
Inara membeku dengar sepenggal kalimat yang terdengar lirih di telinganya. Tangannya yang semula memberontak perlahan berubah membalas mengeratkan pelukan erat Eza yang melingkar di perutnya.
kedua insan itu saling merengkuh dlam diam, meresapi setiap rindu yang perlahan menguar seiring rekatnya pelukan mereka berdua.
Inara perlahan melepaskan lingkaran tangan Eza di perutnya, perlahan Inara berbalik dan kedua netrantaya bersitatap dengan netra sendu milik Eza.
Tangannya terangkat mengelus lembut rahang kokoklh yang terlihat sedikit tirus itu
"kamu kok kurusan, diet yah" ucap Inara sedikit bercanda namun dengan nada sendu
Eza mengenggam jemari Inara pipinya namun tak memindahkannya, pandangannya kian sendu berkaca-kaca bahkan kini air setetes air mata telah jatuh membasahi pipinya. Inara dengan sigap menghpus air mata yang jatuh itu dengan tangan satunya.
"kamu tahu setahun ini aku mencari kamu, di desa kamu juga nggak ada. kamu....."
"kamu buat aku khawatir Ra" ucap Eza lirih kemudian meununduk membiarkan iar mata itu kembali jatuh
"kamu seneng banget menghilang Ra, tanpa kabar tanpa pesan dan kamu...."
"sssttt" Inara memberi isyarat agar Eza diam tangannya menangkup wajah Eza agar kembali menatapnya.
"kali ini alasan apa lagi, di jambret, nggak ada signal atau nggak punya data internet buat kasih kabar" ucap Eza kesal namun Inara hanya tersenyum bahkan sedikit terkekeh
"nggak juga, kebetulan waktu itu Rizki ngajak aku kerja di bandung, makanya aku sama bunda ke sana, soal nggak ngasih kabar itu..." Inara berhenti sejaenakencoba mencari alasan apa yang tepat buat Eza
"aku nggak mau ganggu kamu aja karena aku tahu sekatlrang kamu oasti sangat sibuk, buktinya hari ini kan" lanjut nya lagi
"maaf Za, aku bohong. nggak mungkin aku ngasih tahu kamu kalo ini semua karena Marcella" batin Inara
"sesibuk apapun aku pasti selalu luwangin waktu buat kamu Ra, jangan pernag mikir kalo aku bakalan cuekin kamu karena kerjaan karena nyatanya kamu lebih penting buat aku" ucap Eza kembali memeluk Inara, dibalik Eza Inara menetaskan air matanya kemudian buru-buru ia usap sebelum Eza melihatnya
"yaudah, klo gitu aku pamit. aku harus balik ke bandung lagi bos aku udah nungguin di bawah" ucap Inara ketik pelukn merek berdu lepas
__ADS_1
"aku harap kamulah yang akan pak Bry pilih buat handel kerjaan kalian disini" harao Eza namun Inara tak menjawab karena tak ingin memberi sebuah harapan
satu kecupan di kening membuat Inara termangu, bahkan kembali membeku ketika bisikan lirih menyapa indra pendengarannya
"kamu masih hutang 1 jawaban ke aku Ra"
deg
Inara tentu tahu apa yang dimaksud Eza ,bahkan selama ini ia tidak pernah lupa sedetik pun
"aku pamit"
setelahnya Inara benar-benar keluar dari ruang meeting itu meninggalkan Eza dengan sejuta rasa bahagia di wajahnya
sesampainya di lobby Inara segera menemui Bry yang dilihtnya dari jauh bersungut-sungut
"ini pak kuncinya" Inara memberikan kici yang diambilnya ke Bry
"lama banget sih, ke sasar atau apa" balas Bry menerima kuncinya
"buruan pak kok mobilnya nggak dibuka mau sampe kapan kita berdua berdiri" lanjit Inara lagi
"bener-bener kamu ini karyawan yang tak menghargai atasan" balas Bry namun tak urung melakukan apa yang di ucapkan Inara
"yaa kalo atasannya kek bapak ngapain di hormati" balas Inara lagi asal, Bry yang mendengarnya tak tersinggung sedikit pun namun cukup senang membuat Inara ngomel-ngomel seperti itu
"yaudah kamu aku tinggal aja, nggak usah naik"
"enak aja, bapak ke sini bawa saya yaah harus di bawah balik dong" Inara segera menaiki mobil yang di dalamnya sudah asa Bry
•••••
__ADS_1
"gila" ucap Mira sat memasuki ruangan Eza
"eh Bi Mir..."sapa Eza yang masih sumringah kepada Mira
Mira menatap Eza dai bawah ke atas kemudian sebaliknya
"bener gila?" tanya Mira namun Eza segera memeluknya dan mencium kedua pipinya
"Eza bahagia Bi, sakin bahagianya Eza pengen nangis" Eza menitihkan iar matanya namun buru-buru ia hapus
Mira yang melihat Eza menitihkan air mata penasaran apa gerangan yang membuat ponakan P'A nya ini bahagia sampe berlinang air mata
"karena apa"
"tadi aku bertemu Inara Bi"
"Inara"
"iya, ternyata dia kerja di salah satu perusahaan WO di Bandung dan perusahaan itu yang kerjasama ama perusahaan kita Bi" seru Eza dengan riang gembira, mendengar itu Mira turut bahagia mendengarnya akhirnya Eza bisa se ceria ini lagi
sejak kepergian Arya dan kehilangan Inara membuat Eza selalu murung dan melamun, walau sekarang ada Ben namun Mira rasa kebahagian Eza kali ini beda.
"syukurlah, yaudah bibi ke sini cuma mau izin pulang duluan kamu handel kerjaan aja dulu baru pulang tapi jangan sampai lebur"
"bos mah enak, mau pulang tinggal pulang lah bawahan bisa apa" cibir Eza namun dibalas jitakan maut di kepalanya
"Mira loe apa-paan sih mainnya jitakan nih" Eza mengelus lembut kepalanya yang terasa nyeri luar binasa saking kesalnya bahkan ia menyebut nama sang bibi langsung
plok
kini tabokan mendarat ke mulutnya yang monyong karena bersungut-sungur
__ADS_1
"KDRT" pekik Eza
"whatever" balas Mira kemudian berlalu setelah puas membuly keponakannya itu