"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
menginginkannya


__ADS_3

di gedung aparteman yang berdiri sangat kokoh menjulang tinggi Willy terus berjalan dengan seorang pengawal yang setia mengikuti langkahnya.


"tuan muda kita sudah berkeliling hampir keseluruh penjuru gedung ini tuan. apa kaki kecil tuan tidak capek." ucap pengawal itu yang merasa heran melihat Willy hanya berjalan bolak balik seperti mencari sesuatu.


"aisss pak tua ini kenapa kau meremehkanku.!! atau jangan jangan kakimu itu yang sudah keropos termakan usia" sahut Willy terus berjalan kedepan menyusuri lorong aparteman membuat pengawalnya menelan salivanya mendengar celoteh Willy yang terdengar mengancam persis seperti kenzo.


"bukan itu maksud saya tuan muda. apa anda tidak tau kita sudah menyusuru hampir seluruh gedung ini."


"aiss kau ini bilang saja kalau kau sudah tidak kuat berjalan lebih lama lagi."


"bukan mak..."


"ahhhh sudahlah ayoo kita kembali ke aparteman saja" celetuk Willy memotong pembicaran si pengawal sambil terus melangkahkan kakinya.


"tapi tuan.."


"ada apa lagi sih pak. atau kau mau aku laporkan ke ayah kenzo"


"tidak tuan muda tapi liftnya ada di sebelah sana"


"aku tau.. aku hanya mau mengujimu saja"


"astaga...kecilnya saja sudah begini bagaimana besarnya nanti" gerutu si pengawal menatap punggung kecil Willy yang membawa langkahnya berbelok arah.


Tingg


suara pintu lift terbuka mempesilahkan Willy dan si pengawal yang berada di dalamnya untuk keluar.


"paman.!!!" teriak Willy pada seseorang yang baru saja keluar dari pintu aparteman yang berata tepat di samping Lift.


"Heyy adik kecil." sahut Pria itu yang tak lain adalah Randi


"aku mencarimu dari tadi paman."


"ohhhh benarkah..??? " sahut Randi menampakkan expesi terkejutnya sambil membawa Willy kedalam gendongannya.


"memangnya kau mencariku kemana??"


"kau tau aku sudah mencarimu hampir keseluruh gedung ini paman. bahkan kaki paman ini saja lelah terus mengikutiku" celetuk Willy menujuk pada si pengawal yang masih setia berdiri di belakangnya.


"benarkah. yaaa ampun maafkan adik kecilku ini paman pasti dia suka sekali membuatmu kesal"


"aiiisss kenapa kau mengatakan itu. paman tidak tau saja... aku yang selalu di buat kesal olehnya paman"


"apa kau yakin" sahut Randi terkekeh melihat bibir Willy yang terus mengoceh dengan bahasanya yang belepotan.


"pak kau pergilah aku ingin bermain dengan paman ini" celetuk Willy mengibaskan tangannya menyuruh si pengawal pergi


"tapi tuan..."


"tidak apa apa pak .. saya akan menjaganya bapak tidak perlu khawatir."


"tapi ..."

__ADS_1


"aiiss tapi tapi...!! cepat pergi paman atau aku akan melaporkanmu pada ayah Kenzo.!!"


"baiklah tuan muda saya akan kembali ke aparteman"


"hahahahaha kau lihat paman pria itu selalu saja seperti itu.. sepertinya dia sangat takut pada ayah kenzo..?" ujar Willy terkekeh sangat keras melihat si pengawal berjalan menuju ke arah apartemanya


"kenzoo..?!! apa mungkin anak ini putra seorang kenzo smith. ahhh mustahil bagaimana kenzo yang kejam itu membiarkan putranys berkeliaran di gedung ini.... bukankah dia pengusaha muda yang masih lajang" bisik Rendi dalam hati sambil membawa tubuh kecil Willy yang berada di dalam gendongannya ke dalam aparteman miliknya.


....


di Rumah sakit utama Alberto Billy dan Aditia saling bertatapan heran melihat kenzo dan Tiara yang tengah terlelap dengan posisi saling berpelukan layaknya sepasang kekasih yang tak rela berjauhan.


"apa ini nyata..??" ucap Aditia datar yang langsung mendapat tamparan pelan dari Billy


plakkkk


"kenapa kau memukulku.?"


"agar kau sadar bahwa ini nyata." sahut Billy ketus memilih duduk di sofa empuk yang berada di pojok ruangan.


"Ckkk kau ini menyebalkan sekali... aku akan menyimpan momen indah ini" ucap Aditia membuat Billy menggelengkan kepalanyan pelan melihat Aditia yang tengah memotret kenzo dan Tiara dengan kamera ponselnya.


" kau lihat tuan mudamu ini hahaha . dia seperti bocah yang sedang memeluk boneka kesayangannya hahaha" celetuk Aditia lagi sambil memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Billy yang tak menjawabnya sama sekali.


"heyy kenapa kau melamun seperti itu. apa kau sudah lupa tujuan kita kesini untuk apa ?"


"huhhhf kau ini cerewet sekali" gerutu Billy yang sudah kesal mendengar ocehan Aditia.


