membully-nya, Haura sudah siap. Karena sejak awal memang salah dirinya sendiri karena berpenampilan seperti sekarang ini.
Nevan segera melajukan kendaraannya. Siap membelah jalanan Ibu Kota yang masih terlihat lenggang di pagi itu. Mereka berkendara dalam diam. Tidak ada yang membuka suara.
Rambut panjang Haura terlihat begitu indah di terpa angin pagi yang begitu sejuk. Sayangnya wajah gadis itu masih terlihat murung. Mendung sebagaimana cuaca langit di pagi itu.
Secara tiba-tiba tangan kiri Nevan menggenggam salah satu tangan Haura yang berada di pundaknya. Sebuah genggaman yang tidak biasa karena bersamaan dengan itu jantung Nevan berdetak tidak sesuai dengan ritme yang biasa. Ada gelanyar aneh yang dia rasakan. Dan juga rasa bersalah karena perkataannya yang membuat Haura kehilangan kepercayaan dirinya.
"Kamu cantik. Maaf untuk kata-kata aku dulu," ucap Nevan pelan nyaris seperti sebuah gumaman dan tentunya tidak dapat di dengar oleh Haura.
Mendung di pagi itu mengawali sebuah rasa tak biasa hadir di hati Nevan kepada Haura, sahabatnya. Sebuah rasa yang lebih dulu muncul di dalam hati Haura untuk sahabatnya, Nevan. Mendung dan sebuah rasa yang akan menghadirkan gerimis di hati kedua remaja tersebut.
__ADS_1