
keesokan harinya Ara sudah terlihat sangat cantik menggunakan dres bermotif bunga yang membalut tubuhnya hingga sebatas lutut. memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus dengan bagian dada yang sedikit terbuka membuat Aditia yang berada di ambang pintu tertengun melihat setiap gerak Ara yang terlihat sangan mengagumkan dimatanya.
"khemmzzz khemmmzzz"
tiba tiba suara berat seorang pria terdengar nyari membuat Aditia langsung menoleh kebelakang melihat Billy sudah berdiri tepat di belakangnya begitupun Ara yang langsung menoleh ke asal suara melihat dokter Aditia dan Billy yang sudah berada di ambang pintu.
"heyyy kalian sudah datang ayoo masuklah" sapa Ara ramah memperlihatkan senyumnya yang manis di pagi hari
"ahhh yaaaa aku membawakan makanan untukmu " sahut Billy ramah masih tetap di belakang Aditia yang tepat berada di ambang pintu menghadang jalannya.
"dokter Aditia apa anda akan terus berdiri disitu..?" tanya Ara yang merasa heran melihat wajah Aditia yang hanya terdiam tanpa expresi. berbeda dengan
"huhhhhf lamaaa..."
"astagaa..!!!! kenapa kau mendorongku jahat sekali.." gerutu Aditia yang kesal karna dorongan tubuh Billy hingga membuat tubuhnya hampir tersungkur kelantai.
"aku yang jahat atau kau yang sudah hilang akal dokter. apa kau tidak lihat aku sudah berdiri cukup lama di sana tapi kau masih saja berdiri Situ menghalangi jalanku"
"astaga.... kenapa aku terlihat sangat bodoh" sahut Aditia dalam hati sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"kenapa diam apa kau sudah sadar dokter Aditia" kata Billy sinis sambil meletakkan nasi boxs bento di meja membuat Aditia tersenyum kikuk.
"sudahlah jangan berdebat lagi ini masih pagi sebaiknya kita bakan dulu... dokter Aditia ayo kita sarapan bersama"
"tidak usah ajak dia Ara. kau tau dia tidak akan mau makan di pagi hari" kata Billy datar yang memang sedari kecil Aditia hanya sarapan dengan buah segar dan minum susu.
__ADS_1
"benarkah..??"
"tidak bukan begitu dia hanya tidak rela saja aku ikut sarapan denganmu"
"siiih gaya loooo.. seriusan lo mau makan jam segini" kata Billy heran melihat Aditia yang sudah memegang satu box makanan dan membawanya duduk di samping Billy yang sudah mulai menikmati makanannya.
"yaa elahhh gue cuma mau makan aja kenapa looo ngeliatin kek gitu "
"yaaa yaaa semuanya akan berubah ketika ada wanita cantik bukankah begitu..?"
"sudahlah jangan banyak bicara makanlah segera setelah itu aku ingin segera pulang. kalian tau aku sudah bosan berada di sini" ujar Ara datar yang membuat kedua pria di hadapannya seketika bungkam menikmati sarapannya dengan tenang tanpa suara sedikitpun.
....
"sudahlah mom biarkan dia . diakan sudah dewasa " ucap tuan besar sangat lembut mengusap bahu istrinya yang sudah di bakar amarah menghadapi putra semata wayangnya.
"tapi dad dia putra kita satu satunya penerus keluarga Smith bagaimana mungkin dia menyukai gadis yang tidak jelas asal usulnya"
"apanya yang tidak jelas mom. bahkan aku sudah tau dengan jelas kehidupannya"
"apa kehidupannya yang sudah memiliki anak yang tidak jelas siapa ayahnya begitu kenzo..!!!'
"sudah aku katakan dia hamil karna di perkosa oleh sepupunya sendiri kenapa mommy tidak juga mengerti..!!! sudahlah kenzo ke kantor dulu" kata kenzo lantang sambil berjalan keluar dari mansion mewahnya tanpa menghiraukan teriakan nyonya besar.
"sudahlah mom jangan marah marah "
__ADS_1
"gimana mom tidak marah. dad lihat kenzo melawan mom hanya karna janda anak satu itu dad"
"sudahlah mom bukannya mom sendiri yang bilang kalok Ara gadis baik yang sangat cocok menjadi menantu kita"
"itu dulu Dad sebelum mom tau kenyataan ini " ujar nyonya besar kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada. membuat tuan besar tersenyum lebar melihat wajah istrinya yang tetap sangat cantik walau usinya sudah tidak muda lagi.
"momm"
"mommy"
"apa sih dad. mom lagi kesal ini" dengus nyonya besar kesal yang sudah faham dengan gelagat suaminya yang mencoba menggodanya.
"mommy " bisik tuan besar sambil memeluk istrinya dari belakang. membuat hati si punya tubuh bahagia walau wajahnya terlihat masih kesal berpura pura tak senang.
"mommy tau Dad selalu bahagia melihat wajah cantik mommy dari pertama kali bertemu hingga sekarang perasaan Dad terus bertambah tak pernah terkurang sedikitpun"
nyonya besar tersenyum lebar dengan wajahnya yang sudah bersemu merah bagai seorang gadis yang tengah malu malu.
"mommy yang terbaik"
" Dad gombal." sahut Nyonya besar melepas pelukan suaminya lalu berlari ke kamarnya dengan cepat.
"dia tetap menggemaskan seperti dulu. aku akan menerkammu sekarang mommy tunggulah hahaha"
tuan besar berlari mengejar istrinya sambil tertawa terbahak bahak melihat tingkah istrinya yang selalu saja seperti gadis kecil yang sangat menggemaskan.
__ADS_1