
Para siswa lebih sibuk dari biasanya karena mereka sedang mempersiapkan berbagai pertunjukan yang akan mereka tampilkan dalam acara ulang tahun sekolah yang akan di gelar kurang dari satu minggu lagi
Akan ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu pameran lukisan dari ekskul melukis, peragaan busana dari ekskul fashion designer, panggung teater, panggung tari, panggung menyanyi dan lain sebagainya. Untuk ekskul broadcasting, mereka akan bekerjasama dengan beberapa stasiun TV swasta untuk menyiarkan perayaan tersebut. Akan ada juga acara donasi kepada beberapa organisasi yang bergerak untuk membantu anak-anak penderita kanker.
Guru dan siswa saling bekerjasama untuk menyukseskan acara tersebut. Apalagi akan ada tamu-tamu istimewa dari kalangan pengusaha bahkan pejabat yang akan menjadi undangan di hari besar tersebut.
Untuk desain interior acara, Nevan menjadi ketua yang bertanggung jawab untuk menanganinya. Jika biasanya remaja tampan itu terlihat selalu acuh pada kegiatan apapun. Beda halnya sekarang. Nevan sangat antusias untuk merancang desain interior semenarik mungkin dan tentunya mempunyai nilai estetika yang tinggi. Karena dia sangat menyukai bidang tersebut.
Tentu saja Nevan bekerjasama dengan beberapa desain interior profesional. Bukan hal sulit untuknya agar dapat bekerjasama dengan orang-orang profesional karena koneksi yang dimiliki oleh keluarga Sander sangatlah banyak baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri.
Selama beberapa hari ini Nevan terus disibukkan melakukan beberapa pertemuan dengan orang-orang yang akan diajaknya bekerjasama. Sosok Nevan seakan berubah seratus delapan puluh derajat. Dirinya tidak seperti remaja tujuh belas tahun yang biasanya selalu suka mengganggu Haura. Akan tetapi dia seperti laki-laki dewasa yang mampu bekerja profesional.
Interaksi antara Nevan dan Haura juga sedikit berkurang dari biasanya. Mereka hanya mempunyai waktu untuk berbicara ketika jam pelajaran, serta pergi dan pulang sekolah. Selebihnya mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Jika Nevan di sibukkan dengan ide kreatifnya, maka Haura sedang sibuk untuk mempersiapkan panggung teater bersama kelompok ekskul teater. Meraka akan melakukan pementasan teater “Alice In The Wonderland.”
Jangan berfikir bahwa Haura akan menjadi karakter utama yaitu Alice. Salah. Haura akan berperan sebagai “White
Rabbit”. Karakter kelinci putih yang memikat Alice menuju lubang kelinci dalam serial Alice In The Wonderland.
*******
“Gimana persiapan teater kamu?” tanya Nevan pada Haura di sela-sela dirinya mengendarai motor. Sekarang
ini mereka sedang menuju arah untuk pulang ke rumah. Di saat-saat seperti itulah mereka mempunyai waktu untuk berbicara.
“Semuanya lancar. Semoga tidak ada kendala apa pun ketika pementasan nanti. Jujur saja aku sangat gugup,” jawab Haura. Kini Haura menempatkan dagunya tepat di bahu Nevan agar laki-laki itu dapat mendengar perkataannya.
"Kenapa gugup?"
"Bagaimana tidak gugup, akan banyak pasang mata yang akan menyaksikannya. Aku takut membuat kesalahan hingga mengacaukan semuanya." Haura membayangkan akan seperti apa nantinya jika pementasan mereka gagal.
"Kamu tidak perlu gugup karena di sana kamu tidak sendiri. Kamu dan lainnya adalah sebuah tim dan jangan terbebani dengan fikiran - fikiran negatif yang belum tentu akan terjadi," ucap Nevan mencoba memberi ketenangan untuk Haura.
Mendengar ucapan Nevan, Haura seakan menemukan sisi lain dari sahabatnya itu. Bagaimana bisa Nevan yang biasanya berbicara hal-hal unfaedah bisa sebijak sekarang.
“Pementasan apa yang akan kalian tampilkan?”
“Alice In The Wonderland.”
__ADS_1
“Terus kamu jadi karakter apa?” tanya Nevan lagi. Entah karena penasaran atau hanya sekedar sebuah pertanyaan.
“Aku akan berperan sebagai White Rabbit,” ucap Haura dengan penuh percaya diri.
"Upsss... kenapa aku mengatakannya," ucap Haura sembari salah satu tangannya menutup mulutnya. Seharusnya Haura tidak mengatakan pada Nevan peran apa yang akan dia lakoni dalam pementasan teater nantinya. Alasan utamanya adalah karena setelah ini Haura sangat yakin bahwa Nevan pasti akan menggodanya lagi.
“Kenapa harus white Rabbit?”
“Karena karakter itu yang cocok untuk aku. Lagi pula mana mungkin aku menjadi Alice. Harusnya yang menjadi Alice itu cantik. Bukan orang seperti aku." Haura sangat sadar diri bahwa dia sangat tidak pantas menjadi pemeran utama.
“Aku gak bilang kalau kamu harus jadi Alice,” Ucap Nevan dengan tersenyum. “Justru menurut aku, ada satu karakter yang paaaliiiingggg cocok untuk kamu.” Nevan berkata dengan menekankan kata paling agar meyakinkan Haura bahwa karakter tersebut memang pantas untuk di perankan oleh Haura.
