
Hai readers!
Plissss.... Tolong tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan tambahkan ke favorit
Happy reading guys!!
Nevan masih belum pergi meninggalkan bandara. Pesawat penerbangan menuju Sydney telah mengudara sejak satu jam yang lalu. Mengantarkan orang tersayangnya kembali ke negeri kangguru.
Masih segar di ingatan Nevan ketika umurnya baru menginjak enam tahun. Saat itu ibunya telah kembali kepada sang pencipta. Nevan kecil belum memahami bahwa Ibunya tidak akan pernah kembali lagi ke sisinya. Ketika anak kecil berusia enam tahun itu rindu akan sosok seorang Ibu, Nyonya Anna selaku grandmanya akan selalu ada memeluk dan menenangkannya.
Kini orang yang sangat berarti dalam hidupnya pergi jauh untuk sementara waktu. Hati Nevan begitu sedih dan gelisah. Sejak dirinya berusia enam tahun, tidak pernah sekalipun Nevan berjauhan dengan grandmanya.
Nevan telah membujuk Nyonya Anna untuk tetap tinggal di Jakarta bersama mereka. Namun sayang, Nyonya Anna tetap ingin kembali. Disana makam suaminya. Dan dia rindu ingin mengunjunginya. Begitulah alasan yang grandma berikan kepada Nevan.
Sepeninggalan suami Nyonya Anna sejak dua tahun yang lalu, wanita paruh baya itu tinggal bersama Nevan dan juga orang kepercayaan keluarga Sander yang selalu siap sedia membantu segala keperluan Nyonya Anna.
Nevan memandang langit biru. Cuaca cukup cerah hari itu. Namun hati remaja itu terasa mendung. Nevan seperti merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya lagi.
Flashback On
Malam sebelum keberangkatan Nyonya Anna menuju Sydney. Wanita berusia senja itu tidur di rumah Tuan Liam. Melepas rindu dengan cucu kesayangannya sebelum kembali ke Sydney.
"Grandma pasti balik lagi kesini. Jadi kamu jangan sedih," ucap Nyonya Anna kepada Nevan. Remaja tampan itu sejak tadi tidur di pangkuan Nyonya Anna. Begitulah Nevan jika berdua bersama grandmanya. Mereka begitu dekat hingga Nevan bahkan tidak malu untuk menangis di depan Nyonya Anna.
"Berapa lama disana?" tanya Nevan.
"Mungkin hanya beberapa bulan."
"Lama banget sih. Kenapa gak satu bulan aja? Lebih baik lagi kalau cuma satu minggu disana," protes Nevan kesal.
Nyonya Anna hanya tersenyum mendengar perkataan Nevan.
"Kalau grandma disana kenapa napa gimana?" Nevan menatap lekat wajah orang tersayangnya itu.
"Memang grandma kenapa? Tante vania kan ikut bersama grandma, jadi gak akan terjadi apapun."
"Terus kalau Nevan kangen gimana?" rengek Nevan lagi. Tingkahnya seperti anak kecil yang akan di tinggalkan oleh Ibunya.
__ADS_1
"Ya ampun Nevan. Kamu tinggal telfon grandma."
Nyonya Anna tidak habis fikir melihat tingkah cucu tampannya itu. Memang ini adalah pertama kalinya Nyonya Anna berjauhan dari Nevan sejak remaja itu tinggal bersamanya sebelas tahun yang lalu.
"Jangan balik kesana dong grandma... Plissss."
"Gak bisa sayang. Grandma udah kangen sama kakek kamu. Grandma mau bernostalgia dan bercerita banyak hal," ucap Nyonya Anna. Ada kilauan cinta di mata senjanya ketika membicarakan Almarhum suaminya. Juga ada terselip rasa rindu disana.
Itulah mengapa Nyonya Anna ingin kembali ke Sydney. Wanita berusia paruh baya itu ingin mengunjungi makan suaminya. Rutinitas yang biasanya dia lakukan seminggu sekali jika berada di Sydney.
Meskipun dirinya telah dua tahun di tinggalkan oleh suaminya, namun tidak menyurutkan cintanya kepada suaminya itu. Bahkan kerinduan yang mendalam selalu dirasakan oleh Nyonya Anna.
Nevan adalah saksi dari perjalanan cinta grandmanya itu. Dan ketika Nevan di Sydney, setiap minggunya Nevan selalu menemani Nyonya Anna mengunjungi makam suaminya. Oleh karena itu Nevan sangat tahu betapa rindunya Nyonya Anna mengunjungi tempat tersebut.
"Apakah cinta grandma sebesar itu kepada kakek?" tanya Nevan polos.
Nyonya Anna kembali tersenyum menatap cucunya itu.Sebuah anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan Nevan. "Bahkan lebih besar dari yang sanggup kamu bayangkan."
Nevan tahu ucapan grandmanya adalah benar. Cinta mereka begitu besar. Bahkan menembus ruang dan waktu.
"Apakah papa juga mencintai mama seperti itu?"
"Kenapa kamu bertanya begitu," tanya Nyonya Anna.
"Karena Nevan tidak pernah melihat papa bercerita tentang mama," jawab Nevan apa adanya.
"Papa kamu sangat merindukan Amira, mama kalian. Tapi kamu tau kan Van, kalau papamu bukanlah orang yang ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Bahkan di hadapan grandma saja papa kalian tidak mau terlihat bersedih. Tapi grandma tahu bahwa papa kalian sangat kesepian," jelas grandma.
