
Terimaka kasih untuk semua pembaca tersayangđź©·
Tolong bantu like, comment dan tambahkan ke favorit kalian supaya aku semakin semangat nulisnya.
Happy reading guys... semoga tulisan aku bisa menemani di waktu santai
Peluk jauh dari penulis... hehe
Maaf yah kalau masih banyak typođź¤
*
*
*
*
*
Suara riuh sorak sorai siswa-siswi di lapangan basket menyaksikan pertandingan basket yang sedang berlangsung. Pertandingan basket adalah ekskul yang paling dinantikan oleh seluruh siswa. Pertandingan antara tim basket putra dari kelas XI dan kelas XII sedang berlangsung saat ini. Kedua kubu bertanding sangat sengit. begitu juga para siswa yang menajadi suporter terbagi menjadi dua kubu. Yang menjadi pusat perhatian adalah kapten dari kedua tim, Nevan dan Farel.
Para suporter saling sahut menyahut menggemakan nama dari kedua kapten tim basket tersebut. Bukan hanya pesona Nevan dan Farrel saja yang menyedot perhatian kaum hawa, jangan lupakan Niko dan Gian yang selalu bersinar dengan cara mereka masing-masing. Perolehan point pun silih berganti saling mengungguli antara kedua tim.
Meskipun Farrel bergabung sebagai kapten klub sepak bola sekolah, akan tetapi kehebatan Farrel dalam bermain basket juga tidak kalah dengan kehebatannya di lapangan hijau. Farrel di percaya juga sebagai kapten tim basket mewakili kelas XII.
Haura tampak berada dalam kelompok penonton yang mendukung siswa kelas XII. Meskipun dirinya sebagai minoritas dalam klub suporter tersebut. Bukannya malah mendukung Nevan bersama kedua temannya, Haura memilih duduk di pojokan bangku penonton menikmati jalannya pertandingan seorang diri tanpa kedua sahabatnya. Gadis remaja itu terlihat antusias menyaksikan pertandingan.
Sesekali senyum merekah terbit di wajah manis Haura ketika Farrel berhasil menambah skor untuk tim mereka. Apalagi ketika mencetak skor tatapan Farrel selalu tertuju pada Haura. Seakan menegaskan bahwa dirinya bermain maksimal untuk memperlihatkan kepada gadis yang disukainya itu bahwa dirinya juga tidak kalah hebat dalam bermain basket.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari bahwa sejak tadi interaksi tak kasat mata antara Haura dan Farrel justru menjadi pusat perhatian Nevan. Apapun yang berkaitan dengan Haura tidak pernah luput dari pengawasan Nevan.
Remaja tampan itu terus saja menatap Haura dengan tatapan membunuh. Sejak awal Haura memilih duduk di bangku penonton yang di dominasi siswa kelas XII saja sudah menjadi hal yang membuat Nevan begitu marah. Ditambah lagi Farrel seperti sengaja memamerkan kehebatannya bermain basket di depan Haura membuat Nevan semakin tersulut amarah.
Farrel bukannya tidak tahu bahwa sikapnya membuat Nevan cemburu. Akan tetapi Farrel tetap melakukannya dan tidak peduli dengan tatapan elang Nevan yang memandangnya dengan penuh kemarahan. Sejak tadi Nevan dan Farrel saling adu kehebatan di lapangan basket. Jalannya pertandingan seperti sebuah duel antara Nevan dan Farrel. Bahkan para anggota tim basket dari kedua belah pihak juga menyadari hal tersebut.
Haura yang berada di bangku penonton sesekali meringis ketika melihat Nevan terjatuh di lapangan. Tentu saja gadis remaja itu merasa khawatir kepada sahabatnya itu. Tetapi Haura memilih tidak memperlihatkan rasa khawatirnya. Bahkan ingin rasanya Haura ikut berteriak menyebut nama Nevan seperti siswa lainnya untuk mendukung sahabatnya, akan tetapi Haura takut sikapnya itu justru akan membuat Nevan semakin menjauhinya.
Bukan tanpa sebab Haura memilih berada di bangku supporter Farrel dan tim. Haura melakukan itu karena ia juga ingin menjaga jarak dari Nevan yang telah bersikap dingin kepadanya lebih dari satu minggu lamanya.
Tim Nevan mengungguli pertandingan dengan jumlah skor yang berbeda tipis. Peluit tanda berakhirnya pertandingan pun berbunyi menandakan bahwa tim basket kelas XI berhasil memenangkan pertandingan.
Riuh suara penonton bersorak menyambut kemenangan Nevan dan tim. Semuanya tampak bahagia menyambut kemenangan. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Nevan. Remaja tampan itu memilih segera meninggalkan lapangan begitu peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi.
