(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Gundah


__ADS_3

Benar seperti dugaan Zayn. Nevan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Beruntung saat ini jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Jalanan Ibu kota sudah sedikit lenggang.


Sementara yang menduduki kursi penumpang mengucapkan berbagai doa dalam hati agar tidak terjadi apa-apa pada mereka. Haura terus berdoa agar mereka baik-baik saja. Akan tetapi gadis remaja itu tidak berani berkata apa pun untuk menghentikan tindakan Nevan saat ini.


Saat ini dada Nevan seakan sedang bergemuruh. Entah karena apa. Remaja itu tak bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada dirinya. Dia marah. Tapi untuk apa? Hanya melihat Haura berbicara pada laki-laki lain, mengapa hatinya seakan tidak menerima hal itu.


Dalam diamnya, Nevan seakan sedang menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada hatinya. Cemburu? Tapi mengapa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu datang silih berganti dalam pikirannya.


Kenapa aku harus merasa seperti ini? Nevan terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Nevan berusaha untuk mengesampingkan kata cemburu. Karena menurutnya tidak mungkin dia cemburu melihat Haura bersama laki-laki lain.


Rasa peduli dan Ingin melindungi. Ya. Itu yang tepat. Nevan sangat yakin bahwa sikapnya saat ini karena dirinya peduli dan ingin melindungi Haura. Dia tidak ingin orang lain menyakiti Haura. Oleh karena itu dia marah melihat orang lain mendekati Haura.


Bayangan ketika laki-laki bernama Farel mencubit gemas pipi Haura seakan menari-nari di pelupuk mata Nevan. Remaja laki-laki itu menggeram dan semakin mengetatkan rahangnya. Sedetik kemudian Nevan semakin menambah laju kecepatan motornya.


Alarm bahaya mulai aktif. Jujur saja, saat ini Haura sangat takut jika Nevan terus seperti ini. Bukan tidak mungkin mereka akan mengalami kecelakaan.


Tapi bagaimana cara menghentikan Nevan? Haura terus menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan.


Menghubungi kak Zayn. Tapi bagaimana. Untuk melepaskan pegangan tangannya dari pundak Nevan saja, Haura tidak berani. Laju kendaraan Nevan sangat tidak terkendali.


Tanpa mau mengambil resiko, Haura melepaskan pegangannya dari pundak Nevan. Gadis itu memeluk pinggang Nevan. Menyandarkan tubuhnya pada punggung Nevan. Pelukan Haura semakin erat. Seolah-olah gadis remaja itu sedang menenangkan sahabatnya. Memberitahu bahwa dia ada untuk Nevan.


Gadis remaja itu tidak peduli tentang apa yang akan Nevan fikirkan karena dirinya dengan berani memeluk tubuh sahabatnya itu dengan sangat erat. Seperti takut akan kehilangan.


Pelukan itu juga sebagai bahasa tak terucap dari Haura untuk mencari tahu apa yang sedang di rasakan Nevan saat ini. Apa yang sedang terjadi pada laki-laki di hadapannya saat ini. Gadis itu memejamkan matanya.Mencoba mengalirkan ketenangan kepada sahabatnya itu.


Bersamaan dengan itu, jantung Haura juga mulai berpacu dengan cepat. Mungkin sekarang jantungnya sedang berlomba melawan laju kecepatan motor milik Nevan. Gadis itu sangat yakin bahwa saat ini Nevan dapat merasakan detak jantungnya yang sedang bergemuruh. Akan tetapi Haura sama sekali tidak peduli meskipun Nevan dapat merasakan itu.


Bagi Haura yang terpenting saat ini adalah menenangkan Nevan. Mengurai kegundahan yang sedang di rasakan oleh sahabatnya itu. Meskipun setelah ini rasa gundah itu akan berpindah kepadanya.


Dalam keheningan yang terjadi di antara mereka, Haura juga mencoba menyelami perasaannya sendiri. Ada ketenangan di sana. Juga ada ketakutan. Takut jika kata sahabat antara dirinya dan Nevan akan berubah menjadi cinta. Ya, cinta. Cinta yang Haura rasakan hanya akan terjadi pada satu pihak. Yaitu dirinya.


Merasakan Haura memeluknya dengan erat membuat Nevan terlonjak kaget. Karena tidak pernah sebelumnya Haura melakukan itu. Meskipun dirinya sering memaksa Haura untuk memeluknya ketika mereka naik motor, Haura selalu menolaknya. Tapi sekarang tanpa di minta, gadis itu memeluknya dengan sangat erat.


Seperti terhipnotis, Nevan menurunkan kecepatan motornya. Tangan kirinya menyentuh tangan Haura yang saat ini sedang memeluknya dengan sangat erat, seakan tidak membiarkannya untuk pergi kemana pun.


Haura membuka kelopak matanya ketika merasakan sebuah sentuhan di tangannya. Gadis itu tersenyum lega merasakan laju kendaraan mereka yang kembali normal. “Aku disini. Jadi tenanglah.” Haura berkata lirih.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Nevan. Akan tetapi Haura sudah cukup merasa tenang karena Nevan tidak lagi mengendarai motornya secara ugal-ugalan.


Gadis itu mengurai pelukannya karena semuanya telah kembali baik-baik saja. Baru saja Haura merenggangkan pelukannya pada Nevan, tanpa di duganya Nevan malah menahan tangannya agar tidak melepas pelukan itu. Dapat Haura rasakan jemari Nevan menggenggam tangannya yang saat ini masih memeluk Nevan.


