
3 bulan berlalu.....
nyatanya tak membuat hati seorang Mira baik-baik saja.
kepergian Fadil ke Australia nyatanya malah membuat ia semakin merasa tidak nyaman. Bukannya menyangkal perasaan yang ada, hanya saja ia ingin lebih yakin apa benar ini cinta sedangkan cinta itu hanya untuk mendiang sang suami, atau ini hanya perasaan semu belaka yang muncul akibat cerita masa lalu....entahlah
"Bi...."sapa Eza seraya turun tangga
"hmm....apa" jawab Bi Mira dari ruang tv
"aku mau keluar bentar Bi....hangout bareng Arya sama Justin boleh" ucap Eza yang kini sudah rapi dengan casual andalannya sangat tampan
"huffftttt....pergilah"Bi Mira mengizinkan tapi dengan nada lesu
"Bibi ku yang cantik ini kenapa hmm" tanya Eza seraya duduk disamping bibinya
"entahlah..bibi juga bingung Za"
"udah berapa lama yaa kita nggak pernah curhatan Bi...Eza rasa udah lama benget deh"
"hmm..sejak kamu ketemu Arya..udah lama yaa, bahkan bibi nggak tau apa kamu udah ada gebetannya atau tidak.....huffff rasanya udah lama"
"makanya hari ini bibi bebas curhat bareng Eza" ucap Eza seraya merangkul pundak mungil Bibinya itu
"nggak. sekarang deh..kamu kan mau hangout" tolak Bi Mira
"oh ayolah hangoutnya masih lama jam 8, sekarang masih jam 6 Bi"
"kok udah siap gini"
"ya enggak aja bukannya prepare lebih awal lebih baik..hehehe"
"roma-romanya udah ada yang naksir nih"
"ah bibi bisa aja hahaha"
__ADS_1
"kan cuman roma-romanya kelihatan banget malah"
"ah yang bener bi, kelihatan banget yaa..ah jadi malu nih" canda Eza mencoba menghibur. Ia tahu bahwa bibinya ini sedang dalam GEGANA. Gelisa galau merana
"bibi juga keliatan banget seperti orang habis putus cinta" camda Eza
"ah..enggak..enggak..mana ada..hahaha" elak Bi Mira
"ah masa sih..tapi kok kelihatan banget yaa" ucap Eza lagi membuat Bi Mira menunduk dalam
"oh ayolah Bi ngomong dong..jangan di tutupin takutnya sakit hati"
cukup lama Mira diam tak ingin menggubris Eza yang ada disampingnya
"butuh pelukan atau bahu untuk bersandar sekarang bahu Eza udah bidang jadi kuat buat curhat 2 jam" ucap Eza jumawa membuat Mira seketika melihatnya yang kini sudah merentangkan tangan
tak menunggu waktu lama, Mira sudah menghambur memeluk Eza. Hanya tangisan yang dapat Eza dengar dalam dekapannya itu
"rasanya sakit banget ya Bi" tanya Eza dan hanya dibalas anggukan oleh Mira
"sakit Za...hikss sakit" jawabnya oarau dalam sesegukannya itu
"pasti dia kecewa..hikss" tambahnya lagi
"apa bibi suka om Fadil"tanya Eza seraya mengelus lembut
"bibi nggak tau" jawabnya lirih dengan masih sesegukan
"pastiin dong Bi, apa bener yang bibi rasakan itu cinta atau bukan"
"udah tapi bibi nggak tau Za..yang bibi tau cinta bibi buat almarhum suami bibi hikss..hikss tapi..."
"tapi bibi rasa kehilangan saat Fadil pergi ke Australi...hikss..bibi bungung"
"ngapain bingung Bi..udah pasti rasa yang bibi rasakan saat ini cinta...cinta buat om Fadil"
__ADS_1
"nggak ...cinta itu cuma buat mas Radit Za...cuma buat mas Radit" teriak Mira sambil melepas pelukannya
"cuma mas Radit..nggak ada yang lain..hikss..hiksss...mas Radit" tangis Mira kembali pilu mengeang sang suami yang kini tenang dalam haribaanya
"bi..hey....tenang dulu okey"ucap Eza sambil menghapus lelehan bening di pipi Mira
"okey cinta bibi buat om Radit biarlah seperti itu..."Eza menjeda kalimatnya seraya masih menghapus air mata yang masih mengalir deras dari mata indah Mira
"terus apa yang saat ini bibi rasain buat om Fadil" tanyanya hati-hati dipandanginya wajah kuyu dan mata memerah itu
"nggak tau..tapi rasanya nyesek Za hikss..rasanya sama seperti Radit pergi ninggalin Bibi..sakit" jawabnya yang kini menepuk gemas dadanya
"udah-udah..dengerin Eza bi...biarlah semuanya berjalan dengan semestinya, tapi menurut Eza yang bibi rasain saat ini adalah Cinta, cinta kedua buat orang yang berbeda. Biarlah cinta pertama bibi buat om Radit ,tapi apa salahnya cinta terakhir buat om Fadil" jawab Eza pelan penuh kehati-hatian dia tau saat ini Bibinya sensitif
"lagian ini udah lama Bi..udah lama om Radit pergi ninggalin kita, aku yakin pasti om Radit di atas sana ingin banget bibi bahagia karena mungkin ia tahu bahagia bibi bukan pada dirinya tapi sama om Fadil"
"selagi bibi masih mudah cantik lagi masih laku di pasaran..hahaha"
"kampret emang" cibir Mira sambil tersenyum
"yah gitu dong kan cantik..senyumnya mana"ucap Eza membuat Mira kembali tersenyum
"gitu dong..lain kali jika bibi butuh teman curhat kan ada Eza bi nggak perlu dipendam..gimana udah kega" tanyanya membuat Mira mengangguk yang kini kembali dalam dekaoan hangat Eza
"sekarang gantian dulunya Eza tanggung jawab bibi, sekarang bibi tanggung jawab Eza"tambahnya lagi seraya mengelus lembut rambut Mira
"lagian disini hanya kita berdua Bi, ibu dan ayah udah nggak ada, bibi Rika di desa, kalo bukan kita saling menguatkan siapa lagi..." lanjutnya lagi sedangkan Mira hanya mengangguk
"cobalah bibi ngerti perasaan bibi sendiri, setelah yakin utarakan sebelum semuanya terlambat"
"iya..kamu juga lain kali bibi mau dengerin curhatan kamu tentang dia"ucap Mira kemudian meleoaskan oelukannya
"apaan sih bi..nggak ada"
"bohong..cie..ciee"
__ADS_1
"ih..bibi tadi aja nangis sekarang bikin jengkel..udah ah Eza pamit...assalamualaikum" kemudian pergi meninggalkan Mira yang masih memandanginya
"kamu udah besar Za...Eza yang kecil lucu dan imut udah hilang dibalik kedewasaanmu..bibi bangga"