(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Anak Jalanan Yang Tampan


__ADS_3

Flash Back


Seorang gadis remaja berseragam putih biru terlihat duduk di sebuah halte. Gadis itu sedang menunggu angkutan umum. sesekali terlihat gadis itu menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Memamerkan kegagahannya pada penduduk bumi. Seakan tidak ada satu pun penduduk bumi yang mampu menandingi kehebatan cahayanya.


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di halte tempat di mana gadis itu berada. Dari mobil tersebut keluar dua orang gadis remaja dengan menggunakan seragam yang sama dengan gadis yang sedang menunggu angkutan umum di halte tersebut.


"Haura, lo ikut sama kita!" perintah salah seorang gadis remaja yang baru saja keluar dari mobil itu.


Ya, benar. Gadis yang sedang duduk di halte seorang diri adalah Haura.


"Ikut kemana, Mel?" tanya Haura bingung karena temannya yang bernama Melisa tiba-tiba mengajaknya untuk ikut serta bersamanya tanpa mengatakan kemana tujuan mereka mengajaknya.


Hal lainnya yang membuat Haura harus bertanya tujuan mereka adalah karena Melisa dan satu orang siswa perempuan lainnya yang bernama Sarah adalah anak-anak yang paling sering membully-nya di sekolah.


"Lo ikut aja dan gak usah banyak tanya." Sarah ikut bersuara dengan nada yang sangat tidak bersahabat.


"Gak, aku gak mau. Aku mau pulang. Aku gak punya alasan apa pun untuk ikut sama kalian berdua." Haura segera menuju bus umum yang baru berhenti di halte tempat dirinya berada sekarang.


Baru saja Haura hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba tangannya langsung di cengkeram dengan kuat oleh Sarah.


"Lo mau ikut baik-baik atau lo mau gue paksa."


"Paksa aja kalau emang kalian mau. Aku bakalan teriak biar semua orang tahu kalau kalian tukang bully."


"Lo ngancam kita?" Sarah semakin meradang mendengar kata-kata Haura.


"Kalau hari ini lo mau ikut, kita gak bakal gangguin lo lagi. Kita akhiri semuanya hari ini." Melisa berkata dengan nada suara yang di buat selembut mungkin agar Haura mau ikut bersama mereka.


Mendegar kata-kata Melisa, Haura kembali menimbang-nimbang untuk menerima ajakan Melisa dan Sarah atau menolak ajakan itu. Sebenarnya Haura tidak yakin bahwa apa yang di katakan Melisa adalah benar. Karena tidak mungkin tanpa angin dan tanpa hujan Melisa tiba-tiba menawarkan kesepakatan yang sangat tidak masuk akal. Tidak mungkin rasanya Melisa dan Sarah akan berhenti membully dirinya.


Di sisi lainnya, Haura ingin mencoba peruntungan untuk ikut bersama mereka. Karena gadis itu juga ingin menikmati kebebasannya selama di sekolah. Bebas dari semua bully-an yang selama ini di terimanya.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Haura mencoba untuk bertaruh dengan kemungkinan yang akan terjadi. Haura bersedia untuk ikut bersama Melisa dan Sarah.


"Baiklah, aku ikut. Tapi aku harap kalian pegang janji kalian."


"Oke kita janji," jawab Melisa cepat. Sementara itu tanpa Haura tahu, Sarah justru tersenyum licik  ke arahnya.


Mereka berdua langsung mengajak Haura untuk masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir tepat di depan halte tempat mereka berada. Ketika Haura memasuki mobil tersebut, di dalam mobil itu telah ada dua gadis remaja lainnya. Satu orang duduk di bangku pengemudi dan satunya lagi duduk di bangku tepat di samping pengemudi. Melihat kedua gadis remaja asing itu, Haura langsung mengetahui bahwa mereka bukanlah seusianya. Mereka memakai seragam putih abu abu.


