
Jam pulang sekolah telah tiba. Semua siswa berhamburan untuk segera pergi meninggalkan sekolah mereka setelah seharian melalui hari dengan belajar. Waktu bel pulang sekolah adalah hal yang paling dinanti oleh semua
siswa selain jam istirahat dan jam pelajaran olahraga.
Haura masih berada di dalam ruangan ekskul teater. Gadis remaja tersebut mendapatkan tugas membereskan beberapa properti pementasan teater. Sebanarnya Haura bertugas membereskan properti tersebut bersama dua
orang temannya yang lain. Tapi mereka meninggalkan Haura seorang diri tanpa mau membantu sama sekali. Alasannya hanya satu yaitu menurut mereka Haura memang pantas melakukan hal tersebut karena latar belakangnya sebagai anak dari keluarga miskin.
Tanpa mau berdebat, Haura justru langsung mengerjakan tugasnya karena hal tersebut bukan terjadi sekali ini saja. Sering. Haura sering harus membereskan semua properti panggung seorang diri.
Sambil bersenandung ria, Haura merapikan semua perlengkapan tersebut dengan sangat rapi.
“Heh lo, gue mau ngomong.”
Haura sangat kaget karena tiba-tiba mendengar ada orang yang memasuki ruangan tersebut tanpa permisi. Gadis berlesung pipi itu menajamkan pandangannya ke arah orang yang baru saja memasuki ruangan teater. Rhea di sana.
“Rhea.”
“Gak usah sok akrab deh lo sama gue,” hardik Rhea dengan tajam. “Gue ke sini cuma mau klarifikasi tentang hubungan lo sebenarnya dengan Nevan.”
Haura menautkan alisnya mendengar perkataan Rhea. “Hubungan apa maksud kamu?”
“Gak usah pura-pura bego deh lo. Sebenarnya lo itu siapanya Nevan. Lebih tepatnya, lo itu siapanya keluarga Nevan?”
Sudah tiga hari sejak malam dimana Zayn dan Luisa terlihat sangat akrab dengan Haura membuat Rhea selalu di landa penasaran tentang sosok Haura sebenarnya. Karena Rhea sangat tidak menyangka bahwa gadis biasa seperti Haura bisa mendapatkan perhatian dari keluarga Zayn.
Rhea telah mencoba mendesak Gian dan Niko untuk menceritakan siapa sebenarnya Haura. Akan tetapi kedua sahabatnya itu selalu mengunci rapat mulut mereka. Entah apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Gian dan Niko.
Bungkamnya Gian dan juga Niko semakin membuat Rhea kesal. Oleh karena itu Rhea menunggu waktu yang tepat untuk meminta klarifikasi langsung dari Haura. Dan waktu yang tepat itu adalah sekarang. Saat Haura sendirian tanpa adanya Luna dan Adel. Jika ada kedua sahabat Haura, sudah dapat di pastikan bahwa mereka akan memasang badan untuk membela Haura.
“Hubungan aku sama Nevan cuma sebatas teman. Gak ada yang istimewa. Dan juga aku tidak punya hubungan apa-apa dengan keluarga Nevan,” jawab Haura panjang lebar. Haura rasa dirinya tidak harus menjelaskna pada Rhea statusnya yang sebenarnya. Karena hal itu justru akan membuat Rhea semakin menghina dirinya.
“Kalau lo bukan siapa-siapa keluarga Nevan, gimana bisa kak Zayn dan Luisa kenal sama lo? Lo mau coba nipu gue,” ucap Rhea sambil mendorong bahu Haura dengan kuat, hingga membuat tubuh Haura sedikit oleng. Lagi dan lagi Rhea kembali bermain fisik.
“Aku gak bohong, Rhe. Aku udah jawab dengan jujur. Kalau kamu memang gak percaya, kamu bisa tanya langsung sama Nevan atau kak Zayn.” Setelah mengatakan itu, Haura kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda untuk beberapa menit.
