"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
ayah kandung


__ADS_3

Billy terdiam dengan tatapan tajamnya menembus jendela kaca melihat dengan jeli beberapa orang yang tengah berbincang seriuz di dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti gudang bekas yang tak terawat.


"tetap awasi mereka pastikan tidak ada yang terlewatkan" ucapnya datar pada kedua orang pengawal handal suruhannya.


"baik tuan "


"bagus" sahut Billy membalikkan badannya dan berjalan memasuki mobil sport mewahnya dan melaju kencang membelah kota yang terlihat padat oleh kendaraan yang berlalu lalang.


perlahan Billy membawa laju mobilnya memasuki rumah sakit utama Alberto menemui Kenzo yang sudah menunggunya sejak tadi.


"permisi tuan" ucapnya datar dengan wajah dinginnya membuat Aditia dan Kenzo menoleh bersamaan


"dari mana saja kau Billy.!!" teriak kenzo geram memperlihatkan wajah arogannya yang membuat Billy menatap kenzo kesal.


"maaf tuan" sahut Billy malas menjawab pertanyaan kenzo yang hanya akan memperumit keadaan.


"cepag cari tau apa yang terjadi pada Ara di masa lalunya..??"


Billy mengerutkan kening "apa maksudnya bukankah tuan muda sudah tau setiap detail masa lalu Ara" ucap Billy yang hanya mampu di ucapnya dalam hati.


"apa kau baik baik saja Bill.?" celetuk Aditia yang merasa heran melihat enxpresi wajah Billy.


"yaa aku baik" sahut Billy datar kembali menatap kenzo yang terlihat lelah." maaf tuan masa lalu yang mana yang tuan maksud bukankah tuan sudah mengetahui semua detail masa lalu Ara" ujar Billy datar yang membuat kenzo memijit keningnya merasa hilang akal melihat kondisi Ara yang terlihat memprihatinkan.


"tuan muda sebaiknya kau temani pasien ini. biar aku dan Billy yang mengurus semuanya" ujar Aditia pelan yang merasa kasihan melihat wajah lelah kenzo tak menampakkan aura arogannya sedikitpun.


"astagaaa tuan muda.. kenapa kau terlihat lemah seperti ini hanya karna seorang gadis yang baru singgah di hidupnya" bisik Billy dalam hati sambil menyunggingkan senyumnya melihat kenzo duduk di samping Ara menampakkan wajah lelahnya.


....

__ADS_1


sedangkan di aparteman Umi Ara terlihat kebingungan mencari cucu kecil yang tidak terlihat di seluruh aparteman.


"Willy Willy..." teriak umi Ara memanggil nama Willy yang sedari tadi hilang tanpa jejak membuat kedua pengawal yang sedari tadi berjaga di depan aparteman terkejut.


"apa bapak melihat Willy."


kedua pengawal itu saling bertatapan bingung


"apa ibu sudah mencari di dalam"


"sudah pak tapi Willy tidak ada" ujar Umi Ara khawatir fikirannya sudah di penuhi dengan hal hal buruk.


"biar aku lihat di bagian pengawasan CCTV. kau coba cari di sekitar sini" ujar salah seorang pangawal yang langsung berlari meninggalkan Umi Ara dan rekannya.


" ibu jangan khawatir saya akan mencari di sekitar sini dulu bu"


Umi Ara menganggukkan kepalanya pelan membuat seorang pengawal itu langsung berjalan menyusuri aparteman.


Tingggg


suara pintu Lift berbunyi membuat Umi ara segera berjalan menyusuri koridor aparteman yang tiba tiba langkahnya terhenti dengan kedua bola mata terbuka lebar melihat Willy yang tengah asik berbincang ceria dengan seorang pria yang sangan di kenalnya.


"Rendi.!!" ucap umi Ara pelan menatap setiap inci tubuh Rendi yang tidak berubah sedikitpun. airmatanya seketika tumpah melihat wajah Willy yang tetlihat sangat bahagia berbicara dengan Rendi dengan sebuah cup Ice cream starwberry kesukaannya.


"apa yang harus aku lakukan sekarang ya Allah..?" bisik umi Ara dalam hati menyembunyikan tubuhnya di balik tembok.


"maaf bu. bukankah itu Willy" ujar seorang pengawal yang tiba tiba membuat umi Ara terkejut langsung menghapus airmatanya.


"ahhh iya anda benar. tolong bawalah dia kembali ke aparteman pak saya harus kembali terlebih dahulu "

__ADS_1


"baik bu" sahut pengawal itu sambil berjalan tegap menghampiri Willy yang sedang duduk di pangkuan Rendi.


"permisi tuan"


"ahhh yaaa ada apa pak.?" sahut Rendi ramah menampakkan senyumnya yang lebar membuat perasaan umi Ara yang menatap dari kejauhan merasa bersalah memisahkan Willy dan ayah kandungnya sendiri.


"maaf tuan saya harus membawa tuan muda kami kembali "


"ohhh astagaa maafkan saya pak saya tidak bermaksud apa apa"


"anda tidak perlu merasa bersalah tuan saya sudah melihat semuanya dari rekaman CCTV di sini"


"syukurlah kalok begitu pak" sahut Rendi ramah "heyy Adik kecil sekarang kau ikutlah paman ini oke"


"tapi paman Willy masih ingin bermain dengan paman."


Rendi tersenyum menatap wajah Willy yang terlihat sangat familiar di otaknya. rasa nyaman dan bahagia menjadi satu saat melihat tubuh mungil Willy yang terlihat sangat mengemaskan di matanya.


"lain kali kita bisa bertemu lagi adik kecil"


"benarkah..?" celetuk Willy menampakkan wajah girangnya.


"tentu saja . apa kau tinggal di sini..?"


"yaaa aku tinggal di sini paman. apa paman juga tinggal di sini..?"


"iya tentu saja. kita akan sering berjumpa kalau begitu"


"asikkk aku akan mencari paman lagi besok yaa"

__ADS_1


Rendi tersenyum lebar melambaikan tangannya pelan menatap tubuh mungil Willy yang sudah berlalu di dalam gendongan pria kekar yang membawa pergi.


__ADS_2