~Tentang Kita~

~Tentang Kita~
Part 72


__ADS_3

Malam harinya, selesai makan malam kini Inara duduk bersila di karpet berbulu depan tv begitupun dengan sang bunda yang ikut duduk di samping sang putri yang kini sibuk mengeluarkan isi koper yang dibawahnya


"pisahin nak mana maju kotor dan yang bersih besok biar bunda yang cuci" ucap sang Bunda saat melihat Inara mengeluarkan tumpukan bajunya


"semuanya bersih kok Bund,kemarin baru Nara laundry" jawab Inara


"Nara punya hadiah buat Bunda tapi Bundanya merem dulu kalo Nara bilang buka baru buka okey" tambahnya lagi membuat sang Bunda terkekeh geli melihat tingkah sang putri yang sudah dewasa namun kadang bersifat kekanakan


tanpa banyak tanya kini Bunda Diana menutup matanya, sedangkan Inara mengeluarkan paperbag berisi hadiah yang di sebutkannya itu


"dalam hitungan ketiga Bunda boleh buka mata...1...2...3"


saat Bunda Dian membuka mata terlihat kalung indah tergantung indah depan matanya, walau tak mewah namun karena yang memberikan sang putri tercinta tentunya hal sederhana berubah menjadi istimewah dan murah menjadi mahal


"ini untuk Bunda walaupun tak mahal tapi ini Nara beli dari hasil kerja Nara Bunda, semoga Bunda suka"


"sangat suka sayang, kamu pulang aja Bunda sangat bahagia tak perlu hadiah yang mahal yang terpenting kamu selalu ada di deket Bunda..Bunda juga bahagia"


Inara menjadi terharu hampir saja ia menitihkan air mata, namun buru-buru ia menengadah menghalaunya agar tak jatuh


"yaudah aku pakein ya Bunda" Inara segera memakaikan kalung itu di leher Bunda Dian


"dah...cantiknya Bunda Nara" ucap Nara seraya memeluk sang Bunda


"Nara juga cantik, makasih ya sayang" jawab Bunda Dian sambil membalas pelukan Nara


Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, saat itu Nara masih Smp dan sampai kini ia masih setia terhadap mendiang sang suami tak ada sedikitpun niat untuk menikah lagi. Dan sejak kematian sang suami maka yang menjadi prioritasnya hanya Nara dan Nara.


hidup dalam kesederhanan tentunya uang adalah hal sensitif untuk mereka, makanya selagi tubuh masih kuat untuk bekerja membanting tulang, Maka Bunda Dian siap melakukannya demi kehidupan sang putri. walau nyatanya pun sedari dulu Inara selalu membantunya mencari uang dengan bekerja random mulai dari memetik daun teh, mengumpulkan getah, memetik buah sayur para tetangga di kebun dll, semua mereka lakukan demi kelanjutan hidup.


"oh iya masih ada 1 hadiah lahi Bunda" sahut Inara tiba-tiba segera ia mengurai pelukannya dari sang Bunda dan mencari sesuatu di dalam kopernya


"tada....baju couple Bunda" ucanya sambil menunjukkan dua dress di tangannya


"besok kita foto ya bunda..tapi" tiba-tiba Inara teringat bahwa kini Hp nya telah hilang


"hp Nara di jambret Bunda gimana dong" ucapnya lesu membuat Bunda dian tersenyum


"itu namanya musibah nak ikhlaskan lah mungkin memang itu adalah jalan rejekinya mencari sesuap nasi yaa walau dengan cara yang salah"ucap Bunda Dian lembut menenangkan sang putri


"iya Bunda, Nara ikhlas ko anggap aja Nara sendiri yang ngasih"


"lagiankan masih ada hp Bunda walau tak sebagus hp nya Nara" ucap Bunda Dian


"iya Bunda besok kita foto yaa"


"iya sayang"


malam kian larut, namanya juga di desa tentunya selepas isya keadaan sudah sedikit sepi jam 9 terasa jam 12 malam


kini Inara berbaring sembari menatap langit-langit kamarnya sembari berfikir untuk menata masa depannya.