Haura meraih sebuah kursi yang ada di sana untuk dijadikan sebagai tempat pijakan agar dirinya dapat meletakkan properti di rak paling atas.
“Heh… gue belum selesai ngomong.” Belum sempat Haura berpijak dengan sempurna, Rhea menarik tangan Haura dengan sangat kasar. Seketika keseimbangan Haura hilang dan membuat dirinya jatuh.
“Awwwww….” Haura meringis kesakitan karena lututnya terbentur sudut kursi dan pergelangan kakinya juga terasa sangat sakit akibat tidak sempat mendarat dengan sempurna.
Rhea pun berjongkok untuk mensejajarkan posisinya agar sama seperti Haura yang saat ini masih terduduk di lantai.
Gadis cantik tersebut mencengkeram rahang Haura hingga membuat mulut Haura sedikit terbuka. “Lo harus ingat tentang status lo. Lo itu gak pantes buat berteman sama Nevan,” ucap Rhea dengan tersenyum mengejek.
“Dan satu lagi, gue yakin kalau lo itu pasti menggoda Nevan makanya Nevan mau berteman sama lo. Lo itu gak lebih dari perempuan miskin yang cuma tahu cara mendekati laki-laki dengan jalan pintas.” Tuduhan demi tuduhan
terus Rhea lontarkan kepada Haura.
Merasa dirinya di hina, Haura tidak tinggal diam. Haura tidak masalah jika Rhea menyakiti fisiknya, tapi jika sudah menyangkut dengan harga dirinya, sudah pasti itu bukanlah sesuatu yang akan dibiarkannya begitu saja.
“Asal kamu tahu ya, Rhea Putri Pradipa, meskipun aku miskin tapi aku gak murahan. Aku gak pernah menggoda siapa pun. Jadi jangan pernah coba-coba untuk menghina harga diri aku,” balas Haura dengan mencengkeram kuat
__ADS_1
pergelangan tangan Rhea.
“Awww…. Sakit,” kini Rhea yang meringis karena pergelangan tangannya sangat sakit akibat cengkeraman Haura.
“Sakit kan? Kamu fikir aku gak sakit akibat semua perbuatan kamu?” ucap Haura dengan tersenyum mengejek lalu menghempaskan pergelangan tangan Rhea dengan tidak kalah kasarnya.
Rhea memilih bangkit untuk berdiri kembali. “Jangan lo fikir gue bakalan tinggal diam karena lo udah yakitin gue. Akan gue pastikan, gue bakalan bales perbuatan lo hari ini. Bahkan sepuluh kali lipat dari apa yang lo lakukan ke gue.”
Setelahnya, gadis cantik itu memilih meninggalkan ruangan ekskul teater. Tetapi sbelum pergi, Rhea kembali mengacaukan properti yang telah di susun rapi oleh Haura. “Satu lagi, mau lo menyangkalnya bagaimana pun, lo itu tetap perempuan miskin dan murahan,” ucap Rhea kemudian pergi tanpa merasa bersalah sama sekali.
Bohong jika Haura mengatakan bahwa dirinya tidak merasa sedih dengan semua hinaan Rhea untuknya. Akan tetapi Haura memilih untuk bersikap setegar mungkin agar tidak terlihat lemah di hadapan Rhea.
Ceklek… terdengar suara pintu yang terkunci.
Haura dengan segera berdiri untuk memeriksa siapa yang telah mengunci pintu tersebut sementara dirinya masih di dalam. Meskipun dia sangat yakin bahwa yang melakukan itu adalah Rhea.
Baru saja Haura mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Gadis itu kembali meringis karena sakit yang berasal dari lututnya yang berdarah dan memar akibat benturan tadi. Belum lagi pergelangan kakinya yang sangat sakit.
Sepertinya terkilir.
“Aduhh… gimana ini. Aku terkunci.” Kepanikan mulai melanda Haura. Bagaimana dirinya bisa pulang jika pintunya terkunci sementara dia tidak mempunyai kunci cadangan.
