(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Malam Dan Ceritanya


__ADS_3

Malam merayap dengan perlahan. Kesunyian kian lama kian menyelimuti bumi. Hiruk pikuk kebisingan ibu kota seakan menghilang di telan keheningan malam. Rembulan bersemu indah di peraduannya. Menemani makhluk nokturnal melewati sunyi nya malam. Mencari nafkah demi kelangsungan hidup.


Sepasang mata bermanik coklat masih belum bisa memejam. Mengawasi seorang gadis remaja yang telah terlelap dalam tidurnya. Sesekali terdengar gadis itu mengigau. Pelipisnya mengerut sempurna. Mungkin mimpi buruk sedang mengganggu gadis itu. Kadang juga gadis itu menangis dan meminta pertolongan dalam tidurnya. Pilu dan menyayat hati.


Nevan masih belum beranjak dari ranjang pasien milik Haura. Sesekali dia menggunakan tangannya untuk menyeka keringat di dahi gadis itu. Sudah beberapa kali Nevan mencoba untuk tidur di sofa yang tersedia di ruangan tersebut. Akan tetapi malam itu matanya seakan enggan untuk terpejam. Alhasil, Nevan kembali ke sisi Haura. Mengamati gadis itu yang terlihat begitu gelisah dalam tidurnya.


Malam ini Nevan menemani Haura di rumah sakit. Beberapa jam yang lalu ketika Bu Lastri tiba di rumah sakit untuk menemani Haura di malam hari, Nevan meminta agar dirinya yang menjaga Haura. Tentu saja Bu Lastri menolak dengan keras permintaan Nevan. Wanita paruh baya itu fikir bagaimana mungkin dirinya membiarkan Nevan untuk menjaga Haura. Meskipun Nevan berteman baik dengan putrinya Haura, tapi tetap saja Nevan adalah putra dari majikan mereka, yang mana artinya Nevan juga merupakan majikan yang harus Bu Lastri hargai meskipun usia laki-laki itu masih remaja.


Sebenarnya bisa saja Bu Lastri tetap di sana bersama Nevan. Akan tetapi di ruangan tersebut hanya ada satu buah sofa. Sudah dapat di pastikan bahwa Bu Lastri akan menyuruh dirinya untuk tidur di sofa dan beliau akan berbagi ranjang bersama Haura. Apalagi Haura terus mengusulkan untuk berbagi ranjang dengan Ibunya. Bukan Nevan namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang di inginkannya. Remaja laki-laki itu bahkan sampai menghubungi Zayn. Meminta agar kakaknya menyuruh Bu Lastri untuk pulang beristirahat dengan nyaman di rumah agar dirinya bisa menemani Haura.


Memang benar bahwa wajah paruh baya Bu Lastri terlihat begitu lelah. Malam hari beliau harus menemani Haura di rumah sakit dan pagi hingga sore hari harus kembali ke kediaman Sander untuk bekerja. Meskipun Tuan Liam memberikan izin pada Bu Lastri untuk libur beberapa hari agar bisa mengurus putrinya secara maksimal, akan tetapi Bu Lastri sangat tidak enak hati jika harus libur bekerja. Pasalnya baru beberapa hari yang lalu wanita paruh baya itu libur karena sakit.


Seperti biasanya, keinginan Nevan lah yang harus terlaksana. Bu Lastri kembali ke rumah dan Nevan yang menemani Haura di rumah sakit.


Beberapa jam yang lalu sebelum Haura terlelap.


"Kamu pulang aja, Van. Aku gak pa-pa di sini sendirian." Pinta Haura beberapa jam yang lalu. Gadis itu sangat tidak nyaman kalau harus tinggal berdua bersama Nevan. Bukan tanpa sebab, gadis itu tidak mau di tinggal berdua bersama Nevan. Jika terus bersama Nevan, Haura khawatir semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya. Gadis itu tidak bisa berbohong lagi, dia benar-benar telah terpikat pada sahabatnya itu. Bukan sekedar sahabat biasa. Itu adalah cinta. Cinta yang masih menjadi rahasia untuk dirinya sendiri.