“Seperti ini saja.” Perkataan Nevan terdengar seperti sebuah permohonan. Lirih dan penuh harap.


Haura hanya mampu menatap sendu pada sahabatnya itu. Sesaat kemudian, Gadis itu kembali memeluk Nevan dengan sangat erat. Memejamkan kembali matanya. Menghirup aroma tubuh Nevan.


“Maaf, sepertinya aku mulai mencintaimu,” batin Haura.


Semilir angin malam menemani mereka saat ini. Seakan membisikkan ketenangan pada jiwa-jiwa yang sedang di landa kegundahan. Lampu-lampu jalan juga ikut menawarkan diri untuk menjadi teman dalam perjalanan mereka yang kembali hening.


Mendadak Nevan menghentikan motornya di salah satu apotek. Entah untuk apa, Haura tidak tahu. Dan gadis itu juga tidak ingin bertanya untuk apa.


“Tunggu!” Kata Nevan.


Haura hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Nevan memasuki tempat tersebut dengan terburu-buru. Haura memperhatikan Nevan dari arah luar. Terlihat jelas bahwa saat ini wajah tampan Nevan yang terlihat kusut. Ada gurat marah dan kecewa berbaur menjadi satu.


Di raihnya tangan Haura. Nevan mengusap lembut pergelangan tangan Haura yang sedikit memar karena ulah cengkeraman tangannya beberapa saat yang lalu.


Mendapat usapan lembut di tangannya, Haura reflek menarik tangan dari genggaman Nevan. Dia tidak bisa terus-terusan menerima perlakuan lembut dari Nevan. Gadis itu takut bahwa nantinya dia tidak akan bisa mengendalikan perasaannya pada Nevan.


Merasa Haura menarik tangannya, Nevan menolehkan pandangannya kepada Haura.


“Maaf.” Haura terpaku mendengar ucapan maaf dari Nevan.


“Maaf, tangan kamu memar karena aku,” ucap Nevan lagi.


“Ti-tidak pa-pa,” Haura menjawab dengan gugup. Memar ditangannya tidaklah sakit. Tapi kalau seperti ini terus, bukan pergelangan tangan Haura yang sakit, tapi jantungnya. Saat ini jantungnya seperti sedang menghantam rongga dadanya dengan sangat keras.


“Biar aku obati dulu.” Tanpa menunggu jawaban Haura, Nevan membuka penutup salep baru saja di beli olehnya. Nevan meniup pergelangan tangan Haura yang telah diobatinya.


Sementara itu Haura hanya bisa mengerjapkan kelopak matanya mendapat perlakuan seperti itu dari Nevan.


“Van, ini sama sekali gak sakit,” ucap Haura sembari menatap Nevan yang masih saja meniup pergelangan tangannya.

__ADS_1


“Tapi ini memar.”


Gadis itu menarik tangannya, tersenyum manis kepada sahabatnya itu. “Gak pa-pa Nevan. Besok juga memarnya hilang.”


Nevan menghela nafasnya dengan kasar. Remaja laki-laki itu mendongakkan kepalanya menatap langit malam. Terlihat bulan dan kerlap-kerlip bintang menghiasi langit malam ini. Indah.


Meski langit malam terlihat gelap. Akan tetapi bintang seakan menjadi teman setia yang akan selalu membuat sang langit terlihat indah meskipun gelap menyelimutinya.


“Kamu kenapa?” tanya Haura yang juga ikut menatap langit malam. Sesekali hembusan angin malam menerbangkan anak rambutnya yang tidak ter-kuncir sempurna.


“Entahlah,” jawab Nevan. Lagi-lagi laki-laki itu menghela nafasnya.


“Apa terjadi sesuatu?”


“Aku tidak tahu.” Nevan mengalihkan manik coklat miliknya kepada Haura yang masih setia menatap langit malam. “Aku bahkan tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.”


Beberapa menit berlalu tidak ada pembicaraan lagi yang terjadi antara dua remaja tersebut. Mereka seakan larut dalam fikiran mereka masing-masing.


“Ayo,” ucap Nevan sembari mengulurkan tangannya kepada Haura. “Kita pulang.”


Gadis remaja itu menyambut uluran tangan Nevan. Haura tersenyum sangat manis kepada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


“Kamu udah gak pa-pa?” tanya Haura lagi. Lalu dia menyambut uluran tangan Nevan.


“Sepertinya.”


Kedua remaja itu mengayunkan langkah mereka menuju tempat dimana motor milik Nevan terparkir.


Nevan memakaikan jaket miliknya kepada Haura. Sementara Haura diam tak bergeming. Gadis itu tidak tahu harus bagaimana. Malam ini Nevan seakan sangat mengistimewakannya, meskipun hanya dengan hal-hal sederhana.


“Sudah?” tanya Nevan untuk memastikan kembali bahwa Haura telah naik dengan benar.


“Sudah,” jawab Haura cepat. Sedetik kemudian Haura kembali memeluk erat tubuh Nevan dari belakang.


Sebuah lengkungan kecil menghiasi sudut bibir Nevan.


Kedua remaja itu pun menempuh sia perjalanan tanpa berkata apa pun lagi.

__ADS_1


__ADS_2