
tok
tok
tok
suara ketukan memaksa Inara untuk beranjak dari pembaringannya, dengan langkah tertatih menahan sakit Inara menuju pintu yang sedari tadi di ketuk tanpa sabaran
"bentar" ucapnya sesekali meringis menahan sakit di kakinya
"siapa"
"Eza"ucapnya terkejut melihat Eza yang berdiri dibalik pintu
"maaf mengganggu"balas Eza dengan senyum manisnya memperlihatkan 2 lesung pipit yang selalu tersembunyi
"eh...nggak ayo masuk nggak ngeganggu kok" balas Inara
Inara mempersilahkan Eza duduk, sedangkan ia menuju dapur untuk membuat minuman
"nggak perlu repot Ra"ucap Eza merasa sungkan
"enggak kok....maaf ya adanya cuma ini" balas Inara meletakkan secangkir teh di hadapan Eza
"iya...nih aku bawain brownis"ucap Eza metekkan sekotak brownis yang dibawanya
"justru aku yang ngerepotin Za"balas Inara mengambil brownis yang diberikan Inara untuk disuguhkan lagi kepada Eza
"gimana kakinya udah mendingan"tanya Eza sesekali memelihat pergelangan kaki Inara
"iya, tapi masih sedikit sakit sihhh kalo jalan" balas Inara
"coba kulihat" Eza bersimpuh dan manaruh kaki Inara di atas pahanya
"eh..eh..eh...Za ngapain"ucap Inara merasa tidak enak hati
"nggak papa cuman mau lihat aja kok" balas Eza
"udah nggak bengkak nih tinggal minum obat rutin udah pasti sembuh"
"iya"
setelahnya Eza kembali duduk menikmati teh buatan Inara
"baru pulang" tanya Inara tiba-tiba
"hmm"
"pasti sibuk banget ama Marcella itu" batin Inara sedikit cemburu
"kok agak sore sibuk banget yaa ama keluarganya Marcella" tanya Inara walau menahan sakit di hati membayangkan kedekan Eza dan Marcella dihadapan keluarga Marcella
"nggak, aku baru pulang kantor urusan Marcella nggak penting buat aku" jawab Eza
"napa nanyain soal Marcella" tanya Eza memicingkan matanya membuat Inara gelagapam
"nggak kok..nanya doang emang nggak boleh" jawab Inara sedikit kikuk
"ohhh....tadi sih sempat ketemu setelahnya aku ke kantor soalnya ada kerjaan yang nggak bisa aku tinggal" jawab Eza
"harus banget yaa pake acara gandengan segala" Batin Inara kesal
"kenapa....cemburu" tanya Eza makin membuat Inara dilanda panik
"haa...cemburu..hahaha...astaga kok disini panes banget yaaa...aduhhh cemburu masa sih" ucao Inara kikuk sesekali menhioasi wajahnya yang
sudah pasti memerah
"cemburu juga nggak papa kok..."goda Eza membuat Inara makin merona karena malu
"apaan sih"
"Ra..."panggil Eza seketika suasana berubah serius
"jika aku bilang kalo aku suka kamu gimana" tanya Eza membuat Inara diam membeku
"kamu ngomong apaan sih ngelantur ahh" balas Inara sedikit bercanda walau sebenarnya jantungnya kini sedang memompa lebih cepat
__ADS_1
"aku serius"
"nggak tau" jawab Inara sambil menunduk
"aku nggak tau Za apa bener yang aku rasakan ini cinta atau apa, jika memang cinta apa mungkin aku juga suka Arya, karena rasanya sama persis...." batin Inara bimbang
"udahlah anggap aja tadi itu aku bercanda" ucap Eza mengalihkan pembicaraan saat menyadari Inara sedikit terganggu akan pengakuannya
"oh iya, rencananya kamu kedepan gimana" tanya Eza sesekali menyomot broenis bawaannya
"planning yaa...nggak tau" ucap Inara disertai gelengan kepalanya
"haaa....yang bener, Arya aja planningnya mau ke Amerika buat S2, kok kamu nggak ada planning sih" ucap Eza heran
"nggak tau, yang pasti aku mau pulang ke kampung dulu Za, setelahnya nanti aku pikir-pikir lagi. 3 tahun lebih hidup di kota rasanya sumpek"
"yaaa...Arya ke Amrik kamu ke kampung, lah aku. Tega bener kalian ninggalin aku"
"emang Arya beneran mau ke Amrik, kok nggak pernah ngomong"tanya Inara heran
"aku juga baru tau beberapa waktu lalu Ra"
cukup lama mereka saling ngobrol tanpa terasa waktu kini beranjak malam
"astaga aku hamoir lupa" pekik Eza saat menyadari janji makan malam bareng Bi Mira dan kedua orang tua Arya
"apa" tanya Inara heran
"nggak, cuman baru inget aja ada janji"
"ohhh...." Inara hanya manghut-manggut
"kamu ada acara nggak"tanya Eza dibakas gelengan oleh Inara
"yaudah kamu ikut aja, daei oada di rumah sumpek"
"kemana"
"nggak usah banyak tanya...yuk"
"tapi....."jeda Inara sambil melihat kakinya yangmasih sakit
"aaaaa....Eza kebiasaan banget deh" kedal Inara
"yaudah kamu ganti baju dulux kamar kamu dimana" tanya Eza, Inara menunjuk sebuah kamar tak jauh dari ruang tamunya
"kalo udah panggil yaa"
beberapa menit kemudian
dengan langkah sedikit tertatih Inara merai handle pintu dan keluar menuju ruang tamu dimana disana Eza masih duduk menunggunya
"aku udah siap"
"ya ampun Ra...kenapa nggak manggil aku sih"
"aku bisa kok"
tanpa basa-basi Eza kembali menggendong Inara menuju mobilnya ,setelah mengunci pintu kosnya
"kamu cantik" bisik Eza saat mendudukan Inara disamoing kemudia
"makasih..."balas.Inara malu-malu
•••••
mobil beranjak menjauh,.menyusuri jalan raya yangbramai akan kendaraan
tiba-tiba Eza menghentikan laju mobilnya disebuah toko, kemudian masuk kedalam entah buat apa. Dan 5 menit kemudian ia kembaki sambil menenteng sesuatu.