"mulai besok aku harus kerja bantu Bunda di kebun sambil nyari loker di internet siapa tau ada yang buka" gumamnya


"pan-pan doin yaa semoga cepat aku bisa dapet kerja yang bagus agar bunda tak perlu ke kebun lagi metik-metik daun teh" ucapnya pada pan-pan yang hanua anteng bersandar di kepala ranjangnya


•••••


disisi lain....


"Ya hangout yuk" ajak Eza dari seberang sana saat ini mereka sedang VC an, derita jomblo emang


"udah jam 9 Za malas gue, baru aja mau keluar udah disuruh masuk lagi ama mami" jawab Arya yang kini merebahkan dirinya di tempat tidur


ya...walaupun mereka berdua laki-laki namun mami Rina tetap memantau pergaulan anak-anaknya dan salah satunya tidak boleh keluar sampai larut malam batasnya hanya sampai jam 10 saja, jika lewat maka siap-siaplah hukuman menantimu


"iya juga yaa...."gumam Eza dari sebrang sana


"besok ajalah kita hangoutnya, besok kan weekend sekalian ajak Syika gimana" usul Arya


"bagus juga ide elo tumben pinter"


"sialan" kesal Arya

__ADS_1


"Tambahin Inara dong Ya"


"bentar" Arya segera menambahkan Inara dalam panggilan vidionya, namun Inara tak kunjung menjawab


"nggak aktif kek nya Ya" ucap Eza


"hmm..besok ajalah kita langsung ke kosannya"


"yaudah dehhh"


esok harinya.....


di tempat Inara, mentari yang masih malu-malu menampakkan dirinya membuat suasana sedikit dingin


pagi hari pukul enam pagi, Inara dan Bunda Dian sudah siap-siap berangkat ke kebun tempatnya bekerja. Dengan pakaian sedikit tebal dengan keranjang di tangan, Inara dan Bunda Dian menyusuri jalan setapak perbukitan.


Karena masih pagi tentunya udara tambah segar, apalagi langit kini berangsur angsur menampakkan sinarnya, kicauan burung-burung yang beterbangan diangkasa tentunya menambah keindahan alam yang ada


"kenapa mesti ikut sih nak, kamu pasti masih capek dari jakarta"


"nggak papa kok Bunda, Nara pengen bantu Bunda di kebun rasanya udah sangat lama Nara nggak metik daun teh lagi"


"kamu nih..." Bunda Dian menggelengkan kepalanya gemas dengan Nara yang ngotot tetap ikut bekerja dengannya


"Bunda pulang dari sini kita foto yaa"


"iya..."


sesampainya di kebun, Inara disambut baik oleh pekerja yang ada disana


"lah ini Nara mbak Bian...woalah tambah cantik aja tinggal di kota" ucap dalah satu pekerja disana


"iya ini Nara baru aja kemarin pulang dari jakarta" jawab Bunda Dian


"wahhh pasti Rizki seneng banget nih mbak kalu tau Nara udah balik"


Inara seketika ingat sosok Rizki temannya yang ada disini


3 jam lebih mereka bekerja setelah menerima upah, Inara dan Bunda Dian segera pulang


"kita mampir kewarung bentar ya beli sayur ama ikan kamu mau makan ikan apa ayam" tanya Bunda Dian


"emmm...kalau ikan lebih murah kita beli ikan tapi kalo ayam nggak terlalu mahal kita beli ayam aja Bunda"


"yaudah deh.."


selesai membeli sayur ,ayam dll, Inara dan Bunda segera pulang


jam kini menunjukkan pukul setengah sepuluh, masih terlalu pagi untuk makan siang.makany setelah masak Inara dan Bunda Dian kini asyik berfoto ria di ruang tamu yang Inara sulap menjadi room foto mereka


"bunda bentar yaa..Nara ambil ateibuk wisuda Nara dulu" Inara segera menuju kamar memakai kemballi atribut wisudanya, setelahnya ia kembali ketempat foto


Bunda Dian yang melihatnya terharu tanoa terasa air mata menetes membasahi pipi, akhirnya ucapan-ucapan yang selalu ia dengar dari para tetangga mengenai anaknya-anaknya itu sudah serjana dan sukses dan lihatlah syukurlah akhirnya ia juga bisa melihat dan merasakan bangga bahwa kini anaknya juga bisa menjadi serjana.


"bunda kok nangis"


"nggak kok bunda seneng aja akhirnya Nara udah serjana"


"ini semua berkat doa bunda kok, udah ah jangan nangis lagi kita lanjut foto-foto yuk"


akhirnya sesuatu yang tidak semoat Inara rasakan saat wisuda dulu akhirnya bisa ia rasakan yakni berfoto bersama sang bunda dengan ia memakai atribut wisudanya


saat masih asyik berfoto tiba-tiba...


tok..tok...tok


"permisi....spada" teriaknya


"itu siapa sih ganggu aja" gerutu Cinta


"bukain gih ada tamu nggak baik di tolak"


"iya bunda" dengan malas Inara menuju pintu dan membukanya

__ADS_1


"ASTAGA NARA KAMU UDAH PULANG...ASTAGA" pekiknya saat pintu yang diketuk terbuka


"astaga ini beneran kamu Ra" tambahnya lagi yang masih syok


"bukan tapi bidadari yang turun dari kayangan" jawab Inara asal


"astaga beneran kamu toh buktinya bobroknya masih sama"


"itumah kamu" kesal Inara


"ajak masuk gih nggak sopan tamu kok nggak disuru masuk"


"masuk gih sekalian kebelakang nyuci piring lumayan banyak tuh" jawab Inara membuat sosok itu cemberut


"ehhh nak Rizki bunda kira siapa" sahut Bunda Dian dari dalam


"hehehe..maaf Bunda ngeganggu yaa tadi mama bilang kalo Nara udah balik dari jakarta makanya Rizki ke sini" jawab Rizki kikuk sembari menggaruk tengkuknya


"yaudah duduk gih Bunda buatin minum"


"nggak usah bunda...."


"nggak papa kok"


"nggak nolak maksudnya bunda hehehe" ucap Rizki dibalas tabokan oleh Inara


plukkkk


"nyusahin aja jadi orang"


"astaga sakit tau" ucaonya sembari mengelus lengannya


"Ra oleh-oleh ku mana" ucao Rizki sembari mengadahkan telapak tangannya ke Inara


"emangnya kamu masuk di list aku yaa perasaan tidak deh"


"astaga kamu lupa yaa...aku tuh orang pertama yang minta oleh-oleh dan kamu janji mau bawain " kesal Rizki


"astaga nih anak masih inget aja" batin Inara menggeleng-geleng


"nggak lupa kok tenang aja" Inara segera beranjak kemudian kembali membawa setopels kerupuk ditangannya


"nihhh"


"kerupuk" tanya Rizki tak mengerti


"iya kerupuk oleh-oleh dari aku buat kamu"


"astaga Ra kalo krupuk doang ma aku juga bisa beli, diwarung mpok romlah mah ada" kesal Rizki


Pikirnya ngapain jauh-jauh dari jakarta oulangnya oleh-olehnya cuma krupuk doang


"astaga nih anak tentu bedalah rasa krupuk jakarta ama disini" dan dengan polosnya Rizki mencoba krupuk yang ada ditangannya


"sama aja Ra"


"hahahahaaa...masih sama aja kamu Ki asih sama-sama mudah di kibulin hahahah


"cih menyebalakan" Rizki kini cemberut memandang Inara yang tertawa puas


"iya-iya aku bawain kok tenang aja" akhirnya Inara mengalah takutnya aksi cemberut Rizki berlanjut lagi


•••••


"lah kok Syika nggak ada di kosannya sih Za tadigue tanya orang disamping kamarnya katanya kemarin Syika pergi katanya" ucap Arya


kimi Eza dan Arya tengan berada di depan kosan Inara namun tak mendapati Inara disana


"coba kamu telpon lagi deh"


Arya segera menghubungi Inara namun tak kunjung di jawab


"nggak aktif"

__ADS_1


__ADS_2