
"Niko!" seru Haura yang terkejut karena tiba-tiba Niko duduk tepat di sebelahnya. Bahkan bahu kedua remaja itu saling bersentuhan satu sama lain.
"Kenapa lo kaget?" tanya Niko seakan merasa heran atas keterkejutan Haura. Padahal nyatanya pertanyaan itu hanyalah sekedar basa-basi saja. Semua orang pasti akan terkejut jika hal itu terjadi kepada mereka. Terlebih lagi Niko menyadari bahwa dirinya dan Haura bukanlah teman dekat untuk bisa duduk bersama dengan jarak sedekat itu.
"Ngapain lo disini sendirian?' tanya Niko lagi seakan mengabaikan wajah heran dari lawan bicaranya itu.
Merasa jarak antara dirinya dan Niko begitu dekat, Haura pun menggeser posisi duduknya hingga menghasilkan jarak diantara mereka berdua. Tentu saja Haura merasa tidak nyaman untuk duduk sedekat itu dengan Niko.
"Kenapa kamu disini?" bukan sebuah jawaban yang Haura berikan, justru gadis remaja itu melemparkan sebuah pertayaan yang sama kepada Niko.
Wajar saja jika Haura bertanya demikian kepada Niko. Pasalnya tidak pernah rasanya Niko berada di taman sekolah seorang diri tanpa teman-temannya. Jadi sudah pasti hal tersebut merupakan suatu yang aneh bagi Haura.
"Kenapa gue gak boleh disini?"
Saling melempar pertanyaan tanpa ada yang memberikan jawaban seperti yang sedang terjadi diantara Niko dan Haura.
"Maksud aku, kenapa kamu disini sendirian? Biasanya kamu selalu bareng sama Nevan dan lainnya," jelas Haura.
"Bukannya lo juga selalu bareng saa dua temen lo itu?"
"Huffttt...." Haura menghembuskan nafas panjang. Menurut Haura jika pembicaraan ini dilanjutkan maka tidak akan pernah ada habisnya.
"Ternyata kalian sama saja," lirih Haura pelan namun sayangnya masih mampu ditangkap dengan jelas oleh indra pendengaran Niko.
"Kami berbeda. Aku Niko dan dia Nevan."
"Kalian berbeda tapi sama-sama menyebalkan," ucap Haura dengan jujur. Haura tidak menyangka bahwa Niko yang terlihat bersikap lebih baik dan lebih sopan dari Nevan ternyata memiliki sifat yang sama seperti Nevan. Sama-sama suka menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan lainnya.
Niko hanya tersenyum menanggapi pernyataan Haura. "Kenapa kamu sendirian? Mana Luna dan Adel?" tanya Niko lagi. Sama seperti Haura yang merasa heran melihatnya seorang diri disana, Niko juga sama halnya merasa heran melihat Haura duduk sendirian di taman sekolah tanpa kedua sahabatnya.
"Hari ini Luna tidak sekolah dan Adel mungkin masih di ruang ekskul."
“Luna kenapa?” Tanya Niko penasaran.
“Luna sakit sejak kemarin,” jawab Haura dengan raut wajah sedih. Bagaimana tidak, Luna adalah sahabatnya yang paling ceria dan selalu memberikan energi positif untuk Haura dan Adel. Belum lagi Adel yang sedang sibuk sibuknya dengan urusan ekskul membuat Haura merasa sangat kesepian tanpa kehadiran Luna di sekolah.
“Sakit apa? Apakah Luna di rawat di rumah sakit?” Tanya Niko lagi. Intonasi pertanyaan Niko sedikit berbeda. Ada rasa khawatir disana.
Haura mengalihkan pandangannya pada Niko yang juga menatapkan menuntut jawaban atas pertanyaannya tentang Luna.
“Luna hanya demam dan dia tidak di rawat di rumah sakit.”
__ADS_1
“Jadi kamu nggak perlu khawatir,” lanjut Haura lagi.
“Syukurlah.” Niko merasa lega mengetahui Luna tidak mengalami sakit parah.
“Kamu mengkhawatirkan Luna?” Tanya Haura sedikit menggoda Niko. Aneh rasanya jika Niko yang selama ini bersikap sangat dingin kepada Luna tetapi terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Luna yang sedang sakit. Tapi itulah yang terjadi sekarang.
“Enggak” jawab Niko tegas kembali bersikap tenang seperti biasanya.
Sikap Niko justru membuat Haura tertawa penuh makna. Meskipun Niko mengelak, tetapi Haura cukup tahu bahwa Niko mengkhawatirkan sahabatnya Luna.
“Haura…” gumam Niko merasa kesal dengan sikap Haura.
“Iya… Aku tahu, kamu tidak mengkhawatirkan Luna,” jawab Haura cengengesan.
Niko merutuki dirinya karena menanyakan keadaan Luna.
Untuk beberapa saat tidak ada permbicaraan diantara keduanya.
Waktu terus berlalu. Untuk beberapa waktu, sama sekali tidak ada pembicaraan diantara kedua remaja tersebut. Haura memandang dengan seksama wajah Niko. Meskipun tidak setampan Nevan, akan tetapi Niko memiliki pesona dan kharismanya tersendiri. Sungguh wajar rasanya jika Luna begitu menyukai sosok Niko.
Sementara yang menjadi pusat perhatian Haura, sejak tadi memandang lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun kearah Haura setelah pembicaraan mereka beberapa menit yang lalu. Terlihat beberapa siswa yang sedang duduk bersama teman-teman meraka sambil saling berbagi cerita.
