
Eza masih terus melangkah dengan Inara di gendongannya, sedangkan gadis itu merasa sangat nyaman berada di gendongan Eza, Dengan jarak sedekat ini ia dapat menghirup aroma maskulin dari Eza yang ia sadari membuatnya merasa nyaman dan rileks
"loh Za, Inara kenapa" tanya Arya panik
"nggak papa" balas Eza
sedangkan Eca, Caca dan Ifa menghampiri Inara yang masih setia berada di gendongan Eza
"Ra loe nggak papakan"tanya Eca panik
"nggak kok cuman kaki ku terkilir aja tadi nggak sengaja jatuh"balas Inara
"astaga ampe bengkak gitu Ra, wahh parah banget ini mah"sahut Caca saat meneliti pergelangan kaki Inara yang memang sedikit membengkak
"perlu di urut ini mah"ucap Ifa membenarkan
"emang harus di urut yaaa....aku nggak suka di urut"balas Inara lesu
diurut dan dipijat adalah suatu hal yang tak disukainya, entahlah rasanya aneh aja gitu geli dan sakit pikirnya
"kalo nggak diurut bisa nambah bengkak Ra" ucap Ifa membuat Inara menggeleng-geleng resah
"yaudah amputasi aja ngapain ribet" sahut Eza tiba-tiba membuat Inara reflek mencubit dadanya
"awww...shhhhh"pekik Eza tertahan, bagaimana tidak jemari lentik itu berhasil mencubit dadanya
Eza yang masih meringis merasakan sensasi di dadanya membuat ia sedikit goyah
"aaaaa.....Za...jangan banyak gerak nanti jatuh"ucap Inara membuat Eza memperbaiki gendongannya agar Inara nyaman
"lagian kamu sih, sakit tau"jawab Eza sesikit judes
"kamu juga peke ngomong amputasi segala, kan serem amit-amit deh"balas Inara kesal
di tengah peedebatan itu tiba-tiba datanglah Marcella
"hai Za"sapanya yang hanya tertuju pada Eza seorang seakan yang lain hanya manekin bernyawa
Eza menjawab lewat deheman saja
"loh dia kenapa pake di gendong segala, manja" cibir Marcella yang tertuju pada Inara
sejak Eza memutuskan berteman lagi dengannya, membuat Marcella besar kepala dan menunjukkan rasa sukanya secara terangan-terangan begitupun rasa tak sukanya. Di pikirnya hanya satu EZA MILIKNYA DAN SELALU MENJADI MILIKNYA.
Eza reflek menatap tak suka padanya, sedangkan Inara merasa tak enak hati
__ADS_1
"idih dasar perempuan nghak tau malu" ucap Ifa kesal dengan kelakuan Marcella itu
"mak lampir dia mah" tambah Caca
"jelas-jelas nggak disuka malah masih ngejar dasar nggak tahu malu" tambah Eca juga membuat pasangannya masing-masing menegur mereka secara halus
"urat malunya habis mbak...."ucap Caca yang memang belum puas membuat Baim gemas sendiri ama pacarnya itu
"yank" ucap Baim pelan namun tegas
"iya-iya"jawab Caca kesal membuat baim geleng-geleng kepala
"Za turunin aku" ucap Inara membuat Eza memandangnya
"diamlah" balas Eza
"tapi...."ucapan Inara terpotong saat Eza memberi isyarat untuk tetap diam
Arya yang sedari tadi jengah akan kehadiran Marcella menyuruhnya pergi
"lebih baik loe pergi aja, disini loe nggak dibutuhin"ucap Arya datar penuh penekanan tanda tak suka
"kenapa terserah gue dong ngapain loe yang riber" balas Marcella sinis
"untung loe perempuan kalo nggak udah gue gampar loe"balas Arya membuat Marcella bungkam
yang dia tahu Arya adalah sosok pria yang baik dan polos
Marcella menatap Inara penuh kebencian dan rasa iri yang besar.
"Eza tadi mommy nanyain loe dan nyuruh gue buat nyariin elo, katanya buat foto bareng" ucap Marcella
"sepertinya loe sibuk Za, biar Stika ama gue aja" sahut Arya tiba-tiba tanpa persetujuan dari Eza ia mengabil alih Inara dari gendongannya
sedangkan Eza yang masih menimbang ajakan Marcella di buat terkejut akan tindakan Arya itu.
Inara kini berada dalam gendongan Arya dan diam-diam ia menatap Eza penuh rasa tak rela
"Ya"ucap Eza penuh penekanan
"pergilah"balas Arya kemudian berlalu sambil menggendong Inara mobilnya
begitupun dengan yang lain pergi dengan pasangannya masing-masinh karena muak melihat Marcella gadis jadi-jadian yang nggak punya malu
kini tinggallah Eza dan Marcella
__ADS_1
"ayo" ajak Marcella kemudian menggandeng lengan Eza dan tanpa Eza sadari Inara melihatnya dari balik jendela mobil Arya
"kenapa rasanya sakit yaaa" batin Inara
•••••••
Arya membawa Inara masuk kedalam kostnya, mendudukan Inara tepatnya di sofa single yang ada di sana
"awww...sshhhh" ringis Inara saat kakinya tak segaja ia pijakkan
"sebentar yaa" ucap Arya dan beberapa menit kemudian ia kembali membawa mangkok berisi air hangat
Arya mengompres pergelangan kaki Inara dengan sapu tangannya karena tak menemukan kain atau handuk kecil disana
"makasih Ya" ucap Inara memecah keheningan yang terjadi
"iya sama-sama" balas Arya
"udah mendingan belum, sepertinya bengkaknya udah berkurang deh" tambahnya lagi
"iya" balas Inara
"orang tuamu nggak datang Ra" ucap Arya
"nggak, Ibu lagi sibuk di kampung katanya cukup kirim doa semoga semuanya lancar" jawab Inara membuat Arya manghut-manggut
dirasa sudah lama berada di sana dan tak ingin menimbulkan fitnah, akhirnya Arya izin pulang
"aku pamit ya Ra, nggak papa kan"
"apaan sih ya enggak lah" jawab Inara tersenyun geli
"yaudah aku pamitya..bye"
sepeninggal Arya, Inara merenung mengingat kejadian saat Marcella menggandeng lengan Eza
"ya tuhan aku kenapa....kenapa rasanya tak rela Eza bareng Marcella yaaa...sakit" batinnya tanpa sadar Inara mengelus lembut dadanya
"apa aku mencintainya"
tak ingin pusing sendiri, Inara menuju kamarnya dengan tertatih-tatih
sesampainya disana, ia duduk dipinggir kasur sambil membawa Panpan di pangkuannya
"panpan....aku galau" adunya olpada boneka panda besar pemberian Arya dan Eza
__ADS_1
"panpan...sepertinya aku suka Eza deh, tapi kalo Eza suka aku nggak yaa..kan malu kalo nggak"
"aaaa......kok gini sih" ucapnya frustasi