
" Maafin aku mas,, aku sangat egois.. padahal bukan cuma aku yang kehilangan,, tapi.. kamu juga,, Maaf... " ucap Arini dengan air mata yang terus meleleh keluar dari matanya.
Refal mendengar hal itu ,membalikkan tubuhnya dan mematikan nikotinnya.
" Heiii... ada aku,, kamu jangan sedih terus,, maaf mas sudah mengabaikan mu." ucap Refal menangkupkan kedua tangannya di pipi Arini dan menghapus jejak air mata di pipi Arini.
" Mas,, jangan lagi pura-pura kuat,, aku tahu mas juga hancur,,mungkin lebih dari aku.. kalau mas marah sama aku bisa mas ngomong,, tapi.. jangan diamkan aku mas.. aku nggak sanggup.. hiks hiks.. " ucap Arini dengan memandang wajah suaminya dan melihat mata suaminya yang sudah mengeluarkan air mata.
" Aku ingin kamu nggak liat sisi lemah aku Rin,, aku ingin kamu nggak liat aku yang kuat bukan kayak gini.. hiks hiks.. " ungkap Refal sudah tak lagi mampu menutupi kelemahannya pada Arini.
" Kamu manusia biasa,, pasti nya akan ada masa Rapuhnya,, walaupun kamu berusaha sekuat apapun,, kita hanya manusia biasa mas,, kita seharusnya saling menguatkan,, tapi.. aku sangat egois kemaren,,aku ngerasa aku yang paling kehilangan ternyata kamu lebih merasa kehilangan,, kesedihan juga kekecewaan,,maafin aku mas.." ungkap Arini masi memeluk tubuh Refal
" Maafin mas juga,, mas ngerasa gagal buat jagain kamu, jagain Disha,, apalagi mas lihat Disha yang kesakitan waktu itu,, banyak selang ditubuhnya Rin,, dimulutnya juga,, bayi sekecil itu sangat menyakitkan buat aku lihat anakku kesakitan. Tangisannya masih terngiang di kepala aku,, tangisannya ya.. Allah,, habis aku adzani dia menangis lama-lama diam,,aku lemah saat itu Rin,, kalaulah aku bisa menggantikan nyawanya akan aku tukar dengan nyawaku Rin,, aku nggak mau liat kamu sedih." ungkap Refal dengan mata yang berlinang." ungkap Refal penuh dengan sesal
" Masss... qodarullah mas,, Allah sudah tetapkan takdir setiap hambanya. Maaf aku sempat nyalahin kamu,, tapi.. aku sadar semua ini takdir yang kita harus jalani,, mas nggak salah,, mas sayang kan sama aku sama Disha..??? "
" Aku sayang banget sama kalian.. sayangg,, kalau bisa aku bertukar nyawa pun aku ilhlas."
" Nggak,,kalau kamu nggak ada..aku gimana? kemarin aja kamu nggak hubungin aku, buat aku uring uringan,, mas jahat.. kenapa dari kemaren sering baget matiin hp?!!
" Maaf,, aku lupa terus buat carger. " ucap Refal memebelai lembut wajah sang istri.
" Aku juga minta maaf yaa.. kamu jadi begini,, besok jangan minum obat itu lagi, aku tau tadi mas minum obat penenang kan.. please jangan lakuin ya mas.. ada aku,, kita mulai dari nol lagi,, kita juga harus berusaha untuk menjalani kehidupan kita lagi,,memiliki bidadari syurga ,,walaupun kita tak bisa menjaganya lagi,, Insyaallah dia bahagia di sana.. kita hanya bisa berdoa untuk Disha, aku juga pernah bermimpi,, Firman sudah jaga Disha disana." ungkap Arini dengan memluk suaminya.
" Hemmm.. kita masuk,,sebentar lagi subuh.. kita sholat subuh yaa..? " ucap Refal dan merangkul Arini masuk kedalam kamar.
" Mas,, dari kapan konsumsi obat itu? " tanya Arini dengan menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
" Sejak Disha meninggal,, aku jadi ingat Gading.. kakak Mila,, dan aku dulu juga nggak bisa tidur kalau nggak minum obat tidur." jelas Refal.
" Maafin aku yaa,, kamu sudah menjaga kita maksimal ,aku sudah tahu kalau biang keroknya Mila." ungkap Arini dengan memandang wajah Refal.
" Dia sudah melukai kamu dan Disha,, dan bod*hnya aku terlalu percaya rubah licik itu,, tapi.. jangan khawatir,, dia sudah nggak akan lagi muncul di kehidupan kita." terang Refal.
" Maksudnya mas,, Mila pergi? " tanya Arini
__ADS_1
" Nanti aku ceritain yaa.. sekarang aku mau mandi dulu." ucap Refal.
