
angin malam berhembus kencang membuat tubuh Ara semakin menggigil dalam diam. bibirnya keluh tak mampu bergerak sedikitpun. kedua bolamatanya menatap nanar pada sosok pria yang juga menatapnya.
"apa belum puas menatapku..?"
"malam ini kau hanyalah pelayan untuk pelangganmu Ara. jangan fikirkan apupun fokus fokus kamu pasti bisa Ara" kata Ara pelan menghirup udara dalam dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
"aku.. aku.. maksud saya silahkan duduk tuan semonga pelayanan kami berkenan di hati tuan " kata Ara menarik kursi lalu membungkukkan badannya mempersilahkan tamunya . mengendalikan dirinya sedatar mungkin membuat pria yang dihadapannya tersenyum devil melihat kegugupan Ara yang sangat mencolok walau sudah di sembunyikan dengan baik.
Ara kembali mendongakkan kepalanya merasakan pergerakan pria di hadapannya semakin mendekat membuat jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat.
"jangan.. jangan mendekat tolong jangan mendekat . gak lucukan jika wanitamu tiba tiba datang dan menyerangku" kata Ara berjalan mundur mejaga jarak aman. membuat sang pria itu menghentikan langkahnya dengan kedua alisnya yang terangkat mencerna kata kata Ara dengan seksama.
plakkkk
"apa kau fikir aku datang kesini bersama wanita lain.??" suara dingin itu keluar dari mulut pria yang selalu ada dalam fikiran Ara. ada rasa bahagai dan sedih di hati Ara bertemu pria ini yang tak lain adalah kenzo.
"bukankah kau menyewa tempat ini untuk melamar kekasihmu..?" sahut Ara ketus sambil mengusap dahinya yang mendapat jentikan secara tiba tiba.
"aku menyewa tempat ini..??? bukankah kau yang memintaku datang kemari nona..?"
"apa...???" pekik Ara terkejut mendapat jawaban yang berbeda dari kenzo " jangan memutar balikkan fakta tuan aku tidak sudi melakukan itu hanya untuk pria macam anda tuan"
__ADS_1
"ohhhh yaaaa..???? lalu bagaimana dengan smua ini nona..?"
"seseorang memesan tempat ini untuk melamar kekasihnya. aku kira itu kau ternyata bukan. lagian mana ada pria arogan sepertimu bisa berbuat hal seromantis ini" kata Ara mengalihkan pandangannya dari kenzo yang sudah berhasil memancing emosinya.
"apa kau ingin aku berbuat hal romantis untukmu..?"
Ara menelan salivanya susah payah menatap manik mata Kenzo yang sudah berada sangat dekat dan semakin dekat dengan wajahnya.
"heyyy bukan itu maksudku" teriak Ara semakin kesal menatap wajah Kenzo dengan tajam
"lalu apa maksudmu memintaku datang kesini..? atau kau yang ingin melamarku begitu..??"
"sudahlah jangan mengangguku cepet menyingkir aku tidak mau hidupku hancur hanya karna satu orang sepertimu." kata Ara ketus menatap sinis ke arah kenzo yang semakin melangkah maju mengikis jarak di antara keduanya.
"aku sangat merindukanmu Ara" bisik kenzo lagi. membuat Ara menyunggingkan senyum devilnya.
"terima kasih sudah mau merindukanku tuan. tapi maaf saya sudah cukup muak dengan kata kata manis anda" sahut Ara dingin melepas tangan kekar kenzo yang melingkari perutnya "aku tidak suka menjadi orang ketiga " sambung Ara membuat kenzo menyadari apa yang membuat Ara enggan berdekatan dengan dirinya.
"apa kau cemburu..?" kata itu terucap begitu saja dari bibir kenzo membuat Ara menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya kembali menatap manik mata milik kenzo.
" maaf tuan saya tidak berhak menyimpan kata itu dalam diri saya. bukankah kita hanyalah sebatas mantan atasan dan bawahan "
__ADS_1
"bagaimana dengan semua yang pernah kita lalui..??"
"anggap saja itu hanya mimpi yang akan hilang saat kita terbangun " sambung Ara tersenyum miris berbicara seolah dirinya baik baik saja.
"apa kau tidak mencintaiku..?" suara dingin kenzo kembali terdengar membuat Ara memejamkan matanya tak sanggup melawan hatinya yang sangat berharap bisa membagi cinta dengan pria dingin di dekapanya kini.
"apa kau mencintaiku..?" tanya kenzo lagi berharap mendapat jawaban iya atau hanya anggukan kepala dari wanita yang sudah membelakanginya itu.
"apa pantas aku mencintai orang yang sudah jelas jelas memilih wanita lain..?? aku rasa terlalu egois masih berharap hidup bersama hujan yang akan segera berlalu dan meresap kedalam tanah" jawab Ara datar dengan airmatanya yang berhasil menorobos pertahanan kelopak matanya.
"tidak ada dan tidak akan ada wanita lain di antara kita. aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu "
"jangan terlalu manis menyanjungku tuan. aku juga wanita yang memiliki perasaan" ungkap Ara menahan isak tanggisnya tak ingin kenzo melihat betapa rapuhnya wanita ini dengan cinta.
"aku tidak menyanjungmu Ara . aku tak pernah berbicara dusta aku benar benar mencintaimu . aku ingin menua bersamamu merawat Willy hingga menjadi dewasa kelak " bisik kenzo yang sudah memeluk tubuh Ara dari belakang dengan sangat erat.
membuat airmata Ara semakin mengalir deras merasakan kehangatan tubuh kenzo dengan jantungnya yang terasa berdetak kencang namun Ara tetap pada pendiriannya tak ingin termakan oleh ucapan manis kenzo lagi dan lagi.
"maaf tuan saya tidak bisa" kata Ara berusaha melepas pelukan kenzo namum kekuatan tangan pria itu sangat kuat membuat Ara tetap berada dalam dekapan kenzo.
"jika hatimu benar tidak ada aku sekarang kata padaku kalau kau benar benar tidak menyukaiku dan tidak mau berada di sampingku " lirih kenzo lagi membuat Ara kembali bungkam tak sanggup melawan hatinya. rasa mau dan ingin terlalu besar namun Ara tak mau terjatuh untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"baiklah jika itu pilihanmu pergilah aku menyerah" sambung kenzo mengangkat kedua tangannya pasrah membiar Ara pergi.
walau ini sangat berat karna Ara wanita pertama yang memberi rasa dan Warna yang berbeda dalam hidupnya namun kenzo tak mau egois memaksa seseorang agar tetap berada di sisinya.