“Siapa pun di luar, tolong buka pintunya,” pinta Haura dengan berteriak.
Akan tetapi percuma saja, karena di luar sana sudah tidak ada satu orang pun. Semuanya telah pulang.
Handphone. Ya, handphone. Haura harus segera menghubungi seseorang agar bisa menolongnya untuk meminta kunci cadangan yang ada di pos keamanan.
Nevan. Itulah nama pertama yang terlintas di fikiran Haura. Gadis itu mencari nama Nevan di daftar kontak miliknya.
Baru saja ketika Haura hendak menekan tombol panggil, tiba-tiba saja handphone miliknya mati karena kehabisan daya.
Lengkap sudah penderitaan Haura. Terkunci, kaki terluka dan handphone yang kehabisan daya. Sekarang hal yang dapat Haura lakukan hanyalah berdoa agar petugas security segera berpatroli menyusuri setiap koridor sekolah sehingga dirinya dapat meminta pertolongan.
Haura terduduk lemah di balik pintu ruangan tersebut. Sesekali gadis remaja itu bersuara untuk meminta tolong agar ketika petugas security lewat dapat mendengar suaranya. Meskipun terdengar lirih, Haura terus berusaha berteriak minta tolong dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
*******
Di tempat lain, Nevan sedang menunggu kedatangan Haura di depan gerbang sekolah. Sesekali remaja laki-laki itu menajamkan manik coklat miliknya untuk mencari keberadaan Haura yang tak kunjung menampakkan dirinya.
Satu per satu siswa telah pergi meninggalkan sekolah. Kini suasana tempat itu mulai lenggang, hanya beberapa siswa yang tersisa karena sedang menunggu jemputan.
Dari kejauhan Nevan melihat Adel yang berjalan dengan setengah berlari. Sahabat Haura itu sedang terburu-buru.
“Adel,” panggil Nevan ketika Adel telah berada dekat dengannya. Akan tetapi Adel seperti tidak menyadari bahwa ada Nevan disana.
“Nevan, ada apa?” tanya Adel heran, pasalnya tidak pernah seblumnya Nevan menyapa dirinya terlebih dahulu.
“Lo liat Haura gak?” tanya Nevan tanpa basa-basi.
“Haura,” ucap Adel mengulang mengucapkan nama sahabatnya itu. Kemudian Adel melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Disana sudah menunjukkan pukul 17.45 WIB.“Bukannya jam segini biasanya Haura udah
pulang bareng lo?” bukannya memberikan jawaban, Adel justru kembali bertanya kepada Nevan.
__ADS_1
“Kalau Haura udah pulang bareng gue, mana mungkin gue masih disini untuk nungguin Haura,” jawab Nevan sewot.
“Ya kali aja Haura ngambek sama lo. Bukannya beberapa hari ini lo lagi puasa ngomong sama Haura,” sindir Adel.
“Lo tinggal jawab pertanyaan gue. Lo liat Haura atau enggak.”
“Yeeee…. Lo yang butuh kenapa lo yang marah-marah.” Adel tidak habis fikir bagaimana bisa Haura begitu sabar menghadapi sikap Nevan yang selalu merasa serba benar. “Gue gak liat Haura. Mungkin dia udah pulang duluan
karena males sama lo.”
“Maksud lo apaan?” tanya Nevan yang merasa tidak suka dengan perkataan Adel.
“Lagian nih ya, lo kan punya handphone. Kenapa lo gak langsung hubungi Haura buat nanya dia dimana sekarang. Ribet banget sih hidup lo.”
“Benar. Kenapa gue gak hubungi handphone Haura. Kenapa jug ague harus nunggu disini hampir satu jam lamanya.” Nevan terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya tidak memikirkan untuk menghubungi handphone Haura.
“Makanya jangan marah-marah mulu. Lagian gue heran sama Haura, gimana bisa dia begitu sabar mengadapi orang modelan kayak lo.”
“Lo….” Belum sempat Nevan membalas perkataan Adel, dirinya telah di tinggal pergi oleh sahabat Haura tersebut.
