(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Aku Pasti Menemuimu


__ADS_3

Nevan dan yang lainnya telah bersiap untuk kembali pulang ke Indonesia. Sesuai dengan rencana awal mereka, bahwa mereka hanya akan menghabiskan waktu satu minggu untuk berlibur di negeri kangguru. Terlebih lagi dua hari yang akan datang adalah hari pertama sekolah semester genap di mulai. Hanya Tante Iva yang tetap menemani Nyonya Ana di Sydney untuk beberapa minggu ke depan.


Satu persatu remaja itu memeluk Nyonya Ana secara bergantian. Tentunya ada seseorang yang menangis tersedu karena akan berpisah dengan Nyonya Ana. Orang itu adalah seorang gadis bernama Luisa. Ya benar, Luisa juga ikut bersama mereka ke Sydney.


Sejak tadi malam, Luisa sudah mulai menangis memikirkan akan kembali berpisah dengan grandma tersayangnya itu.


"Sudahlah Lui, grandma akan kembali lagi ke Indonesia... Kamu jangan nangis lagi yah," nyonya Ana mengusap lembut puncak kepala cucunya yang paling cantik itu.


"Janji ya grandma bakalan balik lagi dan grandma harus selalu tinggal di rumah Lui. Grandma gak boleh sama kak Nevan. Janji ya..." ucap Luisa sambil mengacungkan jari kelingking miliknya, pertanda di buatnya sebuah janji antara dirinya dan nyonya Ana.


Melihat tingkah lucu Luisa, nyonya Ana pun tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Luisa. Sementara itu, Nevan hanya tersenyum mendengar permintaan adik sepupunya itu. Nevan dan yang lainnya bergantian berpamitan pada nyonya Ana dan juga Tante Iva.


Satu persatu koper milik mereka di masukkan ke dalam bagasi mobil. Disana sudah ada tiga unit mobil yang siap mengantar ke enam remaja itu ke bandara.


Nevan menatap dalam pada Nyonya Ana. Seakan remaja laki-laki itu tidak ingin berpisah dengannya.


"Grandma akan merindukanmu." Nyonya Ana dapat mengetahui dengan pasti apa yang di rasakan oleh cucu tampannya itu. Sekali lagi Nevan memeluk Nyonya Ana erat.


Seseorang yang tidak pernah mereka duga menghampiri mereka semua di pekarangan rumah Nyonya Ana. Seorang gadis cantik berjalan perlahan dan penuh keraguan namun semakin mendekati mereka semua yang ada disana.


Gadis itu terlihat sangat cantik, rambut potongan sebahu dan kulit berwarna putih. Semua yang berada di sana mengenal gadis tersebut. Itu Alesha. Gadis yang tinggal di sebuah rumah yang bersebelahan dengan rumah Nyonya Ana. Suasana yang awalnya penuh haru berubah menjadi tegang. Kedatangan Alesha disana merupakan sebuah kejutan yang sangat tidak menyenangkan. Terutama bagi Nevan.


Siluet yang di lihat Nevan tadi malam adalah Alesha. Laki-laki itu menatap Alesha dengan tatapan yang tidak terbaca. Nevan tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari gadis yang dulu pernah sangat di cintainya itu. Lalu tanpa berkata apapun padanya, Alesha menghilang bagaikan di telan bumi. Nevan melakukan segala cara untuk mencari keberadaan Alesha tapi semua usahanya tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya Nevan memilih kembali ke Indonesia untuk menyembuhkan luka hatinya.


Lalu sekarang setelah Nevan sepenuhnya melupakan Alesha dan telah yakin dengan perasaannya kepada Haura, tanpa terduga gadis itu kembali ke hidupnya. Dan sekarang gadis itu sedang berjalan menujunya. Luka yang telah di lupakan oleh laki-laki itu seakan terbuka kembali.


Sementara itu, tepat di belakang Nevan ada Rhea menatap sendu pada Nevan dan juga Alesha. Bukan hanya Nevan yang kembali merasakan luka di hatinya. Namun begitu juga dengan Rhea. Gadis cantik itu kembali mengingat ketika dirinya ingin menyatakan tentang perasaannya kepada Nevan, namun belum sempat Rhea jujur atas perasaannya, Nevan terlebih dahulu memberitahukan bahwa dirinya itu sedang menjalin hubungan dengan Alesha.


Rasa sedih menyusup ke relung hati Rhea. Ingatannya tentang kegagalan pada cinta pertamanya kembali terlintas di depan matanya.


"Are you ok?" tanya Gian menggenggam erat tangan Rhea. Gadis cantik itu sedang terluka.


Rhea tersenyum pada Gian. Laki-laki itu selalu bisa memahami perasaannya. "Hmmmm..." Rhea mencoba terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Ayolah," Gian mengajak Rhea untuk segera masuk ke dalam kendaraan yang telah menunggu mereka. Gian tidak ingin Rhea semakin bersedih jika tetap berada disana melihat Nevan dan juga Alesha. Gian membukakan pintu mobil untuk sahabatnya Rhea. Sudah ada Bella di dalam mobil tersebut. Tentunya Bella juga ikut bersedih melihat Rhea yang seakan kembali terluka.


Di lain sisi Nevan berdiri mematung menatap gadis yang telah berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu mencoba tersenyum pada Nevan yang sejak tadi mengatupkan rahangnya. Ada rasa yang tidak bisa di jelaskan sedang bergemuruh di dalam hati laki-laki itu.


