
Haura terlihat begitu gusar seperti seseorang yang kehilangan sesuatu. Seluruh isi kamar Haura terlihat begitu berantakan. Buku berserakan di lantai, tempat tidur, dan juga meja belajarnya . Seluruh isi tas miliknya telah ia keluarkan juga. Gadis itu juga mengeluarkan seluruh pakaiannya dari dalam lemari berharap disana ada benda yang sedang di carinya.
"Diary aku dimana," kalimat itu telah di ulang-ulang oleh Haura sambil terus mencari diary miliknya.
"Aku yakin kalau diary itu aku simpan di meja belajar, kenapa bisa hilang."
Kepanikan melanda Haura. Gadis itu takut jika diarynya hilang dan di temukan oleh orang lain. Diary itu menyimpan semua rahasianya tentang Nevan.
Haura mengingat-ngingat kembali dimana terakhir kali dirinya menyimpan diary tersebut. Haura merasa sangat kelelahan karena membongkar setiap barang di dalam kamarnya untuk menemukan diary miliknya. Sesaat gadis itu beristirahat sambil berpikir kemungkinan dimana diarynya tercecer.
Fikiran Haura mencoba memutar kembali ke waktu dimana terakhir kali ia menulis diarynya. Malam kemarin, di meja belajar, tertidur, lalu bangun ke sekolah.
"Meja belajar, buku, lalu...." gumam Haura. Kedua mata gadis itu membulat sempurna setelah mengingat-ngingat dimana kemungkinan besar diarynya tertinggal.
"Sekolah..." ujar Haura panik.
"Aku yakin kalau tadi pagi diary itu aku masukkan juga ke dalam tas bersama buku-buku pelajaran."
Rasa panik semakin mendera Haura. Jika dugaannya benar jika diary itu tertinggal di sekolah, maka hal pertama yang sangat Haura takutkan adalah diary miliknya di temukan oleh siswa lain. Dan jika itu sampai terjadi maka dirinya pasti akan semakin menjadi sasaran bullying oleh siswa-siswa di sekolahnya.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Masih ada cukup waktu untuk kembali ke sekolah dan menemukan diary tersebut. Begitulah yang di pikirkan oleh Haura.
Gadis itu bersiap-siap dan bergegas untuk pergi ke sekolahnya. tidak lupa Haura berpamitan kepada Ibunya dan juga meminta maaf karena tidak bisa melakukan tugasnya seperti malam-malam sebelumnya.
"Ada apa kamu ke sekolah, nak?" tanya Bu Lastri. Wanita paruh baya itu sangat khawatir karena Haura meminta izin untuk ke sekolahnya. Apalagi sekarang sudah malam.
"Ada buku pelajaran Haura yang tertinggal Bu. Dan buku itu untuk Haura mengerjakan tugas besok," jawab Haura berbohong kepada Ibunya.
"Kamu gak boleh pergi," ujar Bu Lastri tegas. Bayangan ketika Haura terkunci di sekolah hingga membuat Haura terluka dan menyebabkan gadis itu di rawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu kembali terlintas di pikiran Bu Lastri. Ia takut hal serupa akan kembali di alami oleh putrinya itu.
"Apapun masalahnya kamu tetap gak boleh pergi," Bu Lastri kembali mengulang perkataannya.
Haura tahu bahwa Ibunya pasti akan melarangnya untuk pergi. Akan tetapi gadis itu juga telah menyiapkan berbagai alasan untuk bisa ke sekolahnya dan menemukan diary miliknya. Meskipun merasa bersalah karena telah membohongi Ibunya, namun Haura tidak mungkin menunggu besok untuk mencari diary tersebut. Gadis itu khawatir jika buku itu terlebih dulu di temukan oleh orang lain.
"Haura gak sendirian disana Bu. Ada Luna dan Adel juga," Haura kembali mencoba meyakinkan Ibunya.
Gadis itu melirik jam tangannya untuk menambah drama pada kebohongannya, "Mungkin mereka berdua sudah di sekolah sekarang."
