
"katakan semuanya padaku ayah.. apa Willy benar putraku..???"
Rafki hanya mampu memejamkan matanya setetes bening jatuh begitu saja dari kedua pelupuk matanya.
"maafkan aku Rendi..!!" lirih Rafki yang terdengar pilu membuat Rendi terdiam karna baru kali ini melihat ayahnya menitikan airmata.
"argggghhhh kenapa ayah setega itu..!!" teriak Rendi sambil mengeprak meja di hadapannya lalu beranjak pergi namun langkahnya kembali terhenti mendengar teriakan ayahnya.
"Arggghhhh Rendi "
Brugggghhh
Rendi yang sudah memegang handle pintu kembali berlari menghampiri ayahnya yang sudah tergeletak di lantai sambil memegangi dadanya.
"ayahhhh ayahhhh... ayahh bangunlah ayah kenapa..??"" kata Rendi panik mencoba membangunkan ayahnya
"cepat siapkan mobil " teriak Randi pada asisten pribadi ayahnya sambil terus membopong tubuh ayahnya memasuki lift
tiba di rumah sakit Randi kembali mengangkat tubuh ayahnya.
"dokter ... dokter... tolong ayah saya dok tolong.!!" teria Randi panik
"tenang tuan tenanglah kami akan melakukan yang terbaik anda tunggu di luar" kata seorang dokter itu lalu menutup pintu ruang ICU.
"sabarlah tuan " kata asisten pribadi Rafki
"terima kasih sam kau kembalilah ke kantor aku yang akan menunggu ayah si sini" suara Randi terdengar pilu.
"baiklah tuan muda saya permisi"
Randi menyandarkan kepalanya ke tembok sambil memejamkan matanya dengan fikirannya yang sudah melayang entah kemana.
__ADS_1
"Tuan "
suara seorang dokter terdengar di telinga Randi yang seketika langsung membuka lebar kedua matanya.
"bagaimana keadaan ayah saya dok..??"
"tenanglah tuan ayah anda baik baik saja tidak perlu di khawatirkan . "
"lalu kenapa dia bisa pingsan dok..?".
"dugaan sementara pasien mengalami serangan jantung di tambah keadaan tubuhnya yang sangat lemah. kemungkinan besar pasien sedang mengalami stress yang cukup berat . tapi tuan tak perlu khawatir semuanya baik baik saja tidak ada yang seriuz hanya perlu istirahat yang cukup makan dengan teratur dan yang penting jangan biarkan beliau stress.
"apa saya bisa menemuinya dok..?"
"silahkan ... kalau begitu saya permisi tuan"
Randi masuk kedalam melihat tubuh ayahnya yang terlihat sangat pucat tidak seperti tuan Rafki yang arogan dengan tatapan tajamnya yang selalu Randi hindari.
"ayahhh bangunlah ayahh cepat bangun dan katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi setelah Rendi keluar negri ayahhh.... aku pria brengsek " tangis rendi seketika pecah memegang tangan tuan Rafki yang tengah terbaring lemah.
sedangkan di mansion mewahnya terlihat nyonya Ranum tengah mondar mandir menunggu kedatangan suaminya yang tak biasanya pulang hingga petang dan tak memberinya kabar.
"mas Rafki kemana sih..?? sudah maghrib kok belom pulang..?? biasanya dia ngasih kabar kalok pulang telat" bisiknnya pelan kembali melihat kearah gerbang dan layar ponselnya yang masih tak berubar sedikitpun.
"nyonya kenapa kelihat gelisah begitu..??" tanya sani pelayanh rumah Rafki yang sudah lama bekerja di mansion itu
"inilohh bik. mas Rafki belum datang biasanya dia ngasik kabar kalok pulang telat. di telfon juga tidak di angkat"
"apa nyonya sudah menghubungi kantor tuan atau.."
"oohhh astagaa iya aku lupa bik " kata nyonya Ranum memotong pembicaraan sani dan lamgsung menelfon sekertaris Rafki
__ADS_1
"Halo sam apa tuan bersamamu..?"
.....
"apa rumah sakit..?? apa yang terjadi..?? katakan rumah sakit mana..??"
.....
"baiklah aku akan kesana sekarang"
tut tut tut
nyonya Ranum segera berlari keluar menghampiri supirnya tak menghiraukan pertanyaan bik sani yang terlihat penasan siapa yang masuk rumah.
"dimana dimana suamiku..??" kata nyonya Ranum pada asisten sam yang sudah menunggunya di depan ruang rawat tuan Rafki.
"di dalam nyonya" sahut asisten sam mempersilahkan nyonya besarnya masuk.
"Rendi apa yang terjadi..?? kenapa kau tidak segera memberitahu ibu"
"maaf bu Rendi panik. "sahut Rendi melihat wajah sang ibu yang terlihat khawatir.
"jangan khawatir ayah tidak apa apa bu . ayah hanya perlu istirahat saja"kata rendi mencoba menenangkan ibunya.
"nak ayahmu sudah semakin tua apa tak sebaiknya kamu belajar mengolah perusahaan mulai dari sekarang "
"bu....".
"ibu tau apa jawaban kamu nak. tapi apa kamu tega membiarkan ayahmu berjuang mempertahankan perusahaan sendiri"
"akan Randi fikirkan bu. kalau begitu Randi pamit dulu bu"
__ADS_1
Randi mencium punggung tangan nyonya Ranum lalu pergi menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai