
selesai melukis, rencananya Inara ingin jelan-jalan lagi, quality time untuk diri sendiri menikmati keindahan desanya yang mungkin tak akan ia rasakan dalam jangka waktu lama.
namun sayang sepertinya rencana kali ini sedikit berubah, akibat adanya sosok lelaki tampan yang kini berjalan berriringan disampingmya.. Dan sialnya lagi sosok yang menjadi pengganggu namun yang bikin rindu....
sungguh sial
tidak ada acara menghirup oksigen secara perlahan dan menghembuskannya secara kasar sambil merentangkan kedua tangan menikmati angin menyentuh kulit, yang ada hanya talunan irama jantung yang berdetak tak karuan berada disamping Eza yang kini sibuk berceloteh ria sesekali membidikan kameranya
"Ra... "panggil Eza membuat Inara menoleh kepadanya
"hmmm"
"kamu belum jawab pertanyaan aku loh tadi, kenapa kamu tiba-tiba pergi nggak ngabarin aku dan Arya" tanya Eza lagi membuat Inara memutar otak membuat alasan agar Eza mengerti
"kamu lupa disini aku masih punya orang tua walaupun tinggal bunda doang, tentunya aku pulang untuk ketemu bunda sebagai anak pasti aku rindu apalagi bunda tak sempat hadir di wisuda kemarin" alasan Inara yaa walaupun itu salah satu kebenaarannya, namun alasan paling logisnya ia ingin menjauh tapi apa ini mereka malah bertemu lagi setelah hampir 3 bulan tak berjumpa dan bersua
Eza hanya manggut-manggut mengerti dengan alasanya Inara yang tentunya ada benarnya juga
"tapi kok nggak ngabarin aku atau Arya" tanya Eza lagi
"emmm... soal itu maaf waktu pulang kampung kemarin pas di terminal hp ku di copet jadi nggak bisa ngabarin kamu deh" jawab Inara sambil ternsenyum kearah Eza
"ohhhh.... " balas Eza
hening diantara mereka, Eza sibuk membidik gambar diinginkanya sedangkan Inara berjalan sambil melamun entah sedang memikirkan apa. Tanpa Inara sadari bahwa kini Eza menghentikan langkahnya membuat ia berjalan sendiri kedepan dan Eza hanya terseyum kemudian membidikan kameranya dimana lagi dan lagi Inara yang menjadi objeknya
cekrek
cekrek
cekrek
"Ra" panggil Eza sedikit keras membuat Inara terkejut dan spontan membalikakn badannya
dan saat itulah Eza membidikkan kameranya
cekrek
__ADS_1
"sempurna"gumamnya puas saat melihat hasil jepretannya, dimana disana Inara terlihat cantik dengan rambut yang Inara selipkan di telinga sedangkan ekspresinya terlihat imut.
"ehhh, kamu foto aku ya" tuduh Inara kesal
"nggak kok kamunya aja kepedean" elak Eza membuat Inara kesal berjalan cepat menghampiri Eza berniat merebut kameranya dan menghapus gambarnya
"siniin nggak kamerannya"pinta Inara
"nggak ahh, inikan punya aku" tolak Eza sambil mengangkat tinggi tangannya yang memegang kamera
"tapikan disitu ada foto aku Za, cepatan hapus pasti fotonya jelek" rengek Inara berusah menjangkau camera itu
"aku kan udah bilang nggak ada"
"nggak percaya"
"ihh nggak percayaan jadi orang"
"tadi aku lihat sendiri kok"
"apaan tuhhbhb" tunjuk Eza tiba-tiba membuat Inara reflek melihat apa itu, sedangkan Eza sudah lari kocar-kacir menghindari Inara
"EZAAAAAAAAAAAA......... " pekik Inara kesal karena berhasil dikerjai
Inara segera mengejar Eza yang kini sudah berlari sedikit jauh didepannya
"dasar paparazi ulung" gumamnya dalam hati dengan senyum indah mengembang dibibirnya
Inara masih mengejar Eza yang entah menyapa sangat gesit, karena kelelahan Inara menghentikan langkahnya rasanya sangat jengkel dan kesal tak mampu menangkap Eza yang kini malah tertawa disana
"issshhhhh" Inara menghentak-hentakkan kakinya kesal kemudian berjongokok menelungkupkan wajahnya, Eza yang ada di ujung sana bergegas menghampiri Inara saat Eza sudah berdiri di depannya dengan cepat Inara berdiri dan memeluk pinggang Eza membuat Eza terkejut bukan main, bukan terkejut karena Inara berpura-pura tapi karena Inara yang memeluknya
Inara mengambil kesempatan merebut camera Eza tanpa perlawanan dari Eza sendiri
saat camera sudah berada ditangannya dengan cepat Inara mencari fotonya dan benar kata Eza tidak ada. Entah mengapa ia merasa sedih
"kan udah kubilang nggak ada, nggak percayaan banget sih" ucap Eza tiba-tiba disampingnya malah membuat Inara cemberut kesal
__ADS_1
"nih aku kembaliin" setelah Inara berlalu dengan kesal...entahlah rasanya kesal aja ternyata harapannya nggak kesampaian dimana ia berharap di camera itu ada fotonga namun yang didapatkannya zonkk....
yeah begitulah perempuan dimulut berkata tidak sedangkan hati menginginkannya, ck hati tak sejalan dengan logika
sedangkan Eza tersenyum simpul di belakang sana
"amannnnnn" ucapnya syukur sambil mengelus dada
••••••
setelah kejadian tadi, Inara masih cemberut tak memperdulikan Eza disampingnya. Bahkan saat Eza bertanya mereka mau kemana Inara masih mendiaminya
"Ra.... kita mau kemana sih, nggak takut tersesat apa" tanya Eza kesekian kalinya
"ssstttttt, berisik tau nggak" jawab Inara dengan wajah cemberutnya membuat kedua pipinya menggembung sempurna
"masih marah" tanya Eza membuat Inara menghentikan langkahnya berbalik menghadap Eza
"akukan udah bilang nggak ada kok masih marah" ucap Eza lagi membuat wajah Inara tambah muram bahkan memanyungkan bibirnya
"iya deh iya... aku fotoin sekarang" ucap Eza lagi bahkan kini dengan gemasnya menjewel pipi putih sedikit kemerah-merahan itu... uhhh gemesnya
"ihhhh... sakit tau" pekik Inara kesal mencoba melepaskan tangan Eza yang masih setia menjewel kedua pipinya
"uhhhhhh.... kok aku makin gemas yaa kek sqwishy gitu" Eza menangkup kedua pipi itu membuat mulut Inara tambah monyong seperti ikan
"leupasun guk" ucapnya Inara belepotan
Eza melepaskan tanyannya memandang wajah cemberut itu dan karena ulahnya membuat kedua pipi itu tambah memerah bekas tangannya
"kesana gih aku fotoin cepetan"
"nggak mau, emang aku model" balas Inara mengulang ucapan Eza
"lebih dari itu mah" balas Eza
"cih... menyebalkan"
__ADS_1