
Hari terus berlalu meninggalkan segala kelam yang telah terjadi berganti menjadi lembaran baru yang ceria.....
Hari ini Inara tengah mengemasi barang-barangnya, rencana hari ini ia akan pulang ke kampung halaman rasa rindu pada sang bunda sudah tak bisa di bendung lagi...
jika seandainya sang bunda hadir dalam acara wisudahnya mungkin ia pulang bareng bundanya, tapi karena kesibukan mengharuskan beliau tidak hadir dan Inara maklum akan hal itu.
bohong jika Inara tak mempunyai keinginan untuk berfoto berdua dengan sang bunda dengan ia yang memakai atribut wisudanya seperti yang lainnya, tapi apa mau dikata takdir berkata lain.
Rencananya hari ini ia akan berangkat jam 12 siang dan sekarang jam masih menunjukan pukul 7 lewat 5 menit
selesai mengemasi pakaiannya, Inara mandi dengan sisa waktu yang tersisa ia ingin ke mall sebentar hanya untuk membeli oleh-oleh untuk sang bunda.
••••
Inara berjalan santai mengelilingi area pertokoan mulai dari toko pakaian, sepatu, ataupun perhiasan.
selama ia dikota, Inara bekerja sampingan menjadi pegawai disalah satu toko bunga dan untungnya bos disana menerima ia dengan baik dengan status ia yang mahasiswa, sehingga ia mempunya sedikit tabungan yang akan ia gunakan untuk membeli sesuatu untuk sang bunda nantinya
30 menit lebih Inara hanya keliling-keliling saja, rasanya sangat bingung apa yang harus ia beli untuk sang bunda
hingga langkahnya terhenti saat netranya menangkap sosok lelaki yang sangat dikenalnya
"itukan Eza, ngapain dia disini"gumamnya saat melihat Eza yang berada didalam salah satu toko pakaian, dan yang membuat Inara heran si Eza yang sendiri bukannya selalu paket lengkap bareng si Arya
Inara berjalan pelan mencoba menghampiri Eza namun baru beberapa langkahnya harus terhenti saat menyadari ternyata disana Eza tak sendiri melainkan bersama Marcella hanya saja ia tak melihatnya karena tertutup badan Eza yang tegap
Inara membalikkan badannya dengan senyum miris di bibirnya, ada rasa sedih dan kecewa saat menyadari Eza bersama Marcella , dan bukannya Inara tidak tahu jika Marcella dan Eza dulunya adalah sahabat kecil semua hal itu sudah ia ketahui dari mulut Marcella sendiri
Flashback....
waktu itu di toko bunga tempat Inara bekerja, Inara yang masih sibuk merangkai bunga harus teralihkan saat lonceng diatas pintu berbunyi menandakan seseorang masuk ke dalam toko
__ADS_1
"selamat datang..ada yang bisa kami bantu" ucap Inara sopan dengan membungkukkan badannya tanda hormat
namun setelah badannya kembali tegap ia dibuat terkejut saat seseorang yang kini berdiri tegap di depannya memandang ia lekat dari bawah sampai atas
"loe kerja disini" tanyanya dengan nada mengejek
"cih menyebalkan..mengganggu mood doang" cibirnya lagi
"ada yang bisa saya bantu" ucap Inara masih sopan, ia sama sekali tak menanggapi omongan sosok tersebut, walau sebenanya ia sempat terkejut saat mengetahui bahwa sosok itu tak lain adalah Marcella
Marcella mendelik tak suka
"gue mau ngomong ama elo"balas Marcella berjalan menuju kursi tak jauh dari sana
Inara hanya mengikuti langkahnya dan mendudukkan dirinya tepat didepan Marcella hanya terhalang meja bundar kecil tak lupa vas bunga diatasnya
"ada apa" tanya Inara
"gue mau elo jauhin Eza" ucap Marcella to the point membuat Inara hanya diam kata-kata ini sudah tidak asing ditelinganya, bahkan dikampus dulu pun selain Tiara dan Marcella tentunya masih banyakn lagi fans-fans dari Eza yang mengucapkan hal yang sama membuat ia jengah sendiri
walaupun janji itu dibuat saat mereka masih kecil, bukan berarti saat mereka besar akan mengingkarinya bisa jadi mewujudkannya
dan ia paham betul dan wajar saja jika Marcella menyuruhnya menjauhi Eza karena janji itu membuat Marcella merasa bahwa Eza adalah miliknya
baiklah ia sudah mengambil keputusan mulai hari ini ia akan berusaha menjauhi Eza dia tak ingin merebut posisi Marcella dan lebih utama membuat Eza mengingkari janjinya itu
"akan aku usahakan...."jawab Inara lirih membuat Marcella tersenyum senang
Flashback end
Inara melangkah menjauh, ia tak ingin Eza melihatnya sehingga harus menjadi pengganggu quality time Eza dan Marcella
__ADS_1
"walaupun berat aku kan mencoba menjauh, sebelum rasa itu tumbuh semakin besar aku harus menguburnya...aku pasti bisa" batin Inara menyemangati dirinya
sangat bohong rasanya jika hatinya tak sakit tapi biarlah oranglain tidak perlu tahu, yang ia tahu ia harus segera pergi menjauh.
