
Acara wisuda telah selesai, kini saatnya saling mengabadikan momen lewat jepretan kamera
Eza dengan mortarboard yang masih bertengger dikepala sedangkan pakaian toga ia sampirkan di lengan sebelah kanan yang memegang jasa kelulusannya, sefangkan tangan kirinya ia menggenggam erat pinggang sang Bibi kemudian berfoto ria menghadap kamera
banyak yang melihat mereka, mengira itulah kekasih sang primadona kampus dilihat dari cara ia berfoto sngan serasi nan romantis
kini giliran Arya dan kedua orang tuanya, dimana tema seolah-olah papi dan mami sedang menjewer kedua kupingnya membuat Arya seolah-olah meringis dan itu berhasil diabadikan
tak lupa pula poto resmi dimana Eza dan Arya yang duduk di kursi depan sedangkan Bi Mira, Papi dan Mami Rina berdiri di belakang mereka
"nanti kerumah ya Za, Mir, kita syukuran kecil-kecilan untuk wisuda Eza dan Arya" usul Mami Rena
"iya mbak"jawab Bi Mira
"yaudah mami pulang dulu ya sayang jangan keliyuran nggak jelas"
"iya mi"sahut Arya
"sekali lagi selamat yaaa, pasti Mas Riswan dan Mbak Fajrin bangga banget ama kamu sekarang" ucap Bi Mira ke Eza membuat pemuda itu sedikit sendu namun berusaha tersenyum
"iya Bi, makasih yaaa Bibi udah mau jaga Eza, ngerawat dan selalu berdiri disamping Eza" ucap Eza tulus
"iya"balas Bi Mira haru
mengingat seberapa besar perjuangannya membesarkan Eza yang masih kecil hingga sampai saat ini, sosok itu telah berubah menjadi pria tampan dan saat ini sudah bisa membanggakan.
Eza memeluk Bi Mira penuh sayang, ia sangat bersyukur dibalik perginya kedua orang tuanya ke hadapan sang pencipta, setidaknya tuhan tak sekejam itu meninggalkan ia seorang diri dan untungnya tuhan menitipkan ia kepada sosok penyabar, penyayang seperti Bi Mira
"Eza sayang Bibi, sayangggg banget"bisiknya dibalas anggukan oleh Bi Mira dengan derai air mata di balik punggung Eza
"Bibi juga"balasnya
"yahhhh nangis deh, maskaranya luntur bi" camda Eza saat mengurai pelukannya
"hiks...hiks...biarin..hiks"jawab Bi Mira tersedu, entah mengapa ia sangat sedih dan terharu
"nggak cantik dong"
"BIARIN......HWA...." pekik Bi Mira tiba-tiba histeris
"loh kenapa Mir" sahut Mami Rina tiba-tiba di ikuti Arya dan Papi Hendra
"nggak tau mbak. pengennya nangis doang...hikss" jawab Bi Mira
"cup...cup...cup"Eza mencoba menenangkan
__ADS_1
"asataga...udah tua masih kek bocah" cibir Arya berniat menghibur namun apalah daya niat baik tak selamanya baik
bugh
buhh
"kurang ajar"ucap Bi Mira kesal kemudian memukul Arya dengan tas kecilnya
"MAMI......"pekik Arya tak tahan
•••••••••
kini Arya dan Eza masih berdiri di depan gedung serbaguna rempat wisuda
menunggu Justin dan yang lainnya, terutama menunggu Inara
beberapa saat kemudian.....
