(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Cara Mencintai


__ADS_3

“Kamu gak kenapa-napa kan?” tanya Nevan segera setelah duduk di tepi brankar yang ada di ruangan UKS dimana Haura sedang berbaring disana.


Haura segera bangkit dari baringnya dan ikut duduk di tepi brankar dan menjulurkan kakinya ke bawah.


“Kenapa kamu gak pernah cerita ke aku kalau Rhea menyakiti kamu?” Nevan menatap Haura yang kini duduk di sebelahnya dengan spasi yang cukup berjarak.


Nevan telah mengetahui bahwa Rhea telah beberapa kali menyakiti Haura. Yang pertama ketika di ruang ganti siswa perempuan. Saat itu Luna yang memberitahu Nevan perihal kejadian tersebut. Kejadian kedua di ruang ekskul teater dan yang terakhir adalah hari ini.


Hari ini Rhea bukan menyakiti fisik Haura akan tetapi menyakiti mental Haura. Mempermalukan Haura di depan para siswa lainnya. Dan hal itu tentu yang lebih menyakitkan daripada luka fisik yang pernah Haura alami.


*******


“Gue mau ngomong penting sama lo,” ucap Luna ketika di ruang ekskul broadcasting hanya ada dirinya dan Nevan.


Tentu saja Nevan merasa bingung tentang hal penting apa yang ingin Luna bicarakan dengannya. Karena menurut remaja tampan itu, tidak ada hal penting yang patut mereka bicarakan. Apalagi Nevan dan Luna tidaklah begitu akrab. Mereka berteman hanya karena mereka sama-sama sahabat Haura.


“Tentang?” tanya Nevan bingung.


"Gue harap lo gak usah terlalu dekat sama Haura. Gue udah tahu tentang status Haura di rumah lo. Tapi


sebaiknya lo gak usah terlalu perhatian sama Haura. Karena perhatian dari lo malah buat dia di benci sama semua anak-anak di sekolah ini. Bahkan ada yang berbuat nekat sampai mencelakakan Haura karena cemburu atas kedekatan lo sama Haura. Kejadian di ruangan ekskul adalah kali kedua kekerasan yang Haura alami di sekolah. Mungkin kejadian pertama yang menimpa Haura tidak membuatnya terluka parah, tapi apa yang terjadi di ruangan ekskul dua hari yang lalu adalah hal yang mengerikan. Kalau aja lo gak menemukan Haura pada malam itu, gue yakin kejadian itu akan menimbulkan trauma bagi Haura," jelas Luna dengan panjang lebar. Tanpa Luna ketahui bahwa sebenarnya Haura sahabatnya itu telah menyimpan sebuah trauma lain dalam hidupnya. Sementara Nevan masih menyimak dengan seksama. Rasa terkejut terlihat jelas di wajah tampan Nevan. Tapi dia belum berkomentar apapun, masih mendengar apa yang akan selanjutnya akan di katakan oleh Luna.


"Lo ngerti kan Van, kalau Haura bisa bersekolah di sini karena beasiswa dari Papa lo. Dan anak-anak yang mendapat beasiswa kerap menjadi sasaran bullying yang empuk oleh anak-anak yang kelas ekonominya seperti lo. Oleh karena itu gue harap lo bisa sedikit menjaga jarak dari Haura. Ini demi Haura. Gue harap lo ngerti karena..."


"Siapa?" Belum sempat Luna menyelesaikan ucapannya, Nevan telah memotong perkataan Luna.


"Siapa yang udah berani menyakiti Haura?" tanya Nevan lagi.


"Lo gak perlu tahu siapa, karena gue yakin Haura gak mau lo tahu tentang kejadian ini. Makanya dia gak cerita apa pun sama lo."


Benar apa yang Luna katakan, Haura memang tidak ingin Nevan mengetahui tentang kejadian tempo hari di ruang ganti dimana Rhea melabrak dirinya hingga membuat tangannya terluka. Bagi Haura luka kecil yang dia peroleh karena perbuatan Rhea bukanlah sesuatu yang patut di besar-besarkan.