Tanpa banyak basa-basi mobil tersebut langsung melaju meninggalkan tempat tersebut. Bahkan Haura tidak sempat bertanya lagi kemana tujuan mereka sebenarnya.


Haura sama sekali tidak tahu kemana teman-temannya itu hendak membawa dirinya. Sepanjang perjalanan gadis remaja itu terus mengamati sisi kiri dan kanan jalan untuk melihat dan mengingat dengan baik jalan yang mereka lalui. Setidaknya jika terjadi suatu hal buruk padanya, Haura bisa tahu arah untuk pulang. Itulah yang di fikirkan gadis remaja itu.


Semakin lama mobil yang di tumpanginya memasuki area jalan yang begitu asing untuk Haura. Meskipun Haura sudah lama tinggal di Ibu Kota, tapi dia tidak begitu mengetahui seluk beluk jalanan Ibu Kota karena memang dirinya sangat jarang keluar rumah untuk jalan-jalan. Alasanya hanya satu, Haura tidak memiliki teman yang bisa diajaknya untuk jalan-jalan seperti remaja lainnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil tersebut memasuki jalanan yang terlihat sepi. Hanya terlihat satu dua rumah penduduk dan itu pun memiliki jarak beberapa meter dari rumah yang satu ke rumah lainnya.


Secara perlahan mobil mereka memasuki sebuah gang sempit. Gang tersebut hanya bisa di lalui oleh satu mobil. Terlihat jelas bahwa daerah yang mereka lalui sedikit kumuh. Bukan hanya itu, di sepanjang gang tersebut terlihat kumpulan preman dan anak-anak jalanan terbagi dalam beberapa kelompok. Mereka terus saja mengawasi mobil yang membawa Haura sejak pertama kali memasuki area tersebut.


Haura begitu takut melihat pemandangan di sekitarnya. Jemari gadis remaja itu saling bertautan untuk mengurangi rasa gugup. Dia sangat yakin bahwa sebentar lagi hal buruk pasti akan benar-benar terjadi pada dirinya. Gadis itu kembali menyalahkan dirinya karena bersedia untuk ikut bersama Melisa dan Sarah.


“Kenapa kalian bawa aku kesini? Sebenarnya kita mau kemana?” Akhirnya Haura memberanikan diri untuk bertanya.


“Lo tenang aja, kita gak bakal ngapa-ngapain lo. Kita cuma mau main-main sedikit sama lo,” jawab Sarah sambil tersenyum jahat kepada Haura.


"Main-main gimana maksud kalian? kalian jangan macam-macam. Aku bakal…."


“Bakal apa? Lo bakalan apa? ngelaporin kita? Gitu? Silahkan aja kalau lo berani.” Belum selesai Haura berbicara, ucapannya langsung di potong oleh Melisa.


Tanpa aba-aba melisa mencengkeram erat rahang Haura,  “Lo dengar baik-baik, kalau lo berani ngelaporin kita, gue pastikan hidup lo gak  bakalan tenang. Bukan hanya sekarang, gue akan terus ngikutin lo bahkan sampai lo masuk SMA atau sampai lo kuliah. Gue gak bakal ngelepasin lo.”

__ADS_1


“Apaan sih yang kalian ributin. Mending lo bungkam mulut tuh cewek pakai ini.” Gadis remaja yang menggunakan seragam putih abu-abu dan duduk di bangku di samping pengemudi berkata sambil melemparkan sebuah lakban kepada Melisa dan Sarah.


Detik itu juga merka mengambil lakban tersebut dan menutup mulut Haura menggunakan benda itu. Haura terus meronta-ronta agar kedua temannya itu mengurungkan niat mereka. Akan tetapi semuanya percuma saja. Tubuh Haura yang kecil tidak dapat melakukan banyak perlawanan. Dia kalah telak jika dibandingkan dengan Sarah dan Melisa yang memiliki tubuh lebih tinggi dan kekuatan jauh di atasnya. Apalagi dua orang gadis remaja SMA yang ikut membantu aksi  Melisa dan Sarah.


