
🍉🍉🍉🍉🍉🍉
dengan langkah anggun dan seanggun mungkin Ara memasuki ruangan marchel dengan mengikuti langkah seorang wanita yang tengah menggunakan pakain kurang bahan yang tak lain adalah sekertaris marchell.
"permisi tuan tamu anda sudah datang" kata wanita itu membungkuk hormat sedangkan sang tuan hanya mengangguk pelan sambil menyentilkan jari membuat wanita cantik itu segera keluar dan menutup pintu kembali.
"astagaaa kenapa aku merasa di sini dingi sekali" batin Ara menggengam jari jemarinya dengan erat sedangkan pandangannya terus tertuju pada lantai marmer yang sangat kinclong tidak ada satu debupun yang berani berkeliaran di lantai itu.
"apa kau akan terus berdiri di situ nona..??" suara Marchell terdengar nyaring membuat Ara langsung tersadar dari fikiranya sendiri.
"ahhh yaa sa... saya datang untuk membahas yang kemarin tuan" jawab Ara gugup kata kata lembut dan manis yang sudah ia rangkai sebelum masuk kini hilang dari fikiran Ara yang ada hanyalah rasa gugup dan dingin memenuhi tubuh wanita itu.
berbeda dengan Marchell yang tersenyum lebar melihat wajah kecut Ara dangan kedua tangannya yang terus bermain satu sama lain membuat Marchell tak percaya dengan masa lalu Ara yang ternyata sudah memiliki seorang putra tanpa ayah.
"silahkan duduk nona " kata marchell tersenyum manis namum membuat Ara sedikit takut dengan tarikan bibir itu.
"sebaiknya kita duduk di sofa saja nona biar lebih santay" sambung marchell melangkah ke arah sofa membuat tubuh Ara kembali berdiri tegap karna wanita itu hampir mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada tepat di depan meja kerja marchell.
"apa kau mempermainkanku tuan" gerutu Ara sangat pelan namun masih tertangkap oleh pendengar Marchell yang sudah duduk dengan melipat kakinya di sofa panjang.
"apa kau sedang bicara nona..?"
__ADS_1
"ti.. tidak tidak tuan " sahut Ara gugup memperlihatkan senyuman manisnya dengan terpaksa sambil memilih duduk yang agar tidak berdekatan dengan Marchel yang sudah terlihat fokus dengan smart pintarnya. entah apa yang sedang di lakukan pria itu hingga mengabaikan tamunya yang sudah terlihat gelisah.
"maaf tuan apa kita bisa mulai sekarang..?? " tanya Ara mencoba meminimalisir aura mencekam diruangan itu.
"memulai apa..??" Marchell balik bertanya seperti orang polos.
"yaaa memulai itu tuan renca..."
"maaf nona aku tidak suka berhubungan sebelum menikah" sabung Marchell lagi yang membuat bola mata langsung terbuka lebar.
"apa maksud pria ini dia sedang mengujiku atau memang dia pria mesum" batin Ara menatap tak percaya pada marchell yang juga tengah menatapnya dengan menyunggingkan bibirnya.
"jangan terlalu serius aku hanya becanda nona haha" kekeh Marchell yang membuat Ara menghembuskan nafasnya kesal.
"tuan kenzo" tanpa sadar Ara berkata bahkan sampai berdiri karna terkejut sedangkan Marchell hanya tersenyum. karna memang ini rencana Marchel mengundang Kenzo yang tak lain adalah sahabat karibnya saat kuliah di oxford.
"selamat siang tuan kenzo senang bertemu denganmu" sapa Marchel tersenyum hangat menyambut tamunya yang sudah menampakkan taringnya. sedangkan Ara sudah kembali duduk seperti semula namum jangan tanya soal tubuh dan wajah Ara yang sudah memucat seakan jantung dan sarafnya seketika berhenti beroprasi melihat tatapan maut dari kenzo yang memilih duduk di kursi panjang sebelah Marchel dan itu sangat pas berada di depan Ara.
"ada apa kau memintaku datang..??" suara dingin kenzo memecahkan keheningan membuat tubuh Ara semakin tegang berada di tengah tengah pria berwajah dingin itu. ohhh tidak semuanya karna hanya satu orang yang tengah terkekeh di ruangan itu yang tak lain adalah Marchel.
"satay Bro apa kau tidak merindukan temanmu ini" sahut Marchell terkekeh sudah faham dengan sifat cuek Kenzo yang selalu nampak jika suasana hatinya sedang tidak baik.
__ADS_1
"jangan menguji kesabaranku Marshalll.!!" kata Kenzo geram memanggil nama marchel dengan sebutan Marshal seperti dulu saat mereka kuliah.
"ohhh sayang kenapa kau berteriak seperti itu apa kau sudah tidak mencintaiku " suara Marchell tiba tiba menjadi lemah lembut layaknya wanita yang sedang merajuk pada kekasihnya. membuat Ara kembali melebarkan kedua bola matanya mendengar perkataan Marchel yang langsung berubah 99%
sedangkan Haris asisten pribadi Marchel yang ikut berada di ruangan itu hanya diam dengan wajahnya yang tetap datar.
karna bagi haris percakap itu sudah biasa di dengarnya dari kedua sahabat itu.
"cihhhh menjijikkan" desis Kenzo kesal
"dengan apa yang sudah kita lakukan bersama dan sekarang kau bilang aku menjijikkan kau tega sekali ken"
"Marchell..!!!!" teriak kenzo dengan wajah merah padamnya membuat Marchell tertawa terbahak bahak sudah lama sekali kedua sahabat ini tidak bertemu.
Marchell selalu tertawa terbahak bahak jika mengingat bagaimana masa masa kuliahnya dulu.
dimana Marchell yang memiliki wajah tampan. menjadi pria idaman yang selalu di kejar kejar para gadis hingga akhirnya bertemu dengan Kenzo yang juga saat itu tengah di kejar oleh bebera gadis hingga membuat keduanya terpaksa mengurung diri di dalam toilet. dari situlah Marchell dan kenzo berkenalah hingga merencanakan ide gila yang membuat para wanita yang selalu mengoda kedua berubah ilfil melihat Marchell dan Kenzo yang selalu berlagak romantis layaknya sepasang kekasih bahkan Marchell pernah beberapa kali mencium pipi kenzo di depan umum agar semua wanita percaya bahwa mereka berdua GAY. alhasil semua orang percaya dan tidak ada wanita yang mau berdekatan dengan mereka hingga sekarang .
"sungguh aku merindukan masa masa itu kenzo. apa kau tidak ingat bagaimana wajah para gadis saat kita bilang kita Gay hahaha itu sangat lucu ken" tawa Marcell pecar memenuhi seluruh ruang hingga melupakan keberadaan Ara yang sudah begiding ngeri membayangkan hubungan Kenzo dan Marchell.
"kiamat sudah sangat dekat. yaa Allah lindungi hamba dari segala jenis godaan dunia yang kejam ini" batin Ara meratapi nasibnya sedangkan tubuhnya sudah sedari tadi kaku.
__ADS_1
"nona apa kau baik baik saja " suara Marcell kembali terdengar datar menyadari wajah Ara yang semakin pucat.
"yaaaa yaaaa sa... sa... saya ti .. ti....tidak itu" suara Ara glagapan fikiran dan bibirnya tidak searah membuat Kenzo Marcell dan Haris saling bertatapan satu sama lain dan tertawa bersama sama mengelegar di seluruh ruang . untung ruang itu kedap suara jika tidak mungkin tawa mereka terdengar hingga ke lantai bawah.