
Entah kebetulan atau memang sudah suratan takdir. Hari ini lagi-lagi Eza dan Inara harus berpisah dengan tujuan yang berbeda
Jika Eza harus kembali ke Jakarta, maka Inara harus ke Bandung karena hanya disana ia mendapatkan pekerjaan. Nganggur selama berbulan-bulan tentunya menjadi beban tersendiri buat Inara, ia tak mau gelar yabg selama ini di perjuangkan harus sia-sia belaka.
"Ki putar musik dong sumpek banget ini" ucap Inara
kini mereka berempat menuju kota bandung yang tentunya memakan waktu yang lama. Bunda Diana, Rizki, Inara dan sopir yang membawa mereka.
"okey" balas Rizki yang dengan lincah mencari saluran yang ada di radio mobil
"selamat datang di saluran kami 101,20 Fm dalam acara gist radio tempatnya lagu asikkkkk....
kalian pernah nggak sih ngerasain dimana kalian terjebak dalam situasi yang menurut kalian pelik banget.
PERSAHABATAN JADI CINTA
sesuai rekomendasi dari pendengar setia kita nih! wahh sepertinya dia ngerasain yaaa
bukan sulit sih di situasi kek gini menurut gue wajar aja kok rasa itu ada, kan kitanya selalu sama-sama wajar rasa nyaman itu ada dan nggak mungkin juga berubah jadi cinta. apa salah?
hanya saja yang sulit itu dari pribadi masing-masing sih. apakah masih nyaman dalam posisi bersahabat aja atau yang lain karena nggak jarang juga sih ada yang lebih milih stak di persahabatan aja alasannya karena udah nyaman disitu atau....tapi sih nggak dikit juga ada yang tiba-tiba jatuh Cinta dengan lasan yang sana. NYAMAN
kalian ada di posisi itu?
sepertinya satu lagu ini cocok deh buat kalian request dari sahabat kita PERSAHABATAN JADI CINTA check it out
...Bulan terdampar di pelataran...
...Hati yang temaram...
...Matamu juga mata-mataku...
...Ada hasrat yang mungkin terlarang...
...Satu kata yang sulit terucap...
...Hingga batinku tersiksa...
...Tuhan, tolong aku jelaskanlah...
...Perasaanku berubah jadi cinta...
...Tak bisa hatiku menafikan cinta...
...Karena cinta tersirat bukan tersurat...
...Meski bibirku terus berkata tidak...
...Mataku terus pancarkan sinarnya...
...Kudapati diri makin tersesat...
...Saat kita bersama...
...Desah napas yang tak bisa dusta...
...Persahabatan berubah jadi cinta...
__ADS_1
...Satu kata yang sulit terucap...
...Hingga batinku tersiksa...
...Tuhan, tolong aku jelaskanlah...
...Perasaanku berubah jadi cinta...
...Tak bisa hatiku menafikan cinta...
...Karena cinta tersirat bukan tersurat...
...Meski bibirku terus berkata tidak...
...Mataku terus pancarkan sinarnya...
...Apa yang kita kini tengah rasakan...
...Mengapa tak kita coba persatukan...
...Atau mungkin sebuah takdir Tuhan...
...Tak bisa hatiku menafikan cinta...
...Karena cinta tersirat bukan tersurat...
...Meski bibirku terus berkata tidak...
...Mataku terus pancarkan sinarnya...
...Apa yang kita kini tengah rasakan...
...Mengapa tak kita coba persatukan...
...Atau mungkin sebuah takdir Tuhan...
Inara larut dalam lagu yang di dengarnya, membenarkan bahwa memang ia mengalami itu, bibirnya yang keluh ngatakan rasa cintanya memnjadi beban tersendiri dalam hatinya
Inara mencoba rilex dengan bersandar di jendela memejamkan mata meresapi lagu itu
••••••
tepat jam 6 sore Eza baru sampai di rumahnya suasana hening menyambut kedatangannya tak ada sambutan hangat yang ia impikan sejak lama
kadang ia berpikir kapan rumahnya ini ramai penuh canda dan tawa walau ia tidak terlalu menyukai keramaian tapi jujur dalam lubuk hatinya sekarang ia mengingunkan hal itu
biasanya hanya Bi Miranya saja yang biasa menyambutnya tapi...
"ehhh Bi Mira mana? " tanya nya yang masih mematung di depan pintu memcari Bi Mira yang tak muncul-muncul
melangkah masuk Eza mencoba menghubungi Bi Mira
"nomor yang..."
"Bi Mira mana sih" tanya mencoba sekali lagi
"halo"
__ADS_1
"Bi... Bi Mira kok belum pulang aku dah di rumah ni"
"dah nyampe aku kira jam tujuan Za. aku lagi lembur palingan jam 7 baru pulang"
"ohh yaudah titip sate di depan komplek ya Bi nggak sempet beli soalnya" ucap Eza tanpa dosa
"yeeee.. yaudah" kesa Mira di seberang sana
Eza melangkah menuju kamarnya berniat mandi dan mengistrahatkan diri sejenak sebelum makan malam
••••••
Arya memasuki rumahnya di sambut meriah orang yang ada di dalam siapa lagi kalo bukan Mami Rina.
dilihatnya sepupu nya yang baru datang 3 hari yang lalu Ben dan Inggrid
"kamu mandi dulu gih nanti ikut makan malam bareng" ucap Mami Rina yang kini jalan bersisiang di dekatnya
kali ini meja makan sedikit ramai karena kehadiran dua sepupunya itu
"oh iya Ben kamu tinggal disinikan" tanya Arya di sela makannya
dalam kelurganya ngobrol di meja makan rasanya tidak papa malah mereka berpikir justru disaat ini rasa dekat itu ada
"tante maunya gitu" jawab Be
"ohh itu sih bagus banget malah kan Mi" tanya Arya
"tentu kamukan bentar lagi otw ke Amrik pasti mami bakalan sedih tapi syukurlah Ben ama Inggris ada apalagi mami dulu penhennya anak cewek yang keluar malah cowok modelan kek kamu lagi" balas Mami Rina sesikit mencibir
"yeeee... nanti klo Arya dah di amrik disini mami nangis lagi" kesal Arya menyuap kasar makanannya
Di tempat Eza tentunya hanya keheningan yang melanda tidak ada percakapan atau apalah selain hanya makan dengan tenang
Bi Mira hanya duduk sambil menikmati coklat panasnya karena memang tadi ia sudah makan di kantor
selsai makan makam Eza duduk di deoan tv menurunkan makanan yang yadi dimakannya
"kapan kamu masuk kantor kerjaan udah pada nunggu kamu tuh" ucap Mira yang sibuk akan sinetron kesayangannya itu
"lusa aja deh Bi rasanya masih legel banget nih badan" jawab Eza yang juga ikut-ikutan nonton
"okey"
hening
"Fadil dah kembali" ucap Mira tiba-tiba membuat Eza mengalihkan pandangannya kearahnya
"kapan? bagus dong jadi Bibi ama om Fadil bisa jadian"
"tapi sayang yang kamu bilang nggak bakalan mungkin"
"loh"
"karena dia udah ada pasangan aku lihat kok beberapa kali dan mereka mesra banget, bangsat emang" kesal Mira
"yahhhh, yang sabar berarti"
__ADS_1
"hmmm"