
pelupuk mata Ara perlahan terbuka melihat dinding ruangan yang bernuansa putih dengan hiasan dinding yang indah dan beberapa pot bunga yang sangat cantik menambah aksen tersendiri untuk ruangan yang tidak terlihat seperti rumah sakit.
jari jemarinya yang lemah mengenggam tangan mungil Willy sambil menarik bibirnya memperlihatkan senyumnya yang sangat manis membuat hati Dokter Aditia yang sedari tadi berdiri di belakanh Willy sedikit bergetar mengagumi senyuman gadis satu putra itu.
"Bunda sudah bangun"
Ara kembali menarik bibirnya memperlihatkan deretan giginya yang rapi sambil mengangguk pelan seakan tak mampu mengerakkan bibirnya.
"ya Allah kenapa dada ini terasa sesak sekali" bisik Ara pelan dalam hati merasa ada yang aneh pada hati dan fikirannya.
"bunda kenapa.?? apa ada yang sakit.?" celoteh Willy menyadarkan Ara dari lamunannya.
"bunda tidak apa apa sayang. hanya sedikit pusing"
"maaf nona anda tidak boleh banyak bergerak dulu. luka tembak yang nona alami sedikit parah mungkih akan pulih beberapa minggu kedepan insyaallah "
Ara terdiam mendengar perkataan Aditia entah mengapa Ara merasa yakin ada sesuatu hal yang lain yang sedang dokter itu khawatirkan yang terlihat jelas di kedua bola matanya.
"kenapa Willy ada disini sendirian . Umi kemana nak.?"
"maaf nona ibu anda sedang berada di luar bersama tuan kenzo " sahut Aditia yang langsung membuat Willy kembali menelan ucapannya yang akan keluar dari mulut mungilnya.
"aiss paman dokter ini kenapa menjawabnya. bundakan bertanya padaku" ujar Willy kesal melebarkan bola matanya menatap Aditia yang langsung mengerutkan kening heran.
"Willy sayang bunda harus di periksa dulu oleh dokter ini... Willy harus keluar dulu yaa bersama umi nantik setelah selesai Willy bisa menemani bunda di sini."
"iya bunda. Willy akan menunggu bunda di luar." ujar Willy tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang terlihat sangat imut.
"paman dokter jaga bundaku yaaa awas.!!! jika terjadi sesuatu buat bundaku.!!!"
"ohhhh astagaaa bocah itu.. yaaa ampun angkuh sekali dia." ujar Aditia yang terkejut melihat tatapan tajam Willy yang sudah seperti tatapan kucing yang terlihat sangat tajam.
sedangkan Ara hanya tersenyum simpul melihat punggung putra kecilnya yang sudah berlalu dari ruangan itu dengan langkah kecilnya yang terlihat sangat berwibawa mewarisi jiwa ayah Ara yang sangat bijak sana.
"sebenarnya apa yang terjadi pada saya dok.?"
Ara menatap manik Aditia dengan seksama mencoba mencari jawaban dari tatapannya.
"apa maksudmu luka tembakmu itu.??"
"saya merasa ada suatu kekhawatiran dari tatapan anda dok" sahut Ara datar membuat Aditia tersenyum lebar mengagumi kejelian Ara yang diluar dugaannya.
"aku..."
"dokter brengseng berani sekali kau menikungku"
__ADS_1
tiba tiba suara barinton bergema membuat Aditia menghentikan ucapannya menatap kenzo yang sudah berjalan dengan langkah lebar menuju kearahnya.
" pria psikopat ini lagi" ucapnya kesal melihat wajah dingin kenzo.
"kau baik baik saja Ara. ?? apa pria bodoh ini mencoba menggodamu..?? katakan Ara aku akan menghajarnya untukmu..!!"
"cihhhh hajar saja jika berani.." dengus Aditia kesal melihat kenzo yang terlihat panik melihat Ara yang masih dengan posisi terlentangnnya.
Bukkkkkkk
"heyyy kenapa kau memukulku tuan muda" teriak Aditia kesal mengusap pundaknya yang mendapat tinjuan dari kenzo dengan keras.
"pergi dari sini dokter bodoh.!! kau tidak lihat aku ingin berdua dengan kekasihku. cepar pergi!!!!."
"kekasih" ucap Ara datar yang membuat kedua pria disampingnya menghentikan perdebatannya dan menatap wajah Ara dengan tajam.
" siallll kenapa aku bilang kekasih" bisik kenzo dalam hati
"kenapa wanita ini terkejut.?" bisik Aditia dalam hati
"apa maksudmu tuan muda..?" Ucap Ara lagi terdengar seperti suara barinton yang membuat tubuh kenzo berdesir hangat sedangkan Aditia tersenyum sinis melihat wajah kenzo yang terlihat memerah.
"tuan muda apa kau baik baik saja" goda Aditia yang langsung mendapat tatapan tajam dari kenzo.
