
Arya dan Eza kembali pulang dengan rasa hampa, niat hati ingin jalan-jalan bertiga dengan Inara nyatanya tak terjadi
selama perjalanan Arya masih berusaha mencoba menghubungi Inara,namun hasilnya tetap sama tidak aktif...
"kok nggak diangkat ya Za"
"mana gue tahu, coba loe hubungin Eca, Ifa atau Caca deh siapa tahu diantara mereka ada yang tahu Inara dimana"
dengan cepat Arya menghubungi mereka bertiga, namun lagi dan lagi jawaban mengecewakan mereka dapatkan Nggak tahu....
"Inara kemana sih" gumam Arya yang masih mencoba menghubungi Inara sedangkan Eza hanya melirik sekilas melihat ke khawatiran dari sahabatnya itu.
"kelihatannya loe khawatir banget deh Ya" tanya Eza tanpa mengalihkan pandangamnya ke arah depen
"gimana nggak khawatir dia sahabat kita Za, klo loe mau cemburu jangan sekarang deh" balas Arya jengah
"gimana gue nggak cemburu Ya ngelihat loe khawatir banget ama Inara buat gue sadar betapa besar cinta elo ama dia....apa gue harus mundur" batin Eza yang kini berkecamuk
Eza hanya mampu menampilkan senyum tipisnya mendengar ucapan Arya tadi.
•••••
seperti hari kemarin, pagi ini Inara dan sang Bunda kembali menjalani rutinans bekerja dikebun memetik daun teh. setelah menerima upah maka mereka akan ke warung membeli beberapa lauk untuk makan siang....
sesampainya dirumah, setelah membantu sang bunda memasak, maka Inara menyempatkan waktu luangnya mencari beberapa loker yang tersedia di internet
ia tak ingin berlama-lama menganggur dan menyusahkan sang bunda, ia ingin saat ini ijazah dan gelarnya bermanfaat sekarang tanpa harus di tunda-tunda.
beberapa lamaran telah ia kirim melalui email dan kini saatnya ia menunggu semoga ada keajaiban menghampirinya
"Nara..."panggil sang bunda dari depan pintu kamarnya
"iya bunda" jawab Inara sambil melangkah membuka pintu
"ada apa Bun"
__ADS_1
"kita makan siang dulu, tadi Bu tati datang minta tolong ke Bunda buat metik buah dan sayur dikebunnya katanya udah pada subur "
"Nara ikut Bun"
"nggak usah kamu di rumah aja, pasti kamu capek"
"nggak kok, Nara nggak capek masa anak muda kalah ama yang tua" balas Inara sedikit bercanda
"yasudah kita makan dulu setelah itu baru berangkat"
selesai makan siang, Inara dan sang Bunda menuju rumah Bu Tati yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya
di halam belakang rumah Bu Tati terdapat lahan luas yang dimanfaatkannya menjadi sebuah perkebuanan sayur dan beberapa buah
dataran yang tinggi sangat cocok di jadikan lahan perkebunan, makanya sebagian besar warga yang memiliki lahan lebih akan mereka manfaatkan untuk bercocok tanam
"Bu Diana udah dateng, cepet banget bu" ucap Bu Tati heran pasalnya kini jam 1 siang pasti lagi panas-panasnya
"nggak papa kok Bu, soalnya sore nanti ada urusan, makanya cepet"
2 jam berkutat memetik buah dan sayur, akhirnya pekerjaan selesai juga dan hasilnya lumayan melimpah. jika sudah seperti ini maka sebagiannya akan dibawa ke kota untuk di pasarkan
setwelah mendapat upah dan beberapa buah dan sayur hasil panen tadi, Inara dan Bunda Dian pulang kerumah
"ahhh syukur ya bu, upahnya banyak"sahut Inara yang kini duduk bersila menghitung upah kerja mereka hari ini
"iya sayang, kamu tabung gih"
"iya bunda" Inara segera menuju kamar rasanya badan terasa lelah dan tidur adalah obatnya
malam harinya.....
selesai makan malam, Inara dan Bunda Diana kini duduk lesehan sambil nonton tv
"Bunda..."
__ADS_1
"hmmm"
"Nara udah masukin beberapa lamaran Bunda, dan semoga ada yang nerima Nara ya bund doain Nara yaaa"
"tentu sayang, semoga yang terbaik selalu menyertaimu" balas sang Bunda ,membuat Inara menghambur memeluknya
"aminnnn, semoga kita bisa hidup dengan baik ya Bunda, jadi bunda nggak perlu repot-repot lagi bekerja"
"iya sayang.."
"Bund, kalo Nara keterima memangnya bunda mau ikut Nara ke kota"
Bunda Diana diam, berfikir apakah ia harus meninggalkan rumah bersejarahnya ini
"iya sayang, bunda akan ikut kemanapun Nara pergi"
"makasih bunda"
ya mungkin memang ini yang terbaik, mencoba keluar dari zona nyaman agar bisa tahu seberapa besar dunia luaran sana.
•••••••
di tempat lain....
Eza duduk termenung memandangi syal yang ada di tangannya, jemarianya menari-nari diatas huruf yang dirajut disana
S.I
"SYIKA INARA"
"nama yang indah seperti orangnya"
"kamu dimana sih Ra, aku rindu" gumamnya terus menatap syal di tangannya
hembusan angin membuat wanginya menyeruak, membuat ketenangan tersendiri bagi Eza.
__ADS_1
Eza hanya mampu menatap langit malam diatas sana, memeikirkan kisah cintanya yang sedikit rumit ini.