"Ckkkk aku hanya mengingatkanmu. aku tidak ingin kau akan menjadi sajian makan malam nyonya besar. kau tau sendiri bagaimana jika nyonya itu sudah berbicara. astaga... bisa panas gendang telingaku ini"


"heyyy kenapa kau malah memejamkan mata"


"diamlah.!!!" teriak Billy kesal membuat Aditia langsung terdiam menatap wajah Billy yang terlihat dingin menyeramkan


"apa kau tidak lihat tuan muda sedang tidur sangat nyenyak seperti itu.!!! apa kau mau tuan muda yang akan menyantapku saat ini juga.!!!astagaaa kau ini benar benar bodoh"


"bodoh lagi...!!! apa iya aku memang bodoh..?? astaga kenapa aku tidak berfikir sejauh itu" gerutu Aditia dalam hati baru mengerti jalan fikiran Billy yang sudah bisa di pastikan amarah kenzo akan langsung meninggi jika merasa terganggu.


"Tuan ....tuan muda.."


suara pelan Ara yang sangat pelan namun masih terdengar sangat jelas di telinga Billy dan Aditia yang langsung menoleh menatap Ara yang sudah menepuk nepuk pipi kenzo.


"tuan muda bangunlah "ucap Ara lagi berusaha memindah tangan kekar Kenzo yang terasa berat menindihi perut kecilnya.


"diamlah sebentar lagi" sahut kenzo mengeratkan pelukannya dengan mata yang masih terpejam.


"tapi tuan.."


"diamlah atau aku tidak akan melepaskannya hingga besok pagi"


"tapi tuan..."


Cuppp

__ADS_1


Billy dan Aditia membelalakkan kedua bola matanya lebar lebar melihat adegan panas di hadapannya yang tertayang secara langsung di hadapannya.


membuat wajah Ara langsung merah merona merasa sangat malu dengan perlakuan kenzo yang tiba tiba.


"dasar mesum.!!!!" umpat Ara yang langsung mendorong tubuh kenzo hingga terjatuh dari tempat tidurnya yang sempit.


"aagghhh kenapa kau mendorongku sangat keras. aduhhh punggungu sakit sekali" ujar kenzo memegangi pungungnya yang terbentur lantai sangat keras.


"biarin itu balasan dari ciuman yang sudah kau curi tuan"


"ciihhh jangan sok jual mahal nona... bahkan kau juga menikmatinya kan..?"


"menikmatinya katamu..!!! astagaa sepertinya kau perlu memeriksakan diri tuan "


"ohhh benarkah..?" sahut Kenzo yang langsung berdiri kembali menaiki tempat Tidur Ara.


"aku ingin memeriksakannya padamu Ara tapi tunggulah sampai kau benar benar pulih oke" ucap kenzo lagi dengan wajahnya yang terus men gikis jarak demi jarak di antara wajahnya dan wajah Ara.


" apa yang akan dilakukan tuan muda ini..?? apa dia tidak sadar jika ada orang lain di ruangan ini..?? baiklah aku akan mengikuti permainanmu tuan muda" bisik Ara dalam hati sambil menyunggingkan senyumnya yang sangat manis .


"apa anda menginginkannya tuan muda..?" bisik Ara di dekat telinga Kenzo dengan sangat pelan nyaris tak terdengar membuat birahi kejantanan kenzo seketika menegang merasakan hembusan nafas Ara yang terasa hangat menerpa daun telinga kenzo


"apa boleh.??" ucap kenzo singkat dengan suaranya yang terdengar serak sangat pelan menatap wajah Ara yang terus tersenyum menggoda sambil mengerjapkan matanya memberi isyarat boleh pada kenzo.


Ara tersenyum menang melihat reaksi wajah kenzo yang terlihat senang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ara .


"apa tuan muda tidak malu melakukannya di depan orang orang itu" ucap Tiara pelan menatap wajah kenzo yang sudah berjarak lima senti dari wajahnya yang membuat kenzo langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Ara dengan ekor matanya.


"kalian .....!!!sejak kapan kalian ada sisini..?!!"


Billy dan Aditia tersadar dari fikirannya masing masing .saling bertatapan seperti pria bodoh yang kehilangan akan melihat kenzo yang sudah berdiri menatapnya dengan tatapan membunuh.


"apa kalian sudah tuli..?!" ucap kenzo lagi


"kak Billy wajahmu lucu sekali.hahahaha..??" ucap Ara tertawa terbahak bahak melihat wajah ketiga pria di hadapannya.


"Diamlah.!!" ucap kenzo keras membuat tawa Ara semakin keras melihat wajah kenzo yang terlihat sangat marah.


"tuan muda apa kau tidak ingin melakukannya hahaha"


"jangan salahkan aku jika aku benar benar melakukannya sekarang nona. apa kau fikir aku akan takut melakukannya di depan kedua orang itu "


Ara terdiam menelan salifanya menatap wajah kenzo yang sudah berada di depannya dengan kedua bola matanya yang tengah menatapnya tajam.


"tuan muda nyonya besar berpesan agar anda segera menemuinya di mansion utama tuan" ucap Billy datar mencoba menetralisir keadaan di ruangan itu.


"huuuuhhhf" kenzo menghembuskan nafasnya kasar menjauhkan tubuhnya dari Ara dan meraih jas hitamnya dari sandaran kursi.


"aku akan pergi kau diamlah di sini jangan fikirkan apapun. jika butuh sesuatu katakan saja pada Billy" ucap kenzo datar sambil mencium puncuk kepala Ara dengan lembut.


"Bill kau tetaplah di sini jangan biarkan siapapun menyentuh wanitaku.!!!"


"baik tuan muda" sahut Billy datar membuat kenzo langsung membawa langkah kakinya keluar dari ruangan itu membuat ketiga orang yang berada di dalamnya menghembuskan nafasnya lega. seakan akan merasa bebas dari genggaman singa yang sudah siap menelannya hidup hidup.

__ADS_1


"


__ADS_2