
“Kenapa mukanya gitu?” tanya Bu Lastri heran ketika melihat Haura masuk ke dalam kamarnya dengan wajah cemberut.
“Ibu...” Haura merengek kepada Ibunya sambil menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sang Ibu.
“Kenapa? Sini duduk, cerita sama Ibu.” Bu Lastri pun duduk di pinggir tempat tidur lalu menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya. Meminta Haura untuk duduk di sana.
“Ibu, kenapa Ibu kasih izin Nevan untuk ajak Haura jalan-jalan?” tanya Haura masih dengan rengekannya layaknya anak kecil yang merajuk karena tidak di belikan es krim oleh Ibunya.
Bu Lastri tersenyum mendengar pertanyaan putrinya itu. Wanita paruh baya itu kini paham apa yang membuat Haura sampai menekuk wajahnya sedemikian rupa.
"Ibu, kenapa senyum-senyum sih. Haura gak mau jalan sama Nevan, kenapa Ibu kasih izin?" Melihat wajah Ibunya tersenyum Haura semakin memasang wajah cemberut.
"Abisnya kamu lucu. Makanya Ibu senyum." Bu Lastri menggeser posisi duduknya agar lebih dekat kepada putrinya itu. Dengan penuh kasih sayang, wanita paruh baya itu, merapikan anak rambut Haura yang sedikit berantakan.
"Ibu udah nolak permintaan Nevan. Mana mungkin Ibu mengizinkan kamu keluar malam-malam sama laki-laki, meskipun itu Nevan. Tapi kamu tahu kan gimana teman kamu itu? Nevan bahkan bilang ke Ibu kalau dia udah minta izin sama Tuan Liam untuk bawa kamu."
Haura menoleh menatap langsung Ibunya. Sungguh gadis itu tidak percaya kalau Nevan benar-benar meminta izin pada Tuan Liam hanya untuk keluar jalan-jalan bersamanya.
"Ibu serius kalau Nevan bilang dia udah minta izin ke Papanya?"
Bu Lastri hanya menggangguk sebagai jawaban atas pertanyaan putrinya yang begitu terkejut karena sikap Nevan.
“Karena itu Ibu izinkan Nevan untuk ajak kamu jalan-jalan. Karena Ibu yakin Nevan pasti akan jagain kamu. Apalagi dia udah izin langsung ke Papanya. Jadi gak mungkin kalau dia akan berbuat macam-macam pada putri Ibu.”
"Aduh Ibu, gimana ini? Haura takut."
"Takut kenapa?"Bu Lastri mengernyitkan dahinya mendengar perkataan putrinya itu.
"Haura takut kalau Tuan Liam akan berfikir bahwa hubungan Haura dan Nevan lebih dari teman. Gimana Bu?" Kini gadis itu benar-benar gelisah. Takut jika majikan mereka benar-benar berfikir buruk tentangnya. Haura tidak ingin jika dirinya dan terutama Ibunya akan di nilai tidak baik oleh Tuan Liam. Bagi Haura sesulit apapun kehidupan mereka, menjaga nama baik Ibunya adalah hal yang paling utama dalam hidup gadis remaja itu.
"Kamu jangan takut, kan bukan putri Ibu yang ngajak Nevan duluan. Dan Tuan Liam benar-benar sosok yang bijaksana, beliau pasti dapat menilai dengan baik apapun yang terjadi. Lagi pula Ibu percaya sama kamu. Ibu yakin bahwa kamu tidak akan melewati batas-batas pertemanan." Bu Lastri berkata sambil menatap lekat wajah putri semata wayangnya itu.
"Ibu percaya bahwa kamu tidak mungkin menganggap Nevan lebih dari teman."
Haura menatap pias wajah Ibunya yang saat ini masih duduk di hadapannya. Gadis remaja itu benar-benar kehilangan kata-kata. Dirinya seakan telah mengkhianati Ibunya karena telah jatuh cinta pada Nevan.
Sedetik kemudian Bu Lastri meraih tangan Haura. Wanita paruh baya itu menautkan jemarinya dan jemari milik Haura. "Kamu tahu sayang, ada sesuatu di dunia ini yang tidak bisa kita dapatkan meskipun kita sangat menginginkannya. Bukan karena kita tidak bisa meraihnya, tapi keadaan yang melarang kita untuk meraihnya."
