
dari balik kaca ini, Inara tersadar akan sesuatu bahwa mungkin ini adalah terakhir kalinya ia akan melihat pemandangan ibu kota yang selalu ramai akan aktivitasnya.
dari balik kaca ini, Inara melabuhkan harapannya bahwa mungkin memang keputusan yang tepat menjauh dari pada menjadi benalu untuk Eza dan Arya.
Dari balik kaca ini, Inara meneteskan air matanya yang entah untuk kesekian kalinya terjatuh dan terjatuh walau setengah mati ia menghalaunya.
waktu terasa sangat singkat baginya tau-tau sudah terlalu membawanya akan sebuah angan yang ia sadari tak mungkin tercapai dan kini mungkin saatnya memang ia akan kembali dimana ia ada dan sebelum ADA.
lamunan inara buyar menariknya kembali ke dunia nyata, ketika knek supir memberitahukan para penumpang bahwa waktunya berangkat untuk jurusan kota yang ditujunya
"mungkin untuk terakhir kalinya aku pamit...dah Jakarta..dah Eza...dah Arya, terima kasih karena telah menjadi part terindah dalam hidupku, mungkin dalam part ini sudah seharusnya aku bangun akan mimpi-mimpi indah bersama kalian...sekali lagi untuk kalian terima kasih" batinya seiring mobil melaju meninggalakan terminal
"mungkin hanya kamu yang menjadi penghubung kami dengan adanya kamu kuharap aku selalu sadar bahwa dulu setidaknya aku pernah bersama mereka...bahagia"batinnya menatap sebuah boneka panda besar siapa lagi kalau bukan pan-pan yang ia dudukkan disampingnya.
•••••
disisi lain...
setelah mengantar Marcella pulang, kini Eza melajukan mobilnya ke rumah Arya.
walaupun hubungannya dengan Marcella kaku seperti awal mereka baru bertemu, namun ia mencoba untuk menyesuaikan diri karena biar bagaimanapun Marcella sosok teman yang pernah dekat dengannya walaupun itu waktu dulu, justru sangat berbeda saat kini dimana mereka sama-sama telah dewasa rasa canggung dan tidak enak itu ada yaa walau mungkin hanya ia yang merasakan.
Eza memarkirkan mobilnya dalam begasai rumah Arya, cukup luwas untuk menampung 3 mobil Arya ditambah dengan mobilnya.
"assalamualaikum....mami" teriak Eza saat memasuki rumah tak mendapati seorang pun
"waalaikumsalam....didapur Za..mami di dapur" jawab mami Rina sedikit berteriak membuat Eza yang mendengarnya langsung menuju kesana
"siang Mi...."sapa Eza sambil mencium tangan Mami Rina yang saat ini terlihat sangat sibuk memasak
"tumben datang nggak ngabarin dulu" ucap Mami Rina sambil melanjutkan kegiatannya
"emang harus ngabarin dulu Mi kalo Eza mau mampir" balas Eza yang kini berjalan menuju kulkas mencari minuman dingin sangat sangat cocok akan tenggorokannya yang kering
"kalo tau kamu mau datang Mami akan buatin makanan kesukaan mu Za" ucap sang Mami
__ADS_1
"nggak usah Mi, semua masakan Mami selalu jadi kesukaan Eza kok" sahut Eza sambil memeluk Mami Rina dari belakang dan mencium pipi kanannya
sangat terlihat sebagai ibu dan anak kandung...yahh kedekatan mereka se erat itu dimana Mami Rina hanya dikaruniai 1 orang anak dengan kehadiran Eza membuatnya bahagia tentunya, begitupun dengan Eza kehilangan sosok ibu membuatnya kurang akan kasih sayang dan dengan kehadiran Mami Rina rasa yang hilang itu ia dapatkan kembali walaupun dengan orang berbeda. Dan hal ini sudah wajar bagi Papi Hendra dan Arya tak ada satupun rasa cemburu dalam hati meraka.
"Mi aku kekamar Arya dulu yaa" pamitnya Mami Rina hanya berdehem saja karena sangat sibuk akan aktivitasnya, soal dapur tentunya urusannya bukan para ART.