Justin dan yang lainnya datang, namun tak nampak Inara di sana
"Inara mana Ca" ranya Arya ke Caca
"enggak tau "jawab Caca
"ohh...tadi klo nggak salah Inara bareng Dirga deh Ya" sahut Eca tiba-tiba membuat Eza kesal
"di sebelah sana" tunjuk Eca
tanpa pikir panjang Eza segera menyusul Inara, namun sesampainya disana i tak menemukan Inara maupun Dirga
"shitt......mereka kemana sih" gerutunya kesal
Eza terus melangkahkan kakinya mencari Inara, hingga matanya terbelalak saat ia melihat Dirga mencoba menembak Inara di depan beberap orang yang ada disana
sedangkan di tempat Dirga dan Inara
"Dirga kamu apa-paan sih berdiri nggak" ucap Inara sedikit risih akan tindakan Dirga yang berlutut di depannya dengan menggeng tangannya
ingin rasanya Inara lari menjauh,namun karena tak ingin membuat Dirga malu makanya ia tetap berdiri disana
"Ra....aku udah suka kamu udah lama hanya saja aku nggak berani ngomong, makanya hari ini di hadapan semua orang......"sejenak Dirga menarik nafas dan menghembuskannya perlahan mencoba menghilangkan rasa gugu yang melanda dirinya
"SYIKA INARA WILL YOU MERRY ME" ucap Dirga membuat beberapa orang disana histeris melihat keromantisannya, tapi tidak dengan Inara ia hanya berdiri kaku karena terkejut, syok dengan apa yang terjadi
belum selesai keterkejutannya, Inara kembali terkejut saat Eza tiba-tiba datang dan menghajar Dirga, membuat Dirga jatuh tersungkur dengan sudut bibir berdarah
__ADS_1
"aaaaa....Eza kamu apa-paan sih" pekik Inara berusaha menjauhkan Eza dari Dirga
"lepas" ucap Eza kemudian kembali menghajar Dirga membuat perkelahian itu tqk dapat terlakan
Dirga dan Eza saling memukul, beradu tinju menunjukkan siapa yang paling hebat dan cocok berdiri disamping Inara
bugh
satu kepalang tinju dari Eza berhasil membuat Dirga kembali tumbang
"berani-beraninya loe lamar dia" ucap Eza penuh penekanan pada Dirga
"uhukk..uhukk..emangnya loe itu siapanya dia hah" ucap Dirga menantang membuat Eza bungkam dan memilih pergi tanpa memperdulikan Inara yang memanggil namanya
"Za...tunggu" panggil Inara mencoba berlali dengan hak tingginya, namun Eza tak menggubris rasa sesak didanya saat melihat sang pujaan hati dilamar langsung oleh sang rival
"awwww" ringis Inara yang tiba-tiba jatuh
Eza yang mendengarnya menghentikan langkahnya, dan berbalik mendapati Inara yang sudah duduk di lantai dan mencoba berdiri namun susah tuk berjalan
sepertinya kakinya terkilir apalagi hak sepatunya sampai patah, ada rasa sesal dalam hati Eza melihat Inara yangb erluka apalagi itu karena dirinya
andai saja tadi ia bisa meredam emosinya dan tidak pergi meninggalkan Inara, mungkin gadis itu tidak akan berlali mengejarnya dengan sepatu tinggi seperti itu
tanpa banyak bicara, Eza menghmapiri Inara dan mengajaknya duduk disebuah bangku tak jauh dari mereka
Eza bersimpuh di depan Inara sambil memegang pergelangan kaki Inara yang sedikit biru dan bengkak
"apa yang kamu lakukan" ucap Inara yang risih akan tindakan Eza
Eza tak menjawab justru melepaskan kedua sepatu laknat yang telah menyakiti kaki sang pujaan hati
"Za" ucap Inara
"diamlah"jawab Eza dingin membuat Inara tersentak, baru kali ini Eza dingin keoadanya
Inara tak lagi bicara, cukup diam dan diam, hingga akhirnya ia terpekik saat tibuhnya melayang
ternyata Eza menggendongnya membuat ia reflek mengalungkan tangannya dileher Eza
"Za apa-paan sih, turunin nggak" ucap Inara, tapi Eza tak menjawab namun sedikit membungkuk dan Inara mengira Eza akan menurunkannya tapi tidak, Eza justru memungut sepatunya untuk dibawa
"Eza turunin, aku bisa jalan kok nggak perlu di gendong" ucap Inara
"diamlah Ra kalo nggak aku lempar MAU" balas Eza terdengar kejam ditelinga Inara,membuat Inara reflek mengeratkan pegangannya keleher Eza dan menyembunyikan wajahnya di dada lelaki itu
__ADS_1
"tapi aku malu" cicit Inara,.Eza tak menggubris justru bermasa bodoh membuat Inara merasa apakah Eza marah kepadanya