Sepertinya amarah Nevan telah memuncak disebabkan oleh Haura dan Farrel. Kepergian Nevan tentu saja membuat euphoria kemenangan kurang lengkap rasanya. Namun tidak ada satu orang pun yang berani bertanya apa gerangan yang terjadi kepada Nevan. Meskipun Gian dan Niko mengetahui penyebab kemarahan Nevan. Rasa cemburu dan marah telah menguasai Nevan.
“Selamat kak Farrel,” ucap Haura tulus sembari mengulurkan tangannya memberikan selamat.
Bukannya menyambut uluran tangan Haura, Farrel justru mencubit gemas pipi Haura. “Terimaksih bocah.”
“Ikh kak Farrel, masa iya selalu di panggil bocah.” Protes Haura “Tapi Kak Farrel hebat main basketnya. Haura gak nyangka kak Farrel jago juga main basket.”
“Hmmm.... tapi aku kalah, itu artinya aku juga kalah dalam perjanjian kita." Farrel terlihat begitu menyesal karena tidak memenangkan pertandingan tersebut.
"Semangat dong kak... Biarpun kak Farrel kalah, tapi kak Farrel udah memberikan permainan terbaik."
Sebelum pertandingan di mulai, Haura dan Farrel membuat sebuah perjanjian. Jika Farrel berhasil memenangkan pertandingan, dirinya boleh meminta satu permintaan kepada Haura. Begitu juga sebaliknya jika Farrel kalah, Haura boleh meminta apa saja kepada kakak kelasnya itu.
Itulah sebabnya mengapa Farrel bermain sangat maksimal. Karena ada sesuatu hal yang ingin dia minta kepada Haura. Meskipun Farrel tahu bahwa permintaannya itu akan sulit untuk dipenuhi oleh Haura. Namun tidak dapat Farrel pungkiri bahwa Nevan bukanlah lawan yang mudah untuk dikalahkan.
__ADS_1
"Tapi permainan Nevan jauh lebih baik," puji Farrel tulus. Meskipun dalam pertandingan mereka adalah saingan, akan tetapi Farrel tetap bersikap suportif dengan mengakui kehebatan Nevan bermain basket.
"Tapi dimana Nevan?" Farrel melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Nevan. Farrel ingin memberikan selamat kepada rivalnya itu.
Haura pun ikut mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Nevan. Meskipun Haura sedang berusaha membuat jarak antara dirinya dan Nevan, namun tidak dapat di pungkiri bahwa dirinya sangat merindukan Nevan yang selalu usil padanya. Bagi Haura tidak mengapa jika tidak bertegur sapa dengan Nevan. Bisa melihat Nevan baik-baik saja sudah cukup bagi Haura.
Namun orang yang dicari Haura dan Farrel sama sekali tidak tampak di lapangan basket.
"Nevan... kamu dimana?" gumam Haura.
"Kamu mengkhawatirkan Nevan?"
"Iya," jawab Haura refleks. Bahkan Haura tidak menoleh sedikitpun ke arah Farrel.
Ada raut kesedihan di wajah Farrel. Ya, Nevan adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup Haura. Meskipun dirinya lebih dulu mengenal Haura, bahkan kebaikan yang Farrel berikan kepada Haura tidak akan mampu menggeser posisi Nevan di hati Haura. Meskipun Haura belum menyadari atau tidak mau mengakui bahwa dirinya menyukai Nevan, akan tetapi Farrel sangat tahu bahwa Nevan adalah cinta Haura. Bahkan cinta pertama bagi Haura.
Untuk beberapa detik Haura menyadari akan jawabannya. "Bukan begitu kak Farrel... Haura hanya..."
"Kamu hanya khawatir, Haura," potong Farrel dengan senyuman kecut di wajah tampan remaja itu. "Karna dia Nevan."
"Kak Farrel..."
"I'm ok."
Tentu saja Haura tahu bahwa laki-laki baik di hadapannya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Itu karena dirinya. Ingin rasanya Haura memeluk Farrel dan mengatakan bahwa dirinya sangat tidak pantas untuk membuat seorang Farrel bersedih seperti sekarang. Haura merasa bersalah.
Haura hanya terpaku pada posisinya. Berhadapan dengan Farrel. Sang penyelamatnya yang baik hati. Tapi Haura bisa apa jika hatinya tidak bisa beralih dari Nevan.
Gadis remaja itu sangat menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Farrel benar. Dirinya hanya khawatir dan selalu merasa khawatir jika berjauhan dari Nevan.
__ADS_1