(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Jangan Berbicara Di Luar Batas


__ADS_3

“Gue butuh klarifikasi dari lo,” ucap Gian ketika memasuki ruang broadcasting dan langsung menghampiri Nevan.


Perkataan tiba-tiba dari Gian menarik perhatian seisi ruangan tersebut. Disana ada Niko, Rhea, Bella dan juga Luna.


Nevan yang sedang duduk di sebuah sofa yang terdapat di ruangan tersebut langsung mendongakkan wajahnya menatap Gian yang saat ini sedang berdiri tepat di hadapannya.


“Gue butuh penjelasan dari lo,” ucap Gian lagi.


Nevan yang tidak memahami tentang penjelasan apa yang dimaksud oleh Gian seakan sedang berfikir apa maksud dari sahabatnya itu. “Gue gak ngerti. Penjelasan tentang apa?”


Gian medaratkan tubuhnya tepat di samping Nevan. “Kenapa seminggu terakhir ini lo udah ada di sekolah sebelum kita-kita datang? Jelasin ke gue.”


“Bagian mana yang harus gue jelasin?” Nevan benar-benar di buat bingung dengan penjelasan yang diminta oleh Gian.


“Bagian lo yang tiba-tiba jadi siswa rajin dengan datang ke sekolah lebih cepat dari jadwal lo yang biasanya.”


“Gue rasa hal itu gak butuh penjelasan sama sekali.”


“Gak butuh penjelasan gimana. Lo itu sekarang aneh, Van.”


“Apa di mata lo, gue berubah jadi badut? Makanya lo bilang gue aneh?” Nevan membalas perkataan Gian dengan memberi pertanyaan kepada Gian.


“Ya maksud gue bukan gitu. Lo bukan seperti Nevan yang gue kenal.”


“Emang Nevan yang lo kenal gimana?” Nevan kembali memberikan pertanyaan kepada Gian.


“Nevan yang kita kenal itu, asik. Gak seperti Nevan yang sekarang. Lagian rasanya semenjak lo balik dari Sydney, gue ngerasa ada yang beda dari sikap lo.” Rhea yang sedari tadi menyimak pembicaraan Nevan dan Gian kini ikut bergabung dalam percakapan kedua sahabatnya itu.


“Beda dalam hal apa?” tanya Nevan menatap Rhea dengan intens.


“Menurut gue, lo kayak cuek gitu sama kita. Lo jarang gabung sama kita. Entah karena hal apa yang buat lo jarang nongkrong bareng kita. Dan satu lagi, seperti yang Gian bilang, lo mendadak jadi siswa yang rajin. Menurut kita itu hal yang aneh,” Rhea menjelaskan satu persatu sikap Nevan yang menurutnya telah berubah tidak seperti biasanya.


“Seharusnya saat gue jadi tambah rajin lo semua bersyukur. Karena gue menjadi lebih baik dari biasanya,” jawab Nevan dengan santainya. “Dan satu lagi, kenapa gue jarang nongkrong sama kalian, gue punya alasan sendiri dan gue rasa gue gak perlu menjelaskan semua hal tentang hidup gue sama lo semua.”

__ADS_1


Gian masih saja belum merasa puas dengan jawaban yang Nevan berikan. Padahal sudah sangat jelas bahwa dari perkataan Nevan, itu artinya dia tidak akan mengatakan apapun tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Gue mau meastikan satu hal lagi," ucap Gian dengan berbicara berbisik kepada Nevan. “Gue pernah liat lo berangkat ke sekolah bareng….” Gian tidak berani melanjtkan lagi ucapannya ketika menyadari bahwa saat ini Nevan sedang memberikan tatapan membunuh ke arahnya. Bahkan saat ini rahang Nevan telah mengencang. Menandakan bahwa sabahatnya itu tidak suka dengan apa yang akan di ucapkan oleh dirinya.


Gian pun mengangkat kedua tangannya menandakan bahwa dia tidak akan melanjutkan perkataannya.


Beberapa hari yang lalu Ketika Gian hendak menjemput Niko ke sekolah karena motor Niko sedang dalam perbaikan, Gian sempat melihat Nevan berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Yang membuat Gian heran pada sahabat sekaligus sepupunya itu bukan hanya tentang jadwal berangkat sekolah yang lebih cepat dari biasanya. Akan tetapi karena Gian melihat sosok gadis yang berada di belakang Nevan. Itu Haura. Gian sangat yakin bahwa itu Haura.


“Gue harap lo gak bicara di luar batas,” ucap Nevan dingin.


“Gue paham, Van.” Kini Gian paham bahwa Nevan tidak ingin siapapun tahu perihal dirinya dan Haura. Entah ada hubungan apa antara Nevan dan Haura, Gian tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Yang pastinya hal itu merupakan sesuatu yang sangat ingin Nevan tutupi.


Rhea yang sedari tadi melihat Gian dan Nevan berbicara sambil berbisik, mencoba menajamkan pendengarannya. Akan tetapi usahanya sia-sia saja. Karena dia sama sekali tidak dapat mendengar apa yang sedang Gian dan Nevan bicarakan.


Jika melihat ekspresi wajah Nevan, sudah dapat di pastikan, apa yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang sangat tidak di sukai oleh Nevan. Oleh karena itu, Rhea memilih tidak mau tahu dari pada harus menyulut emosi Nevan.


“Lagian nih, Van. Gue perhatikan kayaknya lo deket ya sama cewek…. Emmmm… siapa sih namanya, gue lupa,” ucap Rhea lagi sambil mengingat-ngingat sebuah nama yang ingin dia sebutkan.