" Pakai air hangat mas,, kamu nggak cukup tidurnya,,aku siapin deh yaa..? " tawar Arini
" Nggak usah,, kamu juga harus banyak istirahat,, hari ini cek up kan? " tanya Refal
" Iya,,mas mau anterin aku? " tanya Arini
" Pasti,, habis itu kita ke makam Disha.." ucap Refal
" Trus,, emang kamu nggak kekantor? " tanya Arini
" Nggak lah,, meeting pun bisa zoom kan." jawab Refal sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Akhirnya Refal dan Arini pun melaksanakan sholat Subuh berjamaah, bersama mendoakan sang putri dan juga sahabat mereka Firman,, yah... mereka menganggap Firman sahabat.
.
.
.
Setelah selesai,mereka langsung ke makam Disha dan Firman.
Menggunakan fasilitas sebagai orang yang dibilang kaya raya Refal dan Arini tak membutuhkan waktu lama sampai di Sandiego Hill makam Disha dab Firnan.
" Assalamualaikum sayang.. Ini bunda sama ayah dateng,, ayah sama bunda disini akan selalu sayang sama kamu,, mendoakan putri cantik kami,,Disha sudah nggak sakit lagi kan.. bunda sama Ayah akan selalu inget Kakak Disha..,,tunggu ayah sama bunda disana,,jika nanti Ayah sama bunda nggak ngenalin kamu,, tolong genggam kami ya nak.. karena kami ingin juga berkumpul disana sama kakak Disha." ungkap Arini dengan air mata yang sudah meleleh.
" Assalamualaikum sayang,, ayah minta maaf sama kakak,, selama ini belum mengikhlaskan Disha sepenuhnya,, berkat bunda,, ayah janji akan bangkit dan juga bertanggung jawab atas bunda juga adik-adik Disha nanti,, dan selalu mendoakan Disha disini..tunggu kami ya nak,, ayah sama bunda sayang Disha." ucap Refal lirih.
Setelah berdoa di makam Disha, Arini dan Refal menuju makam Firman.
Saat di makam Firman Arini dan Refal pun melihat mama Firman dan terlihat juga Intan.
" Assalamualaikum." salam terlontar dari Arini dan Refal.
__ADS_1
" Wa'alaikum Salam. " jawab mereka.
" Mama..
" Arini..
" Mamaa.. maafin Rini,, maafin Rini sudah membuat keputusan.. hiks.. hiks.. " ungkap Arini bersimpuh di depan mama Firman yang terlihat duduk di kursi roda.
" Nggak ada yang perlu dimaafkan Rin, itu sudah jadi keputusan Firman,, mama bangga sama Firman,, sebelum meninggal dunia dia mempunyai niat baik,, dan itu tertuju padamu,, maafin Firman yang sempat buat kamu kecewa ya? " ungkap mama Firman dengan mengelus lembut penuh kasih kepala Arini.
"Tante,, Refal minta maaf karena dari kemarin belum sempat menemui tante,, Refal ucapkan terima kasih,, atas apa yang di lakuka. Firman buat Refal dan Arini." ungkap Refal dengan menggenggam tangan wanita paruh baya itu.
" Kamu harus jaga Arini,, dia anak mama,, kamu juga anak mama sekarang, Firman benar.. kalian pantas bahagia,, Firman akan bahagia melihat kalian akur dan juga saling kasih,, mama cuma bisa bilang tolong jaga bagian dari anak mama yah..??" ucap Mama Firman dengan menyentuh dada Arini.
" Mama kalau kangen sama bang Firman bisa telpon Rini,, biar nanti Rini dateng yaa?? " tawar Arini
" Iyaa.. " ucap Mama Firman
Pandangan Arini beralih pada Tasya kakak Firman dan Arini pun langsung memeluk Tasya yang memang sudah dia anggap kakak dari masa berpacaran dengan Firman.
" Kamu jaga adik kakak,, dia pasti bahagia bisa miliki kamu, apalagi sekarang dia bagian dari kamu.. Maafin Firman kalau ada salah, sempet buat kamu kecewa,, dia nyesel Rin tapi.. takdir sudah berkehendak dia tak ada dengan jalannya.. kita hanya bisa ikhlas dan mendoakannya." ungkap Tasya.
" Iya kak,, makasih,, kakak selalu jadi kakak terbaik buat Arini sama kayak mba Jenar." ungkap Arini
Arini memandang Intan dengan tatapan sendu.
" It's Okey Rin.. I'm Okey... dia sudah ikhlas memeberikan sedikit dari bagian hidupnya,,aku hanya bisa membalas dengan doa dan aku juga menghormati keputusan yang dia buat,, walaupun aku kehilangan dia,, aku berharap dapat pengganti yang baik juga dan tulus seperti dia,, maafin aku juga pernah buat kamu sakit hati padanya,, karena sudah hadir diantara kalian.".ungkap Intan
" Sama ya Tan, semoga kita bisa menjadi teman atau saudara." ungkap Arini dengan tulus
Intan pun membalas dengan anggukan.
Semua larut dalam doa yang mereka panjatkan untuk Firman,, terasa damai dalam hati mereka,, apalagi hati Arini dan juga Refal. Memulai hari baru untul masa depan baru.
Bersambung.
__ADS_1