
setelah perdebatan panjang yang entah berujung kemana. kini Ara harus kembali menghadapi mommy kenzo yang tiba tiba datang dan mengajaknya shoping.
"nyonya ini lagi bersandiwara atau sedang akting menjadi mertua yang baik " batin Ara yang merasa janggal dengan perlakuan nyonya besarnya yang tiba tiba menjadi sangat baik padahal kapan hari terakhir mereka bertemu nyonya besarnya itu menatapnya seperti nenek lampir. .
"tuan sepertinya nyonya besar sedang sakit " bisik Ara sangat pelan di telinga kenzo
"maksudmu mommyku penyakitan begitu..??"jawab kenzo sangat keras membuat mommynya yang sudah lebih dulu berjalan keluar kamar hotel kembali menoleh menatap Ara dengan tajam
"tidak tidak bukan begitu maksudku itu.."
"sudahlah cepat pergi sebelum singa betina itu mengamuk" ketus kenzo mendorong tubuh ramping Ara agar segera keluar mengikuti langkah nyonya besar dengan langkah pelan bahkan suara pijakan sandal bertingkatnyapun tak terdengar menyentuh lantai.
perlahan mobil mewah itu berjalanan meninggalkan area hotel dengan supir pribadi kluarga smith yang membawa kemudi sedangkan Ara duduk bersebelahan dengan mommy kenzo di kursi belakang.
suasana hening terjadi tak ada satu katapun yang keluar dari para mahluk hidup yang berada didalamnya membuat perasaan Ara semakin kacau melirik wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik di sebelahnya dengan penuh tanda tanya.
walau nyonya smith sangat baik bahkah pernah dekat dengannya namun Ara masih khawatir mengingat nyonya besar itu tidak menyukainya hanya karna setatusnya yang sudah memiliki anak di luar nikah.
"silahkan nona"
suara supir yang tadi masih fokus mengemudi mobil berada di depannya. kini ternyata sudah membuka pintu mobil untuk Ara yang tampa sadar sudah melamun entah kemana.
"ahhh yaa terima kasih pak" jawab Ara tersenyum kikuk sambil membawa kakinya keluar menyusul nyonya besar yang sudah lebih dulu melangkah memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang terbesar di kota itu.
"kenapa kau lamban sekali" kata nyonya smith tiba tiba berbalik dan menggandeng tangan Ara agar berjalan di sampingnya bukan di belakangnya seperti pengawal.
sedangkan Ara yang tiba tiba mendapat rangkulan tangan itu jantungnya langsung berdetak lebih kencang bahkan beberapa kali Ara menepuk pipinya sendiri memastikan itu bukalah sebuah mimpi .
"apa kau mau membeli sesuatu..?" suara nyonya smith kembali menggema menyadarkan Ara dari fikirannya yang sedari tadi bertolak belakang dengan bibirnya yang terus bungkam.
"emm tidak nyonya " sahut Ara sesopan mungkin dengan senyumnya yang sudah di poles dengan pemanis buatan.
__ADS_1
"aiiss jangan pangil nyonya panggil saja mommy. bagaimana kalau kita SPA dulu . kau harus terlihat lebih fress agar kenzo bersemangat menciptakan penerus keluarga smith " kata nyonya kenzo penuh semangat membuat Ara sedikit melebarkab bola matanya.
merasa aneh dengan perkataan nyonya smith yang terdengar sedikit absur.
"sepertinya dunia sedang berpihak padaku..? tapi tidak harus mendadak seperti ini kan.." gerutu Ara dalam hati membiarkan tangannya yang terus di tarik oleh nyonya besar hingga memasuki sebuah salon kecantikan yang terlihat sangat elegan dengan penataan ruangan yang sangat apik dan rapi.
"selamat datang nyonya nyonya apa yang bisa kami bantu..?" sapa seorang waria cantik itu dengan suara beratnya yang sok kecakeppan.
dengan gaya tangannya yang sok lemah gemulai.
"tutup toko ini pastika hanya aku dan menantuku yang menikmati prawatan terbaik di tempat ini" suara lantang nyonya smith bergema terdengar sangat arogan membuat smua orang yang berada di ruangan itu menatapnya dengan tatapan intimidasi begitupun dengan Ara dan waria di hadapannya yang juga tak kalah terkejut .
