
tanpa terasa sudah setahun lebih Arya pergi ke Amerika melanjutkan studinya dan selama itu pula perpisahan antara Eza, Arya dan Inara.
sampai detik ini Eza belum juga berhasil menghubungi Inara dan belum tahu dimana gerangan gadis yang dicintainya itu berada
ceklek
"Syika dipanggil tuh ama pak Bry" ucap Mery membuat Inara yang sibuk dengan komouternya mendongak kearahnya
"ada apa mbak"
"nggak tahu deh lebih baik loe kesana aja takutnya beliau marah lagi klo loe telat"
"yaudah"pasrah Inara, entah mengapa rasanya selalu kesal saat harus berhadapan dengam sosok itu
tok... tok... tok
"masuk"
"ada apa pak" tanya Inara sedikit ketus
"cih.. sepertinya hanya kamu karyawan yang berani pada bosnya" ucap Bry dingin
"dan sepertinya hanya anda yang semena-mena ama karyawannya" balas Inara kesal
kalian tahu? sosok yang ia tabrak waktu itu dan ngotot Inara tak mau maminta maaf karena merasa tidak bersalah sehingga Rizki lah yang harus mewakilinya... tak Inara sangka ternyata sosok itu Bry CEO di perusahaan tempat ia bekerja.
awalnya Inara memang segan akan bosnya itu tapi lama kelamaan ia jengkel juga setelah beberapa bulan yang lalu ia diangkat menjadi sekertaris sementara Bry saat sekretaris yang lama harus cuti melahirkan, dan selama itu pula ia tahu sifat asli Bry sungguh sumpah demi apapun ia menyesal sempat kagum akan sosok tampan di depannya ini.
Aslinya.. bikin jengkel orang mah
"cih... " decih Bry membuat Inara menatap malas bosnya itu
"ada apa pak, saya pegel berdiri nih"kesal Inara karena hanya di jadikan patung di ruangan ini
"yang suruh kamu berdiri siapa, kamu pikir disini tidak ada kursi" balas Bry ringan rasanya Inara pengen geplek kepala bosnya itu
tuh kan bikin kesel
dengan perasaan jengkel setengah mati Inara duduk di kursi depan meja Bry
"ada apa bapak memanggil saya" ucap Inara lagi dengan nada selembut mungkin
__ADS_1
"nggak ada apa-apa, iseng doang" balas Bry yang kembali dengan laptopnya
brak
Inara menggebrak meja membuat Bry hanya menatap malas kearahnya
"bercanda" lanjut Bry lagi yang sedikit ngeri melihat tatapan marah dari Inara
"boleh nggak pak saya jitak kepala bapak, sumpah pak saya ngidam pengen jitak tuh pala" kesal Inara yang kembali duduk
"jangan dong kan sudah di fitrahin"
"cius nih pak ada apa saya di panggil disini, bapak pikir saya nganggur kerjaan saya banyak pak nanti klo nggak selesai bapak juga yang marah"omel Inara panjang lebar
"besok temani saya ke jakarta ada proyek besar yang harus kita survey kesana" ucap Bry kembali serius
"apa" pekik Inara tak sampai pikir kenapa bos menjengkelkannya ini mengajak ia ke Jakarta
"kenapa?" tanya Bry dengan alis terangkat satu
•••••••
"nggak bisa aku sibuk" balas Eza datar membuat Marcella mengerucutkan bibirnya kesal
"yahhh"
"jangan merengek seperti itu Cella aku nggak suka, lebih baik kamu pergi saja ama teman-teman mu itu! jangan ganggu aku" balas Eza yang jengkel mendengar rengekan Marcella itu
"tapi.... "
ceklek
"loh Cella ada disini" sapa Bi Mira yang memasuki ruangan Eza itu
"iya Bi" balas Marcella menghampiri Bi Mira dan merangkul lengannya
"ngapain? emangnya di kantor kamu nggak sibuk nanti ayah kamu nyariin lagi"
"nggak Bi tadi udah izin kok mau kesini" balas Marcella namun hanya dibalas anggukan dari Bi Mira
"oh iya Za ini berkas tolong kamu tinjau yaa, bibi nggak sempat ada rapat diluar soalnya"
__ADS_1
"rapat? kok aku nggak tahu bi"
"bibi juga nggak tau tadi Jack baru ngabarin katanya ini penting"
"yaudah bibi pamit dulu jangan lupa besok berkasnya aku ambil lagi nanti" setelahnya Bi Mira keluar setelah sebelumnya bercipika-cipiki dengan Marcella.
"Za... "panggil Marcella lagi namun Eza memberikan tatapan tajamnya membuat Marcella paham dan bergegas meninggalkan ruangan Eza itu.
"cih.... menyebalkan saja" Eza menghembuskan nafasnya kasar sembari menyandarkan tubuhnya oada kursi kebesarannya
"kamu dimana sih Ra... aaaa" Eza mengusap wajahnya kasar kenapa sangat sulir mencari Inara.
setahun ini ia belum juga mendapatkan informasi dari bawahannya mengenai Inara.
ceklek
Eza melihat siapa sosok yang memasuki ruamgannya tanpa mengetuk pintu terlebih
"sorry gue nggak ngetuk pintu soalnya males" ucap sosok itu membuat Eza memutar matanya malas
"udah biasa" gumamnya
"sumpek banget muka loe" sosok itu kini duduk di depannya tanoa di persilakan bukannya seperti ini sosok tamu yang menjengkelkan
"ada loe makanya sumpek tadi baek-baek aja" balas Eza membuat sosok itu bercih sebal
"ngapain" tanya Eza
"kebetulan lewat aja makanya singgah pengen mastiin loe masih hidup apa enggak"
"sialan" desis Eza
"nggak loe nggak sepupu loe semuanya sama. sama-sama pengen gue cekik tau nggak"
"hahahaha..... oh iya tadi Arya nelpon gue katanya lusa dia pulang libur semester kek nya"
"dah tau" balas Eza malas
"cih.. ngapain tuh anak nyuruh gue nanya loe klo gitu" jengkel Ben membuat Eza hanya mengedikkan bahu tak acu
sejak kepergian Arya, Eza dekat dengan Ben sepupu Arya itu. Eza yang biasa bermalam di rumah mami Rina membuat hubungan mereka dekat
__ADS_1