Setelahnya Haura hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi. Yang dapat Haura lakukan hanya berdoa agar Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantunya.


Mobil itu berhenti di ujung gang. Di sana ada sebuah rumah tua. Dari penampilan luarnya, dapat terlihat jelas bahwa bangunan itu sudah lama tidak ada yang menempati. Kumuh, usang dan terlihat mengerikan.


Melisa dan sarah menarik paksa tangan Haura agar segera keluar dari mobil tersebut. Bukan Haura namanya jika tidak melakukan perlawanan. Gadis itu terus saja meronta-ronta hingga sedikit menguras tenaga kedua teman itu.


Adegan saling tarik menarik itu berlangsung dalam waktu hampir sepuluh menit.


Plakkk…. Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Haura sebelah kanan.


Salah satu remaja SMA yang ikut bersama mereka memberikan tamparan yang cukup kuat di pipi Haura. Jejak lima jari terlukis dengan jelas disana.


Srettttt..... Gadis itu melepas lakban yang menutupi mulut Haura dengan sekali tarikan. Haura meringis kesakitan karena aksi gadis itu.


“Lo mau jalan sendiri atau mau gue seret?” remaja perempuan itu berbicara sambil menatap nyalang kepada Haura. Padahal Haura sama sekali tidak mengenal mereka. Tapi mereka dengan beraninya menyakiti Haura.


“Aku gak ada urusan sama kalian.” Haura tidak mau mengalah begitu saja. Meskipun sebenarnya Haura merasa sangat takut, tapi Haura tetap berusaha untuk memberikan perlawanan. Dia tidak mau terlihat begitu lemah di hadapan para pembully-nya.


“Ckkkk…. Berani juga ni bocah.”


Plakkkk…. Satu tamparan lagi Haura dapatkan. Persis di tempat yang sama. Pipi kanan Haura terasa begitu kebas. Bahkan kepala Haura terasa sedikit pusing akibat dua tampar bertubi-tubi yang dia terima.


Tanpa merasa kasihan sama sekali, ke empat remaja itu menyeret paksa Haura ke dalam rumah kosong tersebut.


Satu kejutan lagi yang Haura dapatkan hari itu, di dalam rumah itu ada lima orang laki-laki yang telah menunggu kedatangan mereka. Dua diantaranya menggunakan seragam putih abu-abu dan tiga lainnya terlihat seperti anak jalanan.


Haura bergidik ngeri melihat kelima laki-laki tersebut. Di tambah lagi mereka menatap Haura dengan seringai licik di wajah mereka. Dengan sekuat tenaga Haura mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Melisa dan Sarah. Dia mencoba melarikan diri dari tempat itu.


Dengan sekuat tenaga Haura terus berusaha untuk melepaskan dirinya. Hingga akhirnya gadis itu berhasil meloloskan dirinya setelah menggigit tangan kedua orang yang sedang mencekal tangannya dengan sekuat tenaga. Dapat di rasakan bahwa tangan temannya itu mengeluarkan darah. Haura sama sekali tidak memperdulikan hal itu lagi. Yang dia tahu, saat ini dia harus segera meninggalkan tempat berbahaya itu.


Gadis itu pun menghempaskan tubuh Haura hingga tersungkur di lantai yang di penuhi dengan debu.


"Awwww..... sakit..." Haura meringis kesakitan. "Apa salah aku, kenapa kalian ngelakuin ini semua sama aku... Hikksss.... Hikksss..." Gadis itu tidak dapat lagi menahan untuk tidak menangis. Haura sudah tidak sanggup lagi untuk berpura-pura kuat.


