"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
mati penasaran


__ADS_3

"apa yang terjadi pada putriku tuan " ucap umi Ara dengan suara parau menghampiri putrinya yang sedang terbaring lemah. membuat Billy menghembuskan nafasnya berat melihat wajah teduh umi Ara dialiri air mata yang keluar dari pelupuk matanya terlihat redup .


sedangkan Aditia kembali terkejut melihat umi Ara yang melintas dihadapannya dengan kerudung panjang menutupi tubuhnya.


"umi tidak perlu khawatir. Ara akan baik baik saja umi . insyaallah sebentar lagi dia akan segera sadar" ucap Billy pelan menghampiri umi Ara.


"terima kasih tuan Billy. anda sudah banyak membantu kami. semoga tuhan yang membalas kebaikan anda tuan"


Billy tersenyum mendengar tutur kata umi Ara yang lembut membuat hatinya sedikit bergetar mengikat suara yang terdengar persis seperti suara mendiang ibunya yang lemah lembut.


"jangan merasa sungkan seperti ini umi. saya sudah menganggap kalian seperty keluarga saya sendiri" ucap Billy sepelan mungkin menunjukkan wajah ramahnya yang jarang terlihat oleh siapapun membuat Aditia merasa heran tentang hubungan yang sebenarnya di antara orang orang baru yang berada di hadapannya.


"aku harus mencari tau.. sebelum aku mati penasaran" bisik Aditia dalam hati sambil bangkit dari duduk tegangnya sedari tadi.


"khemmm khemmm"


Billy dan Umi Ara menoleh secara bersamaan kearah suara yang tiba tiba terdengar nyaring di belakngnya.


"Billy ikut aku" ucap Aditia sedatar mungkin membuat Billy mengerutkan kening melihat expresi wajah Aditia yang terlihat sangat seriuz.


"apa aku harus menarikmu tuan Billy" sambung Aditia geram melihat Billy yang masih berdiri di tempatnya.


"huhhhf baiklah." sahut Billy menghembuskan nafasnya kasar.


" umi aku keluar sebentar jika terjadi sesuatu pencet tombol ini . aku akan segera datang kesini lagi" ucap Billy sebelum keluar yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh umi Ara.


"Ada apa.?" tanya Billy to the poin pada Aditia yang sedang berjalan kekanan dan kekiri seperti orang linglung.


"ceritakan semuanya padaku" sahut Aditia menatap Billy dengan tajam


"apa yang harus aku ceritakan.?" jawa Billy menahan tawa melihat wajah tegang Aditia.


"wanita itu"


"kenapa wanita itu.?"


"aiisss kau ini. maksudku siapa sebenarnya wanita yang tertembak itu. aku kira tuan muda memiliki hubungan sepecial dengannya tapi barusan aku lihat malah kau yang sepeti keluarnya." ujar Aditia pelan sambil duduk di kursi yang berada tepat dihadapan Billy.


"ohhh begitu " sahut Billy singkat yang membuat Aditia melongo

__ADS_1


"begitu bagaimana.?"


"yaaa begitu.."


"astagaaaa kenapa kau berubah secepat ini." gerutu Aditia pelan mengacak acak rambutnya kesal melihat wajah Billy yang terlihat acuh.


"apa kau ingin tau siapa gadis itu.?"


dengan cepat Aditia menganggukkan kepala memasang wajahnya yang langsung berbinar bahagia.


"nantik akan aku katakan padamu sekarang kau hadapi dulu tuan mudamu itu." sahut Billy pelan menahan tawanya melihat expresi Aditia yang langsung menciut melihat ke arah tatapan Billy.


"dasar pengganggu.." gerutu Aditia kesal menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang sedang didudukinya.sedangkan Billy sudah melangkah menghampiri kenzo yang baru saja keluar dari pintu lif.


"bagaimana Bill?"


"semuanya aman tuan muda Ara sudah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi dia akan sadar."


"umi dan Willy"


"umi sedang menemani Ara di dalam sedangkan Willy baru saja tertidur disofa tuan"


"baiklah kau urus sisanya. Biar aku dan dokter bodoh ini yang akan tetap disini. "


"sekali kau memukulku. aku akan menyuntikkan racun kedalam tubuh wanita itu yang akan menyebabkan fikirannya hanya mengingat wajahku saja"


kenzo menahan kepalan tangannya yang sudah terangkat tinggi siap menghampiri pipi mulus Aditia yang sedang tersenyum licik.


"kau mengancamku"


"aku tidak berani mengancammu tuan muda. aku hanya ingin menunjukkan sebodoh apa diriku ini " jawabnya datar menahan tawa melihat reaksi kenzo yang lebih marah dari perkiraannya.


sedangkan Billy memilih pergi meninggalkan perdebatan dua sahabatnya yang selalu saja beradu mulut saat bertemu.


"Aditia.!!!" ucap kenzo geram kenzo mengepalkan tangannya menatap Aditia dengan tajam.


"iya tuan muda"


"kau benar benar bodoh Aditia"

__ADS_1


"aku tidak bodoh tuan muda lihat saja nama didadaku ini. apa kau masih meragukan keahlianku..? sekarang lihatlah dirimu ini."


"kau..."


*Tr**ettt trettt trettt*


suara lonceng terdengar nyaring menghentikan perkataan kenzo yang sudah kesal menahan amarah.


"Araa." ucap Kenzo menatap Aditia yang langsung berlari memasuki ruang Ara dengan cepat.


" dok tolong putriku dok tolong dok" suara umi Ara terdengar bergetar melihat Aditia yang memasuki ruangan dan langsung menghampiri Ara.


"ibu tolong keluar sebentar yaa. aku harus memeriksanya dulu"


"Tidak" sahut kenzo keras membuat umi Ara membalikkan badannya melihat kenzo yang sudah berdiri di belakangnya.


"yaa sudah biar aku yang keluar" sahut Aditian pelan "kau bisa terus melihatnya terbaring lemah seperti ini"


kenzo terdiam menatap tubuh Ara yang sesekali bergetar.


"baiklah cepat kau periksa aku akan keluar dan terus mengawasimu.!!!"


"baik tuan muda huhhhf" Aditia menghembuskan nafasnya kasar melihat punggung kenzo dan umi Ara yang sudah menghilang dibalik pintu.


"sepertinya gadis ini pernah mengalami masa yang sulit hingga menyebabkan trauma dalam hidupnya" ucap Aditia dalam hati memeriksa datak jantung Ara yang tidak stabil.


"Bunda Willy kenapa om.?"


Aditia terkejut mendengar suara Willy yang tiba tiba sudah berdiri di belakangnya.


"ohh. heyy... bundamu baik baik saja sayang dia hanya sedang tertidur saja. apa kau bisa membantuku untuk membangunkan bundamu.?"


Aditia tersenyum hangat mesejajarkan tubuhnya dengan Willy yang tingginya hanya sebatas pahanya saja


"apa om orang baik.?"


"ya ampun apa wajah tampan om ini terlihat seperti orang jahat"


Aditia mecubit gemas pipi tembeb Willy yang sedang menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"kalau begitu ayo kau bangunkan bundamu"


Aditia tersenyum melihat Willy yang sedang membisikan sesuatu di telinga Ara dengan tangan mungilnya yang bergerak pelan mengelus pipi Ara yang terlihat pucat.


__ADS_2