(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Tidak Bisakah Aku Menjadi Dia?


__ADS_3

Hai readers kuh tersayang 🄰


Selamat membaca.... Seperti biasanya, jangan lupa tinggalkan jejak


Love you allā¤ļøā¤ļøā¤ļø


*


*


*


*


Haura duduk di mini bar menunggu Farel selesai dengan masakannya. Sejak tadi Haura memperhatikan dengan seksama cara Farel memasak. Laki-laki itu begitu lihai dalam mengolah masakannya. Dentingan suara peralatan memasak mendominasi ruangan tersebut. Haura sangat terkesima melihat pertunjukan yang sedang Farel pamerkan di hadapannya. Hal tersebut juga merupakan sisi lain Farel yang baru di ketahui oleh Haura.


Sementara itu di luar sana hujan masih turun dengan derasnya. Haura dapat melihat pemandangan hampir seluruh kota melalui jendela-jendela kaca dimana ia berada sekarang. Harapan gadis itu bahwa malam ini dirinya bisa melihat kerlap kerlip lampu kota melalui ketinggian. Namun itu semua sepertinya tidak akan terwujud mengingat sejak petang tadi hujan belum berhenti sampai dengan pukul delapan malam itu.


Sebelumnya Haura telah meminta izin pada Ibunya untuk pulang sedikit terlambat. Pun begitu juga dengan Farel yang secara khusus menelpon Bu Lastri meminta maaf karena Haura bersamanya hingga malam tiba. Farel tidak ingin Bu Lastri khawatir tentang Haura, juga laki-laki itu tidak pernah mau Bu Lastri berfikiran buruk tentangnya karena Haura bersama dengannya.


Sejak tadi Haura hanya menjadi penonton pertunjukan memasak Farel. Gadis itu sama sekali tidak mengganggu Farel dengan pekerjaannya. Juga tidak menanyakan perihal apapun. Hanya melihat dan takjub. Gadis manapun yang melihat Farel saat itu pasti seketika akan jatuh cinta padanya. Laki-laki itu begitu sempurna, Tampan, penyayang dan juga pintar memasak adalah nilai tambahan untuknya. Namun sayangnya Haura tidak akan pernah terpikat pada pesona Farel.


Sepiring spaghetti mendarat tepat di hadapan Haura. Juga segelas jus untuk melengkapi makan malam mereka. Aroma kenikmatan makanan tersebut langsung mendominasi indra penciuman Haura. Sudah tentu rasanya akan seenak aromanya, begitulah fikir gadis itu. Haura meneliti dengan seksama hidangan spaghetti di hadapannya. Tidak lupa gadis itu mengambil ponselnya untuk mengabadikan gambar dari hasil masakan Farel.


"Saatnya makan malam," ucap Farel. Laki-laki itu telah membuka apron yang dipakainya ketika memasak. Penampilan Farel tetaplah tampan meskipun baru saja berkutat dengan bahan masakan.


"Spaghetti dan hujan, sepertinya sangat cocok," ujar Farel lagi bersamaan dengan mendaratkan tubuhnya pada kursi di hadapan Haura. Keduanya duduk saling berhadapan. Makan malam yang begitu istimewa bagi Farel karena bersama Haura. Begitu juga dengan Haura. Gadis itu sangat bahagia karena Farel memasak untuknya.


Haura sejak tadi sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Farel segera mengangguk mengikuti ajakan Farel.


"Selamat makan Kak Farel," seru Haura. Gadis itu langsung menyendok spaghetti di hadapannya.


"Awwww.... panas," rintih Haura sambil mengipas mulut menggunakan tangannya. Dirinya lupa bahwa makanan tersebut masih panas.


Dengan sigap Farel memberikan segelas air putih untuk Haura. Berharap dapat segera meredakan rasa panas yang menyerang lidah Haura. "Hati-hati Haura, di tiup dulu... ini masih panas."


"Haura lupa kak... Habisnya Haura gak sabar pengen mencoba masakan Kak Farel," ucap Haura menyesal. Farel tersenyum melihat tingkah gadis yang sedang bersamanya itu.

