
Halo readers tersayang...
Jangan lupa tinggalkan jejak yah supaya author semangat untuk up setiap harinya.
Ternyata menulis bukanlah hal yang mudah. Tapi author akan selalu berusaha memberikan tulisan terbaik untuk semua readers tersayang.
Mohon untuk selalu like, komen dan tambahkan ke daftar favorit.
"Bagaimana jika suatu hari nanti aku menyakitimu," ucap Nevan lirih pada gadis yang masih berada dalam pelukannya. Menyisakan sesenggukan sesekali karena tangisnya yang pecah beberapa saat lalu.
Haura mendekap erat Nevan. Seakan tak ingin melepaskan pelukan itu. Mencari ketenangan pada sosok yang paling ia rindukan.
"Bagaimana jika hati kamu akan terluka karena aku?" lanjut Nevan lagi.
Nevan melepaskan pelukannya pada Haura. Menatap sendu gadis di hadapannya itu. Jejak air mata masih terlihat jelas di kedua netra hitam milik Haura.
"Maafkan aku, Haura. Jangan pernah lagi menangis karena aku." Nevan merasa sangat bersalah karena terus menrus membuat gadis yang sangat berharaga baginya menangis karena perbuatannya.
"Aku bingung dengan apa yang terjadi padaku. Aku sangat tersiksa jika berjauhan dari kamu." Kali ini Nevan jujur dengan apa yang dirasakannya. Nevan tidak peduli tentang apa yang akan Haura fikirkan perihal perkataannya sekarang. Laki-laki itu hanya ingin gadis di hadapannya itu tahu bahwa dirinya begitu tersiksa berjauhan dengannya.
"Aku tidak dapat memahami perasaanku sendiri. Tapi tanpa aku sadari aku malah menyakiti kamu karena sikap aku," ucap Nevan penuh penyesalan.
__ADS_1
Haura menatap Nevan penuh kasih. Masih belum ada sepatah kata pun yang keluar dari Haura. Gadis itu hanya mendengar dengan seksama setiap perkataan yang Nevan ucapkan. Haura begitu merindukan suara itu. Suara laki-laki yang selalu mengusik ketenangannya. Suara laki-laki yang telah menjadi pemilik hatinya. Suara laki-laki yang tidak akan pernah bisa dimilikinya.
Ada cinta yang hanya bisa bersemayam dengan tenang di dasar hati. Cinta yang tidak ingin di ketahui kehadirannya. Cinta yang memilih menatap tanpa ada rasa untuk ingin menetap. Dan itu adalah cinta Haura kepada Nevan.
"Aku marah setiap melihat kamu tersenyum untuk laki-laki lain. Aku marah melihat kamu dan Farrel," jujur Nevan.
Nevan mengusap puncak kepala Nevan. Memperhatikan dengan seksama wajah sembab Haura. "Bahkan aku marah pada air mata yang berani merenggut senyuman kamu."
Pengakuan demi pengakuan mengalir dengan indah dari setiap ucapan Nevan. Sebuah pengakuan yang bisa saja menjadi definisi dari kata cinta yang tidak ingin diakui oleh Nevan.
"Katakan sesuatu, Haura," ucap Nevan. Karena sejak tadi Haura hanya menatapnya tanpa ada satu katapun yang keluar dari lisan gadis itu.
"Apa yang harus aku katakan jika semuanya sudah kamu katakan," ucap Haura mengakhiri kebisuannya. "Aku benci pada jarak yang seakan menjelaskan tentang status aku di dalam hidup kamu."
"Bukan karena status atau apapun, Haura," tegas Nevan. "Aku hanya belum memahami dengan apa yang aku rasakan. Aku hanya ingin memahami perasaanku...."
"Lalu bagaimana dengan aku yang merasa kehilangan kamu? Lalu bagaimana dengan aku yang kehilangan sosok yang selalu menggangguku?" ucap Haura. Sementara Nevan hanya tertegun mendengar setiap perkataan Nevan.
"Lalu bagaimana dengan aku yang merasa kesepian karna tidak ada yang menggangguku saat mencuci piring, menjemur pakaian dan...." Haura tersenyum menatap Nevan. Pengakuan yang konyol.
"Jadi kamu butuh aku hanya untuk menemani kamu cuci piring atau menjemur pakaian?" ucap Nevan tak terima dengan penakuan Haura. Sementara Haura hanya mengangguk sebagai sebuah jawaban. Sebuah senyuman terukir di wajah sembab Haura. Gadis itu tahu, Nevan pasti merasa kesal padanya.