"Udah puas lo mandangin gue?"
Gadis berlesung pipi itu hanya tersenyum kuda sambil menggaruk tengkuknya sebagai respon atas pertanyaan Niko. Gadis remaja itu merasa benar-benar malu karena ketahuan mencuri pandang kepada Niko. Meskipun Haura tidak memiliki rasa ketertarikan kepada Niko, namun Haura hanya takut Niko salah paham pada dirinya.
"Lo jangan ngeliatin gue kayak gitu. Kalau Nevan sampai liat, gue bisa digantung di tiang bendera," celetuk Niko.
“Ehhhh… A- a-aku gak ngeliatin kamu,” jawab Haura tergagap. Ingin rasanya Haura segera pergi dari sana untuk menghilangkan rasa malunya karena tertangkap basah telah memandang wajah Niko dengan seksama.
“Kenapa pertanyaan gue gak di jawab?”
“Pertanyaan yang mana?” Tanya Haura bingung.
“Lo udah puas belum mandangin gue?”
Sebenranya itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mengharuskan Haura untuk menjawab. Niko hanya ingin mengganggu Haura saja. Setidaknya duduk bersama Haura dapat mengurangi sedikit beban di fikirannya.
Saat ini wajah Haura sudah merah padam karena menahan malu. Hal itu justru mengundang gelak tawa dari Niko. Gadis remaja itu tidak menyangka bahwa Niko sama saja seperti Nevan. Untuk beberapa saat, sikap dingin yang Niko tunjukkan selama ini entah pergi kemana.
Namun Haura begitu tertegun melihat Niko tertawa lepas seperti saat ini. Karena semenjak dirinya mengenal Niko, tidak pernah sekalipun Haura melihat Niko tertawa seperti sekarang.
__ADS_1
“Lo suka gak sama Nevan?” Tanya Niko setelah puas dengan tertawanya.
Sontak saja pertanyaan itu membuat Haura mengerutkan alisnya dengan sempurna. Sangat aneh rasanya jika tiba-tiba Niko bertanya hal tersebut. Haura pun memilih diam dan tak ingin menghiraukan pertanyaan Niko.
“Kalau seandainya Nevan suka sama lo gimana?” Meskipun untuk pertanyaan pertama Haura tidak memilih bungkan, namun Niko tetap mengajukan pertanyaan lanjutan.
Sebenarnya tanpa bertanya pun, Niko sudah mengetahui bahwa diantara Nevan dan Haura ada perasaan yang lebih daripada sekedar pertemanan. Namun keduanya enggan mengakui atau malah tidak saling menyadari perasaan tersebut.
“Sendainya sekarang Nevan menyukai seseorang, gimana perasaan lo?”
Degg… Degg… Degg… Detik itu juga jantung Haura berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Ada rasa nyeri karena pernyataan terakhir yang dia dengar dari Niko.
“Apakah itu artinya saat ini Nevan menyukai seseorang?”
“Apakah itu alasannya kenapa beberapa hari ini Nevan menjauhinya?”
“Apakah orang yang Nevan sukai adalah seseorang yang dekat dengan mereka?”
Berbagai pertanyaan lainnya satu persatu muncul dalam benak Haura.
Beberapa hari semenjak pembicaraan Nevan bersama Niko dan Gian di rooftop, Nevan memang sengaja menjaga jarak dari Haura. Mereka hanya pergi dan pulang sekolah bersama sebagaimana biasanya. Setelah itu Nevan seakan mengabaikan Haura. Baik itu di rumah maupun di sekolah.
Bagi Nevan menjaga jarak dari Haura adalah pilihan terbaik yang dapat dia lakukan demi memastikan bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepada sahabat masa kecilnya itu.
Lain halnya dengan Haura. Gadis remaja itu merasa sedih karena sikap Nevan kepadanya. Nevan yang selalu usil mengganggunya kini bersikap dingin dan cuek kepadanya.
Tentu saja hal itu menjadi tanda tanya besar bagi Haura. Namun Haura tidak berani menanyakan perihal perubahan sikap Nevan kepadanya. Gadis remaja itu hanya bisa menebak-nebak apa yang membuat Nevan menjauhi dirinya.
Pembicaraannya dengan Niko sedikit membuat Haura yakin bahwa Nevan sedang jatuh cinta kepada seseorang. Mungkin karena itu Nevan menjauhinya untuk menjaga perasaan perempuan yang Nevan cintai. Perempuan yang entah siapa Haura tidak tahu.
Haura larut dengan pemikirannya sendiri, bahkan setiap kata yang di ucapkan Niko berlalu begitu saja tanpa bisa dicerna oleh fikirannya. Dalam benak Haura sangat ingin menanyakan lebih jauh siapa kiranya perempuan yang berhasil merebut hati Nevan.
Tetapi tidak mungkin rasanya Haura menanyakan hal itu kepada Niko. Haura cukup tahu diri untuk tidak terlibat terlalu jauh dalam kehidupan pribadi Nevan.
Namun tidak dapat Haura pungkiri ada rasa sedih yang terselip dalam benaknya. Ada rasa cinta yang terselip dalam setiap doa Haura untuk sahabatnya Nevan. Ada cinta yang tidak bisa terungkap dan hanya bisa bersemayam dalam heningnya harap.
*
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading Guys!!!