"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
rumah sakit utama


__ADS_3

tiba di mansion kenzo berjalan dengan cepat melewati para pengawal yang membungku hormat menyambut kedatangannya.


wajah tampanya yang penuh kharisma kini terlihat kacau dengan kemeja putih yang di penuhi oleh noda darah. membuat tuàn dan nyonya besar smith terkejut menatap penampilan putranya dari atas sampai bawah.


"Daddy .. Mommy..."


Kenzo berlari menghapiri orang tuanya yang sudah duduk santay di sofa ruang tamunya.


"cukup..!!"


kenzo menghentikan langkahnya dengan dahinya yang mengerut bingung. melihat mommynya mengibaskan tangan menyuruh kenzo menjauh.


"dari mana saja kau anak nakal.!!!"


"ckkk aku pulang cepat karna kalian datang. mommy malah menyambutku seperti itu. mommy tidak tau saja berapa kecepatan laju mobilku agar cepat sampai ke sini " sungut kenzo kesal.


"memangnya kau dari mana ken.?" tanya Daddy kenzo datar dengan wajahnya yang selalu terlihat tenang.


"aku dari luar kota ayah ada pertemuan penting disana.?" sahut kenzo datar sambil meletakkan tubuhnya di sofa tunggal dihadapan sang Daddy.


"apa kau yakin .? dengan penampilanmu yang seperti itu..!!!"


"sialll.. kenapa aku tidak menyadari dari tadi" gerutu kenzo dalam hati yang menyadari pakaian yang dikenakannya dipenuhi dengan noda darah.


"apa kau sedang mencari alasan tuan muda"


Kenzo menyunggingkan senyuman bodohnya memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"apa yang terjadi ken.?" tanya Daddy kenzo pelan berbedaa dengan sang istri yang terlihat sudah kesal menahan amarah seperti gunung merapi yang siap menyemburkan larva panasnya ke arah kenzo.


"ada masalah sedikit Dad. hanya masalah kecil Daddy tidak perlu khawatir"


"baiklah jika menurutmu begitu" sahut Daddy kenzo datar yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"biarkan saja mom. kenzo sudah dewasa sudah saatnya dia menyelesaikan masalahnya sendiri kita hanya perlu mengawasinya saja kan"


"Daddy ini gimana. kenzo ini putra satu satunya kita bagaimana jika ada orang jahat yang berniat menyakitinya. apa Daddy rela.."


"tidak akan terjadi apapun pada putra kita mom. percaya sama Daddy. mommy tenang saja "


" bagaimana mommy bisa tenang Dad. kau lihat putra kita kan. bagaimana Daddy setenang ini"

__ADS_1


"huhhhhf" Daddy kenzo menghembuskan nafasnya kasar menghadapi istrinya yang selalu berlebihan dengan putra semata wayangnya.


sedangkan kenzo sudah berlalu memasuki kamarnya menyaksikan perdebatan Daddy dan Mommynya yang selalu saja menganggap kenzo seperti anak kecil yang harus di lindungu setiap saat padahal diluar sana kenzo di takuti oleh para petinggi petinggi perusahan yang selalu kalah menghadapi kenzo yang memang piawai dengan tak tik penyerangannya yang sulit ditebak.


....


Dirumah sakit utama alberto Dokter Aditia terdiam menatap wajah Ara yang terlihat sangat pucat tapi tidak mempengaruhi wajah cantiknya yang sudah tercipta dengan sempurna tampa kurang sedikitpun.


Ceklekk


suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Aditia yang sedari tenggelam dengan fikiran kosongnya menatap tubuh kurus Ara yang terbaring kaku.


"Bagaimana keadaannya..?"


"dia sudah melewati masa kritisnya mungkin sebentar lagi dia akan sadar" sahut Aditia datar pada Billy yang sudah berada di ambang pintu.


sedangkan di depan sana umi Ara merasa bingung melihat kesulur sudut rumah sakit.


"kenapa kita kemari pak..?" tanya umi Ara yang merasa ragu untuk mengikuti langkah pak supir yang akan memasuki pintu kaca rumah sakit.


"saya hanya menjalankan tugas nyonya. sebaikan kita segera masuk kedalam tuan Billy sudah menunggu anda"


"yaaa Allah apa yang terjadi ..? " bisik hati Umi Ara pelan menatap tubuh mungil cucunya yang menggengam tanganya dengan erat.