Tentu saja hal itu adalah pengakuan yang sangat menyebalkan bagi Nevan. Laki-laki tampan itu berharap akan ada kata-kata penuh drama yang akan keluar dari mulut Haura. Namun Nevan benar-benar keliru. Setelahnya Nevan pun menyesali pengakuannya kepada Haura beberapa waktu yang lalu. Jika dia tahu bahwa Haura akan membuat pengakuan menyebalkan seperti sekarang, tak sudi rasanya Nevan jujur tentang apa yang dirasakannya.
"Jadi kamu benar-benar merasa kesepian tanpa aku?" 6tanya Haura menggoda Nevan.
Sontak saja hal itu membuat Nevan semakin malu. Wajah Nevan seketika memerah menahan malu.
"Aku sudah menduga kamu akan kesepian tanpa aku," sambung Haura lagi.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kamu?" Nevan menunduk mensejajarkan tinggi tubuhnya agar sama seperti Haura. Memangkas jarak diantara mereka. Menatap langsung pada manik hitam milik Haura. Bahkan Nevan bisa merasakan deru nafas Haura.
"Apa kamu tidak merasa kesepian tanpa aku? Bukankah jarak itu sangat menyiksa kamu, Haura Annisa?" tegas Nevan lagi. Sebuah pertanyaan yang lebih seperti penegasan atas perasaan Haura. Nevan mencoba mencari jawaban atas perasaan Haura kepadanya.
"Kamu adalah Hauraku. Haura yang tidak akan pernah bisa bertahan tanpa Nevan." Kata sederhana yang meluncur dari lisan Nevan bagaikan nyanyian penuh kasih dari seseorang yang begitu tulus dalam memahami.
"Seperti yang aku katakan, aku takut akan melukaimu, Haura."
"Maka lukai aku, Nevan," ucap Haura lirih. Saling menatap dalam jarak dekat. Menelisik kejujuran lewat tatapan mata yang menyembunyikan berbagai rasa. Mencari jawaban yang tak mampu terucap lisan. Saling menyelami rahasia yang ingin disembunyikan oleh debaran tak biasa. Ada cinta dan luka yang siap menemani keduanya.
"Maka lukai aku, lalu sembuhkan lagi," tambah Haura.
Nevan menatap tak percaya pada apa yang Haura katakan.
"Jika nanti melukaiku adalah bagian dari perjalanan hidupmu, maka lukai aku lalu sembuhkan aku dengan cara kamu. Bukankah aku adalah Haura milikmu?"
"Aku tidak berharap menjadi bagian terpenting dalam hidup kamu. Namun aku tahu bahwa kamu akan selalu menyediakan ruang untuk aku dalam hidup kamu," sambung Haura lagi.
Haura menarik nafas dalam, "Aku memilih terluka jika yang melukaiku adalah kamu. Aku memilih tersakiti jika setelah itu kamu akan datang dan mendekapku erat dalam pelukan kamu. Aku akan memilih menangis karena kamu jika setelah itu kamu selalu ada untuk menghapus air mataku. Aku memilih terserat dimanapun karena aku tahu setelah itu kamu akan datang dan menemukanku. Membawaku kembali, menggenggam tanganku berjalan beriringan bersama kamu, Nevan."
Nevan terpaku pada tempatnya, tak mampu berpaling dari Haura. Setiap kata-kata yang keluar dari lisan Haura bagaikan mantra yang mampu menghipnotis Nevan. Laki-laki tampan itu terhanyut pada tatapan teduh Haura. Menyelami ketulusan dari setiap ucapan yang dikatakan oleh gadis di hadapannya itu. Haura benar-benar telah merenggut ketenangan Nevan.
Ada debaran asing yang semakin mengganggu ketenangan Nevan. Debaran yang hanya ada ketika dirinya bersama Haura. Gadis kecilnya itu membuatnya tak mampu berkata apapun. Nevan tahu setiap perkataan Haura adalah kejujuran dan ketulusan.
Setiap kata yang Haura ucapkan adalah sebuah pengakuan akan perasaannya. "Aku percaya kamu, Van."
"Kamu adalah Nevanku. Nevan yang tidak akan pernah bisa bertahan tanpa Haura."
Haura menyadari bahwa perasaan cintanya kepada Nevan suatu hari nanti akan melukainya. Perasaan yang seharusnya tidak terjatuh pada sosok Nevan. Mencintai Nevan adalah pahatan luka yang sedikit demi sedikit akan menyakitinya. Tapi Haura memilih merawat cinta itu sebagaimana mestinya. Meski debarannya menyakiti tapi Haura memilih menikmati.
__ADS_1