Gadis itu menundukkan wajahnya. Tes... tanpa Haura sadari air matanya lolos membasahi pipinya dan jatuh tepat di punggung tangan Ibunya. Ucapan Ibunya benar-benar membuat Haura tersadar bahwa tidak seharusnya dirinya menyukai Nevan.
Dengan penuh kasih sayang Bu Lastri meraih dagu Haura. Meminta putrinya itu untuk menatapnya langsung. Mata gadis itu benar-benar telah di penuhi oleh cairan bening.
"Kenapa menangis?" tanya Bu Lastri. Meskipun sebenarnya wanita paruh baya itu tahu apa yang membuat putrinya itu menangis.
"Ibu tidak mau melihat putri cantik Ibu menangis." Bu Lastri menghapus air mata di kedua pipi Haura. Tersenyum manis pada putrinya itu. Lalu membawa Haura ke dalam pelukannya, mencium dalam puncak kepala Haura.
"Kamu adalah hal paling berharga yang Ibu miliki, karena itu Ibu tidak ingin kamu tersakiti apalagi sampai membuat kamu menangis. Ibu sungguh tidak rela."
"Maaf, Bu." Hanya kata itu yang mampu Haura ucapkan. Air matanya semakin membanjiri kedua pipinya.
Mendengar ucapan maaf dari Haura, Bu Lastri hanya tersenyum. Di kecupnya kembali puncak kelapa putrinya itu. "Gak ada yang perlu di maafkan. Putri Ibu gak salah apapun. Hanya keadaan yang salah.”
Tanpa Haura katakan pun, Bu Lastri tahu bahwa putrinya itu mulai menyukai Nevan. Tapi Bu Lastritidak bisa berbuat apapun. Meskipun tidak tega karena membuat putrinya bersedih karena perkataannya, sudah sewajarnya jika wanita paruh baya itu menasehati Haura. Semua yang di lakukan oleh Bu Lastri karena tidak ingin perasaan suka Haura kepada Nevan semakin dalam. Karena pada akhirnya beliau sangat yakin cepat atau lambat putrinya lah yangakan terluka karena menyukai orang yang tidak boleh untuk di sukainya.
Hati wanita paruh baya itu juga ikut bersedih melihat Haura menangis. Akan tetapi ini adalah jalan yang terbaik agar semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Menasehati putrinya adalah pilihan terbaik yang harus dia ambil.
__ADS_1
"Udah gak usah nangis, sekarang kamu siap-siap. Kan katanya mau jalan-jalan sama Nevan," ucap Bu Lastri sambil mencubit gemas ujung hidung Haura.
"Setidaknya dia benar-benar tulus berteman dengan putri Ibu. Jadi kamu gak boleh sedih lagi."
"Haura gak mau jalan sama Nevan. Haura mau tidur aja," ucap Haura sambil menghapus air mata dan juga ingusnya secara bersamaan.
"Pasti sekarang Nevan udah nunggu kamu. Emangnya kamu gak kasian sama dia? Buruan sana siap-siap."
"Tapi, Bu..."
"Udah gak pa-pa. Ibu percaya sama putri Ibu."
Haura pun mengangguk. Detik itu juga gadis remaja itu pergi meninggalkan kamar Ibunya.Sementara itu Bu Lastri menatap sendu kepergian putrinya. Wanita paruh baya itu mengusap air mata yang menggantung di sudut matanya. Sedih? Tentu saja. Secara tidak langsung Bu Lastri sadari bahwa dirinya telah mematahkan hati putrinya itu.
\=========
Tidak butuh waktu lama bagi Haura untuk bersiap-siap. Tidak ada yang namanya pusing karena memilih pakaian apa yang harus di gunakan jika ingin pergi dengan laki-laki yang kita sukai. Karena memang Haura tidak punya banyak pakaian. Bukan hanya itu semua pakaian yang Haura miliki hanya celana jeans dan juga t-shirt sederhana.Tidak ada dress sama sekali.
Tanpa banyak fikir Haura meraih sebuah t-shirt oversize berwarna navy dan di padukan dengan celana jeans berwarna putih. Mengucir rambut panjangnya dan hanya membari bedak tabor serta lip balm sebagai pelengkap.
