"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
hutang penjelasan


__ADS_3

.......


beberapa menit kemudian terlihat dokter Aditia dan dokter Sam berjalan beriringan menuju ruang ICU menemui Ara yang sedang terbaring koma.


Ceklekk


suara pintu terbuka terdengan begitu nyaring membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh tak terkecuali kenzo yang tetap memasang wajah dinginnya .


"apa semua sudah siap sus.?" tanya dokter sam pada kedua susternya yang berdiri tepat di samping Ara


"sudah dok " sahut salah satu suster itu pelan menundukkan kepalanya tak berani bertatap muka dengan kenzo yang sedari tadi berbicara dengan nada penuh ancaman.


"apa yang kau lakukan sialan.!!" ujar kenzo menepis tangan dokter sam yang akan memeriksa Ara.


"saya.. saya akan memeriksa pasien tuan" sahut dokter sam gugup takberani menatap kenzo


"bos ayolah jangan.."


"Diam kau.!!!" perintah kenzo geram membuat Aditia terdiam seketika "aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh wanitaku!!!"


"bagaimana kami memeriksanya tuan " sahut dokter sam bingung


"kau priksa lewat batin saja dokter sam" celetuk Aditia kesal yang membuat Billy tertawa keras memenuhi seluruh ruangan.


"Billy.!!!"


"maaf tuan muda" sahut Billy pelan menyudahi tawanya melihat wajah dingin kenzo yang seperti singa siap menerkam mangsanya.


"Bawa pasien ini ke mobilku sekarang"


"tapi dokter Aditia.."


"kau tidak perlu cemas dokter sam. percayalah padaku" ujar Aditia menepuk bahu dokter sam dengan perlahan.


dokter Sam menganggukkan kepalanya pelan sambil memberi isarat mata pada kedua suster agar membawa tubuh Ara ke luar.


"heyy.!! kalian smua menentangku begitu." suara kenzo geram membuat kedua dokter yang akan mendorong tubuh Ara terdiam kaku sambil menelan salivanya melihat tatapan kenzo.


"Tuan muda biarkan dokter dan suster melakukan tugasnya. kita hanya perlu menggu hasilnya tuan." sahut Billy mencoba menenangkan emosi kenzo yang tak tau tempat.

__ADS_1


"dokter yang tidak kita ketahui asal usulnya merawat wanitaku saat ini. kau bilang aku harus tenang. apa kau sudah gila" ujar kenzo kesal dengan melayangkan kepalan tangannya ke wajah Billy.


"heyyyy.. kenapa kau malah memukulku bos." gerutu Billy mengusap pipinya yang terasa nyeri


"Diamlahh.!!!"


Billy terdiam memutar bola matanya malas melihat tuan mudanya yang selalu saja keras kepala.


tiba tiba suara ponsel Billy bergetar dari saku celananya.


Billy tersenyum melihat isi pesan dari anak buahnya.


"tuan muda sepertinya anda harus kembali kemansion sekarang tuan muda." ujar Billy pelan di dekat kenzo yang masih setia dengan wajah dinginnya.


"apa kau gila!!!!"


"tuan dan nyonya besar baru saja tiba di bandara dan sekarang beliau sedang menuju ke mansion tuan"


"apa kau seriuz..?"


"dua riuzz bos.!" sahut Billy tersenyum lebar menunjukkan layar ponselnya pada kenzo


"aku akan kembali ke kota sendiri. kau tetap awasi Ara jangan biarkan siapapun menyentuhnya termasuk dokter bodoh ini"


"aku yang bodoh. atau kau yang bucin" sahut Aditia malas.


"Billy.. mulai besok kau potong gaji dokter ini 75%"


"heyy apa apaan kau ini aku tidak terima.!!!"


"ya sudah kau pecat saja pria ini Bill. jika perlu usir dia dari negara ini.!!"


"astagaa kenapa kau tega sekali kenzo!!"


"semua ada di tanganku dokter bodoh hahaha"


"huhhhff baiklah baiklah.. saya tidak akan pernah menyentuh wanita ini walau seujung rambutnya tuan muda dan saya akan menjamin keselamatan wajita ini walau harus nyawa saya taruhannya"


"dokter pintar hahaha" sahut kenzo tertawa terbahak bahak melihat expresi Aditia yang langsung menciut.

__ADS_1


"kau rahasiakan kejadian ini Bill. jangan ada siapapun yang mengetahuinya termasuk mommy dan Daddy."kata kenzo menoleh ke arah Billy


"baik tuan muda"


.kenzo berjalan mendekati tubuh Ara yang terlihat pucat dengan beberapa selang yang menempel ditubuhnya.


"cepatlah sadar jangan membuatku seperti ini Ara. apapun caranya cepat kembali bersamaku . aku ingin menanam rindu untukku di hati kecilmu hingga tidak ada satu laki laki lain yang bisa menyelinap di balik ruang hatimu yang lain. aku mencintaimu Ara sangat mencintaimu"


bisik kenzo pelan di dekat telinga Ara lalu mendaratkan kecupannya di kening Ara


"aku tinggal sebentar" bisik kenzo lagi sambil mengelur pipi Ara yang pucat lalu berjalan membawa bobot tubuhnya keluar daru ruangan itu dengan langkah berat. merasa enggak untuk meninggalkan Ara yang masih belum sadar dari koma.


semua orang yang berada di ruangan itu tertengun melihat reaksi kenzo yang sangat lembut.


Aditia menatap Billy meminta penjelasan untuk adegan yang menurutnya diluar dugaan seorang ceo kenzo smith yang terkenal dingin bisa bersikap lembut hanya pada seorang gadis yang menurutnya biasa biasa saja. namun Billy hanya tersenyum manis membalas tatapan introgasi Aditia hingga kenzo berlalu dari ruangan itu.


"bagaimana bisa Bil.?" tanya Aditia yang semakin penasaran dengan sikap kenzo pada gadis yang belum pernah ia temui sebelumnya.


"yaa begitulah." sahut Billy datar


"apa kau tidak ingin bercerita padaku. atau kalian sudah tidak menganggapku sahabat lagi."


"sebaiknya kau urus pasienmu dulu sebelum pria itu datang lagi dan memotong pesanganmu"


"Ckkk kau ini setia sekali sama majikanmu itu"


Billy tersenyum kecil kelihat wajah Aditia yang kembali memberengut kesal. membuat memory otak Billy kembali mengingat bagaimana Aditia kecil dulu saat merengek rengek meminta sesuatu yang selalu sama persi seperti milik kenzo.


"aku masih ada urusan sebentar. kalian cepatlah bawa wanita ini ke rumah sakit utama alberto.aku sudah menyuruh orangku untuk menyiapkan kamar yang paling nyaman disana "


"baik tuan" sahut dokter sam yang sedari tadi berdiri tanpa sepatah katapun.


"dokter Adit kau awasi mereka pastikan semuanya berjalan lancar" ucap Billy menepuk bahu Aditia dengan pelan


"Ckkk" desis Aditia kesal "kau punya hutang penjelasan padaku tuan"


Billy kembali tersenyum mendengar nada kesal Aditia


"baiklah aku akan menumuimu di rumah sakit utama. aku pergi dulu" ujar Billy lagi sambil berjalan menghilangkan tubuhnya di balik pintu menyusuri lorong rumah sakit tanpa mempedulikan semua mata yang menatapnya dengan penuh kekagu

__ADS_1


__ADS_2