__ADS_1


Keduanya sangat menikmati makan malam mereka. Dentingan sendok, garpu dan juga piring bak melodi yang menemani makan malam mereka. Benar kata Farel, spaghetti dan hujan sangatlah cocok. Haura menghabiskan seluruh makanannya tanpa tersisa sedikit pun.


"Haura kenyang kak," ucap Haura, tidak lupa senyuman terlukis di wajah manisnya.


"Spaghetti buatan Kak Farel benar-benar enak," puji Haura. Kedua ibu jari Haura mengacung untuk menegaskan bahwa masakan Farel benar-benar luar biasa. "Haura gak nyangka kalau kak Farel sangat jago masak."


Farel tersenyum bahagia atas pujian Haura untuknya. "Syukurlah kalau kamu suka."


"Suka dong kak, enak banget tau. Haura jujur, kak Farel hebat."


"Bisa aja kamu," Farel mencubit gemas kedua pipi Haura.


"Karna Kak Farel udah masak untuk Haura, jadi sekarang biarkan Haura yang mencuci piring kotornya." Dengan sigap Haura mengambil piring kotor yang telah di kumpulkan Farel di tangannya.


"Sekarang giliran kak Farel yang duduk disana dan Haura yang akan membersihkan sisa makan malam kita." Haura menunjuk kursi yang tadi di tempati olehnya.


"Baiklah." Farel menurut saja dengan perkataan Haura. Tetapi laki-laki itu tidak lantas duduk di tempat yang Haura sarankan. Farel ikut berdiri menyandarkan dirinya pada kulkas sambil mengamati Haura mencuci peralatan makan satu persatu.


Setiap gerakan Haura tidak luput dari penglihatan Farel. Laki-laki itu begitu bahagia untuk tiga harinya bersama Haura. "Terimakasih Ra."


"Terimakasih untuk tiga hari bersamaku. Aku sangat bahagia."


Haura tersenyum hangat pada laki-laki yang sejak tadi berdiri memandanginya bekerja. "Haura juga berterimakasih karena selama tiga hari ini kak Farel udah ajak Haura main. Haura bahagia," ucap Haura jujur sambil melanjutkan pekerjaannya.


Ketika keduanya sedang asik berbicara, ponsel Haura kembali berdering. Sebenarnya sejak tadi ponsel milik Haura terus berdering, namun Haura sengaja tidak menjawabnya. Bukan karena gadis itu tidak mau berbicara dengan si penelepon, akan tetapi Haura ingin menikmati hari terakhirnya bersama Farel. Haura hanya ingin menepati janjinya pada Farel.


Meskipun yang meneleponnya adalah orang yang sangat di nantinya, namun Haura tidak ingin mengecewakan Farel.


Dering ponsel Haura tidak kunjung berhenti. Akhirnya Farel mengambil ponsel Haura yang terletak di atas meja mini bar. Hal itu bersamaan dengan Haura yang telah selesai dengan kegiatan mencucinya.


"Nevan..." ucap Farel sambil menatap Haura yang berjalan ke arahnya. Dering itu kembali terhenti. Farel dapat melihat notifikasi panggilan tidak terjawab lebih dari limah puluh kali. Itu artinya Nevan telah menghubungi Haura sejak tadi.


"Iya kak... Itu Nevan yang menelepon Haura."


"Bolehkah Haura meminta ponsel Haura?" tanya Haura karena memang ponsel miliknya masih berada di tangan Farel.


"Bisakah kamu tidak menjawab panggilannya?" Farel balik bertanya kepada Haura.

__ADS_1


Haura menatap dalam Farel. Laki-laki itu terlihat sangat serius dengan ucapannya.


Jari-jemari Haura saling bertautan. Gadis itu sedang bingung dengan keputusan apa yang akan di ambil olehnya. Di satu sisi, Haura ingin menjaga perasaan Farel. Namun di sisi lain, Haura sangat ingin menjawab panggilan telpon dari Nevan. Karena memang sejak tadi Haura telah mengabaikan Nevan. Banyak pesan yang Nevan kirimkan untuknya, tapi hanya di balas sekenanya saja oleh Haura.


