
"nah ini kamarnya, semoga nyaman yaa" ucap Eza kenunjukkan kamar tamunya
"makasih Za" balas Inara
"yaudah aku keluar yaa kamu istrahat gih"
"iya...selamat malam".balas Inara ramah
Sesampainya di kamar, Eza menghempaskan tubuhnya kasar di atas tempat tidur sedikit rasa senang hinggap di hatinya, pasalnya sosok gadis yang ia sukai bermalam di rumahnya
Namun disisi lain rasa penasaran justru menjalar dalam dirinya bagaimana bisa Mommy nya Marcella mengatakan kalau ia dan Marcella udah temenan dari kecil
alah.....memikirkannya membuat ia tambah bingun, jalan terbaiknya adalah cari tahu lewat Bi Mira
Yaahhh...hanya Bi Mira, Pikirnya
.....................Rz...................
Pagi menyingsing memaksa mata yang terpejam untuk terbuka, dimana sinar mentari oagi lembut menembus kornea mata
Eza mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya dimata, kemudian duduk selonjoran bersandar pada headboard kasurnya
dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit, saatnya ia bersiap-siap menuju kampus untuk mrngembalikan beberapa buku yang ia pinjam saat menyusun skripsi kemarin
Di bawah...tepatnya didapur, Inara dengan lincah membuat sarapan untuk Eza dan juga Bi Mira. Walau sudah ART namun sebagai tamu tentunya ia tahu diri dan hanya hal inilah terlintas di benaknya yaitu membuat sarapan
"loh kok kamu di dapur sih...siapa nama kamu siapa Bibi lupa" ucap Bi Mira saat memasuki dapur dan mendapati Inara tengah bergelut disana
"Inara Bi..."jawab Inara sopan sesaat menghentikan kegiatan masaknya
"yeah Inara, ngapain di dapur" tanya Bi Mira lagi
"maaf Bi, Inara cuman mau buat sarapan buat Bibi juga Eza...maaf jika tidak minta isin terlebih dahulu" jawab Inara merasa tak enak
"ngapain nggak enak justru Bibi yang rasa nggak enak masa tamunya masak sih" balas Mira
"nggak papa kok Bi, Inara seneng kok masak buat Bibi juga Eza" balas Inara kemudian meletakkan makanan hasil buatannya
"maaf ya Bi cuman nasi goreng ama omelet telur gulung" lanjutnya lagi setelah menata makanan diatas meja
"sepertinya enak nih" puji Bi Mira membuat Inara tersenyum senang
"Eza kemana sih kok belum nongol juga, kebiasaan tuh anak kalo nggaj dibangunin nggak bakalan sadar" gerutu Bi Mira mendudukan dirinya kasar di kursi makan
__ADS_1
"Ra..Bibi minta tolong boleh, bangunin Eza yaa...Bibi males harus naik tangga lagi"
"bisa kok Bi...Inara bangunin Eza dulu yaa Bi" balas Inara baru aja dua langkah ia kembali lagi membuat Mira yang asyik dengan hp nya menatap ke arahnya
"kok balik nggak mau yaa" tanya Bi Mira
"emm..itu Bi kamarnya Eza dimana yaa" balas Inara
"ohhh itu....sebelah kanan setelah ujung tangga lurus nah pintu warna putih kamranya Eza"
"makasih Bi"
setelah mengikuti intruksi dari Bi Mira, akhirnya Inara kini berdiri depan pintu kayu berukir berwana putih
sedikit ragu untuk mengetuk, namun mengingat Bi Mira sedang menunggu membuat Inara memberanikan diri
tok
tok
tok
"Za" panggil Inara pelan
"Za" panggilnya lagi nmun tak ada sahutan
"sopan nggak yaa kalo tiba-tiba masuk kemar orang" gumam Inara
"masuk aja kali yaa kek nya Eza masih ngolor deh" gumamnya laguli
setelah berpikir panjang, Inara memberanikan diri membuka pintu kamar Eza dengan pelan
saat pintu terbuka Inara menyebulkan kepalanya masuk kedalam, namun tak melihat keberadaan Eza
"Za"panggilnya lagi dan kini ia benar-benar masuk ke kamar Eza dan melangkah lebih masuk
bersamaan itu, Eza yang baru saja selesai mandi keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggang, sesekali menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil
Inara yang tak menyadari keberadaan Eza begitupun Eza tak menyadari bahwa kini Inara dikamarnya
tiba-tiba mereka berdua saling berhadap, dengan Inara yang berniat keluar otomatis membalikkan tubuhnya begitupun Eza yang awalnya membelakangi Inara karena menutup pintu kamar mandi
"Aaaaaaaa.......astaga" pekik Inara saat melihat Eza yang bertelanjang dada reflek menutup mata dan membalikkan tubuhnya membelakangi Eza
__ADS_1
sedangkan Eza hanya diam terpaku bingung mau ngapain
"maaf Za...aduh maaf yaa aku nggak lihat kok sumpah" ucap Inara cepat membuat Eza sadar seketika
"maaf aku masuk kamar kamu nggak ijin dulu tadi Bibi iamu nyuruh buat bangunin kamu karena kamu nggaj nyahut aku kira kamu masih tidur makanya aku masuk" jelasnya lagi
Tanpa Inara sadari bahwa kini Eza tengah berdiri tepat di depannya memperhatikan ia sedari tadi mengoceh panjang lebar dengan mata tertutup rapat dengan tangan
Eza yang awalnya ingin mengambil baju di lemari bekang Inara gagal fokus akan kecantikan Inara pagi ini
dengan rambut setengah basah yang tergerai indah, wajah yang cantik alamai tanpa polesan make up yang berlebih walau nyatanya kini bersembunyi dibalik kedua telapak tangan sang pemilik, bibi mungil merah delima yang sesari tadi bergerak menambah kesan imut bagi Eza membuat Eza betah berlama-lama menatapnya
"Za...." panggil Inara
"hmm" jawab Eza yang masih bertelanjang dada bersandar pada lemari memperhatikannya
"udah pake baju belum" tanya Inara membuat Eza sadar akan keadaanya kini
dengan cepat Eza menyambar kaos hitam lengan panjang dan celana cinos berwarna mocca. Sederhana namun berkelas di diri Eza
"udah" jawab Eza
dengan pelang Inara menurunkan tanyannya sedikit menguntip di sela jari saat mendapati Eza yang sudah rapi barulah ia menjatuhkan kedua tangannya
"maaf yaa aku nggak sopan masuk kamar kamu" ucap Inara merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya
"iya" jawab Eza singkat kemudian mengangkat dagu Inara agar menghadap padanya
barulah manik mata indah Inara beradu pandang dengan tatapan lembat namun tegas dari Eza
bulu mata lentik tanpa maskara, alis tebal tanpa pencil alis, hidung mancung tanpa implan, bibir merah tanpa lipstik dan terbelah
"cantik" ucap Eza membuat Inara bersemu merah mendengarnya
Inara yakin saat ini wajahnya memerah karena malu entah itu karena pujian atau malu karena sesaat tadi ia semoat melihat Eza bertelanjang dada walau cuma seperkian detik saja
"apalagi merona gini" goda Eza
..."*bukan maksud memuja ciptaanmu ini tuhan hanya saja ciptaan mu yang satu ini benar-benar indah dipandang mata"...
..."mungkinkah bidadari di muka bumi itu ada dan salah satunya kamu SYIKA INARA*"...
"bolehkah diri ini sedikit egois meminta ia kepadamu untuk menjadi jodohku berharap tetap bersama tanpa takdir yang menjauhkan"
__ADS_1