"Kamu kenapa bawel banget sih, Ra. Kamu tinggal diam aja dan istirahat. Gak usah banyak protes. Udah mending cowok ganteng kayak aku mau berbaik hati jagain kamu. Seharusnya kamu bersyukur bukan protes. Lagian aku dari tadi udah minta kamu untuk tidur, kenapa kelereng hitam kamu masih terbuka?"


"Ini mata bukan kelereng. Lagian ngapain kamu sok-sokan jagain aku. Mendingan kamu pulang. Besok kamu kan harus sekolah."


"Aku anak pemilik sekolah. Jadi terserah aku mau sekolah atau enggak." Si sombong kembali berulah.


Haura hanya mengerucutkan bibirnya mendengar kata-kata narsis dari Nevan. "Baru juga jadi anak pemilik sekolah udah sombong. Gimana kalau jadi pemilik sekolah? Pasti sombongnya setinggi tugu monas." Haura bergumam pelan sambil menarik selimutnya menutupi tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Aku dengar, Haura," ucap Nevan yang kini telah berdiri menjulang di samping ranjang Haura.


Gadis itu kembali membuka selimutnya, "Aaaaaaaaa......." Haura menjerit kaget karena melihat Nevan telah berdiri di samping ranjangnya. Gadis itu kembali mendudukkan tubuhnya.


"Nevan, kamu kenapa kayak setan sih, Van? Tadi di sana sekarang di sini. Bahkan suara langkah kamu aja gak terdengar. Kamu beneran Nevan kan?"

__ADS_1


Haura langsung menarik tangan Nevan hingga remaja laki-laki itu terduduk di ranjang yang sama dengan Haura. Gadis itu memegang wajah Nevan dengan kedua tangannya. Membolak-balik wajah remaja tampan itu.


"Bisa di sentuh sih. Kalau setan seharusnya gak bisa di sentuh." Haura masih larut dalam kegiatannya membolak-balik wajah Nevan. tanpa gadis itu sadari Nevan terus memperhatikan wajahnya.


"Sakit gak, Van?" Plaakkk.... sebuah tamparan mendarat tepat di wajah tampan Nevan.


"Awww..... Haura....." Nevan menggeram kesal karena Haura menampar pipinya.


"Tadi itu uji coba Van. Kalau kamu merasa kesakitan berarti kamu beneran manusia bukan setan," ucap Haura tanpa rasa bersalah sama sekali. Sebenarnya tamparan tersebut adalah sebuah modus dari Haura agar bisa melampiaskan kekesalannya kepada Nevan karena selalu memaksakan kehendaknya.


"Kalau ini sakit gak Van?" Haura mencubit kedua pipi Nevan. Bukan sebuah cubitan gemas, tapi benar-benar cubitan yang menyakitkan.


"Aaawwwww....." Nevan memekik kesakitan. Haura benar-benar menggunakan segenap tenaganya untuk mencubit pipi Nevan.


"Ulu-ulu si anak manja kesakitan," ucap Haura setelahnya sambil mengelus lembut kedua pipi Nevan yang baru saja di cubit olehnya.


Wajah kedua remaja itu saling berhadapan. Sangat dekat. Nevan menatap lekat-lekat wajah manis Haura. Menelisik setiap inci wajah gadis yang sedang mengelus lembut wajahnya. Sementara Haura masih belum tersadar bahwa sedari tadi Nevan menatap dirinya.


Gadis itu memalingkan tatapannya dari pipi Nevan. Haura baru mengetahui bahwa sedari tadi Nevan menatapnya. Kini mata mereka berdua saling mengunci satu sama lain. Senyap. Tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka menyelami tatapan satu sama lain. Menelisik hal-hal yang tersembunyi di baliknya. Sesaat ruangan itu begitu sunyi.


Blush. Kata-kata Nevan membuat wajah Haura bersemu merah karena malu. Dengan kasar Haura menghempaskan wajah Nevan. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya.


"Kamu pindah. Aku mau tidur." Haura kembali meluruskan badannya. Menarik selimut hingga kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna.


"Kenapa kamu marah?" tanya Nevan dengan tersenyum penuh kemenangan. Remaja laki-laki itu membalas Haura telak. Tak ada perlawanan sama sekali.


"Aku gak marah. Aku ngantuk."


"Gak marah tapi cuma ngambek kan, Ra?"


"Ngambek apaan. Udah waktunya untuk aku istirahat." Haura terus menjawab perkataan Nevan di balik selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Kalau kamu masih mau liat wajah aku, gak pa-pa kok, Ra. Aku dengan suka rela mempersilahkannya." Remaja laki-laki itu benar-benar belum mau berhenti untuk menggoda Haura. "Mau kamu sentuh sepanjang malam juga aku gak masalah."


Mendengar perkataan Nevan sontak saja membuat Haura membuka kembali selimutnya. Matanya menatap tajam ke arah Nevan.


"Nevan, kamu jangan buat aku bermimpi buruk karena kata-kata kamu."


"Mimpi buruk apanya. Yang ada nih ya, kalau aku datang ke mimpi kamu, kamu bakalan gak bangun-bangun karena terlena dengan wajah tampan aku." Kesombongan yang hakiki.


"Ya iyalah gak bangun, lah mimpinya di datangi malaikat maut." Nice. Skakmat.


"What?" Nevan memekik kaget mendengar ucapan Haura.


Belum sempat Nevan membalas perkataan Haura, gadis itu kembali memejamkan matanya. Ber-acting seolah-olah dirinya telah terlelap, lengkap dengan suara dengkuran yang di buat-buat agar lebih mendramatisir keadaan.


Melihat tingkah Haura, Nevan justru tersenyum. Tangan remaja itu bergerak mengelus lembut puncak kepala Haura. Rambut panjang gadis itu juga tergerai indah.


Mendapat sentuhan di puncak kepalanya membuat Haura kembali membuka matanya. Jantungnya seperti sedang mengikuti lomba lari jarak jauh. Berdetak begitu cepat.


"Tutup mata kamu dan bermimpi lah yang indah."


Perkataan Nevan terdengar begitu syahdu di telinga Haura. Bak sihir, Haura langsung memejamkan kembali kedua mata indahnya. Berharap bahwa malam ini dirinya benar-benar mengalami mimpi indah, tanpa harus dihantui kembali oleh trauma masa lalunya.


Tidak lama setelahnya gadis itupun terlelap. Tapi nyatanya perkataan Nevan tidak cukup ampuh untuk mengusir kenangan buruk yang pernah Haura alami. Seperti biasanya, gadis remaja itu kembali terlihat gelisah dalam tidurnya. Sejak kejadian dua tahun yang lalu mimpi indah seakan pergi mengkhianatinya. Menyisakan mimpi buruk yang terus setia menemani malam panjangnya.


Kembali di waktu Haura sudah terlelap.


"Aku mohon bermimpi lah yang indah. Lupakan semua hal yang menyakitkan. Aku disini." Bisik Nevan tepat di telinga Haura. Remaja laki-laki itu mencoba untuk menenangkan Haura.


Nevan menggenggam erat tangan Haura. Menyalurkan kasih sayang lewat genggaman tangannya. Satu tangannya lagi membelai puncak kepala Haura. Hal itu seakan menjadi sebuah obat penenang bagi Haura. Karena setelahnya wajah Haura yang terlihat gelisah dalam tidurnya kembali tenang.


"Aku akan menciptakan kenangan indah untuk kamu. Menggantikan semua kesedihan yang pernah kamu alami. Karna itu kamu gak boleh jauh dari aku. Kamu harus tetap disini, di sisi aku."

__ADS_1


Malam itu bergerak dengan sangat perlahan. Mempermainkan setiap jiwa yang larut dalam mimpi mereka masing-masing. Bahagia bagi mereka yang bermimpi indah. Dan menyakitkan bagi mereka yang tidak pernah bisa berlari dari mimpi buruk yang terus berusaha mengusik ketenangan malam. Seakan malam adalah musuh tak terkalahkan yang tidak pernah mampu mereka lawan. Itulah malam dan semua rahasianya.


Malam juga begitu hebat dalam menyembunyikan rahasia tentang rasa cinta yang hanya mampu di utarakan pada desir angin yang membelai lembut. Hanya semesta yang mampu memahami bahwa ada cinta yang tidak akan pernah bisa terucap.


__ADS_2