
Malam kian karut, tapi anehnya pasar malam itu semakain ramai
dua lelaki dengan 1 wanita masih asyik berkeliling menikmati keramaian yang ada berbagai jajanan sudah dicicipnyq begitupun wahana hanya satu yang gagal dinaiki yaitu biang lala. tentu saja alasannya karena si Arya yang sudah pucat sedari tadi diajak main wahana yang ekstrim baginya.
"astaga...." pekik Arya
"apaasih Ya" sahut Eza
"liat tuh..ada gulali..OMG jajanan sd gue tuh" jawab Arya antusias
"mana.."tanya Inara di balik punggung mereka berdua
"tuh..tuh...kamu mau nggak samperin yuk" ajak Arya
"yuk" jawab Inara tak kalah antusias
mereka berdua pergi meninggalkan Eza yang kini gantian menggendong boneka panpan
"dasar bocah..." Eza hanya mampu beegeleng-geleng menyaksikan kelakuan sahabat durjananya itu seperti bocah Sd
Eza kini melangkah mendekati Arya dan Inara yang seperti bocah mengantri menunggu giliran untuk beli gulali
"mau nggak Za" tanya Arya
"nggak..gue nggak suka manis-manis apalagi udah manis gini takutnya diabetes" jawabnya sombong
"zombong amett" cibir Arya
"kecuali diaa...yang manis melebihi gulali tapi aku suka" batinnya sambil melihat Inara yang sangat antusias memakan gulalinya, terpaan lembut angin malam menerbangkan rambut indahnya yang kini hanya tergurai se punggung sedikit bergelombang di ujungnya, melihat itu Eza hanya mampu kagum dalam diam.
Tak ingin terlalu larut dalam rasa kagumnya, Eza melangkah mendekati penjual jajanan telur mini dan telur gulung isi sosis
"bang telur mininya 2 tusuk ama yang gulung 2" pesannya
"baik mas"
setelah mendapatkan apa yang di inginkannya, Eza kembali keremoat Arya dan Inara yang masih asyik memakan gulalinya
"gue kira loe ilang tau-taunya hilang gitu doang" ucao Arya sambil mencubit gulali dan memakannya
"beli ginian" jawabnya seraya duduk di samping Arya kemudian memakan jajananya
"aku kesana bentar ya....Panpan kamu disini dulu yaa jangan nakal ama uncle's okey" ucapnya kepada Eza dan Arya kemudian pada Panpannya
"eh eh...biar aku aja" cegah Arya
__ADS_1
"kamu duduk aja gih..biarin Arya aja..diakan cowok jadi kalau hilang nggak masalah lah kamu cewek bisa brabe kalau kamu yang hilang"
"lagian siapa juga yang nyulik dia yang ada penculiknya yang apes kan Arya makannya 5 porsi...hihiihihi" tambah Eza lagi
"sue.."
"ishh..nggak boleh ngomong gitu" sahut Inara seraya menabok Eza
"orang Arya tampan dan sehat gitu mana ada penculiknya apes yang ada untung kan lumayan organnya...hahaha" tambah Inara lagi seraya tertawa diikuti Eza
"suee..... udah di terbangin sekarang di banting" kesal Arya seraya pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya
"Ya minumnya yang diglnginnya" teeiak Eza karena Arya sudah sedikit menjauh
"plus sianida mau nggak lumayan ademnya sampe ke syurga" balas Arya sedikit teriak
"nggak makasih" jawab Eza
selepas Arya pergi...
"mau nggak" tanya Eza sambil menyodorkan setusuk terlur gulung ke Inara yang masih sibuk dengan gulalinya
"mau..makasih" jawabnya kemudian memakan telur gulung dari Eza
"eh..bentar" sahut Eza kemudian menyapu lembur ujung bibir Inara yang sedikit belepotan saus
sesaat pandangan mereka saling terkunci, ada debaran aneh didalam dada Eza melihat netra indah yang selama ini hanya mampu ia impikan kini terpampang jelas di depan matanya
"eh..maaf" ucapnya gugup seraya menggaruk tengkuknya
"eh..iya nggak papa kok" balas Inara tak kalah gugup
beberapa menit dalam suasana canggung, akhirnya Arya datang seraya menenteng kresek
"akhirnya nih orang datang juga...adakalanya nih orang jadi penyelamat" bati. Eza lega
"kok lama" tanya Eza seraya mengambil minuman dingin dari dalam kresek
"oh itu...tadi gue tersesat maklumlah orang disini nggak ada pentujuk arah"
"kenapa nggak tanyakan peta" balas Eza sedikit bercanda, Inara hanya jadi penonton saja selalu saja ada keseruan dari dwbat mereka bedua
"loe pikir gue dora..tanyakan peta..tanyakan peta..sue"
"oh..jelas bukan dora Ya loe kan cowok tapi kalo boots iya"
__ADS_1
"sue..loe pikir gue monyet"
"gue sih nggak bilang tapi loe bilang sendiri mau gimana lagi iyain ajalah." jawab Eza seketika Inara tertawa lepas
"hahahahaaaaa...astaga..si Eza mulutnya suka bener......hahaha" tawa Inara lepas begitupun Eza, meinggalkan seseorang yang kini cemberut dan kesal bukan bain
"ganteeng gini disamain monyet..dasar...yuk panpan kita pulang" ucap Arya seraya memeluk Panpan kemudian pergi meninggalkan Eza dan Inara
"yaaa...ngambek deh" ucao Inara
"biarin ajalah..sial itumah gampang yuk kita pulang"
kemudian Eza, Inara dan Arya yang masik cemberut dengan memeluk panoang pergi meninggalkan tempat itu
sesampainya depan kosan Inara
"makasiah teraktirannya.." ucap Inara di balik pintu mobil samping Arya
"santai aja..kapan-kapan kita hangout lagi kan Ya"
"iya" jawab Arya pendek
"masih ngambek" tanya Inara
"nggak cuman malas ngimong aja..iyakan panpan" jawab Arya
"iya daddy" sahur Eza menirukan suara anak kecil seolah-olah panpanlah yang jawab
"hihihi...kalian tuh lucu yaa cocok jadi oelawak gantiin kang sule dan om andre" Inara
"tapi aku heran kenapa di kampus seperti tadi kalian cuek, datar dan dingin gitu beda banget malah ama yang sekarang"
"nggak juga sih, kita mah biasa aja..."jawab Eza
"he em" balas Arya
"yaudah kamu masuk gih udah malam" ucap Eza
"okey..oh iya...panpan gimana" tanya Inara yang ingat akan hadiah jakpotnya
"besok aku balikin di kampus ya Ra"
"iya deh...kalian hati-hati yaa...dahhb" pamitnya seraya melangkah masuk kedalam
kemudian Eza mengantar Arya kerumahnya, setelah pamit sama Mommy dan papinya Arya, barulah ia pulang kerumah
__ADS_1