"mari nyonya" ucap pak supir yang membuyarkan lamunan umi Ara.


" iya pak" sahut umi Ara lembut sambil berjalan mengikuti langkah pak supir yang menjemputnya tadi.


"umi ini tempat apa umi kenapa kepala dan tangan orang itu di ikat" celetoh Willy dengan jari telunjuknya mengarah pada beberapa orang pasien yang sedang duduk di kursi roda dengan perban di kepalanya dan infus di punggung tangannya.


"ini rumah sakit nak. itu orang sedang sakit. kepalanya terluka makanya di perban biar cepet sembuh. bukan di ikat sayang"


"ohhh gitu yaa umi. apa bunda juga sakit. kenapa kita mencari bunda kesini.?"


"tidak nak bundamu baik baik saja. kita kesini untuk menemui tuan Billy"


"apa papa Billy yang sakit umi"


"tidak sayang"


"terus kenapa kita kesini umi.?"

__ADS_1


umi Ara tersenyum menatap bola mata cucunya yang bening dengan bibir tipisnya yang selalu saja berbicara membuat uminya kehilangan akal untuk menjawab pertanya pertanyaannya.


"umi juga tidak tau nak. makanya kita ikuti paman itu untum melihat keadaan tuan Billymu itu"


"oke baiklah"


"hati hati Willy jalannya pelan pelan saja"


Umi Ara menggeleng gelengkan kepalanya pelan melihat Willy yang langsung berlari menyusul langkah pak supir yang terus bejalan lurus menyusuri lorong rumah sakit.


hingga tiba di lantai tertinggi rumah sakit yang terlihat sangat sepi. bahkan tidak ada satu orangpun yang berada di tempat itu. pak supir membuka sebuah pintu kamar yang sangat nyaman tidak terlihat seperti kamar pasien sama sekali.


"permisi tuan " ucap pak supir menundukkan kepalanya pelan membuat kedua orang pria yang sedang berbincang itu menoleh keasal suara.


"bagaimana.?" sahut Billy datar


"Papa Billy" tiba tiba teriakan Willy menggelegar dengan keras menerobos masuk dan berlari ke arah Billy yang membuat dokter Aditia terkejut mendengar teriakan anak kecil yang mengganggu indra pendengarannya.


"halo jangoan." sahut Billy yang langsung menyambut Willy dengan rentangan tanggannya yang lebar.


"apa papa Billy sakit.?"


"kenapa kau bertanya seperti itu.? apa papamu ini terlihat seperti orang sakit.?" sahut Billy membawa Willy kedalam pangkuannya.


"tidak.!! papa Billy masih terlihat sangat tampan tapi lebih tampan Willy"


"ohhh benarkah..?"


"kenapa papa Billy menjemput Willy dan umi kesini.? apa bunda juga ada disini..?" celoteh Willy dengan suara hasnya yang terdengar lucu .


"Bunda.." ucap willy saat kedua bola matanya menangkap kehadiran sang bunda yang tengah terbaring di pojong ruangan.


"bundamu sedang istirahat sayang jangan diganggu dulu ya. bundamu masih capek masih lelah ingin tidur" sahut Billy memeluk tubuh Willy yang akan turun dari pangkuannya.


"apa bunda baik baik saja..?"


Billy mengangguk pelan menatap manik mata Willy yang hitam bening.


sedangkan umi Ara terdiam kaku di ambang pintu menatap wajah pucat putrinya dengan airmata yang sudah jatuh tak mampu tertahan oleh pelupuk matanya yang mulai redup.


sedangkan Aditia semakin mengerutkan kening bingung melihat intraksi Billy dan Willy yang terlihat seperti seorang ayah dan anak.

__ADS_1


"siapa lagi bocah kecil ini kenapa memanggil gadis itu bunda.? dan apa ... dia juga memanggil Billy papa.?!! apa mungkin..... ohhh astagaa tidak tidak tidak mungkin kenapa aku bisa berfikir seperti itu. mana mungkin si pria psikopat itu mau berbagi wanita dengan Billy. astaga.... sepertinya aku sudah kelewatan banyak berita " gerutu Aditia dalam hati menatap Billy dan Willy bergantian.


__ADS_2