Bu Lastri menatap tajam pada Haura. Khawatir jika akan terjadi sesuatu hal buruk pada putrinya itu.
"Boleh ya Bu. Takutnya malam semakin larut."
"Baiklah... Jangan lama-lama disana. Setelah selesai, kamu langsung pulang."
__ADS_1
"Baik Bu.... Haura pamit," gadis itu mencium tangan Bu Lastri sebelum pergi.
Di luar sana telah menunggu ojek yang di pesan oleh Haura beberapa menit yang lalu. Tanpa mau membuang waktu lagi, Haura pun segera berlari menuju ojek online pesanannya.
"Ke Sander International High School pak."
Tidak butuh waktu lama, Haura telah tiba di sekolahnya. Ada dua orang petugas security disana. Keduanya sudah sangat familiar dengan wajah Haura karena gadis itu sering bersama Nevan yang di ketahui oleh semua penghuni sekolah tersebut sebagai putra bungsu Tuan Liam Sander.
"Apa apa non malam-malam kok balik ke sekolah?" tanya salah satu petugas security.
"Barang saya ada yang ketinggalan pak."
"Kamu di kelas mana?"
"XI IPA 2 pak."
"Kalau begitu biar saya temani kamu. Di dalam sangat sepi," petugas security tersebut menawarkan bantuannya. Memang benar sudah tidak ada satu orang pun di dalam sana.
"Emmm... gak pa-pa Pak, saya berani sendiri."
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya non. Kalau ada apa-apa langsung telpon nomor pos keamanan ini," ucap petugas security itu lagi. Kemudian petugas tersebut menyerahkan kunci ruang kelas XI IPA 2 kepada Haura.
"Baik Pak, terima kasih," Haura tersenyum hangat pada petugas security yang sangat baik kepadanya.
Di tatapnya bangunan sekolah mereka. Haura menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah memasuki area bagian dalam sekolah. Gadis itu sama sekali tidak merasa takut pada hantu atau apapun itu. Dalam pikiran Haura tergambar beberapa tempat yang menjadi kemungkinan terbesar dimana diary miliknya terjatuh.
Ruang kelas dan ruangan loker siswa. Hanya ada dua tempat tersebut kemungkinan diarynya terjatuh. Gadis itu pun langsung berlari untuk menghemat waktu sebelum malam semakin larut.
...****************...
Haura mulai memeriksa satu persatu laci yang terdapat pada meja siswa di dalam kelasnya. Di mulai dengan mejanya sendiri. Tidak ada apapun disana. Kemudian gadis itu melanjutkan pada laci meja lainnya. Tidak ada satu meja pun yang luput dari pemeriksaan Haura. Gadis itu memeriksanya dengan sangat teliti.
Setelah menghabiskan waktu satu jam lamanya, Haura tidak menemukan diarynya di dalam kelasnya sendiri. Bahkan gadis itu juga mencarinya di tong sampah yang ada di kelasnya. Namun tidak ada satu pun sampah disana. Karena memang setiap pulang sekolah, siswa yang bertugas membersihkan kelas selalu membersihkan kelas dan membuang sampah sebelum meraka pulang.
Tujuan gadis itu selanjutnya adalah loker siswa. Tepatnya lokernya sendiri. Haura kembali berlari menuju area loker siswa. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Haura harus segera menyelesaikan misi pencarian diarynya dan segera pulang agar Ibunya tidak khawatir kepadanya.
Setelah tiba di ruangan loker siswa, dengan sigap Haura membuka loker miliknya. Haura mengeluarkan seluruh barang yang ada di dalam lokernya. Beberapa buku, seragam sekolah, juga seragam olahraga gadis itu. Semua siswa di sekolah tersebut pasti menyimpan baju seragam sekolah dan baju olahraga cadangan di setiap loker mereka masing-masing.