Sebelum keluar dari kamarnya, Haura melihat kembali penampilannya di cermin yang melekat pada lemari pakaiannya. Gadis itu tersenyum kecut menatap pantulan dirinya di cermin itu.
“Haura, nikmati malam ini dan setelah ini lupakan semua rasa cinta kamu untuk Nevan,” ucapnya pada diri sendiri. Lalu gadis remaja itu pun mengayunkan langkahnya menuju kembali ke mara Ibunya untuk berpamitan.
Sementara itu di rumah utama keluarga Sander, Nevan telah terlihat tampan seperti biasanya. Sesekali remaja laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke paviliun belakang. Menunggu kedatangan Haura yang tak kunjung muncul. Padahal dirinya telah menunggu selama lima belas menit lamanya, akan tetapi orang yang di tunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.
Nevan mengambil handphone di saku celana jeansnya. Tujuannya adalah menghubungi Haura. Ketika ibu jarinya baru saja menekan tanda panggil, Haura pun muncul. Melihat kedatangan Haura, Nevan pun mengembangkan senyumnya secara sempurna. Secara otomatis ketampanannya meningkat tiga kali lipat karena senyum merekah yang menghiasi wajah tampannya.
Haura merogoh tasnya untuk mengambil handphone miliknya yang sedang bordering. Nevan, nama si pemanggil. Sontak saja Haura langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa menghentikan langkahnya.
“Perfect.” Satu kata itulah yang Nevan ucapkan sebelum mengakhiri panggilannya karena kini Haura telah berada tepat di hadapannya.
Haura hanya menatap heran pada Nevan yang terlihat begitu bahagia menatapnya. Sedetik kemudian gadis remaja itu menyadari bahwa saat ini mereka sedang memakai baju dengan warna yang sama. Navy dan putih. Benar-benar sebuah kebetulan. Malam ini mereka benar-benar terlihat seperti sepasang remaja yang sedang saling jatuh cinta.
Jika Nevan tersenyum bahagia karena sebuah kebetulan yang mutlak, lain halnya dengan Haura yang secara teratur membalikkan tubuhnya hendak kembali lagi ke paviliun belakang. Niatnya hanya satu yaitu mengganti pakaiannya.
Melihat gelagat Haura yang hendak kabur, Nevan pun segera meraih tangan Haura. “Kamu mau kemana lagi?”
“A-a-aku mau balik ke belakang sebentar,” jawab Haura terbata-bata.
“Untuk?” tanya Nevan dengan menaikkan salah satu alisnya.
“Emmmm…. Aku mau…” Haura meremas tali sling bag miliknya.
“Mau ganti pakaian?” tanya Nevan lagi tepat sasaran.
Haura hanya menganggukkan kepalanya pelan.
“Untuk apa ganti pakaian?”
Lagi, gadis itu mulai malas dengan pertanyaan bodoh yang Nevan tanyakan. “Untuk apa?” Haura manarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Selanjutnya yang harus dia lakukan adalah kembali memberikan alasan yang logis kepada sahabat keras kepalanya itu.
“Nevan, gak mungkin aku pakai pakaian ini. Baju dan celana yang kita pakai warnanya sama. Nanti orang-orang akan berfikir bahwa kita sedang pacaran. Karena itu aku mau ganti baju karena aku gak nyaman kalau harus berpakaian seperti couple yang sedang kasmaran. Jadi tolong kamu lepasin tangan aku, karena aku mau ke belakang dan ganti baju. Aku gak akan lama, Cuma lima menit.” Jelas Haura panjang lebar.
“Emang kenapa kalau orang fikir kita pacaran? Kamu keberatan?”
__ADS_1
“Bukan masalah keberatan, tapi….”
“Kalau emang kamu gak keberatan sekarang kita jalan." Perintah Nevan dan langsung menuntun Haura untuk mengikuti langkahnya.
"Nevan, aku mohon sebentar aja. Aku gak akan lama. Please," ucap Haura sambil memasang wajah memelasnya.
"Gak boleh. Lagian kamu lupa ya, kalau malam ini kamu pacar aku. Jadi wajar aja kalau kita pakai baju couple."
Haura hanya mendengus kesal mendengar perkataan Haura. "Pacar bohongan." Kemudian Haura pun menghempaskan tangan Nevan dan berjalan mendahului remaja laki-laki itu.
Nevan semakin mengembangkan senyumnya melihat tingkah Haura. Detik itu juga Nevan menyusul langkah kaki Haura.
"Dasar bocah," ejek Nevan sambil mengusap puncak kepala Haura membuat rambut Haura sedikit berantakan.
"Nevaaannn.... Rambut aku jadi berantakan lagi." Protes Haura dengan memasang wajah kesal pada sahabatnya yang tidak mempunyai akhlak itu.
Remaja tampan itu pun menarik tangan Haura agar semakin mendekat padanya. "Mana yang berantakan, biar aku rapikan."
Bukannya menerima tawaran Nevan, Haura justru mundur beberapa langkah agar posisi dirinya dan Nevan kembali berjarak.
"Ayo kita pergi," ajak Haura kemudian. Gadis remaja itu tidak mau berada di posisi sedekat itu dengan Nevan. Haura fikir benar kata Ibunya beberapa saat yang lalu, bahwa ada sesuatu yang kita inginkan tapi tidak bisa kita dapatkan. Sesuatu itu adalah Nevan.
Nevan menatap heran pada Haura yang justru menghindarinya. Tapi Nevan tidak mau ambil pusing. Di raihnya kembali tangan Haura," Ayo."
"Motor atau mobil?"
"Terserah kamu."
"Oke, motor aja. Biar lebih sweet." Goda Nevan yang hanya di balas Haura dengan tatapan jengah kepada sahabat tampannya itu.
Ketika kedua remaja itu sudah naik ke atas motor sport milik Nevan, tanpa terduga Nevan meraih kedua tangan Haura dan meletakkan di pingganggnya. "Pegang disini. Yang erat." Perintah remaja laki-laki itu.
"Gak mau." Tolak Haura dan langsung melepas pelukannya pada Nevan.
"Kalau kamu gak mau, aku bakal bawa kamu pergi dan kita gak akan pulang besok pagi."
"Coba aja kalau kamu berani." Bukannya takut, Haura malah menantang Nevan.
Mendengar jawaban dari Haura, sontak saja membuat Nevan semakin tertantang. Dengan senang hati Nevan akan mengabulkan apa yang di katakannya.
"Kamu serius nantangin aku? Kamu tahu kan, aku Nevan. Kalau sampai hitungan ketiga kamu gak peluk aku, maka kamu jangan nyesal kalau kita akan pulang besok pagi."
Nevan segera memulai hitungannya. "Satu.... Dua.... Tiiiii...."
Merasa Haura telah memeluknya erat, Nevan pun menghentikan hitungannya dan tersenyum penuh kemenangan. Sungguh Haura dengan terpaksa mengikuti kemauan Nevan. Gadis itu takut jika mereka benar-benar tidak pulang sampai besok pagi jika tidak menuruti kemauan Nevan. Secara Haura tahu dengan pasti bagaimana sifat sahabatnya itu.
Ketika motor Nevan hendak melaju, tiba-tiba dua buah motor sport masuk ke dalam gerbang rumahnya. Dua motor yang pemiliknya sangat di kenali oleh Nevan. Gian dan Niko.
Kedua motor tersebut berhenti tepat di depan motornya. Yang menjadi pusat perhatian Nevan bukanlah Gian dan Niko akan tetapi seorang gadis remaja seusianya yang berada di belakang Gian. Di sana ada Rhea Putri Pradipa.
Haura segera melepas pelukannya dari tubuh Nevan. Menunduk dalam dan menyembunyikan tubuhnya di belakang Nevan. Mencari perlindungan di balik punggung sahabatnya itu dari tatapan mematikan yang Rhea berikan kepadanya.
Malam itu dua rahasia Haura terbongkar sudah. Rahasia pertama, Ibunya tahu bahwa dirinya menyukai Nevan. Dan rahasia kedua, sebentar lagi Haura sangat yakin bahwa Rhea akan mengetahui tentang statusnya yang sebenarnya yaitu anak seorang pembantu di rumah Nevan.
Haura sangat yakin bahwa malam itu adalah awal dari penderitaannya yang sebenarnya.
__ADS_1