
beberapa hari sudah kenzo berada di kota kecil tempat tinggal Ara yang terlihat masih sangat asri di banding ibu kota yang hanya terhias dengan gedung gedung bertingkat tinggi dan gemerlap lampu dimalah hari.
perlahan mentari kembali mengintip di balik jendela kaca. cahayanya menerobos masuk menyilaukan mata pria yang baru sadar dari tidur lelapnya.
"selamat pagi tuan muda" suara itu terdengar sangat familiar tanpa menolehpun kenzo tau siapa pria yang sudah berada di kamar hotelnya sepagi ini.
"tuan besar sudah tau kita berada disini. sepertinya dia marah besar "sambung Billy yang tak mendapat tanggapan sedikpun dari kenzo yang terus berlalu memasuki kamar mandi lalu keluar dengan handuk kimono berwarna putih.
"bersiaplah kita akan menemui wanita itu"suara dingin kenzo
"menemui atau memata matai Ara" celetuk Billy kesal karna sudah beberapa kali hendak bertemu dengan Ara namun saat tiba di tempat tujuan kenzo malah bersembunyi dan melihat dari kejauhan.
"kau mau ikut apa tidak kalau tidak biar aku saja"
"baiklah aku tidak ikut kalau begitu" sahut Billy senang tak ingin menjadi penguntit sperti hari hari sebelumnya namun seketika juga sebuah buku tebal mendarat di dahi Billy dengan keras
"kau ini kejam sekali kau tidak tau apa wajah ini aset terpenting dalam hidup ini" maki Billy kesal kembali melemparkan buku tebal itu yang langsung di tangkap oleh kenzo.
"lagian kau ini tega sekali membiarkan majikan tampanmu berjuang sendiri"
__ADS_1
"cihhhh berjuan katamu.. menguntit iyaaa"
"kali ini aku benar benar akan menemuinya. aku juga bosan berada disini harus menyamar menyembunyikan wajah tampanku yang sempurna ini"
"astagaaa sejak kapan kau lebai seperti ini yaaa sepertinya tuan besar benar kau...." Billy membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya menyadari kata katanya yang hampir keceplosan memberitahu kenzo tentang rencananya bersama tuan dan nyonya besar.
"kenapa denganku..??"
"tidak ada"
"kenapa denganku..!!!"
"kau sudah tidak waras karna Ara..!!!" jawab Billy keras meyakinkan kenzo agar tidak terus mendesaknya.
"apa kau sedang mengakui kau sudah jatuh cinta"
"tidak tidak bukan begitu maksudku.."
"ahhhhh sudahlah bos tak perlu kau mengelak lagi" Billy mengibaskan tangannya tak menerima penolakan dari kenzo
__ADS_1
"wanita itu sudah menarik perhatianku dari awal. sejak malam itu aku selalu merasa kesal melihat tingkahnya namun bibirku selalu tersenyum mengingat betapa bodohnya dia. kau tau..?? saat ada pria lain memperhatikannya aku marah. saat dia terluka aku khawatir tapi saat kita bersama kita selalu bertengkar entahlah aku juga tidak tau apakah rasa ini Cinta. yang aku rasakan hanyalah aku ingin selalu bersamanya" tutur Kenzo tersenyum simpul mengingat pertemuan pertamanya di malam itu hingga hari harinya yang terus berlalu dengan perdebatan kecil sampai besar bersama Ara.
"apa kau seriuz..??"
"kau fikir aku gak ada kerjaan berada disini hingga detik ini" sahut kenzo geram melempari Billy dengan bantal sofa yang membuat pria itu terkekeh sangat keras.
sedangkan di sebuah warung makan kuliner yang sederhana namun terlihat sangat menenangkan dengan pemandangan laut yang tersaji sangat indah dan alami .Ara terlihat sangat sibuk keluar masuk melewati pintu mengantar pesanan para pelangannya yang sudah menunggu.
senyum merekah terus tersungging di wajah cantiknya dengan sesekali melihat kearah pantai dimana putra satu satunya tengah tertawa terbahak bahak menikmati permainan pasirnya bersama Randi dan Pricilia yang memang selalu datang mengunjunginya setiap akhir pekan.
"pergilah nikmati akhir pekan ini dengan tertawa lepas bersama mereka"
"paman sejak kapan paman datang.?" sahut Ara menoleh ke asal suara Rafki yang tiba tiba berdiri di belakangnya padahal setahu Ara. tadi pagi Rafki bilang akan pergi ke warung kulinernya yang berada di daerah sebelah untuk sekedar mengecek keadaan.
"baru saja tiba"
"lalu bagaimana..??"
"semuanya beres bos tidak ada yang perlu di khawatirkan sekarang saatnya kau bermain bersama mereka"
__ADS_1
"baiklah dahhh paman tolong bantu mengantar makanan pada pelanggan yang lain yaa hahahha"
Rafki tersenyum sambil menggelangkan kepalanya pelan melihat punggung keponakannya yang sudah melepas sandal dan berlari menuju bibir pantai.