Justru Haura takut jika karena dirinya persahabatan antara Nevan dan Rhea yang telah terjalin sejak mereka kecil akan rusak akibat kehadirannya di antara mereka. Apalagi Haura sangat tahu bahwa Rhea mencintai Nevan. Haura merasa dirinya memang berada di tengah-tengah mereka. Dan apa yang Rhea lakukan padanya murni karena rasa cemburu yang luar biasa.


Sayangnya gadis remaja berlesung pipi itu tidak bisa berbuat banyak karena Nevan selalu saja menempel padanya. Bukan tidak pernah Haura meminta Nevan untuk menjaga jarak darinya jika berada di sekolah. Tapi seperti biasanya Nevan selalu meminta alasan logis atas semua permintaan Haura. Tentu saja Haura tidak akan mengatakan jika permintaannya itu karena Rhea yang merasa cemburu hingga melabraknya. Sangat tidak mungkin.


"Rhea?" tebak Nevan tepat sasaran.


Luna hanya diam. Tidak membenarkan dan tidak membantah apa pun. "Gue udah bilang lo gak perlu tahu siapa. Gue cuma berharap agar lo memikirkan lagi semua yang gue bilang. Demi Haura. Gue mohon."


"Rhea. Gue yakin orang itu Rhea," ucap Nevan yang begitu mantap dengan tebakannya.


"Kapan?" tanya remaja laki-laki itu lagi dengan nada bicara yang begitu mengintimidasi.


"Sebelum acara ulang tahun sekolah. Di ruang ganti siswa perempuan." Luna terpaksa berkata jujur karena tidak bisa berbohong karena tekanan dari Nevan. Meski tidak banyak bicara akan tetapi sorot mata Nevan dapat membuat nyali siapa pun menciut.


Terang saja perkataan Luna membuat Nevan mengencangkan rahangnya. Marah. Itulah yang Nevan rasakan.


Nevan marah pada Rhea yang telah berani mencelakakan Haura. Juga marah kepada dirinya sendiri karena Haura terluka karena dirinya. Satu hal lagi yang membuat remaja tampan itu marah yaitu Haura yang tidak berkata jujur tentang kejadian yang baru saja dia ketahui dari Luna.


"Dan gue yakin, kejadian yang menimpa Haura di ruang ekskul teater juga ada sangkut pautnya dengan Rhea. Gue bukan mau menuduh sembarangn. Tapi gue dan Adel yakin cuma Rhea yang berani berbuat senekat itu." Akhirnya Luna mengatakan apa yang menjadi beban fikirannya dan Adel. Kedua sahabat Haura itu sangat yakin bahwa Rhea adalah dalang di balik terkuncinya Haura dan cedera kaki yang Haura alami beberapa hari yang lalu hingga membuat sahabat mereka itu di rawat di rumah sakit.


"Sial!" sebuah umpatan lolos dari mulut Nevan. "Kenapa gue gak kefikiran untuk cek CCTV yang ada di ruangan itu." Nevan merutuki kebodohannya yang tidak langsung mengecek rekaman CCTV di hari Haura terkunci. Karena panik karena Haura terluka membuat Nevan melewati hal penting yang harus dia selidiki untuk mencari tahu penyebab kejadian yang menimpa sahabatnya itu.


"Sekarang lo tahu ka, Van. Semua yang menimpa Haura karena perhatian lo ke Haura yang membuat Rhea


cemburu. Gue tahu lo tulus ke Haura, tapi ketulusan lo justru membuat Haura celaka."


"Lo tenang aja, gue bisa jagain Haura." Setelah mengatakan itu Nevan pun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Lo memang bisa jagain Haura, tapi gak selamanya. Gak selamanya lo selalu ada untuk Haura." Perkataan


Luna membuat Nevan menjeda langkah kakinya. Meski tidak menoleh atau menjawab perkataan Luna, akan tetapi Nevan mendengar dengan baik apa yang di katakan oleh sahabat Haura itu.


"Apa lo bisa memastikan kalau lo akan selalu ada di sisi Haura?"


Nevan masih mematung di tempatnya dan bungkam.

__ADS_1


"Gue takut perhatian lo untuk Haura justru akan menyakiti Haura dengan cara yang lain."


Tanpa menjawab apa pun, Nevan segera meninggalkan Luna seorang diri. Tujuan remaja tampan itu adalah ruang kendali CCTV di sekolah mereka. Mencari dalang di balik kecelakaan yang Haura alami.


*******


"Haura, kenapa kamu gak cerita ke aku?" Nevan mengulang pertanyaannya karena Haura tak kunjung buka suara. Remaja tampan itu sebisa mungkin menahan amarahnya mengingat tindakan Rhea pada gadis remaja yang sedang duduk di sebelahnya itu. Mencoba berbicara selembut mungkin agar Haura mau terbuka padanya.


"Tentang?" tanya Haura berpura-pura tidak memahami arah pertanyaan Nevan.


"Rhea."


Haura hanya diam. Menimbang-nimbang apa yang harus dia katakan pada Nevan.


Beberapa detik berlalu. Haura masih betah dengan kebisuannya. Di luar ruangan UKS sudah tidak ada lagi terdengar siswa yang hilir mudik. Jam pelajaran selanjutnya telah di mulai. Di tempat tersebut hanya ada Haura dan Nevan. Petugas UKS yang bertugas telah pergi entah kemana. Padahal sebelum meninggalkan ruangan itu, sang petugas UKS terlebih dahulu mengatakan tujuannya kepada Haura dan meminta gadis itu untuk beristirahat dengan nyaman. Akan tetapi karena fikiran Haura sedang kacau, dia bahkan tidak dapat mendengarkan apa yang petugas UKS itu katakan.


Sementara itu Kedua sahabat Haura telah kembali ke kelas mereka untuk mengikuti pelajaran. Hal tersebut tentu saja terjadi karena permintaan Haura sendiri. Gadis remaja itu ingin sendiri. Ingin menenangkan fikirannya yang kacau karena kejadian beberapa saat yang lalu.


Dengan sabar Nevan menunggu jawaban dari Haura. Kini kedua remaja itu sama-sama menatap dinding UKS yang bercat putih bersih. Seakan-akan di sana terpajang sebuah lukisan yang sangat indah hingga membuat kedua mata mereka enggan berpaling ke lain arah.


“Apa yang harus aku katakan?” tanya Haura tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gadis itu masih memandang lurus. Menatap dinding ruangan tersebut yang menurutnya lebih menarik dari pada menatap wajah Nevan.


"Kamu tahu Van, buat aku cara terbaik untuk menyelesaikan masalah adalah dengan diam." Haura menunduk


sejenak. Menatap ke arah kakinya. Tersenyum getir setelahnya.


"Aku memilih diam karena aku yakin tidak ada seorang pun yang akan mendengarkan perkataanku," lanjut


Haura lagi.


Nevan masih menyimak setiap kata yang Haura ucapkan. Menatap Haura dalam. Menyelami beban fikiran yang sedang sahabatnya itu coba sembunyikan darinya.


"Jika pun sekarang ada yang mau mendengarkan aku, aku masih memilih untuk tetap diam. Kamu tahu, menjaga agar semuanya tetap baik-baik saja lebih sulit dari pada menghancurkan sesuatu yang baik."


Haura menatap Nevan yang sejak tadi menatap dirinya. Mata gadis itu mulai mengembun. Genangan air mata mulai terlihat di manik hitam miliknya.


Nevan meneliti dengan seksama wajah Haura. Gadis di sampingnya itu benar-benar terluka. Sementara itu Haura menarik nafasnya dalam-dalam. Seakan meraup semua oksigen yang ada di ruangan itu.


Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi ada sepasang telinga yang mendengar permbicaraan mereka. Orang tersebut berada di brankar di samping brankar yang Haura tempati. Tirai pemisah menjadi pelindung untuknya agar keberadaannya tidak di sadari oleh Haura dan Nevan.


"Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat kamu menjauhi aku?" gumam orang tersebut yang tidak lain adalah Farel


"Sekarang Tuhan mengirimkan kamu untuk aku. Masih sama, aku tetap memilih untuk diam agar semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Jika aku berbicara, aku takut akan menyakiti banyak orang, aku takut akan merusak sesuatu yang telah terjaga dengan baik untuk waktu yang cukup lama."


"Maksud kamu?" tanya Nevan akhirnya.