Haura meletakkan seluruh barang yang ada di dalam lokernya di lantai tempat tersebut. Lalu memeriksa satu persatu barang miliknya. Berharap bahwa diary tersebut terselip di antara buku-buku miliknya.
Ketika gadis itu sedang fokus memeriksa barang-barang miliknya, terdengar bunyi langkah kaki yang sedang berjalan menujunya. Suara langkah kaki tersebut terdengar berjalan secara perlahan-lahan. Haura sangat yakin bahwa langkah kaki itu bukanlah langkah kaki para petugas security.
Segera Haura bersembunyi di balik loker yang berada pada posisi paling ujung. Tidak lupa ia menyiapkan sebuah buku yang cukup tebal sebagai senjata untuk melindungi dirinya jika ternyata orang yang datang itu adalah orang yang berniat jahat padanya.
__ADS_1
Semakin lama langkah kaki orang asing tersebut semakin mendekat hingga akhirnya berhenti di depan loker milik Haura. Dari tempat persembunyiannya, Haura mencoba melihat siapa misterius tersebut. Sontak saja gadis remaja itu tidak percaya dengan orang yang sedang berdiri tepat di depan lokernya dan melihat ke arah barang-barang miliknya.
"Niko..." seru Haura. Akhirnya Haura pun keluar dari tempat persembunyiannya untuk menghampiri Niko.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Haura.
"Apa yang lo lakuin disini?" Niko balik bertanya kepada Haura.
"Aku?" tanya Haura menunjuk dirinya sendiri.
"Iya... siapa lagi kalau bukan lo."
Rasa takut yang tadi di rasakan Haura berganti dengan rasa kesal. Niko tidak jauh berbeda dengan Nevan yang selalu suka menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan.
"Emmm.... gue lagi mencari sesuatu," jawab Haura. Lalu gadis itu kembali memasukkan barang miliknya ke dalam lokernya.
"Apa?" tanya Niko sangat penasaran. Karena laki-laki itu sangat yakin bahwa apa yang dicari oleh Haura adalah sesuatu yang sangat berharga bagi gadis itu. Kalau tidak, tidak mungkin Haura rela kembali ke sekolah meskipun sudah malam.
"Sesuatu?" jawab Haura singkat. Tidak mungkin gadis itu menjelaskan secara terperinci apa yang sedang ia cari.
"Sesuatu itu apa?" desak Niko lagi menuntut jawaban yang pasti dari Haura.
"Kenapa kamu ingin tahu?" Haura menatap penuh curiga pada Niko. "Terus ada kepentingan apa kamu di sekolah?" tambah gadis itu lagi.
"Gue?" kini Niko yang menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi kalau bukan kamu."
"Eheemmm...." Niko berehem cukup keras. Laki-laki itu mencoba memikirkan jawaban yang tepat agar Haura tidak menaruh curiga pada dirinya. Karena tidak mungkin jika Niko mengatakan yang sebenarnya mengapa ia bisa berada di sekolah sekarang.
"Gue cuma..."
"Cuma apa?" Haura mendesak jawaban Niko.
"Gue cuma mengikuti permintaan bodoh seseorang."
"Siapa?" tanya Haura dengan memicingkan kedua matanya.
"Lo udah dapat apa yang lo cari? Kalau lo udah beres, biar gue anterin lo pulang." Sengaja Niko mengalihkan pertanyaan Haura agar percakapan mereka tentang seseorang itu tidak berlanjut lebih jauh lagi.
Kebenarannya adalah adanya Niko disana tidak lain adalah karena permintaan Nevan. Meskipun berada jauh disana, Nevan tidak pernah melewatkan hal sekecil apapun tentang Haura.
"Bena-benar bodoh," gumam Niko yang merutuki sikap Nevan akhir-akhir ini.
__ADS_1
Niko dan Haura pergi meninggalkan sekolah mereka. Waktu pun sudah mendekati pukul sepuluh malam. Dalam perjalanan pulang, Haura masih merasa risau karena diary miliknya belum di temukan juga.