Alesha tersenyum hangat pada Nyonya Ana dan juga Tante Iva. Gadis itu belum berani untuk beradu tatap dengan Nevan. Alesha menyadari bahwa hubungan antara dirinya dan juga Nevan tidak akan sama seperti dulu lagi. Tentunya itu semua karena kesalahannya. Alesha pergi meninggalkan Nevan, namun gadis itu mempunyai alasan tersendiri mengapa ia melakukan itu.


Nyonya Ana dan juga tante Iva memilih kembali masuk ke dalam rumah mereka setelah memastikan bahwa para cucu beliau telah masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke bandara.


Sementara itu Niko melihat jam tangannya. Memastikan mereka tidak akan terlambat menuju bandara. Pun juga Niko dan Nevan akan berada pada satu mobil yang sama.


"Bisakah kita bicara sebentar?" akhirnya Alesha memberanikan diri berbicara pada laki-laki yang sejak tadi menatapnya tanpa bersuara.


"Hanya sebentar saja," pinta gadis itu lagi.


Nevan menghela nafas panjang. Masih enggan untuk membuka suara. Laki-laki itu menelisik lebih jauh wajah Alesha. Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah dari gadis yang pernah mengisi hatinya itu. Wajah cantik Alesha dan juga manik mata hazel milik gadis itu yang seakan menyimpan banyak cerita di dalamnya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Nevan setelah kebisuan yang panjang.


"Aku meminta maaf," ucap Alesha. Gadis itu menatap langsung pada mata Nevan. Mencoba mengatakan bahwa dirinya benar-benar tulus meminta maaf pada laki-laki yang masih di cintainya itu.


"Aku minta maaf karena pergi meninggalkan kamu. Aku juga minta maaf karena tidak menghubungimu dan menghilang dari kehidupan kamu. Aku tahu bahwa sikapku membuat kamu terluka. Aku juga sadar sepenuhnya bahwa kamu tidak akan bisa memaafkan aku. Tapi untuk itu semua, aku punya alasan melakukan itu semua," jelas Alesha panjang lebar.


"Dan aku...." Alesha menjeda perkataan yang akan di ucapkannya.


"Apa pun alasan yang akan kamu katakan, tidak akan mengubah kenyataan bahwa kamu meninggalkan aku," Nevan memotong perkataan Alesha. "Tidak akan mengubah bahwa kamu telah menghancurkan semuanya."


"Nevan... Aku mohon." Suara Alesha bergetar, gadis itu menahan agar air matanya tidak tumpah.


Nevan mengusap wajahnya gusar. Laki-laki itu terlihat sangat frustasi. Gadis yang telah di lupakannya kembali lagi ke dalam hidupnya. Kelemahan laki-laki itu adalah melihat air mata Alesha.


Waktu semakin berlalu, sudah waktunya untuk mereka pergi menuju bandara agar tidak tertinggal pesawat. Niko berjalan menghampiri Nevan,"Saatnya kita pergi."


"Aku harus pergi," ucap Nevan pada Alesha.

__ADS_1


"Nevan aku mohon, dengarkan aku sebentar saja," mohon Alesha lagi. Baginya banyak hal yang harus di jelaskan olehnya kepada Nevan.


"Aku harus pergi," ulang Nevan lagi.


Nevan bersiap pergi untuk meninggalkan gadis itu. Detik itu juga Alesha menahan tangan Nevan, berharap laki-laki itu bersedia untuk mendengar penjelasan darinya. Langkah Nevan terhenti.


"Aku minta maaf. Aku sangat menyesal. Dan bisakah...." air mata Alesha lolos dari kedua mata indahnya. "Bisakah kita memulai lagi dari awal?"


Deg....


Jantung Nevan berdegup kencang. Memulai dari awal? Laki-laki itu seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Setelah hatinya di hancurkan dan dirinya di tinggalkan, dengan mudahnya Alesha meminta memulai dari awal. Itulah yang di pikirkan Nevan.


Namun di lain sisi Nevan tidak tega melihat gadis yang pernah di cintainya itu menangis. Nevan tidak akan pernah sanggup menyakiti Alesha.


"Aku mohon jangan menangis Ale."


"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?" tanya gadis itu lagi. Air mata Alesha telah membasahi kedua pipinya.


Nevan dilanda keraguan. Ada rasa sayang juga bersalah karena Alesha memohon sambil menangis padanya.


Niko dan juga yang lainnya menyaksikan Nevan dan Alesha tanpa bersuara. Di dalam sebuah mobil Rhea mengusap cairan bening di sudut matanya.


"Jangan bodoh Van. Cukup perasaan aku yang pernah terluka karena kamu. Jangan sakiti perempuan lain lagi karena kebodohan kamu. Hentikan Nevan, aku mohon," ucap Rhea lirih.


Di saat bersamaan ponsel milik Nevan berdering. Satu panggilan telepon masuk dari seorang yang beberapa saat yang lalu seakan hilang dari ingatannya karena kehadiran Alesha.


Haura... nama yang tertera pada layar panggilan telepon Nevan. Hati Nevan kembali tenang, gadisnya menghubunginya. Gadis yang tidak sabar ingin di temuinya.


"Haura...." Nevan memanggil nama gadis yang berada jauh disana.


Detik itu juga Alesha menatap sendu ke arah Nevan. Haura... adalah nama seorang gadis yang pernah Nevan ceritakan padanya. Seorang gadis yang pernah membuatnya merasa cemburu meskipun mereka belum pernah bertemu.


"Aku akan kembali. Aku pasti akan menemui kamu... Hmmm..." ucap Nevan pada Haura.

__ADS_1


__ADS_2