Menit selanjutnya suara nada panggilan dari ponsel Haura kembali berbunyi. Yang mana itu artinya Nevan kembali menghubunginya. Benda pipih itu masih di tangan Farel. Begitu juga dengan Farel masih menatap dalam ke arah Haura yang terlihat sangat serba salah dengan kondisi sekarang.


"Kamu tahu kan Haura, kalau aku cinta kamu?" perkataan itu lolos begitu saja dari mulut Farel. Itu bukanlah sebuah pertanyaan tapi sebuah pernyataan. Ya... pernyataan cinta dari Farel untuk Haura.


Sudah sering Farel mengatakan kepada Haura bahwa dirinya menyayangi Haura. Berbeda halnya dengan sekarang, ini adalah kali pertama Farel mengatakan cinta kepada Haura secara terang-terangan.


"Aku cinta kamu dan aku yakin kamu dapat merasakan gimana perasaan aku untuk kamu," ucap Farel lagi.


Haura terdiam seribu bahasa. Gadis itu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Rasa bersalah menguasai dirinya. Bagaimana mungkin dirinya tidak tahu tentang perasaan Farel untuknya. Semua itu terlihat jelas dari sikap Farel yang begitu menyayangi dan melindunginya.


Tidak pernah ada keinginan sedikitpun dalam benak Haura untuk mempermainkan perasaan tulus Farel untuknya. Haura sangat menyayangi laki-laki itu, tetapi bukan seperti rasa sayang Farel untuknya. Cinta itu tidak untuk Farel.


Gadis itu menundukkan pandangannya menatap jari-jemari kakinya. Tidak sanggup Haura melihat tatapan sendu Farel. Hati laki-laki itu terluka, Haura tahu akan hal itu. Dan luka itu karena dirinya.


Air mata lolos begitu saja dari kedua mata indah Haura. Gadis itu benar-benar di selimuti oleh rasa bersalah yang begitu dalam. Dirinya tidak bisa membalas cinta dan ketulusan Farel untuknya.


"Lihat aku Haura," pinta Farel mengangkat daku Haura untuk menatap ke arahnya.


"Apa cinta itu sepenuhnya milik Nevan? Apakah tidak bisa aku menjadi dia?"


Tangis Haura pecah. Layaknya hujan yang sedang turun di luar sana. Menyatu dalam melodi penyesalan dan kerinduan. Gadis itu menyeruak memeluk tubuh Farel erat. Pelukan yang penuh dengan rasa bersalah pada laki-laki yang selama ini sudah sangat baik padanya.


"Maafkan Haura kak." Isakan tangis Haura memenuhi seluruh tempat tersebut.


Sekejap Farel merasa bersalah pada Haura. Laki-laki itu membalas pelukan Haura dengan sama kuatkan. Mencoba menenangkan perasaannya yang sedang berkecamuk. Farel sudah tahu bahwa Haura mencintai Nevan. Namun entah kenapa rasa ingin memiliki Haura begitu menguasainya akhir-akhir ini.


Untuk beberapa saat, Farel membiarkan Haura menangis dalam pelukannya. Tentunya pelukan itu juga sebagai penenang untuk Farel. "Kamu sangat mencintai dia.... Hmmmm?" tanya Farel ketika tangis Haura mulai mereda.


"Dia sangat berarti untuk kamu?" tanya Farel lagi. Sebelum mengungkapkan perasaannya kepada Haura, Farel telah siap dengan rasa kecewa. Ada rasa lega yang di rasakan Farel karena telah jujur pada perasaannya sendiri.


"Bahkan Haura siap terluka untuk dia." jawaban yang Haura berikan sangat menjelaskan bahwa Nevan sangat berarti dalam hidup Haura. Nevan adalah pemenang tanpa harus berjuang. Haura benar-benar jatuh pada cinta yang hanya ada satu nama, yaitu Nevan.


Dering ponsel belum juga usai. Ada seseorang yang berada jauh disana juga sedang diliputi kegelisahan. Ada sebuah rindu yang nantinya akan lama untuk kembali bertemu.

__ADS_1


__ADS_2