"Rhea. Dia tidak salah. Semua karena cinta. Kamu tahu kan Van kalau Rhea cinta sama kamu. Melihat orang yang kita cinta bersama orang lain pasti rasanya sakit. Meskipun dengan seorang teman sekali pun. Seperti kita." Ada rasa sesak di dada Haura ketika mengatakan status dirinya dan Nevan yang hanya sebatas teman.


"Dan setiap orang mengekspresikan rasa sakit itu dengan cara yang berbeda-beda pula. Dan cara


yang di pilih Rhea adalah dengan menyakiti orang lain."


"Tetap saja itu salah," protes Nevan.


"Iya, aku tahu itu salah. Akan tetapi banyak orang berfikir apa pun benar jika dalam urusan cinta. Mereka


mengedepankan keinginan dan mengesampingkan logika. Itulah yang Rhea lakukan."


Haura mengusap matanya yang berair agar tidak jatuh membasahi pipinya. Setelahnya tersenyum manis kepada remaja laki-laki yang sedang duduk di sampingnya.


"Aku mohon jangan sakiti Rhea. Meskipun kamu gak bisa membalas cinta Rhea, tapi setidaknya jangan rusak


persahabatan kalian hanya karena aku. Itu akan membuat Rhea semakin terluka," ucap Haura tulus. Gadis itu tahu bagaimana rasanya jika cinta tidak terbalas. Sakit dan menyedihkan.


Haura fikir Rhea lebih hebat daripada dirinya karena berani menyatakan cintanya kepada Nevan. Sedangkan


dirinya hanya mampu memendam tanpa berani mengatakannya.

__ADS_1


"Tapi..."


"Aku mohon, Van." Haura segera memotong ucapan Nevan.


"Dan satu lagi. Sebaiknya kita tidak perlu terlalu dekat seperti sekarang. Biarlah semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Sudah waktunya untuk kita berada di tempat kitamasing-masing."


"Tempat masing-masing? Maksud kamu?" tanya Nevan bingung mendengar ucapan Haura.


"Kamu di tempat kamu. Tempat dimana aku tidak boleh berada disana. Dan aku di tempat aku. Tempat yang tidak layak untuk kamu singgahi. Kamu paham kan Van maksud aku?"


"Enggak... Aku akan ikut maunya kamu untuk tetap bersikap baik sama Rhea, tapi aku gak akan mau menuruti permintaan untuk menjauhi kamu." Nevan berkata tegas dan menolak mentah-mentah permintaan Haura.


"Ini yang terbaik."


"Terbaik untuk siapa?" Nevan mulai menggeram.


"Untuk aku, kamu, kita dan untuk semua orang."


"Kita bicarakan ini nanti. Saat kamu udah tenang. Sekarang kamu istirahat." Nevan segera beranjak dari duduknya siap meninggalkan tempat tersebut.


"Kamu boleh minta apa pun dari aku, tapi gak dengan permintaan menjauhi kamu." Nevan pun segera pergi


dari sana. Remaja tampan itu berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang meskipun Haura memanggil namanya.


Haura hanya menatap sendu kepergian Nevan. "Jika yang aku minta cinta kamu, apakah boleh? Aku juga gak mau kamu menjauh dari aku, Van. Tapi lebih baik kamu menjauh sekarang dari pada nanti, saat aku benar-benar terperangkap dalam cinta yang semakin dalam untuk kamu. Karena jika saat itu kamu pergi dari hidup aku, mungkin aku akan lebih terluka daripada sekarang."


Indra pendengaran Farel dapat menangkap dengan jelas apa yang Haura katakan. Benar seperti dugaannya jika Haura mencintai Nevan dalam diam.


Hari itu cinta seakan sedang mempermainkan hati para remaja tersebut. Ada yang memilih mencintai dengan cara menyakiti. Ada yang memilih mencintai dengan cara melindungi. Ada pula yang mencintai dengan cara meminta cinta itu sendiri untuk pergi. Yang terhebat adalah ada yang belum menyadari bahwa cinta telah menguasai hati, ingin melindungi tapi justru menyakiti.


















YUK RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR!!!


READERS TERSAYANG TERUS DUKUNG KARYA AKU YA, DENGAN CARA LIKE, COMMENT DAN VOTE.


PLEASE... PLEASE... PLEASE

__ADS_1


__ADS_2