“Karakter apaan, Van?” Haura benar-benar penasaran dengan karakter yang dimaksud Nevan.
“Absolem the Caterpillar. Si ulat biru. Aku rasa itu karakter yang paling pas untuk kamu.” Setelah mengatakan itu Nevan pun tertawa dengan nyaring. “Kamu kan pendek, kecil, jadi kamu cocok jika berperan sebagai ulat.”
Sesuai dugaan Haura, Sifat usil Nevan mulai On.
“Ihhh... kamu, Van. Selalu ngatain aku pendek. Kalau emang kamu mau, kamu aja yang berperan sebagai ulat. Ulat Bulu lebih tepatnya.” ucap Haura dengan wajah yang di tekuk.
“Mana mungkin aku menjadi ulat bulu. Ketampanan aku hanya cocok untuk karakter pangeran,” ucap Nevan dengan kesombongannya.
"Gak mungkin pangeran kegelapan punya ketampanan seperti aku. Ketampanan yang mampu menyeimbangi boy band Korea."
Haura hanya mengerlingkan matanya mendengar ucapan Nevan. Memang benar sahabatnya itu tampan. Tapi tidak perlu bersikap sombong seperti itu.
“Lagian nih ya, kenapa kamu marah? Aku hanya mengatakan fakta bahwa kurcaci aku memang pendek.”
“Kurcaci kamu?” tanya Haura heran.
“Iya, kamu adalah kurcaci aku, Haura.” Lalu Nevan pun berpaling untuk beberapa detik. Manik coklat miliknya bersitatap dengan manik hitam milik Haura. Tatapan mereka begitu dekat karena saat ini wajah haura berada di pundak Nevan. Remaja tampan itu memberikan senyuman hangat untuk Haura kemudian memfokuskan kembali matanya pada jalanan.
Haura kembali harus menetralkan detak jantungnya yang akhir-akhir ini berpacu tiga kali lebih cepat ketika melihat senyuman Nevan. Bisa-bisa Haura terkena serangan jantung di usia muda jika Nevan sering tersenyum manis padanya.
“Haura...” Suara Nevan menyadarkan Haura yang sedang termenung di belakang Nevan.
“Emmmmm....” Haura hanya bergumam sebagai jawaban atas panggilan Nevan.
“Ada apa, Van?” Haura bertanya setelah menunggu beberapa saat , tapi Nevan tak kunjung mengatakan apa pun
__ADS_1
setelah memanggil namanya.
“Gak ada apa-apa. Aku manggil kamu karena aku fikir kamu diam karena udah berubah jadi ulat... Hahahaha.....” Lagi-lagi Nevan menggoda Haura.
“Awww... sakit, Ra. Kenapa aku di cubit?” protes Nevan ketika merasakan sebuah cubitan di pingganggnya.
“Biarin, salah kamu ngatain aku ulat.”
“Lagian kamu kenapa diam sih. Akunya berasa jadi tukang ojek yang lagi nganterin penumpang. Apa yang lagi
kamu fikirkan?” Nevan berpaling kembali ke arah Haura.
“Aku gak lagi mikir apapun.” Haura memang tidak sedang memikirkan apapun. Dirinya justru diam agar jantungnya tidak kembali bergemuruh.
“Kenapa gak mikir apa pun? Seharusnya ada yang kamu fikirkan.”
“Memangnya apa yang harus aku fikirkan?” Haura tidak mengerti apa yang di maksud oleh Nevan.
“Aku...” jawab Nevan cepat. “Kamu harus memikirkan aku, Nevan yang tampan. Jangan biarkan fikiran kamu kosong, karena aku cukup besar untuk memenuhi fikiran kamu.” Setelah mengatakan itu Nevan pun mengusap kepala Haura yang belum berpindah dari pundaknya dengan tangan kirinya.
Haura pun reflek menjauhkan kepalanya dari pundak Nevan.
"Haura...."
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Sebenarnya Haura mendengar Nevan memanggil namanya, tapi gadis remaja itu pura-pura menulikan telinganya.
"Kamu masih bernafas kan, Ra?" tanya Nevan karena Haura tak kunjung menjawab panggilannya.
"Emmmm....." hanya gumaman yang Haura berikan.
"Kamu ingat perkataan aku ini baik-baik. Haura Annisa, kamu hanya boleh memikirkan aku. Hanya aku." Nevan menegaskan kata-kata akhir pada ucapannya.
Hanya kamu? untuk apa? Haura hanya berani bermonolog dengan dirinya sendiri. Dia tidak berani menanyakan maksud dari perkataan Nevan.
Nevan, tanpa kamu minta pun, aku sudah sangat sering memikirkan kamu. Terkadang aku sangat takut dengan fikiranku sendiri. Jika nantinya aku tidak bisa berhenti untuk memikirkanmu. Apakah kamu akan berbaik hati untuk memikirkanku juga? Hanya aku. Apakah mungkin? Batin Haura tanpa berani menyuarakan isi hatinya.
Tidak ada percakapan lanjutan setelah itu. Hanya keheningan dan hembusan angin senja yang menemani kedua remaja tersebut sepanjang sisa perjalanan.
Haura menatap nanar punggung Nevan. Setitik air mata menghiasi sudut mata indah Haura. Entah karena apa, tapi saat ini Haura ingin menangis.
__ADS_1