Eza segera berlalu menuju kamar Arya dilantai 2
ceklek
Eza menerobos masuk kedalam dimana dang pemilik kamar masih bergelut nyaman dibawah selimut, membuat Eza merebahkan diri disamping Arya dan merebut secara paksa guling yang dipeluk Arya
"pinjam" ucap Eza walau nyatanya Arya tak akan menjawabnya karena tertidur sangat pulas, setidaknya ia masih sopan untuk meminjam.
"dasar kebo..tidur kok kek pingsan" cibirnya dalam hati
karena memang nyatanya ia masih ngantuk dan lelah akibat ulah Bi Mira dan Marcella, akhirnya Eza kembali terlelap walau jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat.
•••••
namun ada kejadian naas yang harus menimpannya beberapa waktu lalu di terminal, dimana hpnya berhasil dijambret oleh seseorang
dan disitulah ia kembali sadar mungkin memang takdir berusaha menghapus jejak masa lalu untuknya.
Inara menyeret kopernya tak lupa si Pan-pan ia gendong di lengan kananya sedikit kesusahan karena ukuran pan-pan yang sedikit besar dari tubuhnya
tak ada kata bosan dan lelah Inara melangkahkan kakinya menyusuri jalan menuju rumahnya, sapaan beberapa orang disertai seyum ramah yang arahkan padanya selalu membuat ia menampilkan wajah riang dan senyum indah untuk membalasnya
lihatlah...tentunya etika orang kota dan desa jauh berbeda.
akhirnya sampailah Inara depan rumah batu minimalis bercat abu-abu dan putih,.halaman yang sedikit luas dimana 2 pohon mangga tumbuh subur dikiri dan kanannya, bale-bale yang terbuat dari bilahan bambu terletak di bawah pohon mangga di sebelah kanan dimana kadang digunakan untuk para tetangga ngumpul dan ngerumpi di sore hari.
mata Inara berkaca-kaca sangat teringat jelas rasa berat meninggalkan sang bunda yang kini hidup sendiri tak ada suami dan tak ada anak selain ia, dan lihatlah kini ia kembali setelah menggapai serjananya, membanggakan orang tuanya karena nilai yang didapatkan termasuk comloud.
tok..tok...tok...
__ADS_1
"assalamualaikum...."ucap Inara
"waalaikumsalam....si...apa" balas sosok dari dalam sana
sosok sederhana dimana hanya mengenakan daster rumahan plus celemek, rambut yang dicepol satu, walau sudah berumur hampir setengah abad nyatanya fisik dan penampilan tak memperlihatkan itu
sangat awet muda dan cantik....dan mungkin Inara baru sadar kecantikan dan kamanisannya ia dapat dari bundanya
"bunda...."
"Nara...."balas sang Bunda yang kini melangkah cepat memeluk sang anak
"ya allah gusti...anak bunda"ucapnya lirih seraya memastikan kembali bahwa yang berdiri didepannya saat ini adalah anaknya
"ini Nara bunda..."Jawab Inara lirih pasalnya kesedihan dan keharuan sang bunda menular kepadanya
"ya allah...anak bunda..hikss sudah pulang"ucap sang bunda yang kini kembali memeluk Inara dengan tangis haru
"maafkan bunda sayang..maafkan bunda yang tidak sempat datang di wisudamu"
"nggak papa bunda...Nara maklum kok"
"yaudah kamu masuk dulu mandi terus kita makan malam nanti...astaga ikan bunda" pekik bunda saat mengingat bahwa kini ia tengah memask
dengan langkah terbirit-birit ia kembali menuju dapur dimana hanya tirai yang memisahkan antara dapur dan ruang tamu
Inara kembali menyeret koper dan pan-pan menuju kamarnya
ceklek..
aroma, suasana, dan kondisinya masih sama seperti terakhir ia tinggalakn tak ada yang berubah
Inara merebahkan dirinya diatas kasur dengan pan-pan disampingnya
"dari sini kembali kesini mungkin memang begitulah jalannya dan kuharap dengan mudah pula untukku untuk bisa melupakan kalian...maafkan aku yang menjauh"
__ADS_1
mungkin karena lelah akhirnya Inara tertidur tanpa mandi terlebih dahulu