Sarah berjongkok demi mensejajarkan posisinya agar sama seperti Haura yang masih terduduk di lantai yang di lapisi oleh debu tebal. "Salah lo karena lo masih bertahan di tempat yang seharusnya bukan menjadi tempat lo. Dan gue gak suka satu sekolahan sama benalu kayak lo."


Detik itu juga Sarah kembali menarik surai ekor kuda milik Haura hingga membuat wajah Haura mendongak sempurna. Jeritan karena kesakitan kembali terdengar dari mulut Haura.


"Jangan main kasar gitu. Kalian harus bersikap baik. Apalagi sama anak manis seperti ini." Terdengar suara salah seorang laki-laki. Entah sejak kapan, salah satu laki-laki yang memakai pakaian biasa telah berjongkok tepat di belakang Haura dan tanpa permisi membelai lembut rambut Haura yang telah terlihat begitu berantakan.


"Kalian harus memperlakukannya dengan cara yang manis." Laki-laki itu berbicara dengan berbisik di telinga Haura. Tubuh Haura meremang mendengar suara laki-laki itu. Di tambah lagi bau asap rokok dari mulut laki-laki itu menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Haura.


"Dan terserah kalian mau bermain manis kayak apa. Gue sama sekali gak peduli," ucap Melisa. Setelah mengatakan itu, Melisa dan Sarah ikut bergabung bersama dua gadis remaja SMA yang terlebih dahulu telah duduk pada kursi-kursi kayu yang ada di dalam rumah tua itu.


Empat laki-laki lainnya yang masih duduk di tempat mereka, segera beranjak menghampiri Haura dengan seringai licik di wajah mereka.


Tubuh Haura bergetar karena rasa takut yang luar biasa. Kaki gadis itu seakan tidak mampu di gerakkan untuk pergi dari tempat tersebut. Dia benar-benar takut.


"Hai manis. Jangan takut gitu dong. Kita gak bakalan nyakitin kamu." Ucap salah satu laki-laki yang memakai seragam putih abu-abu.


"Kalian jangan macam-macam. Tolooonggg..." Haura bertiak sekuat tenaga meminta pertolongan. Gadis itu sangat berharap akan ada orang yang mendengar teriakannya.


"Lo gak usah buang-buang tenaga untuk teriak. Gak bakalan ada yang dengar," ucap laki-laki lainnya yang duduk berjongkok di hadapan Haura. Setelah mengatakan itu, laki-laki tersebut membuang asap rokoknya tepat di wajah Haura.


Akibatnya Haura terbatuk karena asap rokok yang langsung memasuki hidungnya.


"Duh... kasiannya." ucap laki-laki itu lagi sambil membelai lembut wajah Haura. Mengusap air mata yang sejak tadi keluar dari mata indah gadis itu. "Mau coba gimana rasanya rokok?" tawarnya dengan tersenyum jahat.

__ADS_1


Detik itu juga Haura langsung menggelengkan wajahnya sebagai bentuk penolakan. Gadis itu terus saja menangis. Bahkan untuk bersuara saja Haura sudah tidak sanggup.


"Jangan nolak dong, ini gak berbahaya kok," rayu laki-laki itu lagi. "Pegang dia."


Mendapatkan perintah untuk memegang Haura, ke empat laki-laki lainnya langsung mencekal tangan dan kaki Haura. Kembali Haura meronta-ronta untuk melepaskan dirinya. Tapi semuanya sia-sia. Pegangan ke empat laki-laki itu bahkan semakin kuat pada tangan dan kakinya.


Laki-laki yang memegang rokok mencengkeram kuat rahang Haura hingga membuat mulut gadis itu terbuka. Sebatang rokok mengarah ke mulut Haura. Di lain sisi, Melisa dan gadis lainnya, merekam adegan tersebut menggunakan handphone milik mereka masing-masing.


Tidak tahu lagi bagaimana cara melepaskan diri, akhirnya Haura kembali menggigit tangan laki-laki yang berada di hadapannya dengan rokok yang di arahkan ke mulut Haura.