sedangkan Inara tak ingin bnyak bertanya takutnya menyangkut hal privasi
kembali Eza mengentukan laju mobiknya, kali ini di depan sebuah apotik
"siapa yang sakit Za" tanya Inara saat Eza sudah kembali duduk di kursi kemudinya
"buat kamu" jawab Eza menyerahkan kresek kecil berisi obat ke Inara
__ADS_1
"asataga harus kah aku bilang kalo aku aku tipe orang susah nelen obat" batin Inara
"makasih"
"yaudah nih air sekarang kamu minum obat dulu
tanya berkata, Inara menerima sebotol air dan mengeluarkan 1 buah kapsul obat yang sedikit panjang dan agak besar
cukup lama Inara menatap obat di tangannya sampai Eza membuyarkan lamunanya
"kok nggak diminum" twnya Eza
"iya..."
Inara memasukkan obat kemulutnya dan segera meneguk air
karena memang dasarnya ia tak suka obat , maka sangat susahlah bagi Inara menelan obat tersebut
bahkan sampai membuat ia tersedak
"uhuk..uhuk....hwekkk" Inara mengelurkan obat yang masih utuh dari mulutnya
"kok nggak di telen"tanya Eza
"ahhhh...pait-pait-pait, huekkkk, huekkkk"
"asataga" Eza panik saat melihat Inara mual-mual
"minum lagi Ra" Inara kembali meneguk air putih di tangannya
dirasa uah mendingan
"maaf Za...tapi aku nggak suka obat" cicit Inara pelan
"kenapa nggak bilang Ra" kesal Eza membuat Inara hanya menunduk berpikir Eza marah karena merasa tak dihargai pemberiannya
"kalo sakit kamu minum obatnya gimana Ra"
"pake obat sirup" jawab Inara pelan karena malu
tanpa Inara sadari, Eza terkekeh geli memikirkan Inara yang besar minum obat sirup
Eza mencari akal bagaimana caranya Inara harus tetap minum obat
Eza mengambil tutup botol air meneral tadi, kemudian melarutkan satu kapsul obat disana tanpa sepengetahuan Inara
"Ra....."
"apa"
"i love you" ucap Eza membuat Inara melongo tak percaya
tak ingin kehilangaann kesempatan, Eza memasukkan obat yang telah mencair kedalam mulut Inara dan menahan tengkuknya agar Inara tak memberontak
jika dilihat sepihak akan terlihat seperti adegan penyiksaan dan pemaksaan,, eh tunggu bukannya ini memang pemaksaan
Inara memberontak mencoba memuntahkan cairan obat itu, tapi Eza menutup mulutnya dengan tangannya, membuat ia tak berdaya. bahkan cairan bening telah ia keluarkan dari pelupuk matanya
ya...Inara menagis karena tak mampu mengeluarkan obat sialan itu dari mulutnya
"telen Ra" ucap Eza yang masih membungkam mulut Inara, namun dibalas gelengan oleh Inara
"telen aja..nggak akan kenapa napa"bujuk Eza lagi, namun dibalas gelengan lagi
sempat putus asa, tak ada piliham lagi kali ini Eza membungkam mulut Inara dengan bibirnya, hanya sekedar menempel tak lebih.
sedangkan Inara yang syok tanpa ia sadari ia telah menelan obatmya dan Eza menyadari itu
Eza menjauhkan wajahnya, kemudian menyodorkan Inara air
"minum Ra" Inara kembali dari keterkejutannya dan meraih air dan meneguknya hingga habis
"kamu jahat...hiks....aku nggak mau kenapa dipaksa" Inara menangis kesal akan kelakuan Eza tadi
"klo nggak dipaksa gimana minum obatnya" jawab Eza santai
"astaga rasanya pahit...huekkkk"
__ADS_1
"nih...permen" Eza menyodorkan permen loli ke Inara dan Inara segera memakannya untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya