"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
pelayan cantik


__ADS_3

sinar mentari perlahan meredup berganti awan gelap. menyembunyikan warna birunya yang sangat cerah.


suasana di pinggir pantai terlihat sangat sepi tak ada satu orangpun yang melintas di sana.


beberapa kali Ara memutar tubuhnya meneliti setiap detail tubuhnya yang terbalut dres berwarna putih yang sangat cantik memeprlihatkat leher jenjangnya.


"baju ini sangat cantik sayang sekali harus berada di tubuhku yang hanya akan menjadi pelayan malam ini" gerutu Ara mengerucutkan bibir membuat seorang yang baru saja masuk keruangan itu tersenyum simpul.


"sudahlah jangan banyak mengeluh kasiankan baju sebagus ini kalok di anggurin"


"emang sultan dari mana sih kak yang nyewa tempat ini..?? bisa bisanya baju se bagus ini di berikan cuma cuma untuk aku kalok ujung ujungnya cuma di suruh jadi pelayan" dengus Ara jengkel membuat Randi tersenyum simpul harus bahagia atau sedih melihat wanita kecilnya yang kini sudah tumbuh dewasa dan menjadi wanita yang sangat cantik


"jadilah dirimu sendiri apapun yang terjadi jangan pernah menoleh hanya karna komentar orang lain. lakukan apa yang ingin kamu lakukan karna hatimu tau apa yang terbaik" tutur Randi membelai rambut Ara dengan lembut. seakan akan ada katalain di balik katakatanya malam ini.


"aiissss kenapa kak Randi jadi melo begini"


"aku bahagia melihat bibir ini tersenyum" sambung Randi mengusap bibir Ara dengan pelan rasa sayang itu masih sama seperti dulu karna mereka akan menjadi adik kakak yang baik walau pada kenyataannya mereka sudah memiliki putra. Randi maupun Ara tidak mempersalahkan itu smua "suatu saat Willy akan mengetahui semuanya dan mereka akan berusaha agar Willy memahaminya kelak" begitu fikir mereka.


"ckkk sudahlahhh jangan menambah bebanku malam ini. aku sudah cukup menderita dengan peran pelayan yang kalian berikan padaku astagaaaa mana ada pelayan secantik ini" gerutu Ara melangkah pergi keluar yang kembali di buat kesal oleh orang orang yang tiba tiba menatapnya kagum.


"apa kalian mengejekku ..!!!" ketus Ara sambil melipak kedua tangannya di depan dada

__ADS_1


"tidak tidak bukan begitu tapi kau terlihat sangat cantik malam ini" puji Rafki berdecak kagum


"yaaa kau memang yang terbaik" sahut Pricilia tak kalah heboh mengacungkan kedua jempolnya ke depan.


"yaaa yaaa aku memang yang terbaik dalam peran pelayan malam ini " jawab Ara sambil menghentak hentakkan kakinya dengan kesal


"lagian mana ada pelayan menggunakan gaun seperti ini ada ada saja " sambung Ara ketus membuat smua orang yang berada di ruangan itu terkekeh bersamaan.


"yaaaa sudah selamat menikmati peran pelayanmu nona aku harap kau memberi pelayanan terbaik oke "


"astagaaaa kenapa jantungku berdetak kencang " lirih Ara mengelus ngelus dadanya pelan menatap ketiga orang yang berada di depannya dengan tatapan mengintrogasi "kalian tidak berencana menjualku pada om om berperut besar kan..?" sambung Ara menunjuk ketiga orang itu bergantingan dengan jari telunjuknya.


"pikiranmu ini kotor sekali nona" sahut Randi tak habis pikir dengan sikap bodoh yang di miliki Ara.


"sudah sudah jangan berdebat terus. sebentar lagi jam delapan tamu kita pasti sudah ada di perjalanan. Ara ayooo aku temani ke luar" ujar pricilia menengahi perdebatak kecil di antara orang orang di depannya.


Ara hanya bisa mengerucutkan bibirnya membiarkan pricilia yang terus menuntun atau bisa di bilang sedang menyeret tangannya mendekati sebuah meja dan dua buah kursi yang saling berhadapan dengan rangkaian bunga yang membentuk hati serta germerlap lampu gold yang menambah kesan sangat romantis.



"kau tunggu tamu kita di sini oke"

__ADS_1


"kenapa harus berdiri di sini pricill bagaimana jika pria itu malah mengira aku calon wanitanya atau bagaimana si wanitanya cemburu dengan keberadaanku" dengus Ara semakin kesal karna pricilia menyuruhnya berdiri tepat di samping meja yang sudah terlihat romantis membuat dada Ara semakin sesak.


"bagaimana bisa aku melewatkan malam ini dengan tenang. sedangkan fikiranku di penuhi pria kejam itu ya Allah seandainya kenzo yang menyiapkan diner romantis seperti ini untuku." bisik Ara dalam hati membayangkan bagaimana jika seandainya malam ini dirinya dan kenzo yang akan duduk berhadapan di kursi itu.


"Ara. Ara.. apa kau baik baik saja" suara pricilia menyadarkan Ara dari lamunannya.


"ckkkk dasar pengganggu" kesal Ara mengibaskan tangannya kesal membuat Pricilia terkekeh geli.


"siap siap nona mainkan peranmu dengan baik jangan sampai bos besar yang akan kau layani ini marah. ingat bertingkahlah dengan sopan jika tidak mau berurusan dengan pria kejam ini" kata pricilia pelan terdengar seperti berbisik sambil mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah mobil mewah yang baru saja tiba tidak jauh dari tempatnya.


"jantungku tidak enak. bisakah kau menemaniku atau menggantikan aku" rengek Ara memegangi tangan pricilia


"aisss sudah tidak ada waktu lagi .aku pergi dulu aku tidak mau ikut dalam diner bos besar itu" sambung pricilia melepas tangan Ara lalu berlari menjauh meninggalkan Ara yang sudah kehilangan keberaniannya malam ini.


"yaaaa Allah kenapa tegang begini jangan jangan ini aura yang di bawa pria itu ohhhh jantuku sayang tenanglah ku mohon tenanglahhh jangan menambah bebanku malam ini" Ara terus meratapi nasibnya di dalam hati dengan kedua pelupuk matanya yang dibiarkan terpejam sangat rapat. sedangkan jari jemari sudah bertautan hingga terlihat memerah.


"khemm khemm " suara berat itu terdengar nyaring membuat Ara membuka kedua pelupuk matanya dan terperanjak kaget melih sosok pria tinggi dengan pakaian serba hitamnya sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"selamat malam tuan selamat.." suara Ara tercekat di tenggorokan saat kedua bola matanya menyadari sosok pria yang tengah berada di hadapannya itu.


jantung yang tadinya berdetak sangat cepat sekarang berubah sepi seakan enggan berirama tak sanggup memompa darahnya seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2