"Awwww.... ****." Sebuah teriakan dari laki-laki itu menggema ke seluruh rumah tua tersebut.


**Plakkk... **Satu tamparan kembali Haura terima dari laki-laki yang tangannya baru saja di gigit oleh Haura. Kali ini lebih menyakitkan dari pada yang dua tamparan yang dia dapatkan tadi. Karena memang kali ini seorang laki-laki yang menamparnya. Sudut bibir Haura mengeluarkan darah segar. Penglihatannya semakin berkunang-kunang. Rasa pusing yang sangat dasyat menghantam kepalanya.


Tidak tanggung-tanggung laki-laki itu menjambak rambut Haura tanpa rasa kasian sama sekali. Selanjutnya kembali mengarahkan sebatang rokok ke dalam mulut Haura. Tapi Haura menutup rapat mulutnya. Ini adalah cara terakhir Haura untuk bertahan.


"Kayaknya lo memang suka di paksa." ucapanya dengan penuh penekanan. "Oke gue kabulkan permintaan lo."


Lagi, laki-laki itu mencengkeram kuat rahang Haura. Mendekatkan wajahnya mencoba untuk mencium bibir gadis yang sudah tidak berdaya itu.


"Gue rasa dramanya selesai sampai di sini." Belum juga sempat keinginannya tecapai, sebuah suara mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.


Dalam rumah tua itu ternyata ada laki-laki lain. Dari penampilannya terlihat bahwa dia juga merupakan seorang anak jalanan. Tapi bedanya, laki-laki itu mempunyai wajah yang tampan. Berbeda dari kelima laki-laki jahat yang sedari tadi menyakiti Haura.


"Dramanya cukup sampai di sini, ya?" ucap laki-laki itu lagi.


"Lo siapa? jangan ikut campur urusan kita." hardik laki-laki yang tadinya hendak mencium Haura.


Dari pertanyaannya dapat Haura simpulkan bahwa mereka tidak saling mengenal. Haura seakan kembali bisa bernafas lega. Meskipun dia tidak tahu laki-laki asing itu orang baik atau tidak, tapi setidaknya laki-laki itu bisa mengalihkan perhatian kelima laki-laki jahat yang terus menyakitinya.


"Lo tanya siapa gue?" tanya laki-laki tampan itu dengan senyum mengejek di wajahnya.


"Sebaiknya lo pergi dan jangan ikut campur."


"Ckkk... pergi? Lo minta gue pergi setelah lo ganggu waktu istirahat gue?" Laki-laki itu berkata seolah-olah sedang menantang siapapun yang ada di sana.


"dan satu lagi. Tadi lo tanya siapa gue." Ucap laki-laki itu lagi sambil melangkahkan kakinya perlahan mendekati Haura. Hingga tibalah dia tepat di depan Haura yang masih berada di lantai berdebu lengkap dengan wajah sembab dan ujung bibir yang mengeluarkan darah.


Sesaat laki-laki itu menatap dalam pada wajah Haura. Hanya sesaat, lalu dia kembali memalingkan wajahnya kepada kelima laki-laki yang saat ini berada di hadapannya. "Lo dengar baik-baik. Gue juga anak jalanan sama kayak lo semua. Tapi Gue anak jalanan yang tampan." Setelah mengatakan itu, laki-laki itu berpaling dan mengedipkan sebelah matanya kepada Haura yang sejak tadi menatap ke arahnya.


Tuhan, apakah dia penolong ku? batin Haura.











__ADS_1


Maaf kalau banyak typo. Nulis bab ini penuh perjuangan karena sinyal internet yang ngajakin tauran dari tadi pagi. Ini adalah percobaan ketiga setelah drama panjang yang terjadi antara aku, sinyal internet, dan komputer yang sangat tidak bersahabat.


Happy reading guys... Sayang kalian banyak-banyak. Love you!!!!


__ADS_2