"haduhhh nyonya gak usah parno gitu ahhhh apa perku aku siapkan kamar khusus buat situ perawatan setiap hari..? ntar malah situ yang kabur"
"tulis berapun nominal yang kamu mau"ketus nyonya smith menyodorkan sebuah cek membuat sang waria itu semakin melebarkan bola matanya membaca tulisan cek itu bertuliskan alberto smith yang mana nama alberto selalu menjadi pusat perbincangan di kalangan pembisnis.
"sifat arogan keluarga smith mengalir kental sudah turun menurun mungkin " kini batin Ara yang ikut berkomentar menyaksikan tangan gemulai waria cantik itu mencoret sebuah cek yang di sodorkan oleh nyonya smith dengan angka yang sangat fantastis .
sedangkan di tempat lain kenzo teihat sangat sibuk terus memerintah anak buahnya agar segera menyelesaikan pekerjaan .
bahkan Billy sampai kesal oleh kenzo yang hari ini mendadak banyak bicara tak seperti biasanya.
ditambah dengan ocehan Willy yang juga ikut mengomentari setiap detai penataan dekorasi membuat pekerjaan itu semakin memakan waktu.
"cepat cepat selesaikan pekerjaan ini hari sudah mulai sore"
"papa Billy itu tidak bagus Willy tidak suka bunga. coba kasih balon aja yang banyak pasti lebih meriah"
mungkin begitulah kata kata kenzo dan Willy yang terus terucap membuat Billy ingin menyumpal kedua orang yang terus mengganggu keseriusannya.
"Willy sayang apa kau tidak ingin menemui bundamu..? sepertinya dia sangat bahagia bermain di sana hingga melupakan putra se ganteng Willy" ujar Billy mencoba memprofokasi anak kecil itu agar cepat menjauh.
__ADS_1
"apa papa Billy seriuz..?" tanya Willy membuat Billy menganggukkan kepalanya semangat
"kalau begitu ayo kita menyusul bunda " bibir kecil Willy merekah meminta Billy membawanya untuk bertemu bundanya namun pria itu langsung menggelengkan pelanya pelan lalu berbisik di telinga kecil Willy.
"Willy bareng ayah kenzo yaaa soalnya hari ini papa sedang sibuk dan gak pegang uang . disana banyak mainan bagus nantik Willy bisa minta ke ayah kenzo " bisik Billy di telinga kecil Willy yang langsung mengangguk penuh semangat dengan langkah kakinya yang langsung berlari menghampiri kenzo yang sedang sibuk meneliti setiap detail dekorasi mewah yang sudah terlihat memenuhi permukaan pasir putih di pinggir pantai .
"ayan ken ayo kita pergi menemui bunda"
"tapi kita harus memastikan persiap acara ini sayang"
"tapi Willy ingin bertemu bunda"
"sudah pergi sana biar aku yang memastikan semuanya berjalan dengan baik"kali ini suara Billy yang terdengar membuat senyum Willy kembali merekah cerah berbeda dengan Kenzo yang terlihat melebarkan bola matanya.
"iya ayah biar papa Billy saja yang disini papa Billykan pandai "
"what..?? jadi maksudmu aku bodoh begitu..?"
"bukan begitu Ayah tapi papa Billy.."
"ahhh sudah sudah jangan berdebat sana cepat pergi. biarkan diriku memastikan pekerjaan ini baik baik saja tanpa perusuh seperti kalian" celetuk Billy memotong pembicaraan willy.
"perusuh katamu..??" suara dingin kenzo terdengar menyeramkan membuat Billy menghela nafasnya panjang.
"sudahlah bos bukan waktunya berdebat . sekarang kau habiskan sisa hari ini bersama Willy dan Ara.
pastikan Ara akan menerima semua ini dengan senang hati nantinya. jangan sampai di titik acara Ara malah lari dan mempermalukanmu" kata Billy pelan.
"baiklah aku pergi dan kau pastikan semuanya sudah siap sebelum matahari terbenam"
"siap tuan muda" sahut Billy lantang pada Kenzo yang sudah berlalu melangkah pergi menggandeng tangan kecil willy.
__ADS_1