"Diam.!!!!! sekali lagi kau mengeluarkan suara jelekmu itu akan ku pastikan lidahmu akan terpotong saat ini juga"
"ciiihhh kau.." Aditia langsung membungkam mulutnya melihat kenzo sudah mengarahkan pistol lipatnya tepat di depan bibirnya yang sedang terbuka.
"astaggaaa kau lebih menyeramkan saat jatuh cinta tuan muda" ucap Aditia yang hanya bisa terucap di dalam hatinya.
"tutup mulutmu rapat rapat. sebelum peluru di.. dalamnya merobek robek mulutmu itu.!" suara kenzo geram membuat Aditia melotot sambil menelan salifanya.
"jauhkan benda itu jauhkan .." ucap Ara yang langsung bangun dari tidurnya. "pergi pergi... jangan mendekat pergi..!!!" Ara semakin meninggikan suaranya melihat pistol yang di tangan kenzo semakin mendekat
"Ara Ara tenanglah tenanglah "
"pergi orang jahat pergi orang jahat. pergi..!!!" Teriak Ara lantang sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing
"darah darah bau darah .. ayahhh ayahh ayah" teriak Ara histeris hingga terdengar keluar ruangan memanggil ayahnya yang selalu mengobati lukanya sewaktu kecilnya dulu.
"Ara apa yang terjadi Ara. Aditia kenapa kau diam saja cepat lakukan sesuatu bodoh.!!" Teriak kenzo yang sudah bingung melihat tingkah Ara yang tiba tiba berteriak histeris seperti orang kerasukan.
"astagfirullah Ara.!!" umi Ara terkejut melihat keadaan Ara yang sudah kacau duduk merikuk di ujung ranjang
"bunda bunda kenapa .?paman kau apakan budaku hikkkzz hikkzz"
__ADS_1
"darah darah.. ayahh ayah .. pergi !!! pergi.!!"
"paman dokter bundaku kenapa hikzzz hikzz "
"pergi!!! pergi!!!"
"bunda aku Willy bunda. apa bunda tidak sayang Willy lagi hikkzzz hiikzz hikzzz bunda"
umi Ara terdiam meneteskan airmata hatinya yang lembut terasa perih sangat perih mengingat sekelebat kejadian dimasalalunya.
"pergi.!! pergi.!! perrrgii.."
tubuh Tiara tertidur oleh suntikan obat penenang yang langsung di lakukan oleh Aditia.
"Bundaaaa Bunda... umi bunda kenapa..?" terika Willy histeris menguncang lengan uminya membuat airmata yang terjatuh dari pelupuk matanya semakin mengalir deras.
"Willy Willy dengarkan aku." ucap kenzo membawa tubuh kecil Willy kedalam gendongannya " jangan menagis Willy itu akan membuat bundamu semakin bersedih. kau harus kuat agar bundamu tidak sedih seperti itu"
"tapi ayah tadi bunda baik baik saja. paman dokter ini yang sudah membuat bundaku terluka seperti itu. kau lihat baju bunda banyak darahnya pasti paman dokter ini yang melukainya" celetuk Willy keras membuat Kenzo terdiam menatap punggun Tiara yang terus mengalirkan dara memenuhi baju yang di pakainnya.
"tuan jahitan di luka pasien kembali terbuka aku harus segera menutupnya tuan" ucap Aditia yang terdengar dingin menatap wajah Kenzo dengan tatapan tajamnya yang sangat serIuz.
"lakukanlah pastikan dia tetap baik baik saja. umi ikutlah denganku" ucap kenzo datar segera mebawa langkahnya keluar dari ruangan yang diikuti umi Ara yang berjalan linglung di belakangnya.
"umi kembalilah ke aparteman biar supir yang akan mengantarnya. aku tidak ingin hal apapun terjadi padamu dan Willy"
"tapi tuan..."
"umi tidak perlu khawatir Ara akan aman bersamaku. umi cukup berdo'a semoga Aditia dan tim medis yang bekerja di dalam bisa menolong Ara dengan seizin Allah"
"baik tuan muda "
"Willy kau pulang dulu ya sama umi. jangan lupa kau do'akan bundamu agar cepet sembuh oke..!!! " ucap Kenzo pelan membelai wajah Willy dengan sangat lembut layaknya seorang ayah yang sangat baik.
"oke ayah. Willy janji akan berdo'a untuk bunda"
kenzo tersenyum melihat wajah sedih Willy yang sudah bersikap dewasa di umurnya yang sangat belia.
"anak pandai. baiklah kau harus pergi sekarang jagoan"
"assalamualaikum ayah daaa"
"waalaikumsalam Willy daaa"
kenzo menyunggingkan bibirnya menatap pungguk kecil Willy yang sudah berjalan menjauh dalam gandengan tangan umi Ara dan dua sorang pengawal pribadi kenzo yang selalu setia menjaga keluarga kecil Ara.
__ADS_1