“Haura,” Bella pun menyebutkan sebuah nama yang tepat.


Saat ini Nevan mulai menunjukkan gelagat yang sangat tidak bersahabat ketika mendengar nama Haura seperti di cemooh begitu. Tangannya mulai terkepal karena mendengar perkataan Rhea yang menghina Haura secara terang-terangan.


“Yang lo sebut gak menarik dan cupu itu sahabat gue.” Luna merasa tersinggung ketika Rhea menjelek-jelekkan Haura.


Meskipun penampilan Haura memang tidak menarik sama sekali, tetapi Luna tidak akan pernah rela jika mendengar sahabatnya itu di hina.


“Uppp… gue lupa kalau ada lo disini. Tapi emang bener kan, kalau sahabat lo itu gak menarik dan sedikit cupu?” lagi-lagi Rhea kembali menjelek-jelekkan Haura.


“Lo gak punya hak buat ngatain Haura.” Luna telah berdiri dari posisi duduknya dan mengarahkan telunjuknya tepat ke arah wajah Rhea.


Sebenarnya sejak dulu Rhea dan Bella tidak menyukai Luna bergabung dalam klub broadcasting. Akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena ketua dari ekskul tersebut adalah Niko. Jika Niko telah menyetujuinya, maka tidak ada satu orang pun yang berani protes. Alhasil, perang dingin selalu terjadi antara Rhea dan Bella terhadap Luna.


Mengenai sikap Rhea dan Bella, Luna tidak pernah mau ambil pusing. Selama Niko tidak keberatan dirinya bergabung dalam ekskul tersebut, Luna selalu bersikap masa bodoh pada sikap Rhea maupun Bella. Bahkan Gian juga menyambutnya dengan tangan terbuka ketika dirinya mendaftar untuk ikut bergabung dalam ekskul tersebut. Lagi pula tujuan utama Luna bergabung dengan ekskul tersebut adalah agar bisa dekat dengan Niko. Selama tujuannya tercapai, dia tidak pernah peduli jika setiap harinya Rhea dan Bella selalu mengajaknya perang.

__ADS_1


“Apaan lo nunjuk-nunjuk temen gue,” Bella menghempaskan jari Luna yang berada tepat di depan wajah Rhea.


“Lo gak suka kalau gue nunjuk-nunjuk temen lo? Gitu juga gue yang gak suka kalau temen lo ini ngatain temen gue.”


“Gak ada yang salah dong dengan ucapan Rhea. Emang bener kan kalau penampilan temen lo itu gak banget? Bisa di bilang temen lo itu emang cupu. Lagian lo sih, kenap gak lo ajarin temen lo itu buat dandan,” ucap Bella dengan tersenyum mengejek dalam setiap ucapannya.


“Mau Haura dandan atau enggak, masalahnya dengan kalian dimana?” Luna semakin panas mendengar ucapan Bella yang ikut-ikutan menghina Haura. “Jangan pernah sekali lagi gue denger kalian ngatain Haura, karena gue


gak bakalan tinggal diam.”


Mendengar perkataan Luna, Rhea pun tertawa dengan penuh paksaan. “Emangnya kalau gue mau ngatain temen lo, lo mau apa? Hah?”


“Lo bakal liat apa yang bisa gue lakuin. Jangan lo fikir gue takut sama kalian,” ucap Luna dengan tegas.


Sejak tadi Niko hanya diam dan memperhatikan situasi yang semakin memanas antara teman-temannya. Fokus utama Niko adalah Nevan. Saat ini terlihat dengan jelas bahwa Nevan sedang berusaha keras untuk menahan amarahnya. Jari-jemarinya menggenggam dengan erat untuk mengurai emosi yang seakan semakin memuncak.


“Stop. Gue gak mau ada keributan disini.” Akhirnya Niko buka suara untuk menyudahi pertengkaran mereka sebelum Nevan benar-benar meledak. Niko tahu bahwa Nevan tersulut emosi karena Rhea dan Bella yang terus menerus menghina Haura.


“Kalau kalian masih mau berdebat, silahkan tinggal ruangan ini atau sekalian kalian keluar dari ekskul ini,” ucap Niko lagi dengan penuh ketegasan.


Mendengar perkataan Niko, kontan saja Rhea, Bella dan Luna langsung memilih bungkam. Mereka lebih memilih mengakhiri pertengkaran mereka daripada harus meninggalkan ekskul broadcasting.


Braakkkk


Nevan menendang meja di hadapannya lalu beranjak untuk meninggalkan tempat tersebut. Jika dirinya bertahan disana sebentar lagi saja, maka Nevan tidak yakin bahwa dia akan mampu untuk membendung emosinya.


Semua yang ada disana terkejut melihat tindakan Nevan. Lain halnya dengan Niko. Dia tahu dengan baik alasan utama yang membuat Nevan melakukan hal itu.


“Jangan berbicara di luar batas!” ucap Nevan sebelum benar-benar meninggalkan ruangan broadcasting.


Rhea, Bella dan Luna berfikir bahwa ucapan Nevan ditujukan kepada diri mereka masing-masing karena baru saja mereka bersiteru di depan Nevan.


Di lain sisi Gian mengarahkan matanya menatap Niko. Gian seolah bertanya kepada Niko melalui tatapan matanya "Apakah Nevan marah karena dia?"

__ADS_1


Niko yang mengerti maksud tatapan Gian mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan tak terucap yang Gian berikan kepada dirinya.


__ADS_2