Nevan mengambil handphone dari saku celananya dan langsung menghbungi nomor Haura. Tapi yang di dapat justru nona operator yang menjawab panggilan tersebut. Handphone Haura tidak aktif.
“Kamu dimana sih, Ra. Kenapa nomor kamu gak bisa di hubungi. Masak iya sih kamu marah sama aku. Bukannya justru aku yang seharusnya marah ke kamu. Karena sampai hari ini kamu belum memberikan penjelasan apa pun ke aku.” Nevan terus berbicara sendiri dengan handphone yang masih berada di tangannya.
Nevan terus menghubungi nomor Haura beberapa kali tapi masih saja nihil. Tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Nevan memilih pergi untuk meninggalkan sekolah. Remaja itu benar-benar berfikir bahwa mungkin saja saat ini Haura telah pulang terlebih dahulu karena marah kepadanya.
Sementara di ruang ekskul teater, Haura masih menungu pertolongan agar dirinya bisa segera keluar dari tempat itu. Gadis remaja itu terus berharap agar Nevan datang mencarinya. Tapi sepertinya harapan tinggallah harapan. Karena jarum jam semakin berputar. Saat ini sudah menunjukkan pukul 19:00 WIB akan tetapi orang yang diharapkan datang untuk menolong dirinya tak kunjung muncul. Mungkin Nevan benar-benar marah padanya.
Haura kembali bangkit. Dengan berjalan tertatih gadis itu mencoba untuk menyalakan lampu ruangan tersebut. Setidaknya jika petugas security lewat di koridor ruangan teater, mereka dapat melihat lampu ruangan yang menyala. Menandakan bahwa ada orang di dalamnya.
Setelah berhasil menyalakan penerang ruangan, gadis remaja itu kembali ke posisinya semula. Dia duduk di balik pintu sambil menjulurkan kakinya. Ada jejak darah yang telah mengering di lutut kirinya akibat benturan beberapa jam yang lalu. Haura meringis menahan sakit. Pergelangan kakinya juga terlihat mulai membengkak.
Tanpa permisi air matanya pun berhasil lolos dari kedua bola mata indahnya. Takut. Itulah yang saat ini Haura rasakan. Gadis itu sangat takut jika malam ini tidak ada yang datang untuk menolongnya. Satu lagi yang sangat Haura khawatirkan, yaitu Ibunya. Pasti sekarang Ibunya sangat khawatir menantikan dirinya yang tak kunjung pulang.
Dari sela-sela jendela ruangan itu dapat terlihat dengan jelas bahwa langit telah gelap. Matahari telah pergi dengan sempurna dan digantikan oleh sang bulan. Haura semakin menangis sesenggukan sambil memanggil Ibunya.
“Ibu, Haura takut,” ucap Haura lirih dalam tangisannya.
Sementara di luar sana langit terdengar mulai bergemuruh. Tanpa aba-aba hujan pun turun dengan derasnya. Padahal siang hari tadi matahari bersinar dengan sangat terik. Malam itu langit seakan ikut menemani Haura menangis.
“Ibu.... Nevan.... Hiikss...” Hanya tangisan dan suara hujan yang menemani Haura saat ini.
Malam itu di dua tempat yang berbeda dua remaja sama-sama sedang bergulat dengan fikiran mereka masing-masing tentang kemungkinan yang mereka ciptakan sendiri.
Nevan berfikir mungkin Haura marah padanya hingga pulang lebih dulu tanpa mengatakan apapun pada dirinya.
Sementara Haura berfikir mungkin Nevan masih marah padanya hingga meninggalkannya sendiri tanpa mencarinya untuk pulang bersama seperti biasanya.
Quote:
“Jangan pernah hidup dengan kata mungkin. Karena antara kepastian dan ketidak pastikan selalu berbanding seimbang.”
Hai readers, maaf ya kalau masih banyak typo. Aku tunggu like dan commentnya supaya aku makin semangat untuk up.
__ADS_1