mungkin memang sudah waktunya kisah mereka berakhir cukup disini, Arya akan ke amerika melanjutkan studinya dan bukan tak mungkin ia akan bertemu orang baru bahkan mungkin jodohnya, Eza dengan Marcella dan juga tidak mungkin bahwa mereka akan bersatu sesuai janji mereka, sedangkan ia....akan kembali dimana tempat ia seharusnya ada dan dilupakan
biarlah kisahnya cukup sampai disini mungkin memang cukup sampai disini
dan hari ini ia baru sadar bahwa rasa itu rasa CINTA...yah hari ini ia mengakui bahwa rasa yang selama ini bersemayam dihatinya adalah Cinta...CINTA untuk EZA dan rasa sayang sebagai sahabat untuk ARYA.
setelah mendapatkan hal yang dicari, Inara bergegas pulang apalagi waktu telah menunjukkan pukul 10:40 walaupun masih agak lama tapi ada beberapa hal lagi yang perlu ia persiapkan
Inara menunggu taksi yang dipesannya, namun bukannya taksi yang berhenti melainkan mobil sport yang sudah tak asing di matanya
"loh Ra kamu disini" ucap sang empu saat membuka kaca mobilnya
"eh ia Za" ucap Inara kini pandangannya beralih menatap sosok yang duduk manis di samping Eza siapa lagi kalau bukan Marcella yang menatapnya penuh permusuhan membuat Inara hanya tersenyum melihatnya
baru saja Eza akan kembali bersuara, Inara lebih dulu memotongnya
"oh iya Za aku duluan ya taksi aku udah dateng, salam ama si Arya..bye"ucaonya pamit dengan senyum manisnya seraya melambai sebelum memasuki taksinya
"yaudah yuk Za kita pulang" sahut Marcella saat melihat Eza yang terus memandang taksi yang ditumpangi Inara semakin menjauh
"hmm" balas Eza...sebenarnya hari ini Eza sangat malas harus keluar bareng Marcella, apalagi hari ini weekend sudah sepatutnya ia mengistrahatkan tubuhnya yang lelah akibat pekerjaannya dikantor, jika saja Bi Mira tak membujuknya dengan alasan tak enak akan sahabatnya Manda mama Marcella..ogah deh
disisi lain...
Inara hanya melamun menatap jalanan dibalik jendela, tanpa ia sadari airmata kini jatuh membasahi pipinya lama-lama menjadi sebuah isakan menyesakkan dada
"biarlah berakhir seperti ini mungkin sudah sepatutnya seperti ini, aku akan menjauh, aku mengalah untuk kamu bahagia..."batinnya disela isaknya
__ADS_1
bagaimana tidak sakit ,melihat orang yang dicintai bersama orang lain yang mencintainnya, Inara tidak bodoh sehingga tidak mengetahui bahwa selama ini Eza menyukainya, hanya saja disaat ia sudah berani akan perasaan kenyataan pahit datang menghampiri dan mungkin melepaskan Eza adalah jalan baiknya apalagi saat ini ada perempuan yang sangat mencintainya
"selamat tinggal Za, Arya dan Jakarta"