
saat pintu kamar terbuka, suasana maskulin sangat kental di dalamnya. dimana cat ruangan hanya warna monokrom dengan aroma maskulin
"istirahat lah"ucap Eza
"tapi...."jawab Inara sesikit meragu
"nggak papa, nggap rumah sendiri"
"aminn" lanjutnya dalam hati
"makasih" jawab Inara dan mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidur
setelah memastikan Inara tertidur, Eza menghampiri Bi Mira yang kembali asyik dengan sinetronnya
"Bi..."panggil Eza dan kini duduk disamping Bi Mira
"hmm"jawab Bi Mira
"nanti malam Eza mau adain party di sini Bi bareng temen-temen" ucapnya sesekali menyemot kripik kentang di depannya
"hmm"jawab Bi Mira hanya dengan berdehem saja karena terlalu serius akan sinetron yang saat ini di tontonnya
"oh iya bi udah ada kabar belum dari om Fadil" ucao Eza tiba-tiba dan membuat atensi Mira beralih padanya
jika diingat-ingat lagi ternyata sudah sangat lama kabar Fadil tak didengarnya
"entahlah" jawab Mira cuek
mendengar itu Eza hanya manggut-manggut
"kira-kira om Fadil kemana yaa perasaan udah lama banget deh perginya" gumam Eza yang masih dapat di dengar oleh Bi Mira
"aku juga nggak tahu dia dimana" batin Mira sedih
__ADS_1
waktu menjelang siang....
Eza melangkah menuju kamarnya, dimana disana Inara masih terlelap
sesaat Eza berdiri sambil bersandar di meja belajarnya, menatap sosok bidadari yang kini terlelap terbuai dalam mimpi indah
"jika memang rasa ini salah maka maafkanlah aku tuhan jika mencintai seseorang dimana sahabat ku juga menyukainya, ingin rasanya mundur tapi apa daya hati ini tak menginginkanya, ingin egois tapi takut ada yang harus ku korbankan" batinnya sambil menatap lekat Inara yang terlelap
cukup lama Eza terus menatap Inara yang terlelap, entahlah apakah ia melamun atau tak memang menatapnya seolah tak ingin melewatkan waktu sedikitpun tanpa menatapnya
tiba-tiba ia terhenyak saat mendengar lenguhan daei Inara
"enggg...."Inara melenguh dengan perlahan ia mulai membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Eza yang berdiri tak jauh darinya dengan menatap kearahnya
"astaga..."pekiknya spontan duduk dengan wajah terkejutnya membuat kepalanya tiba-tiba sakit
"isssss..."lirihnya sedikit meringis sambil memegang kepalanya
Eza hanya melihatnya sambil menggeleng-geleng saja, betapa lucunya gadis di depannya itu
"lah emang salah ini kan kamarku" jawab Eza sambil mendekat dan duduk tepat di sampingnya dimana, satu kakinya menjuntai dan satunya lagi ia tekuk dan menghadap ke Inara
"oh iya ya" ucao Inara saat kesadarannya benar-benar pulih dan tersenyum
"sekarang jam berapa Za" tanya Inara sambil memcari tas yang tadi ia letakkan entah kemana
"sudah waktunya makan siang Ra" jawab Eza
"astaga aku ketiduran Za" ucap Inara yang tak enak hati
"nggak papa santai ajalah...yaudah yuk kita kebawah Bi Mira udah nungguin" ucapnya
"iya"jawabnya
__ADS_1
selesai dari kamar mandi untuk mencuci muka, Inara mengikuti Eza menuju meja makan dan disana sudah ada Bi Mira yang standny dari tadi
"asataga udah kek pengantin baru aja" cibir Bi Mira
"doin aja bi....Aminnn" jawab Wza jemawa dan lagi-lagi mendaoat hadia cubitan dari Inara yang berada di belakangnya
"awww....sakit Ra doyan banget nyubitnya" pikiknEza sedikit tertahan
"yaudah duduk gih...Bibi laper"
mereka bertiga sudah duduk di kursi masing masing dan memulai acara makan siangnya
saat Bi Mira dan Eza santai menyantap makanannya, berbeda dengan Inara yang terasa sangat sulit dalam menelan bagaimana tidak rasa canggung besar melandanya
makanan lezat saat dipandang terasa batu saat di telan
"Ra kok nggak dimakan" tanya Eza
"emm..enggak kok ini aku makan" jawab Inara segera menyendok makanannya
"enggak enak yaa" sahut Bi Mira tiba-tiba
"enak kok tante"jawab Inara yang merasa tak enak hati
"astaga TANTE, BIBI aja aku ogah..model gini cocoknya jadi adik dia nih" canda Bi Mira sambil menunjuk Eza
"maaf" cicit Inara
"astaga nih bocah kenapa sih takut bener ama gue" ucap Mira yang kini dalam mode gaul
"santai aja kali...nggak akan gue makan" ucapnya kesel
"maaf Bi"cicit Inara lagi
__ADS_1
"sudah-sudah lanjut lagi makannya" ucap Eza menengahi