"Kamu lihat saja, foto pernikahan papa dan mama kalian masih terpajang dengan indah di rumah ini. Yang artinya papa kamu masih mencintai mama kamu. Hanya saja cara mencintai papa kamu adalah dengan menikmati kerinduan itu seorang diri," sambung Nyonya Anna lagi.
Nevan mencerna dengan baik apa yang di katakan oleh grandmanya. Benar, begitulah papanya. Tidak ingin terlihat rapuh di depan siapapun.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Nyonya Anna kepada Nevan. Pertanyaan yang cukup membingungkan bagi Nevan.
"Apakah kamu mencintai seseorang?" sambung Nyonya Anna lagi karena melihat gurat kebingungan di wajah Nevan.
Yang ditanya malah hanya nyegir saja. "Mana ada cinta seperti grandma. Itu cinta yang sangat langka."
"Haura...? Bagaimana?" tambah Nyonya Anna lagi.
Nevan menautkan kedua alisnya. Merasa heran dengan pertanyaan grandmanya itu. Mengapa di sangkut pautkan dengan Haura. Begitulah fikirnya.
"Kenapa dengan Haura?" tanya Nevan bingung.
"Apa yang kamu rasakan saat bersamanya?"
"Gelisah," jawab Nevan singkat.
__ADS_1
"Lalu?"
"Takut, marah, bahagia," satu persatu Nevan utarakan tentang perasaannya ketika dirinya bersama Haura.
Perasaan yang selama ini selalu datang silih berganti karena seorang Haura Annisa. Namun Nevan menganggap perasaan itu adalah karena dirinya menyayangi dan peduli kepada Haura. Ada rasa ingin melindungi secara berlebihan. Bagi Nevan itu bukanlah karena ketertarikannya sebagai seorang laki-laki kepada seorang perempuan.
"Haura perempuan baik kan, Van?" tanya Nyonya Anna. Lebih tepatnya sebuah pernyataan.
"Sangat baik, bahkan juga terkadang sangat bodoh. Nggak pernah mau nurut sama Nevan. Harus nangis dulu baru Nurut," ujar Nevan merasa kesal kepada Haura.
"Jadi kamu sering membuat Haura nangis?" tanya Nyonya Anna tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Emmmm.... nggak kok grandma, cuma kadang-kadang," bohong Nevan. "Tapi dasar Hauranya aja yang cengeng," Nevan merasa kesal karena setiap bersamanya Haura sering menangis. Tetapi jika bersama Farrel, Haura terlihat lebih bahagia.
"Ikhh... Farrel lagi, Farrel lagi," gumam Nevan. Namun masih terdengar jelas oleh grandmanya.
"Siapa Farrel?"
"Bukan siapa-siapa grandma. Gak penting juga," jawab Nevan.
Nyonya Anna dan Nevan membicarakan banyak hal. Seakan ingin menghabiskan waktu semalaman karena akan berpisah dalam waktu yang sukup lama.
Nevan sama sekali tidak merasa enggan membicarakan tentang hidupnya kepada grandmanya itu. Sejak kecil Nyonya Anna adalah tempat Nevan berkeluh kesah. Jadi tidak ada rasa malu bagi Nevan untuk menceritakan tentang dirinya.
Sejak tadi Nevan masih nyaman tidur dalam pangkuan Nyonya Anna. Apalagi Nyonya Anna tidak protes sama sekali. Justru merasa bahagia karena Nevan begitu terbuka kepadanya.
Sedang asik berbagi cerita, tiba-tiba seseorang yang tidak di undang masuk ke dalam kamar Nyonya Anna. Tanpa mengetuk pintu sama sekali. Seorang gadis berparas manis, rambut kuncir ekor kuda. Lengkap dengan sebuah nampan berisi segelas jus dan segelas air putih.
Nyonya Anna sendirilah yang meminta Haura untuk mengantarkan jus dan air putih ke kamarnya. Tepat sebelum pembicaraannya dengan Nevan berlangsung.
Terang saja hal itu membuat Nevan kaget bukan kepalang. Haura menerobos masuk ke kamar grandmanya tanpa permisi. Terlebih lagi saat ini Nevan sedang tidur di pangkuan grandmanya. Hal yang sangat memalukan untuk dilihat oleh Haura.
Sama halnya dengan Nevan, Haura juga tidak kalah kaget melihat Nevan begitu manja kepada Nyonya Anna. Haura mencoba menahan tawanya.
Nevan menatap kilat kearah Haura. Malu karena Haura melihat dirinya tidur di pangkuan grandma dan juga kesal karena Haura seperti ingin menertawakannya.
Perlahan Nevan bangun dari baringnya. Sementara Haura terus saja memasuki kamar tersebut. Meletakkan jus dan juga air putih di atas nakan di sebelah tempat tidur Nyonya Anna. Gadis remaja itu masih menahan tawa.
Nyonya Anna tersenyum melihat tingkah laku Nevan.
"Aku pura-pura gak liat apa-apa kok, Van. Kamu tenang aja," ujar Haura sengaja ingin membuat Nevan semakin kesal.
"Aku mengerti kamu," sambung Haura lagi.
Setelahnya Haura langsung keluar dari kamar itu di ikuti dengan tawa renyah. Tawa yang begitu nyaring di telinga Nevan.
"Hauraaaaaa...."
__ADS_1