"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"

"Bukan Janda" Hanya "Gadis Bukan Perawan"
sasaran pelatuk


__ADS_3

"apa ini benar ..?"


"jadi selama ini kita di tipu oleh tuan Rafki..?"


"dimana keluarga tuan Riski sekarang..?"


bisik para petinggi perusahaan membuat Randi menghela nafasnya berat sedangkan kenzo dan Billy hanya tersenyum sinis berbeda dengan Ara yang sudah terlihat sangat gelisa berada di posisinya mengelus kepala Willy dengan sangat lembut.


"apa yang akan terjadi disini..??? kenapa paman Rafki tidak terlihat atau mungkin tuan kenzo yang merencanakan ini" batin Ara merasa kasihan melihat wajah Randi yang terlihat sangat lelah.


"seperti yang anda sekalian lihat dalam dokuman itu. bahwa ayahku memang bukanlah pemilik sah perusahaan ini beliau hanyalah saudara kembar tuan Riski Aditia pemilik sah perusahaan ini.


pada kesempatan ini pula saya mewakili ayah saya akan undur diri dari perusahaan. saya akan memberikan hak penuh kepemimpinan dan seluruh aset perusahaan stargroup pada seorang yang memang pantas memilikinya" kata Randi berdiri di meja panjang yang berada di urutan palinng depan. membuat suasana ruang rapat kembali riuh.


"bagaimana mungkin kami mempercayai dokumen ini sedangkan tuan Rafki selalu bersifat baik dan berwiba tidak sekalipun dia meninggikan suaranya di hadapan kami semua. pasti kalian bersekongkol" kata salah satu petinggi perusahaan yang hadi di sana


"yaaa itu benar bukankah selama ini tuan Randi tidak pernah terlihat dalam perusahaan lalu lihatlah sekarang tiba tiba datang mengumumkan hal sebesar ini. apa tidak terlalu mencurigakan."


"betul apalagi sekarang tuan besar sedang terbaring lemah di rumah sakit"


suasana ruangat itu semakin kacau Ara menatap wajah Randi yang terlihat bingung walau Ara sangat kecewa namun perasaannya terhadap Randi masih sama layaknya seorang adik yang tidak rela melihat kakaknya bersedih sedangkan kenzo dan Billy hanya diam melipat kedua tangannya di depan dada tak ingin berkomentar apapun.


Ceklekkkk

__ADS_1


hingga suara pintu ruangan tiba tiba terbuka membuat suasana hening kembali melanda di seluruh penjuru ruangan itu tak ada satu katapun yang terdengar hanya suara runtutan langkah sepatu pria terdengah semakin dekat.


kenzo menarik sudut bibirnya tersenyum sinis melihat Rafki yang tiba tiba muncul menggunakan kursi roda yang tengah di dorong oleh anak buahnya.


"paman " kata Ara terkejut melihat pamannya yang selalu menampakkan ke angkuhannya semenjak kepergian ayahnya. kini tengah duduk di kursi roda dengan wajahnya yang terlihat kurus dan pucat


"apa yang terjadi pada paman..?" kata Ara lagi menghampiri pamannya yang langsung berdiri dan memeluknya dengan erat.


"maafkan pamanmu ini Ara maaf" lirih Rafki menumpahkan airmatanya yang sudah tak bisa di tahan lagi.


Ara terdiam kaku pelukan Rafki yang tiba tiba membuat Ara merasakan kehangatan seakan sedang merasa di peluk oleh ayahnya sendiri.


"ayah.. Ara rindu ayah" batin Ara membalas pelukan Rafki dengan Airmata keduanya yang terus mengalir melupa keberadaan semua orang yang menatapnya heran.


"Billy perintahkan semua pengawal untuk mebakar gedung ini" teriak Kenzo geram membuat semua orang menoleh ke arah kenzo.


"cepat kembali ke tempat dudukmu jauhi pria itu" batin Billy memberi kode yang langsung di mengerti oleh Ara.


"ada apa dengannya? bukannya dia sudah tidak peduli padaku lagi..!!!" gerutu Ara memanyunkan bibirnya kembali duduk dan melirik ke arah kenzo yang sudah menatapnya dengan tajam.


"tuan Rafki jelaskan semua ini pada kami semua.?"


"ya katakan semuanya dengan jelas jangan ada yang disembunyikan lagi"

__ADS_1


kata para pemimpin perusahaan membuat Rafki kembali duduk di kursi rodanya menghela nafasnya panjang.


"semua yang ada dalam dokumen itu benar aku sendirilah yang memalsukan dokumen kepemilikan perusahaan ini atas namaku. aku yang terlalu serakah dan mebuat semua orang menanggung getah dari buah yang aku makan sendiri. maafkan aku.. "


"dengan kesalah yang sangat besar ini anda hanya bisa meminta maaf apa anda sudah tidak punya akal tuan Rafki yang terhormat" suara lucky terdengar nyaring memotong pembicaraan Rafki dengan nada tegasnya.


"hukumlah aku sesuka yang kau mau lucky tapi aku sangat berharap maaf dari kalian "


"setelah apa yang kau lakukan pada kekuarga tuan Rizki dan perusahan ini kau masih bisa berharap maaf..!!!! cihhhhhh kau tidak pantas menerima maaf tuan karna aku sendiri yang akan mengantar nyawamu saat ini juga" kata lucky denga kabut amarah menodongkan pistol ke arah Rafki yang tersembunyi di balik jas hitamnya membuat semua orang panik terkecuali kenzo yang masih mampu tersenyum sinis sedangkan Billy segera menggendok tubuh kecil Willy yang sedari tadi diam tak bertingkah dan bicara apapun ke luar ruangan.


"paman lucky jangan lakukan itu paman jangan " teriak Ara berdiri di depan Rafki dengan merentangkan tangannya.


"jangan lindungi pria ******** itu nona. sudah lama aku menunggu saat saat seperti ini. biar aku habisi pria ******** ini sekarang juga"


"Tidak paman ti...."


Dorrrrr


suara pistol itu menggelegar memenuhi seluruh ruangan. satu peluru melesat tepat sasaran mengenai pistol di tangan lucky hingga tergeletak jauh ke atas lantai membuat semua orang yang berada di ruangan itu langsung menoleh kearah kenzo yang hanya tersenyum sinis kembali memasukkan pistol kesayangannya di balik jas hitamnya.


"tuan lucky silahkan anda kembali duduk jangan ada kata apapun yang keluar dari mulut kalian. biarkan tuan Rafki dan nona Ara yang menyelesaikan semua."


semua orang terdiam kaku melihat tatapan Kenzo yang sudah terlihat sangat dingin menyeramkan mungkin semua para petinggi perusahan itu penasaran siapa Ara sebenarnya..?? namun mereka memilih diam tak mau menjadi sasaran pelatuk kenzo selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2