"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
lucky


__ADS_3

"Billy...!!!" teriak kenzo membuat Billy Ara dan Willy serentak menoleh ke dalam mobil dan terkekeh bersama sama.


"ayooo cepat masuk sebelum singa jantat itu mengamuk" bisik Billy yang membuat Ara dan Willy menahan tawanya melihat wajah Kenzo yang terlihat sangat kesal.


mobil mewah warna hitam itupun melaju dengan kecepatan sedang menyusuri aspal hitam pekat dengan terhiasi cahaya lampu kota yang berdiri tegak di sepanjang jalan.


Willy terus berbincang ria mengomentari sesuatu yang tertangkap di indra penglihatannya sedangkan kenzo tetap diam dengan expresi datar tak sepatah katapun yang keluar dari mulut pria tampan itu membuat Ara sedikit kecewa.


"mungkin dia sedang memikirkan wanita lain makanya dia kembali dingin padaku" pikir Ara tak ingin terus berharap bisa mendapat perhatian lebih dari kenzo.


"lohhh kak Billy kenapa kita kesini..??" tanya Ara bingung melihat keluar mobil yang sudah berhenti tepat di depan pintu masuk gedung perusahaan stargroup.


"keluarlah cepat jangan banyak tanya" kata kenzo ketus membuat Ara terdiam merasakan sesuatu yang aneh di dadanya mendapat tatapan dingin dari tuan mudanya lagi.


"kenapa dadaku sesak sekali." batin Ara menatap kenzo yang juga tengah menatapnya dengan dingin.


"maafkan saya tuan muda. " sahut Ara yang langsung keluar dari mobil menggandeng tang Willy kecil yang sudah lebih dulu turun.


"lakukan semua yang di katakan tuan muda jangan menentangnya sedikitpun" bisik Billy yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Ara.


"papa Billy kenapa ayah kenzo terlihat menyeramkan malam ini..?" tanya Willy menunjuk tubuh Kenzo yang sudah melangkah lebih dulu memasuki pintu kaca gedung stargroup.

__ADS_1


"benarkah..??? " goda Billy membawa tubuh kecil Willy ke dalam gendongannya.


"iya papa lihat saja wajahnya itu yaa ampun lebih menyeramkan dari wajah bunda saat marah" bisik Willy yang membuat Billy langsung terkekeh sedangkan Ara hanya diam mengikuti langkah Billy layaknya sepasang suami istri yang terlihat sangat serasi di mata orang orang yang melihatnya.


hingga tibalah mereka di lantai tertinggi di perusahaan itu langkah kaki Ara terhenti ketika kedua bola matanya bertatapan langsung dengan kedua mata Randi yeng terlihat sedang duduk bersama para petinggi perusahaan di meja panjang yang berada di tengah tengah ruangan itu.


"kakak Tampan" sapa Willy lantang membuat perhatian semua orang yang tadinya hanya terfokus pada kenzo yang sudah duduk di kursi paling depan kini beralih menatap ke arah pintu dimana Ara sedang berdiri di samping Billy yang tengah menggendong Willy layaknya seorang ayah sesungguhnya.


"tuan Billy siapa wanita cantik itu"


"siapa anak kecil itu"


"mereka sangat serasi cantik dan tampat "


bisik bisik para petingi perusahaan stargroup yang tengah berada di dalam ruangan itu.


"nona Ara.." kata seorang pria payuh baya yang tengah duduk di ujung kursi membuat Ara langsung menolah dan berlari memeluknya.


"paman lucki" kata Ara dalam pelukan pria payuh baya itu keduanya menitihkan airmata membuat suasana di ruangan itu kembali riuh bertanya tanya siapa sebenarnya wanita itu hingga membuat seorang lucki menitihkan airmata.


"bagaimana keadaan nona..?? apa nona baik baik saja..?? nyonya besar bagaimana..?? apa dia baik baik saja..??"

__ADS_1


Ara melepas pelukannya dan tersenyum menatap pria paruh baya di hadapannya itu dengan bahagia karna hanya pria itulah yang dulu membela Ara dan uminya.


lucki adalah sekertaris pribadi tuan Riski ayah Ara.


"aku baik baik saja paman umi jugak. aku bersyukur bisa bertemu lagi dengan paman di sini "


"maafkan saya nona maafkan saya.. saya tidak bisa menjalankan amah tuan besar.. saya lalai nona"


"sudahlah paman jangan menyalahkan diri sendiri . ini sudah takdir" kata Ara tersenyum ramah tak mempedulikan kasat kusut para petinggi perusahaan yang tengah mencibirnya karna memang mereka para karyawan baru yang tidak tau siapa Ara. hanya luckilah karyawan lama yang masih di pekerjakan oleh Rafki hingga sekarang.


"baiklah karna kita sudah berkumpul disini aku Billy verandro mewakili tuan kenzo smith dari perusahaan alberto smith pemegang saham terbesar di perusahaan stargroup ini memohon dengan sangat pada pemimpin perusahaan stargroup untuk menyerahkan kepemimpinan dan seluruh aset perusahaan kepada pemilik sah perusahaan ini" kata Billy lantang membuat seluruh dewan direksi yang hadir di ruangan itu penuh dengan pertanyaan sedangkan Randi dan asisten Sam hanya diam tak mengeluar sepatah katapun tatapan Randi terus menatap wajah kecil Willy yang tengah duduk di sebelah Ara.


"tuan muda apa maksudnya ini..?"


"iya tuan muda Randi apa maksudnya ini..??"


"asisten sam bisa kau jelaskan pada kita semuanya"


kata para dewan direksi menatap Randi dan asisten Sam.


"mohon tenang semuanya beri waktu tuan muda Randi mengatakan semuanya "kata asisten Sam yang membuat suasana kembali hening tatapan semua mata tertuju pada Rendi yang tiba tiba berdiri meletakkan satu persatu dokumen di depan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2